
Al,"
"Belly!" Dengan segera ia menghampiri Belly dan memeluknya erat.
"Apa yang terjadi Al, mengapa kamu menangis?" Belly yang dipeluk oleh Alan dengan erat merasa bingung.
Alan segera melepas pelukannya, "Jangan tinggalkan aku lagi bell."
"Al, apa yang terjadi?"
"Aku mencarimu. Aku fikir kau...."
"Hmmm..." Belly menunjukkan satu kantong obat yang ada ditangannya.
"Aku habis menebus obat Al, aku tidak pergi atau hilang!"
Melihat obat ditangan Belly, Alan sadar. Jika kekhawatirannya terhadap Belly saat ini begitu berlebihan.
"Al, tidak perlu khawatir seperti ini. Aku baik-baik saja!" Belly menggelengkan kepalanya, ia begitu heran mendapati tingkah Alan.
Dapat tergambar jelas jika saat ini Alan begitu cemas terhadapnya, namun Belly juga merasa jika kecemasan Alan amat berlebihan hingga membuatnya tak nyaman.
"Ayo pulang." Belly memutuskan untuk segera kembali ke Apartement.
Alan hanya diam saja, mengikuti langkah Belly dari belakang. Sembari berjalan menuju keparkiran Alan menelepon orang suruhannya.
"Dia sudah bersamaku!" Ucap Alan singkat, kemudian ia memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Sampai didalam mobil, keadaan mereka berdua terasa canggung. Suasana menjadi sunyi sepi tanpa suara apapun.
"Bel, lain kali jika ingin pergi kau harus...."
"Harus izin padamu??" Potong Belly dengan wajah kesalnya. Padahal Alan belum juga selesai berbicara.
"Bell, ini demi...."
"Demi keamananku? Bukan begitu?" Potong Belly lagi.
"Bell, tolong mengertilah. Aku begitu mengkhawatirkanmu. Jadi, cobalah untuk menuruti permintaanku ini."
Perdebatan yang Aneh menurutnya, harusnya ia yang merasa marah karena Belly tak bilang padanya jika akan ke apotek. Tapi ini malah belly yang terlihat marah dan kesal padanya. Memahami wanita memang sulit.
"Alan, kapan aku tidak mengertimu? Kapan aku tidak menuruti keinginanmu?"
"Bell, haruskah kita berdebat hanya karena masalah ini?"
__ADS_1
Alan ingin menyudahi perdebatan mereka. Saat ini yang terpenting Belly sudah bersamanya kembali. Namun sepertinya Belly berbeda pemikiran dengannya.
"Alan, kamu yang harusnya mengerti! Apa kamu sadar, kamu yang selalu egois. Kamu ingin aku ini dan itu, tapi kamu tidak pernah mau mendengar pendapatku lebih dulu!,"
"Al, perlakuanmu ini membuatku serba salah bahkan terasa terkekang??"
Belly berharap Alan menyadari semua sikapnya karena Belly sudah mengeluarkan segala Unek-unek dari dalam hatinya.
Alan menghentikan laju mobilnya, ia benar-benar tidak fokus untuk mengendarai mobil lagi. Perasaannya seperti tersayat, sakit sekali ketika mendengar Belly mengucapkan hal yang tak enak didengarnya.
Semua tindakannya hanya untuk melindungi Belly, semua perlakuan itu dilakukan hanya untuk menjaga Belly agar tetap aman. Namun ia tidak menyangka jika segala perlakuan dan perhatiannya malah membuat Belly merasa tak nyaman.
Ini semua salahku, aku yang terus memberi, berharap kau akan menerima. Salahku, karena meski sudah tahu penolakan semacam ini akan terjadi, aku masih terus berharap padamu.
Alan hanya diam, batinnya terus saja berkata-kata jika ini adalah sebuah kesalahannya sendiri.
Alan tak ingin emosi menghadapi Belly. Bagaimanapun kondisi Belly saat ini masih kurang sehat. Mengalah, hanya itu yang harus dilakukannya.
Alan kembali menyalakan mesin mobilnya, menuju Apartement. Menurutnya, hari ini lebih baik Belly istirahat lebih dulu.
Sampai di Apartemen, Alan langsung meminta Belly untuk segera istirahat.
"Istirahatlah,.."
Mendengar ucapan Alan, ia langsung pergi menuju ke kamarnya yang berada dilantai atas.
Belum juga mereda amarahnya, seseorang telah mengetuk pintu kamarnya.
Tok! Tok!
Belly bangun dengan malas, ia merasa pasti saat ini Alan yang mengetuk pintu kamarnya. Tangannya pun membukakan pintu kamar yang tengah diketuk oleh seseorang dari luar.
"Bu Belly, maaf mengganggu." Sumi seorang ART yang ditugaskan oleh Alan datang menemui Belly.
