Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Bukan waktu yang tepat


__ADS_3

Niat belly sebenarnya ingin kembali ke kantor, namun steva memintanya untuk pulang ke apartementnya.


Raja mengikuti belly dari belakang, ia tak ingin banyak bicara. Karena sejak di dalam mobil beberapa pertanyaan raja tak satu pun yang di jawab oleh belly. Terkadang belly hanya mengangguk pelan, sesekali pula ia tersenyum pahit ke arah raja.


"Terimakasih sudah mengantar.." Ucap belly membuka suara.


"Em.." Raja tersenyum kecil. "Kau tinggal di apartement ini?" Tanya raja.


Belly mengangguk pelan. " Aku tinggal bersama steva. Baiklah, aku masuk dulu..."


"Bell, tunggu..." Raja menghentikan langkah belly dengan mencekal pergelangan tangannya.


"Ada apa?" Sahut belly, mata belly terus memandangi tangannya yang kini tengah di pegang oleh raja.


"Oh, maaf..." Raja melepaskan cekalan tangannya. Bolehkah aku mengantarmu sampai ke dalam gedung?" Raja kali ini mengutarakan keinginannya, ia benar-benar masih ingin bersama dengan belly.


"Tidak perlu, cukup sampai disini saja.." Tolak belly dengan suara halus.


"Em tapi, aku ingin bertemu steva. Maksudku, aku ingin berbicara padanya dan mengucapkan terimakasih..." Jelas raja, ia masih belum menyerah.


"Oh, baiklah." Tanpa berfikir panjang, Belly pun menuju ke dalam gedung. Mereka berdua masuk ke dalam lift menuju apartement steva.


"Silahkan masuk pak raja dan ibu ratu, eh maksudnya ibu belly..." Ucap steva dengan wajah manis yang kini tengah menunggu kedatangan belly dan juga raja di depan pintu apartementnya.


"Terimakasih bu steva." Ucap raja membalas, kemudian ia menatap kearah belly dengan senyumannya.


Entah ini perasaan bahagia atau sedih bagi raja. Disatu sisi ia bahagia karena telah menemukan belly. Disisi yang lain, ia sedih saat tahu jika belly tak ingin pulang ke rumah bersamanya.


Raja melihat kiri dan kanan memandangi interior ruangan tamu di apartement steva. Ia akhirnya tenang, karena belly tinggal bersama steva di tempat yang nyaman. Di sudut meja, ia melihat ada sebuah bucket bunga besar yang sempat ia lihat tempo hari.


Ternyata benar, bunga itu untuk belly. Ternyata alan tinggal di gedung yang sama dengan belly.


Gumam raja, hatinya merasa sakit melihat bunga itu. Mungkin itulah yang dirasakan belly ketika menerima bunga yang dikirimkan maura untuk raja.


Steva menghidangkan minuman segar untuk raja yang ia anggap tamunya. "Silahkan diminum pak."


"Bell, kamu temani pak raja. Aku mau keluar sebentar." Steva mengerti keadaan belly dan raja saat ini, ia pun memberikan waktu berdua untuk mereka.

__ADS_1


"Kamu mau kemana stev?" Tanya belly penasaran, ia merasa bahwa ini hanyalah akal-akalan steva saja.


"Papa ku baru saja menelpon, aku harus pulang sebentar. Byee.. " Steva bergegas keluar dari apartement meninggalkan raja dan belly.


Belly hanya menarik nafas panjangnya menyaksikan steva pergi dengan mulut yang terbuka. Sementara raja terus tersenyum menatap belly.


"Kau nyaman disini?" Tanya raja membuka percakapan sembari meneguk minuman segar yang dihidangkan steva.


"Eum.." Belly hanya mengangguk ia merasa salah tingkah karena raja terus memandanginya hingga Ia pun menundukkan kepalanya.


"Bell??" Panggil raja.


"Ya?" Belly menatap ke arah raja.


Raja tersenyum, ia bangun dari duduknya kemudian mendekat kearah belly dengan posisi berada didepan belly. Belly duduk di kursi, sementara raja berjongkok di lantai "Jangan menghindar lagi, aku mohon...."


"Apa yang kau lakukan," Belly merasa tak nyaman, ia meminta raja merubah posisinya saat ini. "Bangunlah...." Belly bicara tanpa menatap raja.


"Apakah kau tidak mau menatapku?" Tanya raja dengan sikap melasnya. Pasalnya belly tak mau menatap kearahnya meski sedang berbicara.


