
"Selamat siang, ada paket untuk bapak Raja." Seorang kurir memberikan satu bucket bunga untuk belly.
Belly yang sedang menyirami tanaman bunga-bunganya di taman pun segera menerima paket yang diserahkan oleh kurir.
"Terimakasih..." Ucapnya ramah pada sang kurir. Setelah selesai melakukan paraf sebagai tanda terima, belly segera menghentikan aktivitasnya dan masuk ke dalam rumah.
"Bunga dari siapa ini? Cantik sekali..." Gumam belly dengan senyum mengembang di bibirnya saat melihat sebuah boneka bear menambah kecantikan bucket bunga yang ia terima.
Sebuah kartu ucapan pun terselip pada bucket bunga tersebut. Meskipun bucket tersebut ditujukan untuk raja, belly tetap menerimanya karena saat ini raja sedang berada di kantor.
"Siapa pengirimnya?" Belly ingin sekali membuka kartu ucapan yang ada pada bucket bunga itu. Namun ia tak ingin bersikap lancang meskipun raja adalah suaminya.
Belly pun meletakkan bucket bunga itu di atas meja tepat di depan sofa yang kini ia duduki.
Belly sengaja menyalakan televisi, berharap rasa penasarannya terhadap si pengirim bunga untuk raja akan hilang. Tapi, rasa penasaran itu malah semakin menjadi.
Sebenarnya siapa yang mengiriminya bunga ini? Apakah seorang wanita? Mengapa ia mengucapkan kata maaf?? Apakah dia memiliki wanita lain diluar sana? Bisa-bisanya dia menuduhku macam-macam tapi malah dia yang berbuat seperti itu!
Dengan sigap belly segera meraih kartu ucapan yang sejak tadi menarik perhatiannya, kartu ucapan itu sangat menggugah rasa penasarannya.
Dear my king,
Aku yakin, perasaanmu pun masih sama terhadapku. Aku sangat merindukanmu...
Begitu membaca isi pesan dari bucket itu, perasaan belly seakan hancur. Sakit, tapi tak berdarah. Kecewa, tapi tetap ia tahan.
Belly meletakkan lagi kartu ucapan itu pada bucket, kemudian ia berlalu pergi memasuki kamarnya.
__ADS_1
Hari ini raja pulang siang dari kantor, entah kenapa mendadak kepalanya sangat pusing hingga tubuhnya pun lemas tak bersemangat. Raja menepiskan perasaannya jika nanti bertemu dengan belly, karena selama beberapa hari ini bahkan sudah seminggu lamanya mereka tak pernah saling sapa atau bertatap muka.
Raja memasuki rumah dengan lesu, matanya keaana kemari mencari keberadaan belly namun tak ada seorang pun yang ia temui.
Bu siti masih ijin cuty minggu ini karena orang tuanya masih di rawat di rumah sakit yang berada di kampung halamannya.
Raja mengendurkan dasi yang begitu mencekik lehernya kemudian ia mendudukkan bokongnya pada sofa ruang tengah yang biasa di gunakan untuk menonton televisi juga sebagai ruang keluarga. Matanya mengarah pada meja dihadapannya, ia melihat sebuah bucket bunga diatasnya. Seperti belly, raja pun penasaran pada kartu ucapan yang ada pada bucket tersebut.
Raja membaca sekilas tulisan yang membentang pada kartu ucapan itu. MAAF...
"Bunga dari siapa ini? Dan.... Maaf?? heh, apakah dia benar-benar berbuat macam-macam dibelakangku?" Raja mengeratkan rahang-rahangnya, kepalan tangan dengan urat ototnya yang telah menonjolpun sudah terlihat. Spontan, emosi raja pun sudah mulai mengembul.
Raja meraih bucket bunga itu, dengan kemarahan diwajah tampannya raja menghampiri kamar belly. Tak lagi mengetuk pintu, raja langsung saja menerobos masuk kedalam kamar belly.
"Kali ini aku takkan mengampuninya!" Sergas raja dengan amarahnya yang kian membara.
"Apa yang kau lakukan???" Belly yang sedang berbaring sembari mengusap pipinya pun terkejut dengan kehadiran raja yang dengan tiba-tiba menerobos masuk kedalam kamarnya. Belly menatap kepalan tangan raja yang begitu erat.
"A..ku...... Aku tidak mengerti apa maksudmu?" Tanya belly semakin tak paham dengan sikap raja.
