Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Kedatangan Mertua


__ADS_3

"Sudah waktunya kembali, aku pergi dulu.." Belly berpamitan pada raja, ia merasa sudah terlalu lama dan memutuskan kembali ke kantornya.


Raja menatap arloji di tangannya, "Aku antar.."


"Tidak perlu, aku naik taksi saja." Belly menolak tawaran raja.


Kenapa bell? Kenapa kau menolakku? Tapi kau tak pernah menolak ajakan atau pemberian alan.


Ingin rasanya raja mengungkapkan isi hatinya, tapi raja tak ingin menyakiti perasaan belly.


"Raja??" Belly menyadarkan lamunannya.


"Oh, baiklah jika begitu." Ucap raja.


"Aku permisi, dan terimakasih untuk mie nya.." Belly pun berpamitan.


Raja hanya mengantarkan kepergian belly hingga ke depan kantor, ia melambaikan tangannya melepas kepergian belly di dalam taksi online pesanannya.


"Kau tak mengantarnya? Mengapa kau membiarkannya naik taksi?" Alex tiba-tiba sudah ada di belakangnya.


"Ck! Ada apa? Apa ada yang sedang kau selidiki??" Raja menatap alex penuh kecurigaan.


"Tatapanmu itu tolong kondisikan,.." Alex tersenyum kecil. "Kau mencurigai temanmu ini??" Tanya alex pada temannya.


"Aku selalu mencurigai orang yang tiba-tiba saja datang padaku." Raja menaruh kedua tangannya kedalam saku celananya.


"Raja, aku hanya heran. Kenapa kau tak mengantarkan belly? Padahal kau suaminya." Ucap alex.


"Aku hanya tak ingin jika belly merasa tak nyaman." Jawab raja seadanya.


"Menurutku, kau harus tegaskan hubungan kalian ja. Tak mungkin kalian akan terus tinggal terpisah bukan??"


"Lex, aku sedang berusaha meyakinkannya. Sebenarnya aku sangat ingin membawanya pulang segera." Raja melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya.


"Raja, aku hanya memberi saran. Kau tentu tak ingin melihat belly terus bersama alan bukan?? Sahut alex dengan menepuk pundak raja pelan.


Tak ada tanggapan apapun dari raja. ia mencerna setiap kata-kata alex yang menurutnya ada benarnya.


Apakah aku harus membawa belly pulang dengan paksa?? Argh! Itu tidak mungkin...


"Pak raja?" Rangga membuyarkan lamunan raja.


"Ada apa rangga?" Tanya raja.


"Pak, saya sudah mengirimkan data yang bapak minta via E-mail." Jelas rangga.


"Ya, nanti akan ku periksa."


Dasar boss, dia bilang minta segera mencari tahu tentang maura. Kenapa sekarang tak segera diperiksanya?


Rangga pun keluar dari ruangan raja. Ia terus menggerutu akan sikap bossnya.


***


Hari ini, rianti dan darmawan datang ke rumah raja. Mereka berdua sengaja tak mengabari raja dan belly karena ingin memberikan kejutan.


"Mama??" Raja terkejut mendapati kedua orang tuanya sudah ada di dalam rumahnya. Ia pun segera menyalami tangan kedua orang tuanya.


"Raja, baru pulang??" Tanya rianti pada putranya.


"Iya ma, raja sedang banyak pekerjaan. Kapan mama dan papa kemari??" Tanya raja.


"Baru sampai tadi pagi." Ucap darmawan. "Mamamu ini sangat merindukanmu dan belly, hingga tidak sabar."


"Ck! Papa juga kan?? Malah papa yang lebih antusias ingin menengok anak papa ini." Rianti pun kembali menyalahkan sang suami.


"Sudah....sudah. Raja tahu mama dan papa pasti sudah bekerja sama!" Jawab raja menengahi perdebatan orang tuanya.


