
"Al, ada apa?" Mendengar Alan terus saja mengetuk pintu kamar dengan terus saja memanggil Darwin membuat Belly menghampirinya.
Oh, itu ..."
Alan merasa bingung bagaimana menjelaskannya kepada Belly.
"Darwin, sepertinya dia sudah terlelap karna tak juga membuka pintu kamar,"
Belly hanya tersenyum sipu mendengar penuturan Alan .
Ceklek!
Pintu terbuka, disertai Darwin yang muncul dengan memumbulkan kepalanya.
"Kau ini, mengganggu tidurku saja!" Umpat Darwin kesal menatap Alan penuh emosi.
"Ck! Aku juga ingin tidur, Win," jawab Alan.
"Kau ini sudah menikah, harusnya kau tidur dengan Istrimu, mengganggu saja!" Darwin menutup pintu kamar kembali dengan menimbulkan suara sedikit keras.
"Darwin, hei ..."
Alan meninju angin di sekitarnya, ia merasa kini Darwin berbuat semaunya.
Darwin membuka pintu kembali, namun kali ini hal yang tak terduga di lakukan oleh Darwin.
"Ini, bawa ke kamar Istrimu!" Setelah mengeluarkan koper besar, Darwin pun menutup pintu kamar kembali.
"Apa-apaan ini, dasar bocah ini!!" Alan merasa marah, ia seakan terusir dari rumahnya sendiri. Tingkah Darwin memang begitu menyebalkan.
Belly yang melihat tingkah Darwin dan Alan hanya tersenyum sipu. Ia begitu menikmati tontonan nyata yang sedang ada di hadapannya saat ini.
"Sudahlah, Al, biar aku bawa kopernya," Belly menarik koper besar milik Alan menuju ke kamarnya di lantai atas.
"Bell, mau di bawa kemana?" Tanya Alan bingung.
"Ke kamar atas, memangnya kemana lagi?"
"Bell, ke kamarmu?"
"Saat ini, kamarku juga menjadi kamarmu. Lebih tepatnya kamar kita," Belly hanya tersenyum, ia pun menuju anak tangga untuk menuju ke kamarnya.
"Biar aku saja, Bell," Alan merasa kasihan terhadap Istrinya karena membawa koper besar miliknya yang pasti sangat berat.
"Terimakasih,"
Setelah sampai di kamar Belly, Alan meletakkan kopernya di dekat lemari. Ia bingung harus berbuat apa dan bagaimana. Ia merasa canggung bahkan kikuk karena berada satu kamar dengan Belly saat ini.
__ADS_1
Belly membongkar koper milik Alan, kemudian mengeluarkan handuk dan menyerahkannya pada Alan.
"Bersihkanlah dirimu lebih dulu,"
"Oh, ya," Alan tidak mengerti mengapa Belly memberikannya handuk. Ia pun langsung pergi menuju ke kamar mandi, padahal sore tadi ia sudah mandi.
"Apakah tubuhku ini bau hingga Belly memintaku untuk mandi?" Gumam Alan dalam hati sembari menghirup aroma di beberapa titik pada tubuhnya sendiri. Namun ia menurut saja, hingga ia mandi di bawah guyuran shower.
Sementara menunggu Alan, Belly merapihkan pakaian Alan dan meletakkannya ke dalam lemari.
Begitu pun barang-barang pribadi Alan yang lain.
Namun Belly menemukan sesuatu yang janggal dari koper. Sebuah bungkusan kecil yang ia tahu jika bungkusan itu adalah sebuah obat kuat.
"Hah?? ya ampun," Belly memegang benda berkemasan kecil itu sembari terkikik geli dengan menutupi mulutnya.
"Apakah dia mempersiapkan ini semua?" Belly tidak berhenti mengulum senyumnya, hingga menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
Namun, senyumannya hilang ketika ia menemukan bungkusan yang lain lagi dengan jumlah yang lumayan banyak.
"Kenapa Alan mempersiapkan alat kontrasepsi? Apakah ia ingin aku menunda kehamilan?"
Hati Belly terus bertanya-tanya, hingga fikiran negatif pun muncul di otaknya.
"Atau Alan sebenarnya memang rutin menggunakan benda ini?"
Perasaan Belly terus berperang pada fikirannya. Banyak hal-hal yang ia khawatirkan tentang Alan. Hingga ia tak sadar jika tangannya terus memegangi benda itu.
"Bell, Ada apa?" Alan yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk berganti baju pun menghampiri Belly.
Dengan rambut yang masih basah, juga tubuh yang hanya terlilit handuk separuh membuat seluruh lekuk pada bagian tubuh Alan terlihat jelas oleh mata Belly.
