Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Menebar Racun


__ADS_3

Morning sickness yang kini dialami Belly sudah tak seberapa lagi semenjak ia mengetahui kehamilannya. Semangat dan keinginan untuk lebih menjaga bayinya membuat Belly dapat melawan rasa mual atau muntah yang akhir-akhir ini dialaminya.


Karena sudah merasa lebih baik, hari ini Belly pergi ke kantor untuk bekerja kembali.


Steva yang mendapat kabar jika Belly tengah hamil pun merasa bahagia dan mengucapkan selamat. Tapi Belly meminta Steva untuk merahasiakan kabar ini dari Raja untuk sementara. Karena Belly berencana ingin memberikan kejutan untuk Raja.


Steva pun menyetujui permintaan Belly. Ia pun meminta Belly bekerja tak terlalu lelah dan memberikan tugas yang tak begitu berat padanya.


Steva mempersilahkan dan menspesialkan Belly ataupun karyawan lainnya yang tengah hamil untuk pulang lebih siang dibandingkan yang lainnya. Steva memang sangat mempedulikan kesejahteraan karyawannya meskipun saat ini perusahaannya masih tergolong kecil.


Tapi semenjak perusahaannya bekerja sama dengan perusaahan Raja, kini perusahaan Steva sudah berkembang dengan pesat.


Belly pulang lebih awal, hari ini ia berniat membuat sebuah kejutan untuk Raja. Sepulang dari kantor, Belly singgah di sebuah toko kue.


Saat berjalan hendak memasuki area toko, Belly terhenti sejenak karena didepannya sudah ada sosok yang tak ingin dijumpainya.


"Ck! Kenapa dia harus bergentayangan di siang hari?" Dengan suara lirih, Belly merutuki sosok maura yang kini tengah berdiri tepat dihadapannya secara tiba-tiba seperti hantu.


Maura semakin melangkah kedepan mendekat kearah Belly, dengan tangan yang melipat didepan dada. "Apa kabar Belly?"


Belly tak menanggapi perkataan Maura, ia langsung saja melewati Maura menuju ke dalam toko kue.


Namun belum saja sampai di dalam, Maura dengan sigap menarik tangan Belly hingga membuat tubuh Belly terhuyung dan hampir saja terjatuh.


"Apa yang kau lakukan?!!!!" Tubuh Belly yang hampir tersungkur segera ditahan oleh Alan. Dengan pandangan tajam dan nada suara yang tinggi Alan membentak Maura.


"Bell, kau tak apa?? Apa ada yang sakit?" Dengan penuh kekhawatiran Alan terus memperhatikan tubuh Belly dari atas hingga bawah dengan tangan yang masih mencekal tangan Belly.


"Tidak Al, aku tak apa." Belly kemudian menepiskan tangan Alan yang sedari tadi memegangnya.


"Kamu??" Alan menatap Maura dengan lekat, ia merasa pernah bertemu dengan maura disebuah Bar. Hingga memorinya pun mengingat ketika Maura melakukan hal kasar pada seorang pelayan Bar. "Apakah ini keahlianmu? Menyiksa orang??"


"Kamu?? Sang tuan yang sok jagoan itu? Heuh..." Maura kini ingat jika pernah bertemu dengan Alan.


"Apakah dunia ini begitu sempit, Mengapa semua orang yang pernah kutemui mengenal Belly?" Gumam Maura dalam hati dengan penuh kekesalan menatap Belly yang begitu dibenci olehnya.


Maura berfikir, Belly amat begitu beruntung. Tiap kali ia ingin mencelakai Belly ada saja yang datang menolongnya. Maura merasa semakin geram dan perasaan benci terhadap Belly makin bertambah.


"Jika kamu berani mengganggu Belly lagi, aku tak akan segan-segan memberi pelajaran untukmu!" Ancam Alan pada Maura dengan telunjuk yang tepat berada didepan mata Maura.


Maura hanya mengeratkan rahangnya, tangannya yang kini kian mengepal keras ingin sekali menghajar lelaki yang kini ada didepannya.


"Alan sudah..." Belly mencoba melerai dan menenangkan Alan dari emosinya.


"Bell, wanita seperti dia tak pantas diampuni! Bagaimana jika dia mencelakaimu dan juga bayimu???" Ucap Alan penuh kekhawatiran.


