Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Curahan hati belly


__ADS_3

"Sebenarnya apa yang terjadi bell?" Steva menyingkap rambutnya kebelakang telinga, seakan siap mendengarkan cerita belly.


"Stev, sebenarnya..........." Panjang lebar belly menceritakan kisahnya. Mulai dari awal pernikahannya dengan raja, alasannya menikah dan meninggalkan alan kekasihnya hingga ia berada dititik sekarang.


Tangisan belly pun tumpah, air mata yang telah ia tahan kini mengaliri pipi mulusnya. Namun, perasaannya kini sedikit lega dan tenang karena ia telah mencurahkan segala isi hatinya pada steva orang yang telah membantunya dan juga mendengarkannya dengan baik.


Ekspresi wajah steva pun berubah menjadi lesu ketika mendengarkan segala keluh kesah belly. Ia sungguh sangat iba terhadap nasib temannya ini.


Steva mengulurkan tangannya memeluk belly, hingga belly pun menangis tersedu dalam dekapannya.


"Bell, tuhan tidak akan memberi cobaan pada manusia diluar batas kemampuannya.. Kamu adalah orang yang terpilih bell, tuhan percaya kamu bisa menghadapi ujian darinya." Steva menasihati belly, dengan pelan ia menepuk-nepuk pundak belly.


"Terimakasih stev, aku tidak tahu harus kemana maaf aku merepotkanmu. Tapi aku janji, setelah aku mendapatkan uang aku akan segera menyewa tempat tinggal." Mata belly menatap lekat kearah steva yang sejak tadi mendekapnya.


"Kau boleh tinggal disini kapanpun kau mau bell, jangan sungkan pintu rumah ini selalu terbuka untukmu...."


"Uhhh, kau memang terbaik stev. Tapi aku ingin merepotkanmu satu hal lagi." Pinta belly pada steva.


"Jangankan satu, lima puluh pun aku turuti!" Steva menunjukkan lima jari-jarinya didepan belly dengan ekspressi yang berlebihan.


"Tolong rahasiakan keberadaanku pada orang lain. Apalagi raja." Raut wajah belly pun berubah mendung ketika ia menyebut nama raja.


"Kau jangan khawatir, aku pasti akan menjaga privasimu bell." Ucap steva sembari melanjutkan memeluk erat tubuh belly.


"Terimakasih stev, aku tidak tahu harus membalas kebaikanmu dengan cara apalagi. Tapi, suatu saat pasti aku akan membalas semuanya..."


"Ok, aku tunggu balasan baik darimu bell... Sekarang kau istirahatlah, aku akan pergi ke kantor sebentar."


Percakapan mereka berdua pun usai setelah steva akan pergi ke kantor. Hari ini ia meminta belly untuk istirahat terlebih dahulu. Besok belly baru di perbolehkan untuk kerja bersamanya.


Malam mulai larut, rintik-rintik air langit telah jatuh diantara dedaunan sekitar rumah raja disertai hembusan dinginnya angin malam.


Raja tak sadar sudah berapa jam ia tertidur di kamarnya karena kelelahan. Bukan lelah akibat bekerja, namun lelah karena hatinya terus meronta merasakan bimbang. Bimbang dengan pilihannya, perasaan dan sikapnya yang berubah-ubah tak menentu terhadap belly pun semakin membuat raja menjadi kacau.

__ADS_1


Semakin difikirkan kepalanya semakin terasa ingin pecah. Raja membuka matanya sejenak kemudian menutupnya kembali. Terpaksa ia membuka matanya kembali kemudian meninggalkan posisi tidurnya.


Raja tak tahu kali ini dia akan kemana, yang jelas ia akan pergi keluar rumah. Saat menuruni anak tangga dari kamarnya, raja menatap sejenak pintu kamar yang di tempati belly. Tak ingin diam berlama-lama dalam tatapannya, raja pun segera melangkahkan kakinya pergi.


***


"Jadi semuanya, perkenalkan ini belly zeana anggraika. Dia adalah asisten pribadiku saat ini, jika kalian ada keperluan apapun silahkan menemuinya." Ucap steva dengan tegas memperkenalkan belly kepada beberapa karyawannya.


"Mohon bimbingan dan kerja samanya semua, terimakasih..." Ucap belly ramah menyapa beberapa karyawan steva yang telah ia panggil ke ruangannya.