"Anak mama memang sudah semakin dewasa," Puji rianti. "Belly dimana? Mama datang hanya ada bu sity." rianti mencari-cari keberadaan belly.


"Iya, dimana menantu papa??" Sambung darmawan penuh selidik.


"Oh, belly... Itu, belly belum pulang dari kantor pa.." Raja menjawab terbata.


Ya tuhan, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?


Raja kebingungan, dia terus berpikir namun rasanya otaknya sedang buntu.


"Raja?? Jadi belly bekerja juga dikantor?? Astaga raja apakah kamu tidak mampu mencukupi kebutuhan istrimu?" Rianti membelalakkan matanya mengetahui fakta jika belly bekerja.


"Ma, bukan begitu..."


"Raja, jangan biarkan istrimu kelelahan.." Rianti ingin sekali mengomeli raja.


"Ma, mungkin belly suntuk terus berada di rumah sendiri. Jadi dia memilih mencari aktivitas lain dan bekerja membantu raja. Bukan begitu raja??" Darmawan coba menenangkan istrinya.


"Iya, papa benar." Raja tertawa kecil, mencoba menenangkan fikirannya sendiri. "Kalau begitu raja jemput belly dulu ma, pa." Raja berpamitan pada rianti dan darmawan.


"Dasar anak itu, bisa-bisanya dia membiarkan istrinya bekerja." Rianti memonyongkan bibirnya, ia terus mengomeli putranya.


"Ma, biarkan saja. Jangan terlalu ikut campur urusan rumah tangga raja." Ucap darmawan.


Sementara raja, ia masih menunggu kepulangan belly dari depan kantornya. Dengan kepala yang terus memikirkan cara agar kedua orang tuanya tidak mengetahui masalah belly dan raja saat ini.


"Ck!! Bagaimana ini??" Kepala raja rasanya ingin pecah, kali ini ia benar-benar tak bisa berfikir jernih.


Dari kejauhan, saat hendak keluar steva melihat keberadaan raja.


"Bukankah itu raja?" Ucap steva pada belly dengan menunjukkan jarinya kearah luar tepat pada raja.


"Dimana?" Belly celingukan mencarinya.


"Itu....." Ucap steva lagi.


"Kau menipuku?? Jangan bermain-main stev." Dengus belly kesal.


"Sepertinya kau sangat berharap ada raja disini?" Belly terkikik menggoda steva lagi memperhatikan belly yang masih celingukan mencari keberadaan raja.


"Oh! Astaga!" Belly membelalakkan matan dan menutup mulutnya yang menganga dengan kedua telapak tangan saat ia sudah menemukan keberadaan raja yang kini berjalan menghampiri belly dan steva.

__ADS_1


"Hai bell, stev?" Sapa raja pada keduanya.


"Raja, ada apa?" Belly tak sabar ingin mengetahui maksud raja menemuinya.


Steva tak banyak bicara, ia hanya tersenyum-senyum sendiri menyaksikan raut wajah belly yang kini mulai memerah.


"Oh, begini steva. Aku ingin membicarakan sesuatu pada belly. Boleh aku pinjam belly sebentar?" Tanya raja penuh hati-hati.


"Apa yang kau lakukan pak raja, kau berhak kapan pun atas istrimu ini!" Ucap steva secara terang-terangan. "Kalau begitu aku pulang lebih dulu, bye....bye belly..." Steva dengan tawa kecilnya melambai-lambaikan tangannya kearah belly. Ia berjalan meninggalkan belly bersama raja.


Belly hanya bisa menarik nafas panjang menyaksikan kekonyolan steva.


"Bell, kita perlu bicara." Ucap raja memulai pembicaraan.


"Oh, iya apa yang ingin kau katakan?" Tanya belly penasaran.


"Kita ke mobilku sekarang, mari..." Raja mengajak belly menuju mobilnya yang terparkir di depan.


Belly mengangguk pelan, mereka berdua pun berjalan beriringan hingga sampai di mobil raja yang tengah terparkir.


