
Alan menepikan Mobilnya di pinggir sebuah Danau, tempat di mana biasanya ia melakukan penyendirian apabila sedang penat. Ia berharap membawa Belly ke tempat ini adalah hal yang tepat, semoga Belly akan menjadi lebih tenang dan berhenti menangis. Karena sepanjang jalan, Belly hanya menangis sesegukan tanpa henti.
Alan membuka kaca jendela mobil agar angin yang berhembus dapat dirasakan olehnya. Angin dingin itu kini menyapu helaian rambut Belly hingga menimbulkan aroma wangi shampo yang di pakai Belly tercium oleh hidungnya.
"Ini di mana, Al?" tanya Belly baru menyadari jika mobil yang tadi Alan lajukan dengan kencang sudah berhenti.
"Di tempat yang aman, yang pasti tidak akan ada yang mendengar tangisanmu," jawab Alan dengan wajah datar.
Jujur, saat ini Alan masih bimbang akan keputusannya membawa pergi Belly. Padahal ia sendiri sudah menyerahkan dan merelakan Belly untuk Raja.
"Papa?" Belly teringat akan Prass yang masih di Bandara.
"Aku sudah meminta Darwin menjemput Om Prass, jangan khawatir," ujar Alan mencoba meredam kekhawatiran Belly akan Papanya.
"Oh, aku bahkan anak yang selalu lupa padanya. Tapi kamu selalu membereskan penyakit lupaku ini," ucap Belly tersenyum malu sembari mengusap sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya.
"Selagi aku bisa, akan ku lakukan, " Alan menjawab kaku. Jujur saat ini Alan senang melihat Belly sudah kembali tersenyum. Mungkinkah perasaan Belly sudah lega karena tadi sempat meluapkan segala emosinya pada Raja?
"Kamu selalu bisa diandalkan, Al. Terimakasih," Belly tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi situasi seperti ini tanpa Alan. Ia baru sadar, jika bersama Alan ia akan terus kuat seperti sekarang.
Alan hanya mengangguk pelan, dengan bibir yang ia rapatkan tanpa menanggapi perkataan Belly.
"Terimakasih juga sudah mau membawaku pergi," lanjut Belly. Sepertinya kata terimakasih nya belum juga selesai.
Alan menarik nafasnya panjang, ia tak ingin Belly salah paham karena ia telah membawa Belly pergi dari Raja.
"Jika aku membiarkanmu terus di sana, aku takut air matamu itu akan habis," celetuk Alan mencoba mencari alasan sembari menghilangkan perasaan canggung yang sejak tadi dihadapinya.
"Bahkan kau begitu peduli pada air mataku, Alan, soal ungkapan ku tadi ..."
"Tidak perlu dijelaskan, aku tahu mengapa kau berkata seperti itu pada Raja. Kau hebat, Bell, kali ini kau terlihat kuat dan berani, kerja bagus," Alan mengacungkan dua jempol tangannya ke arah Belly.
"Ya, memang harus seperti itu, aku yakin saat ini Raja tengah terbakar api cemburu dan akan segera sadar bahwa hanya kamulah wanita yang ..."
"Al, bukan itu maksudku," potong Belly tak ingin mendengar lagi perkataan Alan yang terus saja membahas soal Raja.
Bahkan Belly berfikir, hati Alan ini terbuat dari apa? Hingga ia selalu mengedepankan kebahagiaan orang lain daripada dirinya sendiri.
Alan terdiam, jika bukan itu maksud Belly lalu apa? Melihat Alan hanya diam, sejenak Belly berfikir jika Alan tak percaya dengan apa yang ia ungkapkan tadi ketika mereka berada di Air port.
"Al, untuk hal ini aku bersungguh-sungguh," ucap Belly menggenggam satu tangan Alan yang kini terasa dingin.
"Bell, bagaimana bisa ka- ..."
Belum sempat Alan melanjutkan perkataannya, Belly sudah membungkam bibir Alan itu dengan satu kecupan.
Suasana hening, jantung keduanya saling beradu cepat, hanya angin dingin malam ini yang menjadi saksi bisu untuk mereka.
Belly memundurkan posisinya, ia melihat Alan hanya diam tak bergerak dalam keadaan kaku dan juga tegang.
Malam ini Belly begitu berani, jika ia mengingat lagi malam ini ia sudah melakukan banyak kontak fisik dengan Alan. Namun Belly tak ingin ambil pusing, hal yang ia lakukan semata hanyalah untuk mendapat kepercayaan dari Alan akan perasaannya saat ini.
"Al, apa itu cukup untuk membuktikan kesungguhanku?"
