
Raja mengikuti belly dari belakang, ia memasuki kamarnya yang sudah dibukakan pintu oleh belly.
"Istirahatlah,..." Pinta belly pada raja, raja pun duduk pada pinggiran ranjang. "Dimana obatnya?? Kau belum minum obat, biar aku ambilkan.....
"Sudah cukup bell,...." Raja menarik belly hingga terduduk di pangkuannya. Belly yang menerima prilaku raja pun sontak terkejut dan membulatkan matanya dengan sempurna. Pandangan mereka berdua pun saling bertemu, hati dan jantung pun saling beradu merasakan getaran serta desiran yang membuat keduanya tak bisa lagi berkata-kata.
Lagi, aku terjebak untuk kesekian kalinya...
"Aku sudah tidak bisa menahannya lagi...." Raja meraih dagu belly, ia tak dapat lagi menahan hasratnya untuk mencicipi bibir ranum milik belly yang begitu menggodanya. Tak ada perlawanan apapun dari belly, sehingga membuat bibir keduanya saling bertemu.
"Cup" Raja mengecup lembut bibir milik istrinya itu.
Belly memejamkan matanya, tubuhnya kaku tak bergerak, sungguh tubuh belly tak bisa menolak sentuhan itu.
Lagi, raja menginginkannya lagi. Di tatapnya wajah belly yang kini sudah membuka matanya. Kemudian raja melanjutkan aksinya lagi, baginya mengecup bibir belly itu sungguh membuatnya candu. Raja memajukan lagi wajahnya, diraupnya bibir belly dengan lembut. Hingga bibir keduanya saling bertaut.
Belly mengikuti ritme pergerakan raja, tak di pungkiri jika belly pun menikmatinya.
Sungguh aku tak bisa menolaknya, aku tak bisa....
Raja dan belly menghentikan aksinya, mereka melepas pagutannya karena sudah merasa kehabisan nafas.
Mereka berdua masih sama-sama dalam keadaan nafas yang memburu. Keduanya masih ingin melanjutkan ciuman lembut yang mereka lakukan.
Namun keduanya berhenti saat bell pintu berbunyi.
Ting.....nung.......
Suara bell pintu berbunyi, sepertinya ada yang datang.
Tak mempedulikan suara bell pintu, belly maupun raja masih ingin melakukannya lagi. Tapi, bell pintu berbunyi lagi.
"Jika kau ingin melanjutkannya, maka aku tak akan bisa lagi menghentikannya.." Ucap raja lirih menatap lekat mata belly.
Ting....nung....
Bell pintu pun berbunyi kembali. Karena tak kunjung di buka.
Belly pun mengalihkan pandangannya, ia segera beranjak dari pangkuan raja. Ia menuju lantai bawah untuk membukakan pintu.
Raja hanya diam terpaku menyaksikan kepergian belly, rasa kecewa mengisi relung hatinya.
Belly, aku sungguh menginginkanmu...
__ADS_1
Sementara di lantai dasar rumah raja, belly membukakan pintu. Ia melihat sosok steva dan rangga di sana.
"Ya tuhan! Kau ini membuat orang cemas saja! Dimana ponselmu bell??" Steva mengomeli belly karena sejak tadi ia tak menjawab pesan dan telepon dari steva.
"Steva? Ponsel? Oh ponselku....." Belly pun berfikir entah kemana letak ponselnya saat ini. Ia baru mengingat jika ponselnya tertinggal di kamar raja.
"Aku hanya khawatir kau kenapa-kenapa di jalan! Jika aku tahu kau dengan suamimu, aku pun tak mau ambil pusing hingga datang kemari." lanjut steva memarahi belly.
"Maaf stev aku......"
"Ya sudah, aku pulang dulu. Kau rawatlah dulu suamimu. Bye....." Steva tak ingin menghabiskan banyak waktu mengganggu belly dan juga raja. Fikirannya sangatlah peka, ia mengerti jika raja dan belly butuh waktu berdua untuk menyelesaikan masalah mereka selama ini.
Rangga terkejut saat steva mengatakan hal itu, ia baru menyadari jika belly adalah istri dari bossnya. Ranggapun membungkukkan tubuhnya untuk berpamitan pada belly.
Belly hanya menyaksikan kepergian steva dan rangga dari ambang pintu. Ia kemudian menutup pintu kembali.
Haruskah aku disini??? Ya ampun, mengapa aku tak bisa menahan diri.... Mengapa itu terjadi? Astaga belly......
