
Dua hari, keberadaan darmawan dan rianti membuat belly terpaksa harus tinggal di rumah raja kembali. Pagi ini, karena ada urusan yang mendesak di perusahaannya membuat darmawan harus kembali ke bandung bersama rianti.
"Ma, belly akan merindukan mama.." Belly bergelayut manja memeluk tubuh rianti.
"Lalu?? Bagaimana dengan papa??" Darmawan merasa iri dengan ucapan belly.
"Belly juga akan merindukan papa." Ucap belly sembari terus tersenyum ke arah mertua lelakinya itu.
"Papa dan mama juga pasti akan selalu merindukanmu nak, kamu sudah seperti putri kami sendiri." Ucap rianti dengan mata yang kini telah berkaca-kaca.
"Emm... Mama..." Belly kembali memeluk erat rianti.
"Bell, baik-baik ya disini. Kamu harus sabar menghadapi sikap raja, dia memang terlihat sedikit keras tapi sebenarnya dia sangat baik dan penyayang. Kamu pasti sudah sedikit paham dengan sifat raja selama bersamanya bukan??" Ucap Rianti menasihati belly dengan mengusap pelan rambut belly.
"Iya ma.. Belly tahu itu.." Ucap belly lirih, ia membayangkan sikap-sikap manis raja terhadapnya selama ini. Hal itu membuatnya terus tersenyum.
"Ehem!!!" Raja datang menghampiri mereka dengan berdehem hingga semua orang mengarah keasal suara. "Apakah cuma belly anak mama dan papa?? Kenapa hanya belly yang dimanja-manja?"
"Raja.... Mama dan papa percuma memanjakanmu, toh kamu tidak akan pernah mau di peluk. Kamu selalu bilang, Mama, papa. Raja sudah besar!" Rianti menirukan suara dan gaya persis seperti raja.
"Mamamu persis sekali! Ha...haa..." Darmawan tertawa melihat tingkah istrinya.
Sementara belly hanya bisa senyum-senyum sendiri melihat wajah memerah raja yang tengah malu.
Setelah mobil jemputan darmawan datang, mereka pun segera berpamitan untuk kembali ke bandung.
Malam ini, kepergian darmawan dan rianti ke bandung kembali membuat belly maupun raja menjadi kembali canggung.
"Ayo kita masuk bell..." Ajak raja pada belly.
"Oh, i...iya." Belly hanya tersenyum kecil, ia mengikuti langkah raja ke dalam rumah menuju ruang tengah.
Raja mendudukkan bokongnya di sofa, belly pun ikut duduk bersama raja namun posisinya sedikit menjauh. Raja berada di ujung kanan, belly pun diujung sofa sebelah kiri.
Raja tersenyum melihat belly yang menjauh darinya, akhirnya raja mengalah dan merapatkan duduknya dengan belly. "Ada film yang bagus malam ini." Raja meraih remote control menyalakan televisi.
"Oh, ya..." Belly hanya menjawab seadanya.
"Aku ambil camilan dulu, sebentar..." Raja menuju ke lemari pendingin di dapur mengambil beberapa camilan.
Bagaimana aku mengatakan padanya? Darimana aku harus memulainya?
Belly bergumam dalam benaknya masih ada yang difikirkan.
Raja kembali membawa beberapa camilan dan minuman kemasan dingin yang diletakkan diatas meja.
"Kau harus melihat film ini, sangat seru..." Ucap raja.
"Oh, begitu ya..." Belly memicingkan senyumannya.
"He'um." Raja memberikan satu bungkus camilan kepada belly. "Cobalah..."
"Terimakasih.." Ucap belly.
__ADS_1
Setelah tayangan film di mulai, raja fokus menghadap layar televisi di depannya. Sementara belly masih terus menatap raja dengan membukakan kulit kwaci untuk dimakan raja.
"Raja,.." Panggil belly lirih.
"Ya." Raja menjawab namun matanya masih fokus pada film yang tengah ia tonton.
"Raja, sebenarnya ada yang ingin ku katakan." Sambung belly lagi.
"Apa itu bell?" Tanya raja masih melihat layar televisi.
"Raja, mama dan papa sudah kembali ke bandung. Aku...."
"Aku takkan membiarkanmu pergi lagi bell, tetaplah disini." Raja menoleh kearah belly , ia mengambil kwaci ditangan belly dan memakannya dengan senyuman.
"Raja tapi steva..."
"Steva pasti akan mengerti bell," Sambung raja memotong ucapan belly.
"Raja aku harus..."
"Harus apa bell? Apa kau memaksa untuk pergi dari rumah ini lagi??" Raja menatap nanar belly tak berkedip. "Aku sudah bilang, aku tidak akan!! Tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi bell!" Raja berkata penuh penekanan.
"Raja, tapi aku belum siap jika harus tinggal bersamamu lagi." Belly merasa masih ragu.
"Belum siap? Kenapa bell?" Dengan perasaan kecewanya, raja menahan amarah dalam dirinya.
"Lebih baik kita saling memberi waktu lebih dulu." Belly bangkit dari duduknya, ia berdiri bermaksud pergi.
