
Rasanya baru kemarin Belly pergi ke Singapura bersama Alan dan Papanya. Namun karena banyaknya kesibukan yang ia lalui, tak terasa satu minggu sudah ia berada di Negara ini.
Belly tinggal di sebuah rumah yang dibilang cukup mewah. Entah ini rumah milik siapa, Alan yang membawanya kemari pun tak memberitahu kepadanya. Sebagai seseorang yang merasa hanya menumpang hidup, ia tak berani bertanya macam-macam atau hal yang bersifat pribadi kepada Alan. Baginya, disediakan tempat untuk berteduh saja sudah lebih dari cukup. Apalagi selam ini Alan juga membiayai pengobatan untuk Prass papanya.
"Bell, sudah siap?" Tatapan mata Alan mengarah pada Belly yang kini sudah berpakaian rapi.
"Siap," ujar Belly menjawab.
Alan mengangguk, tak ada perkataan lain yang keluar dari mulutnya meskipun ia sangat ingin sekali mengatakan sesuatu untuk memuji penampilan Belly malam ini.
Namun Belly sepertinya bisa menebak, karena melihat Mata Alan tak kunjung beralih menatap dirinya. "Al, apa ada yang ingin kau katakan?"
"Oh, ya. Oh, tidak." Alan sedikit linglung, hingga ia menjawab dengan terbata-bata. Mungkin Alan merasa takjub dengan penampilan Belly malam ini, hingga membuat dirinya tak fokus dengan fikirannya.
Belly terkikik geli melihat tingkah Alan yang menurutnya lucu. Entah sejak kapan Belly tak lagi menampilkan senyumannya itu. Yang jelas, sepertinya malam ini senyuman itu begitu berarti bagi Alan setelah sekian lama ia tak melihatnya.
"Kau menertawakanku, Bell?"
"Ah, tidak. Aku tidak menertawakanmu, Al."
"Sebaiknya kita segera berangkat, aku takut kita akan terlambat," ajak Alan pada Belly tak ingin mereka terlambat pergi ke sebuah Pesta pernikahan anak dari rekan bisnisnya.
Alan diundang oleh rekan bisnisnya yang bernama Robert, hari ini Tuan Robert menikahkan putrinya Amelia dengan Chicko seorang pengusaha muda di Singapura. Tuan Robert pun menyiapkan pesta yang meriah untuk putri semata wayangnya itu dengan mengundang beberapa relasi bisnisnya dari berbagai negara.
Sampai di tempat, Alan dan Belly datang dengan beriringan. Mereka pun disambut oleh Tuan Robert bersama istrinya.
"Selamat datang Tuan Alan," sapa Robert dengan lembut.
"Terimakasih Tuan Robert," Alan berjabat tangan Robert kemudian beralih menjabat tangan istrinya. Setelah itu ia pun memperkenalkan Belly.
"Selamat atas pernikahan putrimu Tuan dan Nyonya Robert," sapa Belly lembut.
"Terimakasih. Sungguh luar biasa cantik sekali," ujar Tuan Robert memuji kecantikan Belly.
Alan tersenyum, tak lepas matanya pun terus menatap Belly yang hanya tersipu malu mendengar pujian Tuan Robert.
"Segera halalkan, sebelum diambil orang," Nyonya Robert pun buka suara, seakan tahu jika Alan memiliki perasaan spesial terhadap Belly meski ia belum tahu jika hubungan mereka yang sebenarnya hanya sebatas teman saja.
"Ehem!" Alan berdehem, merasa ada sesuatu yang menganggu tenggorokannya. Bahkan sesuatu itu terasa ngilu dan sampai menyentuh hatinya.
"Tuan Alan, kau tak apa?" Tanya Robert khawatir ketika mendapati wajah Alan yang kian memerah.
"Em, tidak. Kalau begitu kami permisi dulu Tuan Robert." Alan mengajak Belly pergi ke tempat duduk para Tamu meninggalkan Tuan Robert beserta Istrinya.
Setelah sampai di tempat duduk yang telah disediakan, Alan mengambilkan minuman untuk Belly. Namun saat sedang asyik menikmati hidangan, mereka berdua dihampiri oleh seseorang.
"Belly," sapa seseorang dengan suara khas kepada Belly.
