
Area 21++
Harap bijak dalam membaca,
"Al," Belly kini menatap lekat wajah Alan yang terpampang jelas di hadapanya.
"Eum?" Alan menghentikan permainan tangan dan bibirnya, ia menatap nanar Belly yang juga tengah menatap dirinya.
Mata Alan kemudian menatap turun bagian leher jenjang Belly, kemudian ia menatap dada putih dengan dua aset milik Belly yang masih terbungkus oleh Bra berwarna merah.
Dikecupnya dada Belly itu dengan lembut, kemudian tangannya mencoba untuk membuka tali pengait dibagian belakang hingga membuat pengait itu pun terlepas. Setelah pembungkus itu terlepas, Alan takjub akan apa yang kini terpampang di depan matanya. Ia bahkan tak sabar ingin melahap kedua benda kembar kenyal itu.
Alan kembali memainkan jemarinya untuk membuat sang wanitanya merasa dimanjakan oleh perlakuannya. Dari leher jenjang itu, kemudian kembali mengecup dua buah itu secara bergantian.
"Al, akh ..." Belly kembali mendes*h, ia mencengkram rambut Alan dengan kedua mata yang terpejam.
Alan membaringkan tubuh Belly di atas Ranjang, ia melepas kaos putih polos dari tubuhnya, kemudian ia melepas cd berwarna merah milik Belly. Tak ingin memberikan jeda yang lama, Alan kembali melakukan permaiannanya. Malam ini, ia sudah membulatkan tepatnya untuk tak memberi ampun Belly.
Di kecupnya puncak kepala Belly, bagian wajah, leher kemudian turun ke dada. Setelah itu Alan mendaratkan ciumannya pada bagian pusar Belly. Tak berhenti di situ, Alan pun mempermainkan kecupannya pada bagian inti milik Belly hingga membuatnya bergelinjang.
"Al, eugh ..." lenguh Belly dengan mendogakkan kepala ke arah atas disertai mata yang terpejam.
Entah ini lenguhan keberapa yang keluar dari mulutnya. Sungguh Alan benar-benar lihai, bahkan menurut Belly permainan Alan tak terlihat polos seperti orangnya.
"Al," Belly terperanga ketika melihat Alan sudah melucuti semua kain yang membalut tubuhnya. Semua helaian itu terlepas tak menyisakan apapun hingga Belly dapat melihat dengan jelas pedang panjang milik Alan yang sudah menegang seolah sudah siap untuk bertempur.
"Aku menginginkanmu," Alan menancap perlahan senjata miliknya ke dalam inti Belly. Meski Belly bukan lagi seorang per*w*n, namun Alan lumayan kesusahan untuk menembus bagian inti itu. Ternyata Belly sangat rajin melakukan perawatan pada asetnya.
"Eugh, ahhh ..." Hingga akhirnya, keduanya pun saling melenguh ketika senjata Alan mampu menembus inti Belly dan neraka pun melakukan penyatuan.
...****************...
"Morning," sapa Alan ketika melihat Belly membuka matanya secara perlahan.
Belly tersenyum, kemudian ia menyentuh wajah Alan dan mengusapnya dengan lembut juga penuh kasih sayang. Ternyata sebahagia ini memiliki seorang suamu seperti Alan.
"Jangan memancingku lagi, Bell," ucap Alan memegang tangan Belly yang masih mendarat di wajahnya.
"Apakah kau seekor ikan yang harus di pancing, Al," celetuk Belly.
"Jika aku ikan, mungkin kau adalah lautannya yang ingin terus aku selami," pagi ini kata-kata gombal Alan keluar. Entah sejak kapan ia pandai dalam merangkai kata-kata seperti ini, menurutnya ini adalah kali pertama.
"Kau pandai merayu ternyata," Belly mencubit pipi Alan dengan gemas.
__ADS_1
"Ini pertama kalinya bagiku, beruntung kau yang mendapatkannya," Alan menarik tubuh Belly dan memeluknya dengan erat.
"Kau tak akan lepas dariku lagi, Belly?" di tatapnya mata lentik itu, kemudian ia mendaratkan bibirnya pada puncak kepala Belly.
Cup!!
"Rasanya aku ingin terus seperti ini," ujar Belly mengusap pelan lengan kokoh Alan.
"Aku akan menuruti kemauanmu," Alan kembali mengecup puncak kepala Istrinya.
"Aku baru sadar, ternyata kau seromantis ini," Belly menatap pergelangan tangannya sendiri yang sudah terpasang gelang berliontin permata biru.
Alan memicingkan senyumannya, ia begitu bahagia ketika melihat ekspresi senang Belly mendapatkan gelang pemberiannya.
"Itu adalah gelang milik Ibuku," ujar Alan, namun kini ekspresi wajahnya sedikit berubah muram.
"Ibu??"
"Ya, dia memintaku untuk memberikan gelang itu pada wanita yang akan menjadi Istriku, dan kau lah orangnya,"
Penjelasan Alan membuat Belly terharu, ia pun kembali mencoba menenangkan perasaan Alan. Karena jika menyangkut orang tuanya, Alan akan terlihat sedih.
