Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Kamakura, Jepang.


__ADS_3

Jepang, prefektur Kanagawa tepatnya dikota Kamakura.


Alan, tiga hari sudah ia menyusuri hampir seluruh tempat wisata di kota ini. Meski otaknya sudah sedikit fress, namun tetap saja ia tak bisa menghilangkan jejak tentang Belly.


Semakin ia coba untuk melupakan Belly, semakin jelas pula bayangan wajah Belly menghantuinya.


Bagaimana caranya? Sebisa mungkin aku mencoba melupakannya, sejauh mungkin aku menghindarinya, tapi sepertinya hati ini memang masih miliknya. Hati, kapankah kau akan sadar? Tak malukah dirimu terus menyimpannya padahal sudah jelas kini Belly telah menjadi mil2ik orang lain.


Alan merebahkan tubuhnya di hotel tempatnya menginap beberapa hari ini, tepatnya di PRINCE hotel kamakura.


Matanya terus terpejam, batinnya terus menggerutu, entah akan dibawa kemana nasibnya sekarang. Masih belum jelas, masih pula ia belum rela menghilangkan Belly dari hatinya yang kian rapuh.


Selama tiga hari Alan menonaktifkan ponselnya, awalnya hidup tanpa ponsel memang begitu membosankan baginya. Tapi, setelah tiga hari ia jalani ternyata hidupnya tak terusik ditengah zaman modern ini.


Sejenak ia lupa akan urusan bisnis, ia juga tak membuka sosmednya selama ini. Lupa akan hal itu, tapi ia tak pernah bisa lupa terhadap Belly.


Alan hanya membawa kamera yang terus mengalung dilehernya, ia menjepret beberapa objek yang menurutnya menarik untuk diabadikan.


Dengan kelihaiannya dalam memotret, hasil jepretannya ternyata sangat lumayan.




Hokokuji, kuil Budha dengan hutan bambu .





Alan seperti menjadi seorang traveller dadakan. Traveller yang sedang patah hati tepatnya. Ya, benarkah begitu??


Alan juga mengunjungi beberapa tepi pantai di kota Kamakura, ia teringat kemarin sempat berteriak dengan kencang hingga membuat beberapa pengunjung lain menatapnya heran.


Bahkan ada beberapa wanita yang silih berganti mengajaknya berkenalan, namun Alan hanya menanggapi mereka seadanya. Ia tak tertarik pada wanita seperti mereka, yang pasti hatinya saat ini masih milik Belly.




Alan meraih ponsel yang selama ini ia tinggalkan di kamar hotelnya. Dinyalakan ponsel itu, ternyata banyak notifikasi masuk membuat ponselnya terus berdenting. Termasuk pesan dari Alex sepupunya.

__ADS_1


"Ck! Apakah dia begitu merindukanku?? Banyak sekali pesan berantai yang dikirimnya!!"


Alan membuka satu persatu pesan dari Alex.


[Kau dimana? Mengapa ponselmu tidak aktif?]


[Susah sekali dihubungi]


[Ck!!!! Sialan kau Alan! Apakah kau sengaja menghindar?]


[Kau membuat semua orang semakin curiga!]


Dan pesan yang terakhir....


[Kau tahu, Belly saat ini menghilang. Jangan bilang jika kau berkaitan dengan ini!!!]


Degggg!!!


Hati Alan bagaikan disambar petir, berhenti dan mematung memegangi ponsel dengan kedua tangannya, di gulirkan lagi layar itu mengharap jika pesan yang Alex kirimkan salah atau matanya yang Seliwer. Alan menggelengkan kepalanya tak percaya. Diulanginya lagi membaca pesan Alex dari atas hingga bawah, ternyata isinya masih sama.


"Tidak, Alex pasti sedang mengerjaiku!"


Ditariknya nafas, kemudian dihembuskannya perlahan. Ia masih menutupi kegelisahan hatinya, berharap kabar yang Alex sampaikan itu tidak benar.


Ada apa Alan? Bukankah kau kemari untuk menenangkan diri dan menghindar dari Belly? Mengapa kau malah khawatir?? Jika kabar ini benar, Apa urusanmu?? Sudah ada yang menjaga Belly, Raja pasti bisa mengatasi ini.


Alan terus berperang pada hatinya, tak mampu ia menutupi rasa khawatir yang begitu besar terhadap Belly.