"Sudahlah! Tidak usah pura-pura bodoh! Apa sebenarnya hubunganmu dengan pria itu??" Raja kian mendekat kearah belly, hingga belly menegakkan tubuhnya dan berdiri merapat membelakangi tembok kamarnya.
"Pria itu siapa? Apakah maksudmu alan?"
Ucap belly yang sudah mulai takut dengan sikap raja. Tatapan raja padanya kini tak dapat diartikan lagi, tatapan dingin disertai amarahnya.
"Jadi benar dugaanku, kau bermain-main dengannya? Tapi kau berlagak sok suci? Apa yang telah diberikannya padamu? Atau aoa yang telah kau berikan padanya?" Tak lagi bernada tinggi, suara lirih raja malah semakin menyakiti hati belly.
"Bisakah kau bicara sedikit sopan? Dan berhentilah menuduhku raja!" Mata belly kian membulat, dengan warna sedikit kemerahan yang sudah mulai terlihat.
__ADS_1
"Heh, wanita sepertimu tak pantas diperlakukan dengan sopan!!" Raja semakin mendekatkan diri dengan belly, dengan senyuman ala devilnya raja menatap wajah belly.
"Hanya kau pria yang memperlakukanku seperti ini,..."
"Ya, karena pria disana tidak tahu kebenarannya! Kau bersikap seperti wanita lugu padahal kau sama saja seperti wa......" Raja menghentikan ucapannya.
"Apa? Aku seperti apa raja? Lanjutkan saja! Katakanlah apa yang ingin kau katakan! Aku akan menerimanya, ini hal biasa untukku menerima semua perlakuan burukmu.. Katakanlah, cacilah aku semaumu! Karena penjelasan apapun dariku kau takkan pernah mau menerimanya! Tidak, jangankan menerima bahkan mendengarkannya saja kau tak sudi!!"
Raja diam, ia menahan amarahnya karena tak sanggup melihat belly dihadapannya kini telah meringkuk menangis. Dengan duduk dilantai, kedua kaki yang menahan wajahnya serta menutupi seluruh wajahnya dengan tangan.
Raja melempar bucket bunga yang ada di tangannya ke lantai, ia pun keluar dari kamar belly dengan perasaan kesalnya. Kemarahan raja ia lampiaskan dikamarnya. Raja menyiram tubuhnya dengan air dingin yang mengalir melalui shower di kamar mandi miliknya.
****
Papa, belly sudah tidak sanggup lagi. Maafkan belly jika tidak menuruti semua pesan papa. Belly ingin terus bertahan, tapi perasaan belly terus tersakiti... Belly sudah berusaha sebaik mungkin menerima sikap dan perlakuannya, tapi raja benar-benar tidak berubah pa...
Dengan air mata yang terus mengalir di wajahnya, belly mengemasi semua barang-barang miliknya kedalam koper. Ia mengingat selalu pesan papanya, namun keadaan memaksanya untuk tidak terus bertahan dalam situasi yang begitu merugikannya. Raja tak bisa berubah, apa yang ia lakukan tak pernah dianggap oleh raja. Hingga belly memutuskan untuk pergi dan meninggalkan raja.
Tanpa berpamitan juga tanpa pesan belly keluar dari rumah raja. Ia menarik koper yang sudah di isi dengan beberapa barang-barang miliknya dan meninggalkan lingkungan rumah. Sesekali ia berbalik arah menoleh kebelakang menatap lantai dua dimana raja berada. Air mata terus membanjiri pipi mulusnya, dengan suara sedunya belly pun akhirnya melajukan langkahnya dengan cepat.
Tujuan belly kali ini adalah ke apartement steva, hanya steva yang ia kenal disini sebagai teman baik. Ia berharap steva mau menerimanya sementara waktu hingga ia mendapatkan uang dan menyewa tempat tinggal sendiri.
Saat akan memasuki lift, alan melihat sosok belly dengan wajah sembabnya.
"Bell? Belly....." Alan berusaha mengejar belly, namun karena belly mendengar alan terlebih dahulu ia pun segera menekan tombol agar lift tertutup. Dan beruntungnya belly berhasil menghindari alan.
"Alan? Kenapa dia ada disini?" Gumam belly dalam hati. Belly merasa minggu lalu saat ia kembali dari apartement steva ia pun bertemu alan.
Setelah tiba di depan apartement steva belly segera menekan bell tak lama kemudian steva pun muncul membukakan pintu segera untuk belly.
__ADS_1
To be continue....
🍒 Selamat malam, tetap semangat ya readers.... Jangan lupa tinggalakan jejaknya untuk mendukung karya othor... Dan, terimakasih banyak ☺☺