"Oh, Al, aku sedang merapihkan pakaianmu," Belly segera menepis fikirannya. Ia pun memulihkan kesadarannya agar normal kembali.
"Kau mandi malam-malam begini?" Tanya Belly pada Alan. Setahunya Alan sudah mandi sore tadi.
"Oh, iya. Itu, malam ini aku begitu gerah," Alan mencoba mencari alasan untuk menutupi kebodohan dirinya. Namun matanya kini tertuju pada benda yang sedang dipegang oleh Belly.
"Apa itu?"
Alan terkejut pula ketika kopernya banyak sekali dengan benda-benda yang begitu membuatnya malu. Padahal ia tak pernah menggunakan itu sebelumnya. Otaknya langsung tertuju pada Darwin.
"Ini pasti ulah Darwin," celetuk Alan kesal, ia pun segera merebut bungkus kecil yang ada di tangan Belly dan segera menutup kopernya.
"Bell, aku bisa jelaskan ini. Ini tidak seperti yang kau fikirkan," Alan langsung mengambil langkah cepat agar Belly tak salah paham.
"Apa yang harus kau jelaskan, Al. Aku tidak masalah dengan itu, jika memang kau bukan yang pertama untukku,"
__ADS_1
Belly menghembus nafasnya panjang, ia pun mencoba memberi pengertian pada Alan. Seperti Alan yang selalu mengerti dirinya.
"Aku bisa menerima dirimu dalam keadaan apapun, Al. Karena kau juga tahu bukan? Jika aku juga bukan yang pertama untukmu,"
"Bell, kau salah paham," Alan tak tahu dari mana ia akan menjelaskan kepada Belly jika sebenarnya ia tak pernah melakukan hubungan dengan wanita manapun selain Belly.
"Sudahlah, lebih baik kita tidur karena sudah malam," Belly tak ingin berdebat dengan Alan di malam pertamanya bersama Alan.
"Baiklah, aku akan ganti baju lebih dulu," Alan membuka lemari dan mengambil bajunya. Namun ia tak menemukan pakaian tidurnya, yang ia dapat hanya beberapa pakaian dalam saja.
Alan menghela nafasnya, kali ini Darwin benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya ia dikerjai oleh temannya yang konyol itu.
"Habislah aku!" Umpat Alan lagi namun di dalam hati.Alan bingung harus bagaimana, jika ia bertemu Darwin besok maka ia akan menghajarnya hingga babak belur.
Belly yang tahu jika Alan kali ini tengah bingung pun segera menghampirinya.
"Al, kau mencari sesuatu?"
"Oh, ya. Baju, sepertinya baju tidurku tertinggal di kamar bawah," Alan hanya menampakkan deretan gigi putihnya terpaksa di depan Belly.
"Aku harus mengambilnya lebih dulu," Alan berusaha mencari alasan lagi.
"Al, sudah tengah malam apakah Darwin akan membukakan pintu untukmu?" Tanya Belly.
"Kalau begitu aku memakai baju yang di kamar mandi saja," Alan baru ingat jika baju sebelumnya tertinggal di kamar mandi, tapi ia mengurungkan niatnya. Ia takut baju itu beraroma tak sedap hingga membuat Belly tak nyaman.
"Al, pakai ini saja," Belly mengambilkan Alan sebuah celana boxer beserta kaus dalam berwarna putih polos milik Alan.
Mata Alan terbelalak, mana mungkin ia akan tidur dengan menggunakan pakaian seperti itu? Ia sangat malu, bahkan Belly pasti tak nyaman melihatnya.
"Bell, apakah tidak masalah jika aku mengenakan ini?" Alan bertanya seakan meminta izin pada wanita yang kini telah menjadi Istrinya.
"Al, kau ini ..." Belly mengulum senyumannya.
Alan malah semakin bingung ketika melihat Belly tersenyum. Jika saja ia masih sendiri, ia tak peduli akan tidur mengenakan apa saja.
"Bell, aku tidak ..."
"Jika kau tidak mau, maka kau tidak usah memakai apa-apa." Belly pun segera menuju ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya meninggalkan Alan yang kini hanya mematung dengan perasaan yang tak karuan.
"Ini semua gara-gara Darwin," ucap Alan dengan tubuh yang kini lemas.
To be continue ...
🍒 Hai readers, silahkan mampir ke karya Othor yang baru MENGEJAR CINTA JANDAKU.
Jangan lupa tinggalkan dukungannya untuk karya receh Othor, terimakasih ....
__ADS_1