Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Dag Dig Dug


__ADS_3

Area 21++


Silahkan di SKIP bagi yang tidak ingin membaca.


Alan bingung apa yang harus ia lakukan setelah ia memakai kaos dalam putih polos miliknya dengan bawahan boxer hitam.


Penampilannya malam ini terlihat kacau baginya, apalagi ini adalah kesan pertamanya bersama dengan Belly setelah mereka sah menjadi Suami Istri.


Alan pun memilih untuk duduk di sofa dan menyalakan televisi, belum sempat ia meluruskan tubuhnya, Belly tiba-tiba sudah keluar dari kamar mandi dengan baju tidur sedikit menerawang sebatas lutut berwarna merah maroon.


Belly duduk di kursi riasnya, ia menyisir rambutnya kemudian memakaikan krim malam pada wajahnya. Seolah terlihat biasa saja akan kehadiran Alan, namun sebenarnya Belly pun merasa dag dig dug.


Karena tahu Alan begitu kaku dan polos menurutnya, maka ia mencoba untuk menetralkan perasaannya saat ini untuk menutupi perasaan aslinya.


"Al, kau masih ingin menonton televisi?" Tanya Belly tanpa melirik kearah Alan. Ia masih saja menatap pantulan dirinya pada cermin karena masih mengoleskan krim malam pada wajahnya.


"Eh, i-iya Bell, apakah kau sudah mengantuk?" Jawab Alan dengan terbata, namun matanya melirik ke arah Belly meski hanya beberapa detik saja.


"Tidurlah, aku akan mengecilkan volume televisinya," lanjut Alan menekan Volume televisi hingga hampir tak terdengar sama sekali.


"Kau membiarkanku tidur sendiri?" Belly tak tahu film apa yang tengah Alan tonton hingga membuatnya begitu fokus pada televisi.


Alan hanya diam, tak bisa menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Belly.


"Baiklah, aku akan tidur lebih dulu," ucap Belly dengan perasaan yang sedikit mengganjal di dalam hatinya. Ia pun menarik selimut dengan kasar dan menutupi seluruh tubuhnya hingga tak terlihat.


Alan yang menyaksikan hal itu pun hanya bisa menarik nafasnya panjang. Tingkah Belly cukup menarik perhatiannya, bahkan menurutnya Belly begitu lucu.


Alan segera mematikan televisi, kemudian ia beranjak menuju pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Setelah itu Alan pun mematikan lampu kamar.


Alan duduk di pinggiran ranjang, ia melihat posisi Belly yang kini tengah tertutup oleh selimut tebal. Kepalanya terus menggeleng merutuki tingkah Istrinya. Alan berfikir, mungkin cara tidur Belly memang seperti itu sejak dulu.


"Apakah dia bisa bernafas dengan tidur seperti itu?" ucap Alan lirih sembari terus menggelengkan kepalanya.


"Istri yang unik," Alan menekan tombol off pada lampu tidur, ia pun ikut berbaring di sebelah Belly.

__ADS_1


Perasaan tak karuan kini menyelimuti dirinya, entah getaran apa yang ia rasakan saat ini. Sepengetahuannya, jika sudah menikah memang harus tidur bersama, tapi rasanya sungguh aneh dan berbeda. Entah perasaan campur aduk apa yang tengah dialaminya malam ini.


"Apakah seperti ini rasanya tidur bersama Istri?" Alan terus bergumam di dalam hati, ia juga tak bisa tidur meski sudah memejamkan matanya beberapa kali. Saat ini posisi Alan hanya berbaring lurus dengan tubuh kakunya.


Tak tahu dengan apa yang terjadi, ia pun tiba-tiba menghadap kearah Belly dan membuka selimut tebal itu dengan sekejap.


"Wuaa!!!!" Teriak Alan seketika itu juga.


Bagaimana tidak, ia melihat Belly membelalakkan matanya. Hal itu sontak membuatnya terkejut dan berteriak.


"Bell, ka-kau be-belum tidur?" ucap Alan terbata dengan jantung yang masih terus berdegup kencang.


Belly menatap kasihan kearah Alan yang terlihat ketakutan. Namun menurutnya ekspresi Alan saat ini begitu lucu, hingga dengan spontan ia pun segera bangun dan mengecup bibir Alan.


Jantung Alan yang tadinya terasa ingin jatuh, kali ini akhirnya benar-benar jatuh. Alan merasa jika dirinya begitu sulit untuk bernafas.


"Kau begitu lucu, sepolos inikah dirimu?" ucap Belly mengulum senyuman manisnya.


