
Bandara soekarno hatta, Jakarta
Belly mendorong kursi roda Prass perlahan, diikuti Alan yang membawa koper mereka menuju ke luar dari kawasan bandara.
Alan sudah meminta sopir untuk menjemput mereka. Sejak di Surabaya Alan meminta Belly membawa Prass untuk ikut bersamanya ke Jakarta. Ia juga menjanjikan Prass mendapatkan pengobatan terbaik hingga ke negeri Singapura.
Belly sempat menolak permintaan Alan, namun Belly juga tak bisa berbuat apa-apa karena selama ini yang menolongnya adalah Alan. Saat ini ia tak memiliki apapun apalagi harta. Dan hidupnya kini amat bergantung pada Alan.
Yang terpenting saat ini adalah papanya, ia akan melakukan apapun agar papanya bisa sembuh dan sehat kembali. Ia juga berjanji pada Alan akan mengganti semua biaya pengobatan papanya. Meski awalnya Alan menolak karena ia bermaksud membantu dengan tulus, namun Belly tetap bersikeras hal itu membuat Alan mengiyakan keinginan Belly.
Ketiganya berjalan perlahan, namun tiba-tiba langkah Belly terhenti ketika dari arah yang berlawanan ia melihat seseorang pria tengah berjalan beriringan dengan seorang wanita yang amat ia kenal.
Entah dari mana asalnya, matanya pun mulai mengembun. Oh, apa-apaan ini, rasanya embun dimatanya itu pun kini mulai akan jatuh melewati kelopak matanya.
Hati, kuatlah!!
Belly merintih ingin menjerit di dalam hati ketika matanya tepat menatap mata Raja. Lelaki yang secara tak sengaja dipertemukan dengannya, hingga mengisi setiap hari-harinya.
Cinta, bahkan ia sangat mencintai pria itu. Meski berulang kali ia telah disakiti. Apalagi setelah tahu jika Raja tidak mempercayainya dan meninggalkannya begitu saja. Namun, cintanya masih ada dan tetap sama.
Heuh, mengapa aku terlihat lemah meski tahu dia tak lagi menganggapku ada.
Belly meraih kaca mata hitam yang ia selipkan pada bajunya dibagian leher, kemudian ia segera memakai kaca mata hitam itu. Setidaknya mampu menutupi area matanya yang rawan banjir.
"Are you okay Bell??" Alan sepertinya paham apa yang kini tengah terjadi pada Belly.
"I'm Okay," Langkah kakinya pun berlanjut setelah beberapa detik terhenti. Ia tak ingin memperlihatkan sisi lemahnya didepan lelaki yang telah merenggut kebahagiannya. Ia juga tak ingin Maura mentertawakannya karena tahu jika hidupnya kini telah hancur.
Belly memasang tubuh tegaknya sembari terus berjalan menatap kedepan. Prass yang tertidur di kursi roda tak mengetahui hal ini. Keadaan ini membuat Belly lebih aman dibandingkan jika papanya harus melihat Raja bersama Maura disana.
Sementara dengan Raja, ia terus terpaku menatap wajah wanita yang kini berada di jarak beberapa meter saja, ingin sekali ia pergi kesana dan berhambur memeluk Belly. Namun lagi-lagi ia harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa ia tak memiliki hak apapun lagi atas Belly.
Apakah sebenci itu kamu kepadaku?
**Hati Raja terus bergeming, sungguh ia dihadapkan pada situasi yang sulit kali ini. Dahulu, mereka begitu dekat. Tetapi berbeda dengan sekarang. Mereka bahkan seperti orang yang tak saling kenal.
"Hey!" Alan tersenyum menyapa seseorang ketika jarak mereka semakin dekat. Ia merentangkan kedua tangannya seperti hendak memeluk seseorang.
__ADS_1
Maura bahkan Raja yang melihat itu merasa terkejut, berfikir jika Alan menyapa mereka. Namun ternyata dugaan mereka berdua salah, dari belakang terdengar suara seseorang dan menghampiri Alan hingga keduanya saling memeluk.
"Al, lama tak bertemu." Pria itu menepuk pundak Alan beberapa kali.
"Darwin, akhirnya kita berdua bertemu."
"Kau masih sama seperti dulu," Puji Darwin pada Alan yang tak memiliki perubahan dari dulu.
"Ya, beginilah. Tidak ada yang berubah dari diriku."
"Perasaanmu masih sama?" Seolah mengetahui semua tentangnya, Darwin menaikkan satu alisnya. Mungkin itu adalah sebuah kode antara Alan dan Darwin. Ya hanya mereka berdua yang tahu.
"Tentu." Ucap Lain penuh keyakinan.
