Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Lelaki Baik Hati


__ADS_3

"Kenapa kamu tidak mau ikut Bell?" Steva merasa menyesal karena tujuannya berlibur ke negara sakura tanpa Belly.


"Aku tidak ingin mengganggu waktu berduamu dengan Hen, meskipun sebenarnya aku sangat ingin kesana." Ucap Belly.


"Oh shi*t!, Kau bukan muridku lagi Bell." Steva memanyunkan bibirnya.


"Aku harus pergi ke Surabaya Stev, aku merindukan papa." Belly mulai membuat matanya menjadi kemerahan.


"Okay. setelah ke Surabaya aku harap kau menyusulku ke jepang." Tak ingin Belly menangis lagi, Steva segera mengalihkan topik.


"What? Aku bahkan tidak pernah kesana? Bagaimana jika aku tersesat?" Belly merasa tak yakin dengan dirinya sendiri.


"Tenang, ada Alan." Lanjut Steva melirik kearah Ala


Alan tak menanggapi perkataan Steva, ia hanya mengulum senyumannya dengan berat. Ia tak ingin menjadi pemaksa. Jika memang Belly memintanya menemaninya pergi ke Jepang, ia akan senang hati menerima permintaan itu. Namun jika Belly tak menginginkan itu, ia pun sadar diri.


"Alan sangat sibuk, sudah lekaslah berangkat!" Belly yang sejak tadi tahu jika Alan tak merespon apapun segera mengalihkan pembahasan lain.


Ia pun meminta Steva untuk segera pergi dari rumah sakit agar tak ketinggalan pesawat.


"Baiklah, aku harap kau akan menemuiku ke jepang. Aku menunggumu!" Steva memeluk Belly tanda salam perpisahan.


"Hen, jaga Steva. Aku tahu dia masih labil." Belly mulai bisa bercanda setelah beberapa hari ini.


"I know Bell. Don't worry." Hendrick tersenyum kearah Belly. Kemudian mendorong kursi roda Steva menuju taksi yang sudah menunggu mereka berdua.


Hari ini Belly sudah diizinkan untuk pulang, ia mengemasi barang-barangnya yang ada di rumah sakit.


Alan pun membantunya berkemas. Namun sepertinya ada satu hal yang mengganjal dihati Alan, ia pun berniat bertanya pada Belly.


"Al,"


"Bell,"


Keduanya tersenyum ketika tatapan mereka bertemu. Bisa-bisanya mereka secara bersamaan memanggil nama masing-masing. Hingga membuat keduanya bingung.


"Wanita yang pertama." Ucap Alan mempersilahkan Belly untuk berbicara lebih dulu.


Belly tersenyum sipu. Ia pun mengucapkan terimakasih pada Alan. "Thanks Al."


"Untuk?"


"Untuk semua kebaikanmu selama ini." Jelas Belly.


"Aku terima." Alan tersenyum kecil.


"Lalu?" Tanya Belly menatap Alan.


"Lalu apa?" Alan seakan tak mengerti.


"Lalu apa tadi yang ingin kau katakan?" Ternyata Belly menunggu hal yang akan Alan katakan.

__ADS_1


"Oh. Itu." Alan bersikap canggung.


"Aku fikir apa Bell? Aku bahkan masih berharap lebih darimu padahal sudah jelas hal itu tidak akan mungkin!"


Alan terus bergumam dalam hatinya.


"Al??" Belly menyadarkan lamunan Alan.


"Ayo kita pergi sekarang." Ajak Alan dengan membawa tas berisi beberapa barang Belly.


"Apakah itu Al yang akan kau katakan??" Tanya Belly pada Alan merasa kurang yakin. Ia merasa Alan akan mengatakan hal yang lain kepadanya tadi.


"Lalu Apa? Apa aku membuatmu tak percaya?"


"Oh tidak. Lupakan!" Belly tersenyum kemudian ia berjalan keluar dari ruangan yang beberapa hari ini ia tempati. Ruangan yang menjadi saksi tangis dan kesedihannya.


Alan pun berjalan mengikuti Belly dari belakang menuju tempat parkir mobilnya. Tak lupa ia membukakan pintu mobil Belly dan meletakkan tas di bagasi. Alan pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Aku akan mengantarmu ke Apartemen." Alan membuka suaranya.


"Apartemen??" Merasa tak memiliki Apartemen, Belly sejenak berfikir. Ke Apartemen mana Alan akan mengantarnya?


"Iya. Untuk sementara kau tinggallah dulu di Apartemenku." Alan tak punya pilihan lain, ia harus tetap memantau Belly didekatnya. Ia tak ingin hal yang tidak diinginkan terulang kembali.


"Al? Itu tidak mungkin." Belly merasa tak percaya sekaligus berusaha menolak ajakan Alan untuk tinggal bersama.


"Lalu? Kau akan tinggal dimana?" Alan ingin tahu pendapat Belly kali ini. Ia tahu jika di kota ini Belly tak memiliki kerabat.


"Hmm, situasinya masih belum stabil jika kau harus tinggal sendiri." Alan menolak keputusan Belly. Ia tetap ingin Belly tinggal bersamanya.