"Apakah ada hal lain yang ingin kau katakan? Jika tidak ada maka pulanglah..." Meski merasa tidak nyaman, belly berusaha menghindari raja yang telah menarik ulur hatinya selama ini.


Jangan goyah bell, sekarang dia mencoba merayumu lagi. Tapi apa ini? Kenapa aku tidak bisa menolaknya?


Belly bermonolog dalam hati.


Lama dalam situasi seperti ini, belly pun segera menepis tangan raja. "Hari sudah semakin sore, sebaiknya kau pulang."


Perasaan sakit macam apa ini?? Sabar raja, rasa ini tidak sebanding dengan rasa sakit belly selama ini. Kau harus lebih sabar....


Dalam hati, raja berusaha lebih bersikap sabar menghadapi belly.


"Heuh." Raja menyimpulkan senyuman kecilnya. "Bahkan kau telah mengusirku beberapa kali, bell apakah kau masih belum mau memaafkanku?" Tanya raja terus mengangkat kepalanya menatap belly.


Belly pun segera pindah dari duduknya, ia tak kuasa jika terus berhadapan dengan raja. Desiran hatinya mengatakan jika ia benar-benar ingin segera kembali bersama raja, namun otaknya memerintahkan jika ia harus mempertimbangkannya lagi.


"Aku sudah memaafkanmu, tapi aku masih ingin mempertimbangkannya lagi..." Lirih belly dengan helaan nafas yang tak beraturan, berat sebenarnya mengungkapkan ini.

__ADS_1


"Aku akan menunggumu..." Dengan helaan nafas berat, raja mengucapkannya. "Sampai kapanpun." Sambung raja lagi.


Apa ini? Apakah ini hanya kata-kata senjatanya untuk menggaetku kembali? Jangan goyah lagi belly. Tetaplah pasang pertahananmu....


Didalam hatinya belly berbicara sendiri, matanya memutari setiap ekspresi wajah raja mencari-cari sebuah jawaban. Meskipun sudah jelas jika wajah raja sudah menunjukkan sebuah kejujuran.


"Ada apa? Apa kau tak percaya padaku?" Tanya raja yang mengerti arti tatapan istrinya itu.


Belly hanya diam tak berkata, ia takut jawabannya malah akan membuatnya semakin terjebak.


Melihat sikap belly raja pun mulai mengerti, kini ia beranjak dari tempatnya. "Baiklah, hari ini aku akan pulang sendiri. Tapi aku yakin jika suatu hari nanti aku akan pulang bersamamu."


Raja melangkah menuju pintu keluar. Sementara belly hanya diam di tempat tak bergerak.


Apa lagi ini, mengapa hati ini seolah tidak terima jika jauh darinya?


"Tunggu!!" Belly mengeluarkan suaranya memanggil raja.


"Ya?" Raja menengok kearah belly. Senyum sumringah raja terpancar jelas. Kali ini ia berharap jika belly berubah fikiran dan ikut pulang bersamanya.


"Biar ku antar keluar." Belly mengekori raja dari belakang dan mengantarnya hingga ke depan pintu.


Rasa kecewa itu datang lagi, namun raja masih terus mencoba bersabar menghadapi belly. Hingga sampai di depan pintu raja pun pamit pulang.


"Terimakasih telah memberikanku kesempatan kedua bell, aku pulang..." Ucap raja, tangannya mengusap pelan puncak kepala belly.


Belly hanya diam menerima perlakuan dari raja, sembari terus menahan getaran hatinya.


Saat raja ingin memasuki lift, pintu lift terbuka dan ternyata di situ ada alan yang hendak keluar lift untuk menemui belly.


"Belll....ly?" Ucapan alan terhenti, wajahnya yang tadi sumringah kini menjadi berubah datar dan kecewa.


Tatapan alan pun bertemu dengan mata tajam raja yang kini sudah mengepalkan kedua telapak tangannya.


Sementara belly hanya bisa menelan salivanya, sembari terus bergumam dalam hati merasa bingung untuk mengahadapi situasi saat ini.


Ini bukan waktu yang tepat!

__ADS_1


To be continue.....


🍒Terimakasih semua pembaca setia karya othor... Jangan lupa tinggalakan jejak dan Vote ya di karya ini.... Makin semangat pokoknya buat UP episode selanjutnya....


__ADS_2