Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Salah lagi...


__ADS_3

Di sepertiga malam, belly terbangun dari tidurnya. Seperti terjadi sesuatu pada perutnya, hingga ia harus pergi ke kamar mandi.


Belly berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya yang kini tengah mendengkur halus. Peelahan ia tepiskan tangan raja yang melingkar di perutnya, ia pun segera menuju kamar mandi.


Huuekkk........Hueekk.....


Tubuhnya terasa lemah, seperti tak kuat untuk berdiri lagi di depan wastafel kamar mandi. Pandangannya sedikit blur, hingga ia tak bisa melihat dengan jelas.


Huuuekkk.....


Lagi, belly memuntahkan seluruh isi dalam perutnya hingga ia menjadi semakin lemas tak bertenaga.


"Huhh..... Sebenarnya ada apa dengan perutku, mengapa mual begini?" Fikiran belly melayang mengingat apa yang telah dimakannya dari pagi hingga malam ini. Menurutnya makanan itu biasa dikonsumsi olehnya.


Kepalanya terasa pusing, saat ia mencoba melangkahkan kaki menuju kamar kakinya seakan lemah tak bertulang hingga membuatnya berusaha berpegangan dengan wadah sikat gigi di depan wastafel dan akhirnya terjatuh.


Brughhh!


Belly terjatuh, suara mengejutkan itu pun membangunkan raja dari lelap tidurnya.


"Belly,..." Raja membuka mata, ia mencari-cari keberadaan istrinya. Ia pun menyadarkan diri kemudian berlalu dari ranjang tidur menuju kamar mandi.


Sontak raja terkejut mendapati belly terkulai lemas di atas lantai dingin kamar mandi. "Bell!! Apa yang terjadi??"


Raja segera membopong tubuh belly keluar kamar mandi dan menidurkannya di atas ranjang king size milik mereka.


"Bell, ada apa? Bangun bell..." Raja menepuk-nepuk pelan wajah istrinya dengan penuh kecemasan.


Belly tak kunjung bangun, raja pun berinisiatif mengambil minyak kayu putih yang ada di laci kemudian mengoleskan sedikit ke didung belly.


"Sayang, sadarlah....." Raja semakin khawatir. Namun tak lama dari itu, belly menggerakkan matanya.


"Belly, kau sudah sadar?" Tanya raja dengan wajah khawatir ke arah belly.


"Ha..us..." Dengan suara seraknya, belly merasa tenggorokannya amatlah kering dan sangat membutuhkan air.


"Kau mau minum?" Raja dengan segera mengambilkan air minum yang memang sudah di siapkan belly di atas nakas samping ranjang setiap sebelum tidur.


Belly mengangguk pelan sembari memegangi kepalanya yang teramat pusing.


Raja membantu belly meminum air putih, kemudian kembali berbaring lagi. Saat itu pula perut belly kembali bergemuruh tak karuan. Ia masih saja merasakan mual, hingga dengan tubuh yang sempoyongan belly pun bangun menuju kamar mandi kembali.


"Bell, apa yang terjadi?? Ada apa denganmu?" Raja merasa heran dengan sikap istrinya. Raja pun mengikuti istrinya, kemudian membantu belly memapah tubuhnya yang lemas.


Huek........


Kembali belly memuntahkan air dari dalam perutnya.

__ADS_1


Raja yang melihat itu merasa iba, ia pun memijat-mijat tengkuk leher istrinya. "Sayang, apakah kau sedang masuk angin??" Tanya raja penasaran melihat istrinya memuntahkan air.


Belly tak menjawab, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak berdaya.


Setelah keluar dari kamar mandi, belly melangkahkan kakinya keluar kamar. Hingga membuat raja merasa semakin khawatir. "Kau mau kemana bell? Istirahatlah..."


"Air hangat.." Lirih belly terus melangkahkan kaki perlahan.


"Biar aku saja yang ambil. Kau tunggu dan istirahatlah di kamar." Raja segera memapah istrinya menuju ranjang. Kemudian ia pun segera menuju ke dapur untuk mengambil air hangat.


Selang beberapa menit, raja pun tiba ke kamar dengan segelas air hangat beserta lemon tea hangat untuk belly.


"Bell, minumlah...." Ucap raja kembali menyadarkan belly yang masih terus memejamkan matanya sembari memijat-mijat kepalanya pelan. Belly segera meminum air hangat hingga tandas.


"Bell,. minumlah ini agar rasa mual mu bisa berkurang." Raja menyodorkan lemon tea kearah belly.


Belly meminumnya sedikit, bahkan ia menekan hidungnya agar tak mencium aroma lemon tea yang begitu menyengat menurutnya.