Alan tak bisa menjawab, untuk saat ini jantungnya masih berdetak saja adalah suatu keberuntungan. Karena saat tadi Belly mengecup bibirnya ia seakan mati, tak dapat bergerak lagi.
Oh, entahlah, apa yang Alan rasakan saat ini hanya dia yang tahu.
Belly kembali mendekatkan dirinya, ia memposisikan tubuhnya sedikit lebih condong kearah Alan hingga jarak mereka berdua hanya beberapa senti saja hingga aroma nafas keduanya dapat tercium satu sama lain.
__ADS_1
"Belly, a-apa yang kamu lakukan?" ucap Alan dengan suaranya yang bergetar.
"Al, kamu masih ragu?" tanya Belly dengan tatapan kesungguhannya.
"Bell, kamu tahu aku sangat ingin memilikimu," ujar Alan dengan nafas yang memburu.
Belly tersenyum mendengar penuturan Alan, hingga senyuman manis itu dapat terlihat jelas oleh mata Alan.
"Benarkah?" goda Belly semakin melebarkan senyumannya.
"Jangan menatapku seperti itu, Bell. Jika kamu terus seperti ini maka aku akan ..."
"Jika kau ingin memilikiku, maka aku mau menjadi milikmu, Al," sambung Belly tanpa mendengarkan lebih dulu perkataan Alan.
"Astaga, godaan apa lagi ini?" Alan menggerutu, ditatapnya Belly lebih dalam, dan kini Belly sudah memejamkan kedua bola matanya.
Dug!!
"Aw!" Belly terkejut, matanya membola dengan sempurna ketika ia merasakan sesuatu mengenai keningnya hingga ia mengaduh kesakitan.
"Apa yang kau fikirkan, hah?" Alan tertawa senang setelah selesai mengadu keningnya dengan kening milik Belly, kemudian ia mengacak pelan rambut Belly hingga sedikit berantakan.
Malam ini Belly benar-benar begitu menggoda keimanannya, namun ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak lemah dan menahan diri. Setidaknya melihat Belly sudah kembali ceria itu sudah membuatnya bahagia. Apalagi sekarang Belly telah memberikan lampu hijau padanya, membuat Alan tak sabar ingin memiliki wanita itu sepenuhnya. Perasaan senang seolah mendapatkan berlian berharga pun kini tengah menyelimuti hatinya.
Sementara wajah Belly kali ini berubah layaknya buah tomat merah. Ia pun merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan karena ulah Alan.
Perasaan malu sekaligus senang kini melanda hatinya, apakah mungkin ia kini telah jatuh cinta pada Alan?
Ya, ia meyakini jika Alan begitu spesial baginya. Sesuatu yang ia sesali saat ini adalah mengapa ia baru menyadari setelah Alan memintanya untuk pergi?
Kini Alan dan Belly saling menatap secara bergantian dengan melemparkan senyuman bahagia masing-masing.
Tiba di tempat yang Alan tuju, Belly merasa bingung karena kini Alan mengajaknya ke sebuah toko perhiasan.
"Al, kita mau apa kemari?" tanya Belly dengan mata yang mengarah kesana kemari.
"Sayangnya waktunya kurang tepat," ucap Alan menghela nafasnya berat.
Saat tiba di toko perhiasan yang terkenal di kota itu, Alan dan Belly disambut hangat oleh pelayan di sana.
"Selamat datang, silahkan duduk, Pak Alan," sapa seseorang dari jarak agak jauh menghampiri kedatangan mereka mengambil alih pelayanan karyawannya.
"Terimaksih, Pak Robert,"
Belly baru menyadari jika orang yang mereka temui ini adalah Pak Robert, orang yang pernah ditemui oleh mereka beberapa hari yang lalu.
"Sudah ku duga, ternyata hubungan kalian akan berlanjut sejauh ini," ucap Robert dengan menyerahkan beberapa katalog dan sampel perhiasan kepada Alan.
"Silahkan di lihat-lihat dulu Pak Alan dan Belly,"
Alan dan Belly hanya saling menatap dalam diam, lalu sama-sama melemparkan senyuman manis.
"Kau suka yang mana?" tanya Alan sembari menunjukkan beberapa gambar yang ada di katalog yang ia pegang.
"Al, untuk apa?" Belly sedikit berbisik, matanya pun membola karena ia melihat harga yang di tawarkan oleh perhiasan dihadapannya begitu mahal.
Alan hanya mengerenyitkan keningnya, ia tahu jika Belly saat ini sedang bingung karena tiba-tiba dibawa olehnya kemari.
"Belly, pilih saja yang kau sukai. Aku tidak ingin kita pulang tanpa hasil," ucap Alan ketus.