Belly merutuki dirinya sendiri didalam hati, ia mengingat kejadian tadi bersama raja sembari terus memegangi bibirnya.
"Siapa bell?" Tanya raja, ia turun dari kamarnya menemui belly.
"Oh, itu tadi steva dan rangga...." Ucap belly terbata.
"Kau istirahatlah dulu, dimana obatnya? Biar aku ambil." Ucap belly mencari-cari topik pembahasan.
"Obat? Oh tadi obatnya aku letakkan di meja kamar." Jawab raja.
"Kembalilah ke kamar, aku akan ambilkan air minum." Belly pun bergegas ke dapur untuk mengambilkan air putih.
Tak butuh waktu lama, belly pun datang ke kamar raja membawa air putih. Di sanalah raja maupun belly merasakan tegang.
Perasaan keduanya sama-sama tak menentu. Belly memberikan air putih dan juga obat untuk diminum raja.
Raja yang berbaring pun segera di selimuti oleh belly. "Tidurlah, kau butuh istirahat." Ucap belly sembari menyelimuti tubuh raja.
"Kau juga tidur bell... Ini sudah larut." Ucap raja.
"Aku akan tidur nanti, setelah kau tidur." Jawab belly kaku.
"Aku tidak akan bisa tidur jika kau belum tidur." Lanjut raja.
"Tidurlah, kau takkan sembuh jika tak segera tidur." Perintah belly lagi.
__ADS_1
"Tapi kau juga harus tidur bell... Kau pasti juga lelah." Jawab raja.
"Kau tidurlah dahulu, aku sebentar lag!!." Jawab belly tak mau kalah.
"Ok, kalau begitu bagaimana jika kita tidur bersama???" Timpal raja.
Deg!! Perasaan apa lagi ini? Tahan belly, jangan jatuh lagi di lubang yang sama. Bahkan lubang ini akan terus menjeratmu...
"Emm, raja aku ke bawah dulu." Dengan perasaan gugupnya belly pun melangkahkan kakinya. Namun dengan segera raja mencekal tangan belly.
"Bell, jangan pergi. Tetaplah disini....." Ucap raja lirih dengan penuh harapan. "Temani aku saja, aku berjanji takkan berbuat macam-macam."
Dengan perasaan beratnya, belly pun mendudukkan bokongnya dipinggiran ranjang. Raja pun segera memejamkan matanya. Ia tahu belly kini tengah merasa tak nyaman.
Melihat raja yang sudah terpejam, belly pun merasakan kantuk yang tak bisa di tahan. Hingga ia pun memilih tidur di sofa dekat ranjang.
Malam kian larut, raja terbangun dari tidurnya. Ia membuka matanya, terlihat belly tengah tertidur di sofa meringkukkan badannya.
"Haruskah kamu terus menghindariku bell?" Lirih raja, ia pun segera membopong tubuh belly kemudian dipindahkannya keatas ranjang dengan pelan dan hati-hati.
Raja hanya bisa menelan salivanya, ia pun segera menyelimuti tubuh belly. Raja tidur dengan posisi miring kearah belly. Ditatapnya lekat-lekat wajah belly yang tengah tertidur pulas. Disentuhnya wajah mulus itu sebagai pria normal ingin rasanya ia mengarungi bagian tubuh yang lain. Tapi ia berusaha untuk menahannya.
Aku tidak bisa menahannya bell, tapi aku takkan mungkin melakukannya tanpa izinmu.
Raja bangun dari tidurnya, ia pun segera pindah ke sofa untuk tidur kembali.
Sementara itu, belly tahu apa yang tengah raja lakukan padanya. Ia membuka matanya perlahan, kemudian memejamkannya kembali.
Apa yang kamu fikirkan bell? Jangan berharap lebih padanya, jangan pernah bell....
Pagi pun tiba, belly bangun lebih dulu dari pada raja. Belly membuka ponselnya, dilihat sudah ada pesan masuk dari steva.
[Hari ini aku memberimu cuty, bersenang-senanglah!]
"Ck! Anak ini, memangnya aku sedang berlibur?" Belly berdecak membaca pesan dari steva.
Ia bergegas pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Belly masih merasa kaku karena ia kembali bermain didapur ini, ia pun memutuskan untuk membuatkan bubur ayam untuk raja.
Sepertinya raja masih tertidur pulas, ia meletakkan bubur diatas meja beserta dengan obat yang harus diminum raja.
Belly sebenarnya tak tega meninggalkan raja sendiri, tapi inilah pilihannya. Ia tetap akan pergi ke kantor.
__ADS_1
To be continue....