Raja membukakan pintu untuk belly, kemudian ia memutar menuju kursi kemudi dan melajukan mobilnya perlahan.


"Bell, aku tidak tahu darimana akan memulainya..." Raja masih bingung dengan apa yang ia katakan.


"Ada apa raja?? Apa ada sesuatu yang mengusik fikiranmu??" Tanya belly khawatir.


"Sangat mengusik bell, ini semua....."


"Ada apa raja?" Belly masih penasaran.


"Mama dan papaku." Sambung raja.


"Mama dan pa..pa??? Ada apa dengan mereka?" Tanya belly lagi belum paham.


"Mama dan papa pergi dari bandung dan tiba di jakarta." Ucap raja menambahkan.


"Oh, kapan mama dan papa tiba di jakarta?" Tanya belly lagi.


"Tadi pagi dan mereka berdua ada di rumah kita sekarang." Jelas raja lagi.


"Oh, begitu." Belly diam sejenak, kemudian matanya membulat sempurna. "Dirumah?? Apa??" Ia menatap nanar raja, hingga raja pun menghentikan laju mobilnya.


"Iya bell, mereka berdua ada di rumah. Dan.... mencarimu." Sambung raja, ia memijit pelan keningnya, sungguh kali ini raja amat pusing.


Melihat raja seperti itu, belly merasa jadi ikut pusing. Ia pun bingung apa yang harus ia lakukan, terlebih ia dan raja saat ini sedang pisah rumah.


"Aku sudah bilang jika kau belum pulang kerja, dan aku akan menjemputmu. Tapi setelah ini, aku bingung bell apa yang harus aku katakan pada mereka berdua nanti??" Raja menyandarkan tubuhnya di kursi dengan kepalanya yang menatap ke atas.


"Tak ada jalan lain!" Ucap belly.


"Kau ada jalan keluar??" Tanya raja menoleh ke arah belly.


"Ayo kita pulang ke rumah." Sahut belly.


"Kita pulang?? Kau tak keberatan bell??" Tanya raja meyakinkan.


"Oh, baiklah" Raja melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Hingga beberapa menit kemudian, mereka berdua pun tiba di rumah. Belly mempersiapkan dirinya, sebelum masuk ke dalam rumah ia menarik nafasnya panjang.


"Bell, tenanglah... Ada aku disini.." Ucap raja yang melihat belly gugup.


"Huft..." Belly membuang nafasnya, "Apakah kita akan bersandiwara lagi??" Tanya belly menatap raja.


"Bell, maafkan aku...."


"Aku hanya tak sanggup jika terus membohongi orang tua kita raja." Belly memejamkan matanya, kemudian ia membukanya dan meyakinkan diri.


Raja meraih tangan belly, di genggamnya tangan belly rapat-rapat. "Aku ingin menjalani yang sebenarnya, tanpa ada kebohongan ataupun sandiwara lagi bell."


Deg!


Belly, kenapa kau semakin gugup saat mendengar raja mengatakan hal ini?? Jantung, tolong kondisikan degupanmu! Kenapa kau tidak bisa diajak kompromi saat sedang bersama raja?


"Bell?? Ayo kita masuk." Ucapan raja membuyarkan lamunan belly.


"He'um.." Belly bersama degupan jantungnya yang makin kuat karena sentuhan raja pun masuk ke dalam rumah.


"Ma.. pa??" Belly berhambur menyalami darmawan, kemudian ia berganti memeluk rianti.


"Oh, menantu mama sudah jadi istri tapi masih juga mengejar karir." Ucap rianti sembari mengusap pelan rambut belly.


"Ma, belly merasa jenuh jika ditinggal raja bekerja. Belly tak punya teman di rumah..." Ucap belly dengan senyum manisnya.


"Nah, maka dari itu. Jangan menunda lagi!" Sambung darmawan.


"Menunda?? Menunda apa maksud papa?" Raja kini tak paham dengan ucapan ambigu papanya.