Alangkah terkejutnya ketika Belly mendongakkan kepalanya melihat siapa seseorang yang kini tengah menyapanya. Begitu pula dengan Alan, ia lebih terkejut daripada Belly.
"Pa-, Em, Om Darmawan?" Belly sempat gugup, ia tak menyangka akan bertemu dengan mantan papa mertuanya.
"Bell, apa kabar?" Tanya Darmawan lagi, sungguh suatu kebetulan yang baik ketika ia bertemu Belly di tempat ini.
"Seperti yang Om lihat Belly baik-baik saja, maaf Om kami harus segera pergi," Alan kali ini yang menjawab pertanyaan Darmawan. Ia pun menarik tangan Belly agar beranjak dari duduknya dan pergi bersamanya.
"Alan, tunggu!" Darmawan segera menghentikan langkah mereka berdua.
"Alan, tolong izinkan saya untuk berbicara dengan Belly sebentar," kali ini Darmawan seperti sedang meminta izin seolah Alan adalah pemilik Belly.
"Maaf, kami tidak ada waktu. Kami harus segera pergi!" Alan pun dengan segera menarik tangan Belly. Langkah kakinya melaju dengan cepat hingga Belly pun susah untuk mengimbanginya.
"Al, lepasin," Belly berusaha melepaskan cekalan tangan Alan yang memegangnya dengan kuat.
"Al, kamu kenapa? Apa yang salah dengan Om Darmawan? Kenapa sikap kamu seperti ini?" Banyak sekali tanya yang belum terjawab dari benak Belly. Sikap Alan malam ini terlihat seperti takut. Entah perasaan takut karena apa, Belly belum mengetahuinya. Namun Belly bisa merasakan dengan jelas perubahan sikap Alan ketika bertemu dengan Darmawan.
Alan hanya diam, ia tak menjawab sepatahpun pertanyaan Belly.
"Al, jawab. Sebenarnya ada apa? Apa ada yang kamu sembunyikan dari aku?" Melihat Alan hanya mematung, Belly pun berusaha mendesak agar Alan menjawab pertanyaannya.
"Masuk," pinta Alan pada Belly setelah ia membukakan pintu Mobil.
__ADS_1
"Al," Belly menggelengkan kepalanya.
"Belly, masuk!" Alan menaikkan satu oktaf nada bicaranya. Ia meminta Belly segera masuk kedalam Mobil.
"Jika memang kamu tidak ingin memberitahuku, maka biarlah aku yang mencari tahu sendiri!" Belly tak ingin kalah, ia pun berbalik arah dan kembali masuk ke dalam Hall Pesta untuk menemui Darmawan.
"Belly!" Teriak Alan, ia pun segera berlari mengejar Belly. Dan berhasil, Alan pun dapat menangkap tangan Belly kembali.
"Al, lepasin!" Belly mengayun-ayunkan tangannya berharap Alan akan melepaskannya.
"Bell, pulanglah. Aku minta dengan baik-baik," ucap Alan dengan suara pelannya. Ia menyesal karena tadi sempat bersuara keras.
"Maaf, jika tadi aku berbicara kasar," lanjut Alan lagi.
Belly hanya menghembuskan nafasnya kasar, jika sudah melihat Alan memelas seperti ini ia tak bisa berkutik. Tapi, rasa penasarannya belum terjawab. Tidak mungkin Alan akan bersikap seperti ini jika tak ada yang ia sembunyikan darinya.
"Al, aku akan pulang setelah aku menemui Om Darmawan." Belly tak menghiraukan Alan, ia pun segera masuk ke dalam untuk menemui Darmawan kembali.
Alan hanya bisa pasrah, sekeras apapun ia memaksa Belly itu takkan mengubah apapun. Ia tahu jika Belly sangat keras kepala.
Alan hanya bisa berharap, setelah Belly mengetahui semua kebenarannya, ia takkan membenci dirinya. Hanya itu satu-satunya harapan Alan. Alan pun memilih tinggal di Mobil untuk menunggu Belly.
Fikirannya kalut, banyak kekhawatiran yang terlintas di benaknya. Ketakutan akan kehilangan Belly kembali menghantuinya. Ia sudah terlalu nyaman dengan posisinya saat ini, meski Belly tidak sepenuhnya menjadi miliknya. Jika harus jauh kembali dari Belly, entahlah mungkin ia takkan sanggup.