"Tapi aku tidak mungkin tinggal denganmu." Belly masih bersikeras tak ingin tinggal bersama mantan kekasihnya itu.


"Lalu kau ingin tinggal dengan siapa?" Alan memperlambat laju mobilnya, ia menjadi tak fokus menyetir karena berdebat dengan Belly.


"Alan, aku bisa menjaga diriku sendiri..."


"Maura masih berkeliaran, aku tak mau dia mengganggumu lagi." Alasan ini yang utama bagi Alan. Ia tak ingin Belly mendapat gangguan lagi dari Maura si wanita licik itu.


"Aku bisa melawannya." Belly begitu percaya diri, padahal sebelumnya ia tak bisa melawan perlakuan Maura terhadapnya. Ia begitu lemah.


"Ck! Untuk kali ini biar aku menjagamu Bell. Sampai semua urusanku selesai." Alan masih tak ingin Belly menolak keinginannya.


"Urusan apa?"


"Aku sedang menyelidiki kasus penculikanmu. Maksudku, kasus yang menimpa kita berdua. Setelah semua bukti terkumpul dan Maura berhasil dihukum aku akan mengizinkanmu tinggal sendiri." Setelah itu Alan melajukan kecepatan mobilnya normal kembali.


"Al,"


"Bell, aku mohon.."


"Hmmmm, harusnya aku tak terus-menerus merepotkanmu." Belly merasa tak enak hati karena Alan yang bukan siapa-siapanya terus saja membantu dirinya.

__ADS_1


"Aku tidak merasa direpotkan."


"Kau lelaki baik hati." Puji Belly. Namun Alan masih terus memasang wajah datarnya.


"Kau tahu itu dari dulu."


"Ya. Aku begitu mengenalmu."


"Kita mampir ke supermarket sebentar. Kau harus membeli barang-barang kebutuhanmu." Alan tak ingin membahas lebih jauh lagi hingga ia memilih mengalihkan Topik pembicaraan diantara mereka.


"Barang-barang apa?"


"Aku sudah siapkan kamar, tapi aku tidak tahu seleramu seperti apa. Mungkin seperti sabun mandi, pasta gigi, make up atau..."


"Ya ampun Al, aku masih punya perlengkapan itu. Tapi di rumah. Apakah kita ambil saja?"


"Tidak perlu. Itu hanya akan mengingatkan dirimu dengannya. Kita hanya perlu membeli beberapa saja, selebihnya aku sudah siapkan di Apartemenku."


"Sepertinya kau cukup lama mempersiapkan semua ini."


"Baru kemarin."Jawab Alan. Sebenarnya ia sudah kehabisan akal untuk menjaga Belly. Hingga akhirnya ia memutuskan agar Belly tinggal bersamanya untuk mempermudah pengawasan.


"Kali ini aku menurut saja. Berdebat denganmu akan membuang waktu. Apa yang baru saja aku katakan?? Bukankah kau yang membuang waktumu hanya demi aku Al?" Belly merasa lancang telah mengatakan hal itu pada Alan. Ia tertawa kecil merutuki dirinya sendiri.


"Tak ada waktu yang terbuang jika kita bisa memanfaatkannya." Alan tak mengambil hati. Pandangannya masih lurus kedepan. Baginya membuang waktunya untuk Belly takkan merugikan dirinya. Justru hal itu begitu menyenangkan karena Alan memang ingin terus dekat dengan Belly.


"Kau sungguh bijak Al." Lagi, sepetinya Belly terus saja memuji Alan.


"Aku belajar dari pengalaman." Ucap Alan pamer seolah ia memiliki segudang pengalaman.


"Sepertinya pengalamanmu begitu banyak." Belly mengerenyitkan dahinya. Ia tak begitu yakin dengan apa yang Alan katakan.


"Hmm, aku merasa seorang Belly amat cerewet sekali hari ini." Alan menyunggingkan senyuman kecilnya. Sebenarnya ia sangat menyukai sikap Belly yang banyak bicara seperti ini.


Stelah beberapa hari Belly terpuruk, akhirnya Alan bisa melihat keceriaan Belly kembali. Meskipun belum sepenuhnya.


Alan meyakini jika suatu hari Belly bisa kembali tenang dan menjalani kehidupannya dengan normal seperti biasa.


Tak terasa mereka berdua pun tiba di sebuah supermarket yang dekat dengan Apartemen Alan.


Alan segera mengambil troly mengiringi Belly yang terus berjalan disepanjang koridor supermarket.


"Beli lah seperlunya." Ucap Alan ketika melihat Belly mengambil sebuah teflon.


"Ini perlu Al!" Ucap Belly merasa tertarik dengan teflon yang kini ia pegang.


"Di Apartemenku banyak." Dengus Alan.


"Hmmm, padahal ini begitu cantik." Belly pun meletakkan teflon itu kembali dan berjalan menuju perlengkapan lainnya.


Melihat raut wajah Belly yang terlihat begitu menginginkan teflon itu, Alan pun segera mengambil teflon yang tadi dipegang Belly dan memasukkannya kedalam troly.

__ADS_1


To be continue.....


__ADS_2