"Alan, aku tak apa. Ayo pergi..." Belly mengurungkan niatnya masuk kedalam toko kue. Ia mengajak Alan pergi untuk menghindari Maura.


Kali ini Belly harus bersikap untuk lebih waspada dan lebih hati-hati lagi, Maura pasti akan datang untuk mengganggunya dan bayinya. Ternyata Maura adalah orang yang amat berbahaya baginya. Untung saja Alan datang disaat yang tepat, jika ia terjatuh tadi entah apa yang akan terjadi padanya dan bayinya.


"Bayi?? Belly hamil?" Dengan jantung yang hendak jatuh, Maura merasa semakin shock mendengar jika Belly kini tengah mengandung.


"Apakah itu anak Raja??? Tidak!!! Tidak mungkin Raja! Ini pasti salah. Aku harus segera menemui Raja!" Seperti orang yang sedang keseta*an Maura mengacak rambutnya. Ia ingin segera menemui Raja dan meminta sebuah penjelasan.


Padahal, jika difikir lagi penjelasan apapun tak akan berpengaruh untuknya. Toh Raja kini bukan siapa-siapanya lagi. Mengapa Maura bertindak seolah Raja masih miliknya? Mengapa seolah Raja seperti sedang melakukan kesalahan dan menghianatinya?


Maura merasakan sakit dihatinya yang amat dalam, ia tak menduga jika Belly kini tengah mengandung.


Raja tak mungkin semudah itu melupakanku? Tidak! Raja hanya milikku, dia tak mungkin melakukan itu pada Belly wanita Si*lan itu?!!!


Dengan langkah cepat, Maura mendatangi kantor Raja dan menerobos masuk ke dalam ruangan kerja Raja.


Brak!!!


Maura membantimg pintu ruangan dengan keras dengan emosi yang memmuncak.


"Raja!!!!!"


Raja yang kini tengah bersama Rangga didalam ruangannya pun terkejut mendapati Maura bisa masuk kedalam kantornya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?" Rangga yang hafal jika Bossnya sangat tak menyukai Maura pun segera menghampirinya. Ia membawa secara paksa Maura menuju keluar ruangan dengan mencekal tangan Maura.


"Lepaskan!!! Jangan bersikap kurang ajar padaku!" Maura dengan sekuat tenaga berhasil melepaskan dirinya dari cekalan Rangga hingga membuat Rangga terhuyung dan hampir jatuh. Namun Rangga segera menegakkan kembali tubuhnya. Ia tak menyerah begitu saja dan mencekal lengan Maura kembali.


"Raja! Apa benar wanita itu hamil anakmu? Apa benar Raja??" Teriakan Maura kini menggema diseluruh ruangan kerja Raja seolah meminta penjelasan dari sang kekasih. Padahal, Raja bukanlah kekasihnya lagi.


"Maaf nona, cepatlah keluar!" Rangga mencoba untuk menarik paksa Maura.


Sementara Raja masih diam terus memeriksa pendengarannya atas ucapan Maura.


"Raja! Jelaskan padaku! Apa benar dia hamil anakmu?? Jelaskan Raja!" Teriak Maura lagi dengan mata yang kian berkaca-kaca.


"Nona! Aku akan memanggil polisi jika kau tak segera keluar!" Bentak Rangga pada Maura.


Raja memberi tanda dengan satu telapak tangan yang keatas kepada Rangga. Hingga Rangga pun mengerti maksud Bossnya itu dan perlahan melepaskan cekalan tangannya meninggalkan mereka berdua di dalam Ruangan.


"Raja...." Maura berhambur dengan isak tangisnya kearah Raja. Ia memeluk tubuh Raja dengan erat.


Kali ini, Air matanya bukanlah Air mata bawang seperti biasanya. Entah mengapa Air mata itu kini terus mengaliri pipi mulusnya. Apa mungkin Air mata itu adalah sebuah perwakilan atas rasa sakit hatinya?


Namun Raja segera melepaskan pelukan Maura.


Kali ini ia tak bersikap kasar, Raja berniat ingin mendengar penjelasan Maura yang belum dimengerti olehnya.


"Raja, jelaskan padaku... Apa itu benar? Apakah dia hamil anakmu? Itu tidak benar bukan?" Dengan tatapan mata yang banjir akan air mata, Maura terus mendongak kearah Raja masih menunggu Raj berbicara.