__ADS_1
"Al, kau ingin membelikanku perhiasan mahal ini? Apakah tidak ada yang lebih murah? Bagaimana kalau kita ke tempat lain saja dulu?"
Belly begitu bawel, hingga membuat Alan memijat keningnya perlahan. Robert yang menyaksikan tingkah mereka pun hanya tersenyum-senyum kecil.
"Di tempat ini sudah paling murah, Bell," jawab Alan masih ketus. Ia berharap Belly akan segera memilih perhiasan yang ia sukai, namun ternyata Belly malah mencari-cari alasan lain.
"A-apa?" mata Belly membola, ia hanya bisa menelan salivanya. Bagaimana mungkin harga perhiasan di negara ini sama dengan harga satu buah mobil. Belly hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Jika kau kesulitan memilih, aku akan bantu pilihkan untukmu," tawar Robert dengan ramah.
"Al, malam ini kau sudah menghabiskan uang cukup banyak. Bahkan kau sudah membuang puluhan juta untuk membeli tiket pesawat yang kini telah gagal, sekarang kau ingin menghabiskan uang untuk perhiasan ini?"
Belly merasa semakin bersalah, karena selama ini Alan pasti kehabisan banyak uang untuk dirinya dan Ayahnya.
"Bell, berapapun uangku yang hilang itu lebih baik daripada aku harus kehilangan dirimu lagi," Alan menggenggam tangan Belly dengan erat.
Mendengar penuturan Alan, Belly menjadi terharu. Kini matanya pun sudah mulai berkaca-kaca. Rasa bersalah sekaligus perasaan semakin jatuh hati pada Alan kini tengah menyelimuti dirinya.
"Pak Robert, bantu pilihkan cincin yang simpel dan cukup untuk jarinya," merasa percuma dan membuang waktu karena Belly tak kunjung memilih, Alan akhirnya meminta bantuan Robert untuk memilihkan cincin yang ia butuhkan untuk Belly. Jika menunggu Belly, mungkin ia akan gagal malam ini.
...****************...
"Belly," melihat Putrinya tiba dengan selamat, Prass pun berhambur menghampiri Belly dan memeluknya.
"Pa, maafkan Belly,"
"Sudah, kamu tidak bersalah. Papa senang kamu sudah kembali," ucap Prass menenangkan Putrinya.
"Om Prass, maaf sudah membuat khawatir Om," sambung Alan.
"Tidak, Al, Om sudah diceritakan oleh Darwin perihal apa yang terjadi, Om yang harusnya berterimakasih karena kamu sudah membawa Belly pulang dengan selamat,"
Alan melirik kearah Darwin yang tengah duduk di sofa dengan santai. Hingga Darwin melemparkan sebuah senyum dengan deretan gigi putih miliknya.
"Om, malam ini aku ingin langsung meminta izin," ucap Alan mengumpulkan keberaniannya.
"I-izin? Izin apa, Al?" tanya Prass penasaran.
"Aku ingin melamar Belly, Om, maaf karena waktu yang kurang tepat dan dalam keadaan seperti ini," Alan menundukkan kepalanya, ia berharap Prass tidak akan mencekiknya. Karena kemarin ia sudah meminta Prass membawa Belly pulang ke Surabaya, sekarang ia malah ingin melamar Belly.
"Om, tolong terima lamaran ini, aku tidak ingin kehilangan Belly lagi," bubuh Alan lagi dengan wajah memelas.
Prass hanya tersenyum, sementara Belly merasa terkejut. Ia baru sadar jika perhiasan yang dibeli Alan untuknya digunakan sebagai cincin lamaran. Begitu loading otaknya hingga fikiran itu baru muncul sekarang.
"Alan, Om menerima lamaranmu, tapi apakah Belly sudah ..."
"Pa, jangan khawatir, Belly yang ingin Alan melamar secepatnya," sambung Belly.
"Wah, wah, kamu juga ternyata sudah takut kehilangan Alan?" tanya Prass pada Putrinya.
Belly dan Alan saling bertatap melemparkan senyuman dan perasaan lega masing-masing. Alan pun mengeluarkan sebuah kotak berisi cincin berlian yang ia beli tadi.
"Bell, menikahlah denganku," ucap Alan dengan posisinya yang menjongkok memegang tangan kiri Belly.
Belly mengangguk terharu, hingga Alan memasang cincin itu pada jari manis lentiknya.
Ini bukanlah waktu yang tepat untuk sebuah lamaran, namun Belly dan Alan ingin melakukannya dengan cepat karena tak ingin saling kehilangan.
🍒 yang Nungguin cerita ini tamat, silahkan tinggalkan komentarnya.
__ADS_1
Terimakasih banyak untuk semua pembaca setia Othor, dan nantikan cerita Othor selanjutnya* ...