Diambilnya lagi ponsel yang telah ia lempar diatas kasur bersprei putih itu, dengan cepat kilat ia menekan tombol hijau menghubungi Alex.


"Alex, apa kau mau mengerjaiku?? Sungguh tak lucu!"


Setelah sambungan telepon diangkat, langsung saja Alan mengomeli Alex.


Hal itu membuat telinga Alex sakit. Hingga ia balik memarahi Alan. "Hey, aku tidak bercanda untuk hal seserius ini Bod-oh!"


"Apa maksudmu lex? Jelaskan padaku!!!!"


Dengan gamblang Alex menjelaskan prihal kronologi kehilangan Belly. Alan yang mengetahui itu tak tinggal diam, dengan cepat ia mengemasi semua barang-barangnya dan akan segera kembali ke negara asal kelahirannya. Alan memesan tiket pesawat saat ini juga, beruntung sore ini masih ada keberangkatan menuju Jakarta.


Niat untuk berlibur selama beberapa bulan diurungkannya, ia langsung kembali setelah tiga hari berada di jepang. Sungguh disayangkan, ini semua gara-gara Belly.


Alan mengeratkan rahang tegasnya, tiba-tiba saja otaknya langsung meluncur menjurus ke arah Maura.

__ADS_1


Genggaman tangan Alan kian mengeras, ia bersumpah akan memberi perhitungan jika saja Maura yang ada dibalik semua ini.


Kehilangan Belly menyisakan berbagai pertanyaan-pertanyaan cemas dibenak Alan. Ia mengumpat si Maura yang dianggapnya sebagai dalang dari kehilangan Belly.


"Aku takkan memberimu Ampun lagi!! Aku bersumpah!"


Alan menyesal tak memeberi pelajaran saat terakhir kali memergoki Maura yang hendak mencelakai Belly. Andai waktu itu Alan langsung bertindak, mungkin ini semua takkan terjadi. Sayangnya, Alan hanya memberi sebuah ancaman yang tak digubris sedikitpun oleh Maura.


"Aku menyesal tak memberi perhitungan padamu, jelas-jelas kau sudah mencoba mencelakai Belly!"


"Bell, dimana kamu?? Apakah kamu baik-baik saja?"


"Apa gunanya Raja dan kekuasaannya itu! Dia memang tak becus menjaga Belly!"


"Jika terjadi apa-apa dengan Belly, aku akan merebutnya darimu Raja!"


Kekesalan Alan tak dapat dihitung lagi, entah seberapa rasa kesalnya terhadap Raja. Tiada hentinya ia memikirkan Belly, disitu pula ia mengumpat kekesalan terhadap Raja.


Ia merasa Raja tidak berguna, Raja tak bisa menjaga Belly. Andai ia tahu begini akhirnya, pasti sejak dulu ia akan terus mencoba mengambil cinta Belly kembali kepadanya.


Alan menyesal telah mempercayai Raja untuk Belly. Sangat-sangat menyesal!


Selesai mengemas barang-barangnya, Alan segera berhambur pergi ke Bandara. Ia tak ingin menunda lagi kepergiannya menuju pulang.


Pulang demi seorang wanita, wanita yang begitu dicintainya. Bahkan rasa cinta itu tak pernah berkurang sedikit pun meski Belly sudah menikah dengan Raja.


Akhirnya Pesawat pun take of, Alan dapat menghela nafasnya sedikit lega karena sebentar lagi ia akan bertemu Belly.


Tunggu, Belly kan sedang hilang? Tak ada yang tahu dia dimana saat ini, termasuk suaminya sendiri. Yang jelas, saat tiba di Jakarta nanti ia akan langsung mencari Belly.


"Akan kutemukan kamu Bell, aku berjanji!"


Tanpa sadar, banyak janji yang sudah diikrarkan oleh Alan. Pertama ia berjanji akan memberi pelajaran untuk Maura, kedua ia berjanji akan merebut Belly dari Raja, ketiga ia harus menemukan Belly.


To be continue....


🍒 Tunggu Alan sampe dulu ya readers, pesawatnya lagi terbang. Disabarin aja ya.. 🤪


Bye bye jepang, besok² Alan dateng lagi deh..


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya..


Like, vote, gift dan komentarnya.

__ADS_1


TERIMAKASIH sudah terus mendukung karya othor yang recehan ini....


__ADS_2