"Apa yang kau katakan? Aku tak mengerti!" Ucap Raja mengalihkan tatapannya dari Maura.


Raja merasa jika Maura kini tengah bersandiwara lagi seperti tempo hari saat ia datang memfitnah papa mertuanya dan Belly.


"Raja? Kau tak mengerti atau pura-pura tak mengerti?" Maura menarik nafasnya panjang.


"Raja, kau sudah mengahamilinya dan sekarang kau tak mengerti maksudku?" Tatap Maura mencari kebenaran di mata Raja. Namun sepertinya Raja memang tak mengerti akan ucapannya.


"Omong kosong apa yang kau katakan?!" Sentak Raja.


"A..apa? Belly hamil?" Raja mengedarkan pandangannya kesembarang arah di penjuru ruang kerjanya.


"Raja, jadi kau tak tahu jika wanita yang mengaku sebagai istri sah mu itu tengah hamil?? Heuh.." Maura memicingkan senyum jahatnya. "Sangat disayangkan, kau sendiri tak tahu sementara laki-laki tadi yang ada disampingnya mengetahui itu semua???"


Ini kesempatan Emas untuk meracuni Raja, lihat saja setelah ini Raja pasti akan segera menggugat cerai kamu BELLY!!


Maura bermonolog dalam hatinya, kini maura memiliki rencana jahat baru. Tangannya menyeka sisa-sisa Air mata yang menetesi pipinya.


"Laki-laki?? Belly bersama laki-laki?" Tanya Raja pada Maura.


"He'um, laki-laki putih sedikit tampan tapi lebih tampan kamu Raja! Sepertinya mereka berdua begitu dekat!" Maura kini semakin menebar racun dikepala Raja.


"Alan........" Raja mengeratkan rahangnya, fikirannya saat ini tengah membayangkan hal aneh-aneh tentang Belly dan Alan.


"Nah, iya itu lah namanya. Bahkan dia menyebut nama Alan dengan nada manja!" Maura mulai memfitnah Belly lagi.


"Raja, kau yakin bayi yang dikandung Belly adalah anakmu??" Maura saat ini tak mau kehilangan kesempatan. Ia terus saja menebar racun di otak Raja.


"Jangan coba-coba meracuniku!!!, kau fikir aku akan percaya semua omong kosongmu ini!! Jangan Mimpi!" Ancam Raja pada Maura.


"Raja, aku tak berbohong! Jika kau tak percaya kau bisa tanya sendiri pada Belly. Dia bertemu dengan laki-laki itu di toko kue *Star Cake's*!" Maura mencoba meyakinkan Raja.


"Aku tak akan mempercayaimu! Pergi dari sini!! Pergi!!" Usir Raja pada Maura.


"Raja, kau akan menyesal jika tak mempercayai Ucapanku! Aku tak mungkin membohongimu Raja percayalah...." Maura pun keluar dengan kekesalannya.


Aku yakin, setelah ini mereka berdua akan perang!! Haa...haa....haa....


Maura keluar dari ruangan kerja Raja dengan senyum ala devilnya. Bahagia yang ia rasa karna sudah bisa menghasut Raja. Meskipun dari luar Raja terlihat tak mempercayainya, tapi Maura yakin jika saat ini fikiran Raja tengah dipenuhi dengan rasa curiganya terhadap Belly.


***


Hari ini Raja pulang dengan cepat, jam lima sore sudah sampai di Rumah. Meski ia terus menepis segala perkataan Maura tadi saat menemuinya, sepeti kaset otaknya terus saja memutar-mutar mengingat semua perkataan Maura.

__ADS_1


Raja tiba di Rumah mencari keberadaan Belly, tak diketemukannya Belly di ruang depan atau di Dapur. Padahal Belly sempat mengabarinya jika akan pulang siang


Raja pergi ke kamarnya, ia berfikir mungkin saat ini Belly sedang mandi atau tidur di dalam kamar.


Saat Raja membuka pintu, ia melihat Belly tengah berdiri dihadapannya hingga membuatnya terkejut.


"Sudah pulang?" Tanya Belly dengan penuh senyuman menyambut Raja. Kemudian langsung berhambur kepelukannya. Belly menghirup aroma tubuh Raja dalam-dalam, ia begitu menyukai dan merindukan aroma tubuh suaminya.