Alan hanya bisa menelan salivanya, dengan cepat ia membenarkan posisinya dan mengumpulkan keberaniannya.


"Aku, aku menggoda suamiku? Apa itu salah?" Belly menatap mata Alan dengan intens. Tatapan mereka pun bertemu, hingga keduanya saling menginginkan satu sama lain.


Alan kini beraksi, ia meraih pinggul langsing milik Belly hingga posisi mereka semakin berdekatan dan hanya berjarak beberapa senti saja.


"Aku memang polos, tapi setelah kau memilikiku, kau tak akan pernah mau lepas," lirih Alan dengan semakin mendekatkan wajahnya pada Belly.


"Benarkah? Aku menantikannya," Belly seperti sedang menantang, hingga Alan pun dibuat semakin berani terhadapnya.


Alan mengecup pipi kiri milik Belly, kemudian berganti ke pipi sebelah kanan. Setelah itu ia mengecup kening Belly dengan cukup lama hingga membuat Belly merasa seperti mendapatkan aliran kasih sayang yang tulus dan penuh dengan cinta dari Suaminya.


Belly memejamkan matanya, hingga dapat ia dengar bisikan Alan pada telinganya. "Izinkan aku memilikinya,"


Alan berhasil mengecup lembut bibir ranum milik Belly, sekali ia mengecupnya rasanya amatlah kurang. Ia pun mengecup kembali hingga kecupan itu begitu dalam.


Tak cukup hanya mengecupnya saja, Alan pun ******* bibir manis milik istrinya dengan penuh kelembutan, pertama kali baginya merasakan sensasi seperti ini. Rasa yang tak dapat diungkapkan lagi dengan kata-kata. Ras yang begitu menumbuhkan dirinya. Rasa itu pula yang membangkitkan g***ah kelakiannya.

__ADS_1


Baik Alan maupun Belly saling menikmati permainan bibir keduanya. Hingga keduanya melepas pagutan itu ketika dirasa telah sama-sama sulit untuk bernafas dan kehabisan oksigen.


Setelah melakukan jeda sejenak, Alan pun menarik tubuh Belly hingga berada di atas pangkuannya. Kemudian ia melanjutkan lagi permainan yang belum selesai yang membuatnya semakin candu.


Belly yang mendapat belaian demi belaian dari Alan pun mengalungkan kedua tangannya di leher Alan. Meski ini bukan pengalaman pertama baginya, tapi kelembutan Alan memanjakannya sangatlah luar biasa. Ia diperlakukan Alan begitu lembut, karena tak sabar Belly pun mengambil satu tangan Alan dan melingkarkan pada pinggulnya. Satu tangan lagi ia arahkan untuk memegang dua aset berharga miliknya yang kenyal itu.


"Bell," Alan menyentuh benda kenyal itu dengan perlahan dan berirama. Hingga membuat Belly melenguh hanya dalam satu sentuhan dari Alan.


"Al, eughh ..."


"Ya," Alan dapat mendengar kini Belly menyebut namanya dengan suara yang begitu seksi hingga menembus ubun-ubunnya.


"Alan, akh ..."


"Bell, kau menyukainya?"


"Sangat," ucap Belly dengan nafas yang begitu memburu. Beberapa kali Belly mendongakkan lehernya, hingga leher jenjang itu semakin menggairahkan mata Alan.


Alan pun mengalihkan tangannya menuju pada tali baju Belly yang masih terikat erat. Ia mencoba melepaskan tali itu hingga berhasil melepaskan penutup tubuh Belly dan membuangnya ke sembarang arah.


Alan mengecupi leher jenjang Belly yang begitu memikatnya hingga meninggalkan beberapa jejak kiss mark di sana.


"Alan ..." Belly kembali melenguh.


"Haruskah sekarang, Bell?" Tanya Alan dengan suara perlahan, nafas yang begitu hangat tepat di telinga Belly. Kemudian ia menggigit pelan telinga Belly hingga membuat pemiliknya bergelinjang.


"Al ..."


To be continue ...


🍒Hai readers, di skip dulu ya malam pengantin Belly sama Alan. Jangan lupa mampir di cerita Othor yang baru, yang pastinya nggak kalah menarik.


MENGEJAR CINTA JANDAKU, sudah 20 episode loh...


Jangan ketinggalan sama cerita serunya, dan kasih dukungan terus buat karya Othor yang recehan ini. Tinggalkan jejaknya ya, Komen, Like, Gift dan votenya...

__ADS_1



__ADS_2