Andai ia tak mengikuti saran Darwin kala itu untuk segera membawa pergi Belly ke Singapura, semua pasti tidak akan seperti ini. Saat itu ia terlalu kalap, harapannya untuk terus bersama Belly membuat ia harus berbohong meski akhirnya ia tahu akan seperti ini.
Tidak ada hal yang sempurna jika diawali dengan kebohongan, meski awalnya terlihat baik-baik saja. Percayalah, lebih baik jujur meskipun menyakitkan.
...****************...
Sementara saat ini Belly tengah mencari-cari keberadaan Darmawan. Ia mendatangi kembali tempat sebelumnya saat ia bertemu Darmawan. Namun sialnya ia tak menemukan mantan Papa mertuanya itu.
"Dimana Om Darmawan?" Belly menelisik setiap tempat, matanya mengarah kesana-kemari mencari sosok Darmawan. Ia berharap rasa penasarannya selama ini akan terjawab oleh Darmawan.
"Aku kehilangan jejak," ucap Belly putus asa.
Setelah beberapa menit menelusuri hall pesta dan tak menemukan sosok yang dicarinya, Belly pun memilih keluar untuk kembali pulang. Namun belum sempat Belly kembali menuju ke parkiran Mobil, ada seseorang yang memanggilnya.
"Belly,"
Darmawan tersenyum, sepertinya kali ini ia bisa berbicara empat mata dengan Belly. "Bisa kita bicara sebentar?"
Belly mengangguk, ia pun mengikuti Darmawan menuju ke sebuah kursi dimana tak ada orang yang berlalu lalang di sana.
"Bell, Om langsung saja. Sebenarnya Om sudah tahu apa yang terjadi antara kamu dan Raja," Darmawan tak ingin berbasa-basi, ia langsung saja pada intinya.
"Aku minta maaf, karena mungkin aku dan Raja tidak berjodoh Om," ucap Belly dengan berat.
"Ya, Om tahu. Tapi, kondisi Raja saat ini sangat memprihatinkan. Om ingin kamu menemuinya meski sebentar saja."
"Maksud Om? Memprihatinkan bagaimana?" Tanya Belly tak mengerti.
"Jadi kamu belum tahu, Bell?"
"Tahu? Apa ada yang terjadi pada Raja?" Tanya Belly lagi ingin memastikan.
Darmawan menghela nafasnya panjang, benar dugaannya jika selama ini Belly tidak tahu mengenai kecelakaan yang menimpa Raja. Andai dia tahu, pasti Belly sudah datang menemui Raja.
Tetapi Darmawan curiga terhadap Alan, ia merasa jika Alan mengetahui semua ini dan membawa Belly pergi untuk menghindari Raja.
Darmawan tak ingin gegabah, ia berusaha tenang menghadapi situasi seperti ini. Tujuan utamanya saat ini adalah harus bisa membujuk Belly agar mau menemui Raja. Bukan fokus pada masalah Alan yang membawa Belly pergi.
"Om," panggil Belly membuyarkan lamunan Darmawan.
"Bell, Raja mengalami kecelakaan dan membuat kondisinya luka parah. Sudah hampir satu bulan Raja tak sadarkan diri,"
"A-apa, Om?"
"Bell, mungkin Raja membutuhkanmu saat ini, ini adalah permintaan Om padamu. Tolong temui Raja,"
Darmawan memohon, ia kemudian mengeluarkan secarik kertas dan menyerahkannya kepada Belly.
__ADS_1
"Raja di rawat di Rumah sakit ini, temuilah dia, Bell. Om mohon ..." Kali ini mata Darmawan sudah mulai berkaca-kaca. Ia sangat berharap penuh pada Belly agar mau menemui Raja.
"Jika memang fikiranmu sudah berubah, temui Raja," lanjut Darmawan lagi. Darmawan pun pamit kepada Belly, ia meminta Belly untuk kembali bersama Alan terlebih dahulu.
Setelah bertemu dengan Darmawan, ia jadi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sepertinya Alan pun tahu hal ini, namun Alan menutupinya dari Belly.
"Belly,"
Saat Belly tiba menemui Alan yang kini tengah menunggunya di depan Mobil, Belly pun segera masuk ke dalam Mobil tanpa sepatah kata pun.