"Raja, belly. Kalian sudah berbulan-bulan menikah bukan?? Tentu kalian tidak menunda memiliki momongan??" Tanya rianti sekaligus memberi penjelasan ucapan suaminya.


"Uhukk...uhukk..." Belly terbatuk, hingga ia memutuskan pergi ke dapur untuk minum. "Belly ke dapur dulu ma, pa."


"Kau tak apa bell?" Raja yang merasa khawatir pun mengikuti belly. Ia mengambilkan air minum untuk belly. "Minumlah..."


"Terimakasih." Belly pun meminum air putih hingga tandas.


"Papa dan mama ini ingin segera punya cucu, kau tidak menunda untuk hamil kan bell?" Rianti datang menghampiri raja dan belly di dapur. Sekaligus mempersiapkan masakannya untuk makan malam.


"Ma, untuk itu raja dan belly sedang berusaha. Tapi, tuhan mungkin belum memberikannya untuk kami. Bukankah begitu sayang??" Raja merangkul pinggang langsing belly, hingga membuat jantung belly semakin ingin runtuh.


"Oh, i...iya ma. Belly dan raja sedang berusaha." Belly menyunggingkan senyumannya, kemudian ia beralih membantu ibu mertuanya menyiapkan hidangan makan malam.


"Baguslah kalau begitu, jika nanti kamu sudah memiliki momongan kamu tidak akan kesepian saat ditinggal raja bekerja bell." Ucap rianti senang.


"I..iya ma." Jawab belly singkat.


"Jangan cuma beri kami cucu satu." Darmawan yang datang dari depan pun menyambung percakapan mereka.


Raja dan belly hanya saling menatap, mereka berdua menelan salivanya masing-masing.

__ADS_1


"Ehem, raja rindu masakan mama. Ayo kita makan.." Raja melepas kecanggungan dan mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Papa juga rindu masakan mama." Sambung darmawan.


"Papa bukannya makan masakan mama setiap hari?" Tanya raja pada darmawan.


"Ck! Sudah dua minggu mama mogok masak!" ucap darmawan.


"Mogok masak? Kenapa?" Belly terkikik kecil, ia penasaran dan bertanya.


"Bell, mama ini sudah lama ingin kemari. Tapi papa sedang banyak pekerjaan di kantor. Dia sungguh tak sabar, dan akhirnya mogok masak." Jelas darmawan.


"Mama lucu sekali." Belly tertawa kecil.


"Papa itu yang selalu sibuk dengan pekerjaan! Sampai-sampai melupakan keluarga." Gerutu rianti.


"Ma, pa. Sudahlah kalian berdua sudah tua. Apakah kalian akan terus begini??" Sambung raja heran, pasalnya dari dulu mama dan papanya selalu bersikap seperti ini.


"Raja, mama dan papa belum tua! Kami belum memiliki cucu!" Sambung darmawan yang kini hanya membuat raja dan belly diam tanpa kata.


Selesai melakukan makan malam bersama, rianti dan dermawan pun memutuskan untuk tidur karena masih terasa lelah.


Mereka tidur di kamar yang dulu pernah ditempati belly. Untung saja semua barang-barang belly sudah tidak ada disana.


"Emm, raja aku...."


"Bell, bisakah kau tidak pulang dulu ke apartement steva??" Tanya raja memotong pembicaraan belly.


"Oh, begitu ya. Baiklah..." Belly memicingkan senyumnya.


"Terimakasih bell, aku hanya tidak ingin mama dan papa curiga tentang keadaan kita selama ini." Ucap raja lagi, padahal sejujurnya raja ingin belly tetap bersamanya.


Keberadaan mama dan papa yang membuatmu kembali ke rumah ini lagi bell, aku harap kau tidak akan pergi lagi.


"Baiklah, selama mama dan papa disini aku takkan pulang ke apartement steva." Jawab belly.


"Oh... Baiklah jika begitu." Raja tak ingin terlalu banyak bicara. Ia takut belly malah tak nyaman.


