Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Jarak


__ADS_3

Matahari sudah mengeluarkan sinarnya pagi ini, tanpa malu-malu hingga menembus celah-celah jendela kamar seorang wanita yang tengah tertidur akibat lelahnya menangis semalaman. Meregangkan otot-ototnya dengan menggeliat-geliat diatas ranjang adalah pilihannya saat ini dari pada ia harus bangun untuk menyiapkan sarapan seperti biasanya. Rasa malas sudah memenuhi dirinya, tak ada semangat sedikitpun yang terpancar.


Huft, bahkan pagi ini pun aku masih mengingatnya.


Belly bermonolog dalam hati menatap jam dinding disebelah kanan tembok kamarnya. Jarum jam yang sudah menunjukkan angka delapan, segera ia angkat tubuh malasnya itu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Merendam diri pada bathtub yang diisi air hangat adalah pilihan tepat yang diambil belly sekarang. Bukan hanya dapat memberi efek nyaman pada tubuhnya, tapi hatinya kini sudah kian membaik meski hanya sedikit.


Setengah jam, belly menghabiskan waktu untuk merendam tubuhnya. Kulit jarinya yang sudah terlihat berkerut membuatnya tak ingin lagi berlama-lama merendam diri. Ia pun segera bangkit mengambil bathrobe dan memakainya.


Belly keluar dari kamarnya setelah selesai merias diri dan mengganti pakaiannya. Matanya menelisik setiap sudut ruangan, tak ada siapapun disana. Namun saat ia melihat ke dapur, semua makanan sudah siap di atas meja. Ia tak tahu siapa yang menyiapkan semua ini, karena nafsu makannya tak berselera saat ini belly memilih keluar rumah untuk menengok bunga-bunga tanamannya di taman kecil samping rumah.


"Non belly.." Panggil bu siti menyapa belly yang tengah asyik menyiram bunga-bunga di taman hingga nampak semakin segar.


"Bu siti sudah datang?" Sapa belly pada wanita paruh baya itu.


"Ya non, makanan di meja tolong di makan ya.. Tuan raja tadi pagi-pagi sudah menelpon ibu untuk memasak makanan buat non belly." Senyum khas bu siti pun keluar dari bibirnya. Dapat terlihat keramahan pada diri bu siti.


"Iya bu. Tapi aku sekarang sedang tak berselera makan." Ucap belly dengan terus melanjutkan aktivitas siram menyiramnya.


"Lah? Kenapa non?" Tanya bu siti terkejut.


"Tak apa bu, jangan khawatir aku akan memakannya nanti." Senyuman kecil terukir pada sudut bibir belly, senyuman yang terkesan sedikit terpaksa.


"Ya non, tuan raja pagi-pagi sekali sudah ke kantor. Dia terlihat terburu-buru, apakah non belly sedang sakit? Tidak biasanya non belly bangun sesiang ini?" Begitu banyak pertanyaan dari bu siti, hingga belly pun bingung harus menjawab yang mana.

__ADS_1


"Aku sedang tak enak badan saja bu, tapi sekarang sudah membaik." Jelas belly dengan singkat, ia tak ingin banyak bicara saat ini apalagi bercerita.


"Begitu ya non, baguslah jika sudah sehat. Ibu sudah izin pada tuan raja. Ibu akan cuti selama satu atau dua minggu kedepan karena orang tua di kampung sedang sakit keras." Ternyata bu siti kini sedang ada musibah.


"Sakit? Semoga lekas sembuh ya bu.. Kenapa ibu masih kerja hari ini? Ibu pergi saja ke kampung sekarang."


"Non belly mengizinkan? Terimakasih non.. Kalau begitu ibu berangkat sekarang ya?."


"Iya bu siti, hati-hati di jalan.."


Percakapan mereka pun berakhir setelah bu siti berpamitan pada belly. Belly menatap punggung bu siti yang kian menjauh dan menghilang dari pandangannya.


Belly menghubungi stephani, ia meminta untuk mulai bekerja minggu depan karena saat ini belly merasa sedang tak enak badan. Untung saja stephani bisa mengerti keadaan belly, malah ia mengusulkan jika belly mengambil waktu selama satu bulan. Namun belly merasa tak enak hati, ia hanya meminta waktu satu minggu saja.