"Bell, jangan pergi!" Raja memeluk belly dari belakang. Kali ini ia tak ingin belly pergi lagi. "Tolong, jangan pergi lagi bell. Tetaplah disini bersamaku. Please....."
"Apa yang membuatmu meragukanku bell? Apa karena alan??" Raja berkata lirih.
"Ini tidak ada hubungannya dengan alan raja." Belly mengelak, karena masalahnya bukanlah alan.
"Lalu? Apa bell?" Tanya raja ingin tahu.
"Aku masih ragu raja, aku masih takut jika kau akan melukai perasaanku lagi. Aku tak ingin itu terjadi lagi..."
Raja membalik posisinya menghadap pada belly. "Bell, percayalah padaku. Aku takkan mengecawakanmu lagi. Aku mencintaimu..." Raja mengecup puncak kepala belly dan semua itu membuat hati belly semakin terenyuh.
"Kau tidak akan berbohong lagi?" Tanya belly menatap raja mencari-cari kejujuran lagi.
"Tidak. Aku tidak akan membohongimu bell." Jelas raja tegas meyakinkan belly.
"Bantu aku raja. Bantu aku agar bisa mempercayaimu lagi.." Belly memeluk erat tubuh raja.
"Aku pasti membantumu, Terimakasih sudah memberikanku kesempatan lagi bell.. Kita sama-sama berjuang ya??" Raja mengeratkan pelukannya pada belly.
Ting nung....
Suara bell pintu berbunyi.
"Mengapa disaat moment seperti ini ada saja yang mengganggu! Kenapa harus sekarang??" Umpat raja kesal.
__ADS_1
Belly tertawa kecil, "Mungkin ini cobaan untuk kita.." Ucap belly menatap raja.
"Cobaan yang kita hadapi banyak sekali, baru saja ingin memulai..." Raja tersenyum menatap belly.
"Memulai apa??" Belly membelalakkan matanya sempurna. "Aku buka pintu dulu..." Belly hendak membukakan pintu namun raja melarangnya.
"Biar aku saja sayang, tunggulah disini." Ucap raja dengan tatapan manisnya pada belly.
"Sayang? heuh..." Belly mengulum senyumannya.
Sementara raja berjalan kedepan membukakan pintu.
Raja sontak terkejut mendapati seseorang yang kini berhadapan dengannya.
"My king...." Maura berhambur memeluk tubuh raja.
"Lepaskan....!!!!!!" Raja mencoba mendorong tubuh maura, hingga maura terlepas.
"Raja, aku merindukanmu..." rengek maura.
"Pergi dari sini!!" Raja sudah naik pitam, kehadiran maura sungguh merusak mood baiknya.
"Raja......" Maura tetap berdiri di ambang pintu.
Karena tak kunjung masuk, belly penasaran hingga menyusul raja ke depan. Namun sayang, belly malah melihat kejadian yang tak diinginkannya.
Karena dari luar maura melihat belly, ia pun segera memulai aksinya. CUP!!! Dengan gerakan cepat, maura mencium pipi kiri raja.
"Aku merindukanmu, sangat merindukanmu my king." Maura terus tersenyum mendapati hal itu. Bukan karena ia berhasil mencium raja, tapi karena ia dapat melihat dengan jelas wajah belly beserta kekecewaannya.
Belly membelalakkan matanya tak percaya, melihat raja yang diam saja ketika maura mencium pipinya.
"Maura, apa yang kau lakukan??" Raja mencekal tangan maura dengan tatapan tajam. Ingin sekali ia menampar wajah itu, namun ia tak ingin berlaku kasar terhadap wanita.
"Oh, jadi begini??" Belly mengeluarkan suaranya, menyimpan rapat-rapat rasa kecewanya pada raja.
"Belly??" Raja pun terkejut melihat belly kini sudah ada dibelakangnya. Ia segera menghempaskan cekalan tangannya pada maura. "Bell, aku bisa jelaskan!"
"Semua sudah terlihat jelas di depan mata kepalaku sendiri!" Mata memerah belly kini dapat terlihat oleh raja.
"Bell, ini tak seperti yang kamu fikirkan..."
"Tapi, aku melihatnya raja." Tanpa banyak kata lagi, belly pun berlari keluar rumah meninggalkan raja dan maura.
"Belly......." Raja mencoba mengejar belly namun maura menhannya.
"Raja, tidak akan ada wanita yang mencintai mu sebesar rasa cintaku!" Ucap maura dengan senyum kelicikannya.
"****!!!" Raja menghempaskan tangan maura. "Pergi kau ja**ng!!!" Raja segera berlari mengejar belly.
"Raja!!!!!!!!!!!" Maura berteriak kesal.
To be continue.....
__ADS_1
๐Untuk para readers setia pembaca karya othor, jangan lupa kasih Vote, gift, like dan komentarnya ya untuk terus mendukung karya ini. Bagi yang udah membaca dan meninggalkan jejak, Othor ucapkan terimakasih banyak semuanya...๐