Ingin sekali aku melarangnya pergi, tapi aku takut dia malah semakin menjauh dariku...


"Kalau begitu aku mau mandi dulu.." Belly beranjak dari duduknya, kemudian dia kembali lagi. "Bolehkah aku pakai kamar mandimu?" Tanya belly meminta izin.


"Oh. Tentu saja." Raja pun mengajak belly menuju ke kamarnya di lantai dua.


Belly masuk ke kamar mandi, sementara raja menunggu di kamarnya sembari duduk di sofa menonton acara televisi.


Selesai mandi, belly hanya memakai handuk saja. Ia lupa jika di rumah raja sudah tak ada lagi pakaian gantinya**.


Ya tuhan belly, apa yang kau lakukan??


Belly merutuki dirinya sendiri, hingga tak sadar ia menendang kloset dengan keras. Dan suara itu pun terdengar oleh raja dari luar.


"Bell? Ada apa?" Tanya raja dari luar kamar mandi.


Ck! Belly bagaimana ini? Mengapa kau tak berpikir panjang.


Belly yang mendengar raja dari luar pun hanya bisa meringis **merutuki nasibnya di dalam kamar mandi.


"Bell?? Apa yang terjadi? Kenapa kau tak menjawab?" Raja merasa semakin khawatir.


"Bell, kau dengar aku? Buka pintunya bell?" Raja mengetuk-ngetuk pintu namun belly masih diam saja.


Hingga raja memutuskan mendobrak pintu kamar mandinya.


Brak!!!


"Raja? Apa yang kau lakukan?" Belly menutupi bagian tubuhnya yang tak tertutup handuk.


"Maa..maaf bell." Raja berbalik arah membelakangi posisi belly, ia tak kuasa melihat belly yang hanya memakai pakaian dalam saja. "Bell, ada apa? apa ada yang bisa ku bantu?"


"Raja, sebenarnya aku....."


"Ada apa bell?"


"Aku tidak membawa pakaian ganti." Belly merutuki dirinya sendiri.


Mendengar hal itu, raja pun segera keluar kamar mandi. Ia mengambilkan bajunya untuk dipakai belly sementara.


"Pakailah ini, untuk besok aku yang akan mengurusnya." Raja menyerahkan baju polosnya kepada belly.


"Terimakasih..." Belly merasa semakin malu, wajahnya sudah memerah.


Raja keluar, ia menelepon rangga untuk mengambil beberapa pakaian wanita di butik langganannya yang sebelumnya sudah ia pesan via online.


Di saat itu lah, belly keluar dari kamar mandi memakai kaos polos milik raja. Raja yang melihat pemandangan itu pun segera mengalihkan matanya dari belly. Raja pun berganti pergi ke kamar mandi.


Belly duduk di pinggiran ranjang menunggu raja selesai mandi, ia bingung apa yang harus ia lakukan. Ia pun mengirim pesan pada steva karena tidak bisa pulang malam ini.


[Aku tidak pulang malam ini stev, ada mertuaku datang dari bandung.]


[Ok, bersenang-senanglah...]


[Kau fikir aku berlibur??]


[Selamat berbulan madu yang tertunda. Hihii...]


"Ck! Bulan madu apanya?? Dasar anak ini!!" Belly menutup ponselnya, ia menggerutu menghadapi kekonyolan steva.


"Bulan madu?" Raja yang sudah kembali dari kamar mandi mendengar ucapan belly.


"Ra..ja.??" Belly terkejut, ia hanya menelan salivanya.


Raja mengahampiri belly yang duduk di pinggiran ranjang, ia memegang kedua tangan belly dengan senyuman kecil.


"Kau ingin berbulan madu kemana??".....


To be continue.....


🍒Terimakasih atas dukungan kalian readers, terus dukung karya othor ya, kasih vote, give, like, dan tinggalkan komentarnya... Selamat membaca.... 😊**

__ADS_1


__ADS_2