Darwin melirik kearah Belly yang kini menatap mereka berdua dengan heran. Kemudian tatapannya pun bertemu dengan Maura yang kini tercengang. Darwin menatap Maura dengan penuh ejekan, ia masih memikirkan apa yang tadi sempat dikatakan oleh Maura saat di dalam pesawat. Rasanya, saat ini juga ia ingin membuat wanita itu berlutut didepannya.
Alan tak ingin berlama-lama berada di bandara, ia segera mengajak Darwin dan Belly segera menuju ke Mobil yang sudah menunggu mereka di luar.
Raja yang melihat itu pun segera pergi, ia tak peduli dengan apa yang terjadi antara pria itu dan Maura. Yang ia takutkan adalah saat ia tak bisa menahan gemuruh hatinya ketika berjalan melewati Belly**.
Deg!
Raja memejamkan matanya, dapat ia lihat bagaimana kondisi Belly yang kini kian mengurus. Namun ia juga merasa lega karena Prass pun sudah bertemu dengan Belly.
"Maafkan aku Bell, karena terus membuatmu menderita jika didekatku."
Hanya didalam hati ia bisa berucap, andai ia bisa mengatakan hal yang sejujurnya. Dan andai saja ia tak bersikap gegabah pada waktu itu. Mungkin......
"My king!!...." Melihat Raja sudah menjauh, Maura baru sadar hingga ia harus berteriak dan berlari mengejar Raja.
Semua mata melihat ke arah Maura, tak terkecuali Belly. Mendengar ucapan Maura memanggil Raja dengan sebutan itu telinganya terasa seakan mau pecah. Sungguh Belly begitu membenci hal itu.
...****************...
"Ya ampun Al, jadi dia wanita yang terus kamu ceritakan?"
"He'eum..."
__ADS_1
"Al, apa kau yakin?"
Ditengah-tengah percakapan mereka, Belly datang mengantarkan dua gelas kopi untuk Alan dan tamunya. Setelah itu, ia pun kembali lagi menuju ke kamar tanpa sepatah kata.
Darwin menghentikan segala pembicaraanya ketika mendapati Belly datang. Begitu pula dengan Alan, ia tak mau banyak bicara dulu dengan Belly. Ia tahu jika situasi hati Belly sedang kacau apalagi tadi sempat bertemu dengan Raja.
Darwin adalah sahabat Alan, ia juga sama-sama pernah menimba ilmu di negeri sakura.
Alan memang tak pernah terlihat dekat dengan orang lain selain Bastian sepupunya. Tapi ternyata disana, Alan memiliki seorang sahabat yang ternyata juga seorang hacker. Dari Darwin ia dapat dengan mudah mendapatkan info apapun. Termasuk membobol keamanan yang sempat dihancurkan Maura untuk menutupi kejahatannya.
"Ini Al," Darwin menyerahkan sebuah flash disk kepada Alan.
"Kau berhasil?" Tanya Alan setelah menancap benda itu pada laptopnya, ia segera melihat semua video bukti kejahatan Maura.
"Lihatlah Maura, tamatlah riwayat!" Alan memicingkan senyuman jahatnya.
"Maura?" Darwin merasa tak asing dengan nama yang baru saja disebut oleh Alan.
"Kau mengenalnya?"
"Aku hanya merasa tak asing dengan nama itu." Ucap Darwin mencoba mengingat-ingat.
"Ikut aku."
Alan dan Darwin pun pergi, ia mengajak Darwin menuju ke tempat yang sudah lama ingin didatanginya. Ia juga membawa dua orang kepercayaannya untuk berjaga-jaga.
Setibanya di sana, tempat yang dulu pernah ia kunjungi. Tempat yang menjadi saksi awal kebusukan Maura mencoba menjebaknya. Dengan hati tak sabar, ia segera menekan Bell pada pintu Apartemen Maura.
Tak butuh waktu lama, Maura pun akhirnya membuka pintu. Maura terkejut ketika mendapati Alan dan juga pria manis ada didepannya saat ini.
Maura mencoba menutup kembali pintu itu, namun Alan dan para orangnya tak diam saja. Hingga bisa menahan pintu agar tak tertutup.
"Mau apa kau???" Tanya Maura dengan ekspresi gemetarnya.
"Maura, siapa yang datang nak?" Suara seorang wanita paruh baya terdengar dari dalam dan keluar menghampiri mereka.
"Mauraa!!!" Nadia terkejut ketika Maura sudah tersungkur dilantai.
__ADS_1
"Oh, ternyata. Beli satu, gratis satu." Alan memicingkan senyuman ala devilnya ketika melihat anak dan ibu yang ada didaftar pencariannya berada di tempat yang sama**.
To be continue.....