Beberapa orang yang ia kumpulkan itu pun menyapa ramah belly. Namun ada sebagian orang yang menatap tak suka pada belly.


"Ok, sudah selesai kalian bisa kembali bekerja." Ucap steva.


Steva memberikan pengarahan pada belly hari ini, ia pun mengajak belly berkeliling mengitari penjuru gedung kantornya yang tak begitu besar. Steva masih pemula dalam menjalankan bisnisnya. Ia berencana akan membuka cabang baru jika bisnisnya ini berhasil berkembang dan maju.


"Aku harap kamu akan membantuku dalam mengelola bisnis ini bell.." Ucap steva berjalan pelan beriringan bersama belly.


"Meskipun kini aku adalah atasanmu, aku tetap ingin kau memanggilku seperti biasa bell! Kau kaku sekali..." Steva memicingkan bibirnya sembari memutar bola matanya malas.


"Stev, apa kata karyawan yang lain?? Ini tidak benar!" Ucap belly berusaha menolak keinginan steva.


"Bell, jika mereka tak suka maka kau bilang saja padaku! Aku akan menghukum siapapun yang mengganggumu!" Jawab steva yakinkan belly.


"Stev, itu namanya kau tidak profesional dalam bekerja. Jangan mencampuri urusan pribadi dengan pekerjaan.." Nasihat belly didengarkan baik-baik oleh steva.


"Ternyata selain sebagai asisten, kau juga sebagai penasihatku. Hmmmm aku merasa akan lebih baik lagi bersikap jika bersamamu bell." Jelas steva.


"Kau ini, jadi aku akan tetap memanggilmu ibu steva jika di kantor. Di luar kantor aku akan memanggilmu stephani atau steva. Bagaimana deal?" Tawar belly pada steva.


"Kau seakan memerintahku, baiklah ibu penasihat... Deal!!" Steva menjabat tangan belly tanda persetujuan diantara mereka berdua.


Senyum simpul steva dan juga belly menghiasi wajah cantik keduanya. Mereka berdua pun memutuskan untuk kembali ke ruangan steva.

__ADS_1


Hari telah berlalu, beberapa jam pun sudah terlewati oleh belly dan steva. Kesibukan di hari pertama kerja sudah belly rasakan, meskipun ia banyak pekerjaan tapi belly mampu mengatasi semuanya.


"Aku hargai kerja kerasmu hari ini bell, kau terlihat sangat lelah.." Steva menatap lekat wajah belly yang sudah dihiasi peluh.


"Hari pertama yang super sekali!" Tangan belly meraih tissue kemudian mengelap beberapa bagian wajahnya yang telah dipenuhi keringat.


"Good job! Ayo kita pulang, sebelum itu kita singgah dulu di cafe dekat sini. Aku lapar.." Ucap steva sembari membereskan meja kerjanya kemudian meraih tasnya.


Belly pun mengikuti langkah steva, mereka beriringan menuju cafe untuk mencari makanan.


Karena cafe yang dekat dengan kantor steva banyak pengunjung hari ini, mereka mengurungkan niat untuk kesana. Hingga belly memutuskan untuk mengajak steva pulang ke apartement saja.


"Ck, mengapa pulang bell. Jika kita menunggu sebentar saja pasti....."


"Kita pulang saja! Aku yang akan memasak makanan untukmu. Lagi pula disini menu makanannya mahal! Hidup kita akan boros." Ucap belly memotong perkataan steva.


"Jika hanya makan beberapa kali di cafe itu tidak akan boros bell! Aku masih mampu mentraktirmu." Steva mulai merasa kesal.


"Stev, aku bisa membuat makanan yang jauh lebih enak dari cafe itu."


"Bell, kau seharian bekerja lalu masih ingin masak? Apakah kau tak lelah?" Tanya steva heran pada belly.


"Jika aku lelah, maka aku akan beristirahat." Jawab belly menyunggingkan senyumannya.


"Huft! Baiklah, tapi jika masakanmu tidak enak hari ini maka kau tak boleh masak lagi.." Steva membuat perjanjian diantara mereka.


"Ok! Tapi jika masakanku enak Bagaimana stev?" Belly berbalik memberikan perjanjian.


"Ya sudah, terserah kau saja!" Ucap steva malas sembari memutar stir kemudinya.


Mobil steva melaju menuju apartement, ia tak ingin banyak bicara jika berdebat dengan belly maka urusannya akan panjang.


TO be continue......

__ADS_1


__ADS_2