"Aku sangat beruntung, akan ku jaga gelang ini seperti aku menjaga perasaan cintamu padaku," Belly mengecup wajah Alan yang kini sudah mulai berseri kembali.
"Aku mencintaimu, Bell." lirih Alan berbisik di telinga Belly.
Semakin dalam kecupan dan ******* yang Alan berikan, semakin besar pula hasrat keduanya untuk saling melakukan penyatuan.
"Al, kau ingin mengulangnya lagi?" Tanya Belly ketika Alan sudah berada tepat membawahi tubuh polosnya.
Alan tersenyum, "Kau tak bisa menolak."
"Alan, Ahh ..." Belly kembali mende*ah ketika intinya sudah tertancap oleh pedang milik Alan.
Alan mengayunkan tubuhnya dengan gerakan perlahan, semakin perlahan hingga membuat tubuh Belly bergelinjang mendapatkan ******* pagi hari ini.
"Eugh ..." Belly kembali melenguh, sungguh ia menikmati permainan pagi ini. Meski semalam Alan juga sudah menggempurnya habis-habisan dengan permainan dua ronde.
"Al, nikmat sekali. Ah ..." Belly mengalungkan kedua tangannya pada leher Alan ketika itu pula dua benda kenyal miliknya sedang dilahap dengan rakus.
"Aku ingin melihat ini," lirih Alan.
"Lihat apa?" jawab Belly.
__ADS_1
Alan kembali memainkan inti Belly. Hingga membuat Belly berdesah dan melakukan pelepasan kenikmatan untuk kedua kalinya.
"Ahhhh ...." Belly berde*ah.
"Ini yang ingin ku lihat, setiap hari," ujar Alan senang.
"Al, kamu sungguh membuatku candu,"
Alan mengecupi setiap jengkal tubuh Belly yang dapat ia jangkau. Bukan tak mungkin perlakuan Alan itu membuat Belly semakin ingin terbang.
Di angkatnya tubuh polos milik istrinya, dengan posisi Belly ada di atasnya. Kali ini ia menyerahkan pengendali permainan ini pada Belly.
"Aku mencintaimu, Alan," kata cinta pertama yang diucapkan Belly membuat hati Alan berdesir. Ia sungguh bahagia mendapatkan pengakuan dan pernyataan cinta dari Belly pagi ini.
"Aku pun sangat mencintaimu," jawab Alan menanggapi ucapan Belly.
Belly dan Alan saling melemparkan senyum, kemudian mereka pun saling mengeratkan pelukan. Tak ingin berlama-lama, Belly pun mengambil kendali permaiannanya pagi ini.
Ia menggerakkan pinggulnya perlahan, hingga membuat Alan mendongak keatas merasakan kenikmatan. Bibirnya berganti mengecup leher Alan hingga meninggalkan Kiss Mark. Ia pun tak ingin memeberi ampun pada Alan, seperti ketika Alan tak memberi ampun pada dirinya.
"Eughhhh ..." Alan melenguh, tak tahan lagi dengan gerakan Belly pada intinya. Semua itu membuatnya merasa mendapatkan banyak kupu-kupu yang terbang dan menggelitik perutnya.
"Bell, kau sungguh nikmat, ah ..." Alan tak sabar, ia sungguh ingin segera memuntahkan benih-benihnya pada rahim Belly. Ia pun menidurkan Belly dan kembali mengambil alih permainan.
Alan menggerakkan pinggulnya dengan cepat, dengan beberapa kali hentakan akhirnya Alan dan Belly pun sama-sama saling melakukan pelepasan. Alan pun ambruk di atas tubuh Belly dengan nafas yang terengah-engah.
Alan mengecup dengan dalam kening Belly, hal itu mendapat sebuah senyum sumringah dari Belly.
"Mau ke mana?" Tanya Alan yang kini melihat Belly sudah mengubah posisi tidurnya. Belly menuruni ranjang dengan langkah perlahan karena merasa intinya terasa sedikit perih.
"Ini sudah jam enam, Al, aku harus bangun dan mandi."
Alan menarik tangan Belly, ia masih belum rela ditinggalkan oleh Istrinya. "Jangan kemana-mana, bahkan aku belum puas ..."
"Al, please?" Belly merengek dengan memasang wajah sedihnya berharap Alan akan melepaskannya dan memberinya waktu beristirahat hari ini.
Dengan berat hati, Alan pun melepas tangan Belly dan membiarkannya pergi.
"Bangunlah, aku akan siapakah sarapan," ujar Belly sambil melangkah menuju ke kamar mandi.
"Baiklah," Alan pun bangun dan menyusul Belly ke dalam kamar mandi. Bukan tak mungkin jika Alan mendapatkan kesempatan untuk mengganggu Belly lagi kali ini.
To be continue ...
__ADS_1
🍒Hai, hai Readers setia karya othor. Silahkan mampir ke karya othor yang baru MENGEJAR CINTA JANDAKU.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya, Like, Komentar, Gift dan Votenya. Terimakasih .....