"Kenapa kau memencet hidungmu??" Raja yang merasa aneh dengan prilaku istrinya itu pun bertanya.


"Ck! Aku tidak suka baunya..." Ucap belly malas, ia pun menarik selimut dan membaringkan tubuhnya kembali.


"Apa ada rasa sakit yang serius? Bagaimana jika kita ke rumah sakit saja bell??" Saran raja.


"Tidak perlu..." Belly masih dengan nada malas dan lemasnya.


"Aku mau tidur!!!!" Ucap belly memeluk guling disebelahnya.


Raja yang begitu iba melihat istrinya pun segera memegang keningnya. Tak ada hawa panas, bahkan itu seperti biasanya dan normal. "Tidak panas, apa belly salah makan? Tapi mengapa ia hanya memuntahkan air?" Banyak pertanyaan yang tersirat di otak raja. Ia pun dengan sigap memijat-mijat tubuh istrinya hingga keduanya pun tertidur lelap.


🌞🌞🌞


Huekkkkk........


Lagi, jam enam pagi belly bangun dan merasakan mual lagi. Ia segera menutup mulut dengan kedua telapak tangannya bergegas masuk kedalam kamar mandi.


"Sayang..... Sebenarnya ada apa denganmu? Ayo kita ke rumah sakit saja..." Ajak raja pada belly, ia pun segera menggibas selimutnya dan menyusul belly ke dalam kamar mandi yang tak di kunci.


"Raaja!! Tak bisakah kau mengetuk pintu lebih dulu?" Belly merasa kesal karena raja sembarangan masuk tanpa izinnya.


"Sayang, aku menghawatirkanmu. Mengapa kau muntah lagi? Ayo kita ke rumah sakit..." Bujuk raja pada belly yang kini sudah memperlihatkan wajah asamnya.


"Ck! Aku tak ingin ke rumah sakit, keluarlah aku ingin mandi." Ucapan belly sangat tak enak didengar oleh raja. Namun dengan rasa mengalah ia pun akhirnya keluar.


Selang beberapa meni kemudian.....


"Bell, baiknya kau tak perlu ke kantor dulu. Aku akan meminta izin pada steva."

__ADS_1


"Aku baik-baik saja raja, tak perlu khawatir." Belly mengenakan pakaian khas menuju kantornya.


"Kau yakin?" Tanya Raja memastikan.


"Ya! Kau cerewet sekali!" Belly merasa semakin kesal dengan suaminya.


"Bell, aku akan mengizinkanmu bekerja tapi sebelum ke kantor kita harus ke rumah sakit lebih dulu." Ucap raja masih merayu belly.


"Raja, jika kau tak ingin mengantarku ke kantor maka aku bisa pergi sendiri naik taksi!!." Karena sudah merasa kesiangan, belly pun keluar kamar untuk segera berangkat ke kantor.


"Belll......" Raja pun mengejar istrinya itu.


Ada apa dengannya, Kenapa dia sensitif sekali?


Bahkan semua yang kukatakan salah, oh tuhan apa yang harus ku katakan padanya sekarang?


Di dalam mobilnya, raja hanya diam tak mengajak belly berbicara. Ia takut jika belly akan terus menyalahkannya nanti.


Keheningan di dalam mobil pun segera di lempar jauh oleh belly. "Apa aku adalah patung? Hingga kau tak mau berbicara padaku?"


Salah lagi!!


Umpat raja di dalam hatinya... Ia masih terus fokis menyetir sembari memikirkan jawaban untuk pertanyaan belly sekarang.


"Eemmm........"


"Jika begitu, menikah saja kau dengan patung atau batu!" Belum sempat raja berbicara, dengan mulut yang masih menganga belly sudah menyalip perkataannya.


"Belll, aku...."


"Turunkan aku disini!" Ucap belly dengan nada kesal.


"Bell, ini masih di halte. Aku akan mengantarmu hingga depan parkiran seperti biasa." Raja tak juga menghentikan laju mobilnya.


"Jika kau tak berhenti, maka aku akan loncat!" Ancam belly pada raja.


Sontak raja menekan rem dengan kakinya dan mobilnya pun menepi di dekat halte bus yang berada di dekat kantor belly bekerja.


Brakkk!!


Belly menutup pintu mobil dengan kuat, ia pun berlari kecil menuju halte untuk memakai jembatan penyebrangan orang.


Di dalam mobilnya raja hanya bisa mengelus dada hingga beberapa kali dengan mata yang terus memperhatikan kepergian belly dari dalam mobil. Masih belum bisa ia temukan alasan mengapa belly bersikap seperti ini padanya.


Sabar raja.......


Apa sebenarnya salahku, mengapa sikapnya berubah seperti ini??

__ADS_1


To be continue....


__ADS_2