"Eh, mba sumi. Ada apa?"
"Ini ada titipan dari pak Alan." Sumi menyerahkan sebuah paper bag kepada Belly.
Setelah Belly menerima itu, Sumi pun turun kembali untuk menjalankan tugasnya.
"Huft," Belly menarik nafasnya panjang. Ia merasa heran terhadap Alan. Bahkan saat tadi Belly mengungkap semua Unek-unek nya, Alan hanya diam saja tak menanggapi apapun perkataannya.
Sekarang, Alan malah memberikannya sebuah benda yang mungkin sangat dibutuhkan olehnya. Merasa diperlakukan seenaknya oleh Alan, ia pun membawa benda itu untuk dikembalikan ya pada Alan.
Belly mencari-cari keberadaan Alan, ternyata Alan kini tengah berada di dalam kamarnya. Belly pun memberanikan diri menuju kamar Alan yang sebelumnya tak pernah ia kunjungi.
__ADS_1
Belum sempat ia mengetuk pintu kamar Alan, ternyata pintu sudah dibuka oleh Alan karena kebetulan ia hendak keluar menuju ruang kerjanya.
"Belly?" Alan terkejut Belly sudah memasang wajah kesalnya didepan kamarnya.
"Ada sesuatu??" Tanya Alan memastikan, karena tak biasanya Belly menemuinya.
"Ini! Aku tidak membutuhkan lagi pemberianmu!!!" Belly menyerahkan sebuah paper bag yang tadi ia terima dari Sumi.
"Aku tidak memintanya Al, aku tidak ingin kamu terus begini! Dan satu lagi, aku ingatkan sama kamu...."
Belly mencoba meredam kekesalannya sejenak, "Aku tidak bisa terus menerima pemberianmu. Dan kau tahu jika aku tidak akan pernah bisa mem....."
"Membalas perasaanku?? Itu maksudmu?" Sejak tadi diam karena mencoba mendengarkan semua penuturan Belly, Alan akhirnya memotong perkataannya.
"Bell, aku sudah memikirkan konsekuensinya dari awal. Aku tahu itu," Lanjut Alan.
"Aku memberi semua ini untukmu tanpa ingin kau membalasnya, aku tulus melakukan semuanya untukmu semampuku, aku juga akan terus bertanggung jawab penuh atas dirimu selagi aku bisa. Tak perlu membalas perasaanku ini Bell, bagiku kau berada didekatku itu sudah lebih dari cukup!."
Akhirnya Alan dapat bernafas lega, ia ingin meluruskan semuanya kepada Belly. Ia tak ingin belly berfikir jika semua yang dilakukannya mengharapkan sebuah timbal balik. Ia juga berharap kali ini Belly akan sadar jika perasaannya itu tulus tanpa menginginkan balasan apapun darinya.
"Istirahatlah, dan pakaian ponsel itu agar aku lebih mudah menghubungimu. Aku berharap kau tak menghilang lagi."
Alan masuk kedalam kamarnya, ia mengambil sesuatu yang akan diserahkannya lagi kepada Belly.
"Ini, besok pagi kita akan berangkat ke Surabaya." Alan memberikan tiket pesawat yang sudah ia pesan kepada Belly.
Belly hanya diam tanpa suara. Ia mengambil tiket pesawat dari tangan Alan. Entah mengapa mulutnya hanya bungkam, padahal tadi ia begitu antusias untuk mengomeli Alan.
Mungkin karena ia sudah mendengar segala penuturan Alan padanya. Dan entah mengapa ia baru menyadarinya. Alan memang melakukan segala hal untuknya secara tulus. Coba saja jika tidak ada Alan, mungkin entah apa yang akan terjadi padanya kala Raja mencampakkannya begitu saja.
"Al,"
"Ya? Ada lagi yang ingin kau katakan? Katakanlah Bell, aku tak ingin kau memendamnya."
"Bagaimana bisa kau sebaik ini padaku? Terbuat dari apa hatimu?"
"Aku hanya melakukan yang menurutku benar, istirahatlah Bell."
Alan memang tak pandai berkata-kata, ia lebih memilih untuk bertindak.
"Al, maaf karena aku tak bisa membalas semua perasaanmu. Tapi, aku yakin suatu saat nanti kebaikanmu pasti akan...."
"Ya,ya,ya. Aku yakin Tuhan akan membalasnya. Beristirahatlah, pagi-pagi kau harus bersiap."
Belly pun kembali ke kamarnya, hatinya bergemuruh merasa tak enak pada Alan. Meski Alan berada tepat didekatnya dengan segala kebaikannya, entah mengapa ia malah terus saja memikirkan Raja yang jelas-jelas sudah mencampakkannya.
__ADS_1
Hati memang tak bisa dipaksakan, maafkan aku Alan.