"Ada apa ini, tidak seperti biasanya Belly bersikap seperti ini padaku?" Tentunya Raja berbicara didalam hati karena menyaksikan sikap manis Belly padanya.


Raja hanya menganggukkan kepalanya pelan, disini Raja merasa senang karena Belly tengah bergelayut manja dipelukannya, tapi otaknya masih terus berusaha menepis semua fikiran buruknya tentang perkataan Maura.


"Ada apa ini, apakah ada yang ingin kau katakan Bell?" Tanya Raja membawa Belly duduk di sofa dekat Ranjang.


Belly hanya tersenyum kecil, ia tak tahu harus memulainya darimana. Hingga Ia memberikan sebuah amplop cokelat yang sejak tadi dipegangnya namun masih disembunyikan dari pandangan Raja.


"Apa ini??" Keingintahuan Raja akan amplop yang diberikan oleh Belly membuat hatinya merasa tegang.


"Buka Saja!" Belly duduk tegap disebelah Raja dengan posisi mereka berdua yang saling berhadapan.


Raja membuka Amplop itu secara perlahan, ia kemudian menarik kertas yang ada di dalamnya dan membaca isi dari kertas itu dengan telitindan berulang-ulang.


Mata Raja membulat, ternyata kertas itu adalah sebuah surat keterangan jika saat ini Belly tengah hamil.


Deg!


Sejenak jantung Raja terhenti.


Satu....


Dua....


Tiga detik....


Jadi Belly benar hamil?? Apa yang dikatakan Maura benar? Mengapa Belly baru memberitahukan hal ini padaku? Padahal surat ini keluar sudah beberapa hari yang lalu saat kami di Rumah Sakit?


Banyak sekali pertanyaan yang terbesit dalam benak Raja, ia terus saja menatap surat yang terbentang ditangannya itu dengan segala fikiran yang kini tengah memutari seluruh penjuru otaknya.


"Raja??" Tanya Belly membuyarkan lamunannya.


"I..iya.." Raja menyingkap surat itu kemudian menatap Belly yang kini tengah tersenyum manis didepannya.


Seketika Raja memeluk istrinya itu kembali sekaligus untuk menghilangkan segala fikiran buruknya.


"Raja, aku hamil..." Ucap Belly lirih namun terdengar amat bahagia.


Aku sudah tahu Bell....


Bahkan aku mengetahuinya dari orang lain.


Raja memejamkan matanya, ia memeluk Belly semakin erat, batinnya kini banyak sekali pengaruh buruk dari Maura siang tadi. Tapi ia masih terus memaksa untuk menepiskan semua itu.


Raja, apa yang kau fikirkan? Tidak mungkin Belly menghianatimu! Belly sedang mengandung anakmu! Ya, ini adalah anakmu. Harusnya kamu bahagia mendengar kabar ini.


"Ra..Raja?" Belly melepaskan tubuhnya dari pelukan Raja. "Raja, ada apa? Apa kau tak bahagia mendengar kabar ini?"


Belly menatap Raja yang sejak tadi menampakkan ekspresi aneh, menurutnya Raja tak bahagia mendengarkan kabar baik ini.


"Eh, emm....tidak Bell. Aku... A..ku hanya syock saking bahagianya mendengar kabar ini." Ucap Raja terbata dengan memegang kedua tangan Belly.


"Raja, apakah kau belum siap jika kita memiliki anak sekarang?" Belly merasa jika Raja kini tengah dilanda sebuah keraguan.


"Ti..tidak! Aku justru senang memiliki anak secepatnya. Kabar baik ini harus segera kita beritahu pada mama dan papa Bell.." Raja mencoba meyakinkan Belly, ia tak ingin Belly tahu jika saat ini keraguan tengah melanda hati dan fikirannya.


Belly hanya mengangguk pelan, tak banyak lagi kata yang diucapkan olehnya. Belly hanya berbicara didalam hati saja menebak-nebak sesuatu yang tengah terjadi pada Raja.


Raja, aku tahu ada sesuatu yang mengganggu fikiranmu! Tapi apa?? Mengapa kau tak jujur padaku?


🍒 Selamat membaca.... Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers kesayangan.... Kasih vote, gift, like dan komentarnya! Terimakasih.....

__ADS_1


__ADS_2