Langkah kaki belly melaju perlahan menuju dapur, ia mengambil gelas dan membuat susu hangat dan meminumnya hingga tandas. Karena kepalanya terasa berdenyut, belly memutuskan pergi ke kamar untuk istirahat merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk kesayangannya.


"Aw.. Ada apa dengan kepalaku? Kenapa sakit sekali?"


Belly mencari kotak obat di dekat meja riasnya. Beruntungnya ia menemukan obat pereda nyeri di sana. Belly pun berniat meminumnya, namun karena merasa ia belum memakan apapun sejak pagi, belly pergi ke dapur mengambil sepotong roti tawar untuk mengganjal perutnya.


Setelah itu, barulah ia meminum obat pereda nyeri.


Waktu sudah menunjukkan jam lima sore, tanpa terasa karena menonton film kartun kesukaannya belly membaringkan tubuhnya di sofa panjang. Rasa kantuk tak dapat lagi ia tahan, hingga ia pun memejamkan matanya dan tertidur dengan televisi yang masih menyala.


Sementara di kantornya, raja hanya banyak diam dan merenung saat istirahat pun raja tak menyempatkan untuk makan siang bersama alex dan bastian seperti biasanya. Sesekali raja memijat keningnya dan memejamkan matanya sejenak, karena sejak semalam ia tak bisa tidur.

__ADS_1


Raja memilih meminum kopi panas dan memakan beberapa camilan di dalam ruangannya sembari menyelesaikan pekerjaannya. Beberapa laporan pun akhirnya sudah selesai ia babat sekaligus hari ini. Hingga jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ia merehatkan diri sejenak bersandar pada kursi kerjanya, berfikir untuk pulang atau tetap berada di kantor.


Dengan langkah pelan, ia membuka pintu rumah dengan hati-hati. Seluruh lampu rumah masih menyala, pintu pun tak terkunci.


Saat ia menatap belly tengah berbaring di sofa, ia melangkah sangat pelan takut akan membangunkan belly. Raja mengambil remote control yang ada di meja dan mematikan televisi.


Di tatapnya wajah belly yang sedang tertidur pulas, namun raja tak berani mendekat. Ia hanya menatap dari jarak sedikit jauh, kali ini raja membiarkan jarak diantara dirinya dan belly. Ingin rasanya raja membangunkan belly atau bahkan menggendongnya agar pindah ke dalam kamar, tetapi ia masih ingat dengan jelas apa yang telah ia lakukan terhadap belly kemarin.


Masih sangat tergambar jelas raut wajah belly yang menunjukkan ketakutan saat raja menyentuhnya dengan paksa. Rasa sesal itu terus hadir dalam dirinya, apalagi semalaman ia tak dapat tidur karena memikirkan belly.


Jangankan tidur, memejamkan mata saja pun ia tak mampu. Seketika ia mengingat perlakuannya terhadap belly kemarin ia sangat merasa bersalah. Namun, saat itu juga ia mengingat belly bersama alan raja malah semakin kesal dan marah pada belly.


Kau sangat menyiksaku, apakah ini balasanmu atas semua perlakuanku terhadapmu selama ini?


Raja bergumam dalam hati, ia mengambil selimut dari kamar belly yang dekat dengan ruang televisi. Kemudian menutupi tubuh belly setengah badan. Setelah itu raja pun memutuskan meninggalkan belly menuju kamarnya.


Karena merasa haus, ia memutuskan untuk pergi ke dapur terlebih dahulu. Saat tiba di meja makan, raja terkejut mendapati makanan tadi pagi masih utuh tak tersentuh sama sekali.


Apakah hari ini dia tidak makan? Atau, dia pergi keluar lagi bersama pria lain?


Raja merekatkan rahangnya keras, kepalan kedua telapak tangannya pun semakin erat.


To be continue.....


*🍒Hai readers, jangan lupa tinggalin vote dan hadiahnya buat othor... Biar othor makin lancar mikirnya, otak othor biar cair sedikit dan makin giat updatenya.. Wkwkwwk

__ADS_1


Terimkaasih banyak yang sudah terus mendukung


karya othor*....


__ADS_2