Melihat sikap Belly seperti itu, Alan pun hanya bisa menelan salivanya. Ia tak berani berkomentar kali ini, tugasnya hanya menyalakan mesin Mobil kemudian melajukannya.
Di tengah-tengah keheningan keduanya, akhirnya Alan memilih membuka suara. Baginya, lebih baik ia segera mengetahui apa yang kini tengah Belly pendam, daripada menunggu lebih lama lagi. Ia tak sesabar itu.
"Bell, a-ku ..."
"Apa kamu sudah tahu tentang kecelakaan Raja?" Belly menoleh kearah Alan, tanpa membiarkan dirinya melanjutkan perkataannya lebih dulu.
"Itu, aku ..."
"Jadi benar kamu sudah tahu, bukan?" Belly kembali memotong ucapan Alan yang masih belum selesai.
"Ya, aku sudah tahu itu." Alan langsung saja menjawab pertanyaan Belly, ia merasa kali ini Belly tak ingin jawaban lain. Nyeri di hatinya pun kini kian terasa, saat ini Belly sudah mengetahui kebenarannya. Bukan tak mungkin sebentar lagi Belly akan meninggalkan dirinya.
"Aku bisa terima jika kamu akan memarahiku, karena ini memang salahku," ucap Alan lagi.
"Tapi, Bell. Aku hanya ingin kamu tahu aku melakukan semua ini karena ..."
"Al, apa benar kamu bawa aku ke Singapura karena untuk menghindari Raja?" Belly masih belum membiarkan Alan melanjutkan perkataannya.
"Bell, untuk masalah itu ..."
"Jawab Alan! Apa benar begitu?"
"Belly, aku ..."
"Alan, jawab!"
"Ya, benar! Aku bawa kamu setelah tahu kecelakaan yang menimpa Raja! Aku tidak ingin jika kamu tahu, karena kamu pasti akan kasihan dan merasa simpati dengan Raja! Aku juga tidak ingin kamu kembali dengan Raja dan meninggalkan aku," Alan pun akhirnya mengeluarkan semua isi hatinya dengan penuh emosi.
"Alan," Belly tidak tahu lagi akan berkata apa hingga air matanya pun tak terasa sudah menetes. Yang jelas penuturan Alan kali ini diluar dugaannya. Ia tak menyangka jika Alan akan bersikap egois seperti ini.
"Tapi Bell, jauh sebelum kejadian ini kamu harus tahu. Aku memang sudah berencana membawa kamu dan Om Prass ke Singapura untuk pengobatannya,"
Alan akhirnya bisa bernafas sedikit lega, karena ia telah mengeluarkan perasaan yang pernah ia tutupi dari Belly. Jujur, saat ia menyimpan kebohongan itu ia sangat merasa bersalah pada Belly.
"Maaf, maaf jika aku menutupi hal ini darimu Bell."
"Alan berhenti!" Perintah Belly agar Alan menghentikan laju mobilnya.
"Bell," Alan masih tetap melajukan Mobilnya.
"Berhenti aku bilang Al," Belly kini menaikkan nada suaranya.
Dengan berat hati, Alan tetap melajukan Mobilnya. Ia tak menggubris perkataan Belly yang memintanya berhenti.
"Alan, hentikan atau aku akan lompat??" Kali ini Belly mengancam Alan.
"Aku tidak akan menurunkan kamu di sini, jika kamu memang ingin marah, maka marahlah nanti di Rumah."
"Aku sudah marah, memangnya kamu fikir aku ini apa Al? Mengapa kamu selalu mengaturku semaumu? Kamu EGOIS!!"
Aku bahkan melakukan ini demi kamu Bell, apa kamu akan terus begini dan tak akan pernah memandangku sedikit saja??
Di mana hati nuranimu Bell, kenapa aku harus terus menahan rasa sakit ini karena kamu masih saja membela Raja?
Apakah semua yang ku lakukan ini tak berarti apa-apa untukmu?
Tuhan, apakah aku salah jika harus bersikap egois demi ingin terus menjaga cintaku?
Mendengar penuturan Belly, Alan hanya bisa diam. Alan semakin melajukan kencang mobilnya. Ia tak tahan lagi jika harus terus berdebat dengan Belly. Rasa nyeri di hatinya semakin sakit, sakit dan sangat sakit.
__ADS_1
To be continue ...