Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Kekhawatiran yang berlebihan


__ADS_3

Manusia itu semuanya kuat, yang lemah itu batinnya. Biarpun semua dunia bilang 'SEMANGAT' Jika lelah, maka akan tetap lelah..


**Belly Zeana Anggraika.


Belly bangun dengan tubuh yang semakin segar, malam ini ia merasa tidurnya teramat nyenyak tak seperti malam-malam sebelumnya.


Sebelumnya ia tak dapat memejamkan mata karena hati dan fikirannya terus berperang. Namun mulai semalam, ia tak merasakan itu lagi.


Apakah waktu sudah mengubah semuanya, hingga membuatku menjadi terbiasa?


Batin Belly menggerutu, seiring berjalannya waktu ternyata perlahan segala masalah yang mengganggu hati dan otaknya bisa membuyar meski tak akan pernah hilang.


Seminggu sudah ia tinggal bersama dengan Alan. Sempat ia mengutarakan keinginannya untuk bekerja kembali, namun Alan tidak memperbolehkannya dengan alasan kondisi kesehatannya saat ini belum stabil. Ia pun menuruti perkataan Alan.


Namun Belly juga merasa jenuh karena setiap hari harus terkurung didalam Apartemen milik Alan. Tak ada interaksi dengan orang luar, bahkan Alan pun jarang sekali berada di Apartemen karena disibukkan dengan pekerjaannya.


Alan tak membiarkannya begitu saja, diluar ia sudah membayar dua orang lelaki kepercayaannya untuk menjaga Belly agar tetap aman dan selalu dalam pantauannya.


Kadang Belly merasa risih dengan perlakuan Alan yang menspesialkan dirinya. Kadang juga ia merasa jika Alan amat mengekangnya.


Ia tak dibiarkan untuk berkutat dengan pekerjaan rumah. Bahkan untuk memasak, Alan tak membiarkan itu terjadi. Ia sudah menyiapkan satu orang yang ditugaskan untuk membereskan segala urusan Apartementnya dan sekaligus memasak makanan untuk Belly.


Setelah selesai mandi, pagi ini Belly turun dari kamarnya. Ia memakai gaun tipis ala rumahan yang bahkan menembus pemandangan ditubuhnya.


Bukan hal yang sengaja, ia merasa di Apartemen besar ini tinggal sendirian. Karena ART yang dibayar Alan akan pergi kembali ke rumahnya saat tugas sudah selesai.


Biasanya Alan juga pasti sudah pergi bekerja pagi-pagi sekali. Karena selama seminggu ini Belly tak pernah mendapati keberadaan Alan di unit Apartemennya.


Mungkin ketika Alan pulang dari kantor, ia sudah tidur dikamarnya yang berada dilantai atas. Sungguh satu minggu ini ia tak pernah melihat Alan.


Saat menuruni anak tangga, Belly terkejut mendapati Alan sedang duduk di sofa tepat menatapnya. Seperti seorang yang sudah menunggunya sejak tadi, dengan sekali matanya menatap kearah arloji ditangannya.


"Sudah bangun?" Tanya Alan menyunggingkan senyuman kepadanya.


"A..Alan? Kau ada di sini?" Belly terkejut, matanya membola mendapati Alan sudah menyimpulkan senyuman manisnya. Dengan memakai setelan jas hitam membuat penampilannya begitu rapi, berbeda dari biasanya.


Sejenak Belly sadar apa yang dikenakannya saat ini, Belly pun segera membalikkan badannya. Ia pun dengan segera kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.


Melihat tingkah lucu Belly Alan hanya bisa terus mengulum senyumannya. Menurutnya tingkah Belly kali ini begitu menggemaskan. Apalagi sempat ia melihat lekuk tubuh Belly dengan jelas tadi.


"Ah! Alan, apa yang kau fikirkan? Buang jauh-jauh fikiran kotormu itu!"


Namun, lagi-lagi Alan tertawa kecil. Entah mengapa perasaannya begitu senang pagi ini. Setelah beberapa hari tak bertemu Belly meski mereka tinggal dalam satu atap.


Alan tengah disibukkan dengan pekerjaannya yang tertunda selama ini. Ia pun berniat menyelesaikan semua itu dalam jangka waktu satu minggu. Dan benar saja, sesuai targetnya akhirnya pekerjaannya pun selesai.


Masalah penyelidikan terhadap kasus yang menimpanya dengan Belly pun sudah dapat ditanganinya. Semua bukti-bukti yang ia kumpulkan sudah hampir selesai. Hanya tinggal melakukan peninjauan ulang.

__ADS_1


Alan mengeratkan rahangnya, tangannya mengepal dengan kuat mengingat semua yang menimpanya dan Belly karena ulah Maura.


"Al," Suara manis seorang wanita terdengar merdu ditelinganya menyadarkan lamunan Alan.


"Oh. Ya." Alan menjadi kikuk, bingung hingga salah tingkah ketika matanya bertemu dengan mata Belly.


"Kau tidak ke kantor?" Tanya Belly lagi.


Alan hanya tersenyum kecil, "Kita pergi sekarang."


"Pergi? Kemana?" Merasa tak ada janji, tiba-tiba Alan mengajaknya pergi. Hal itu membuat Belly sedikit bingung.


Alan memang selalu begitu, ia selalu memaksakan kehendaknya sendiri tanpa merundingkannya terlebih dahulu kepada Belly.


"Huh!" Belly mendengus kesal.


"Ada apa?" Mendengar Belly seolah mengeluh, Alan pun bertanya kepadanya.


"Hari ini jadwal kontrol ke rumah sakit, kau tak ingat?" Alan mengingatkan Belly kembali.


"Astaga!!!" Sontak Belly terkejut. Bagaimana bisa ia melupakan jadwal kontrolnya sendiri.


Lagi, Alan tersenyum kecil. Ia berjalan menuju keluar unit Apartemennya. Belly pun mengikuti langkah Alan yang semakin cepat.


Setelah tiba di rumah sakit, Belly segera memeriksakan dirinya. Kebetulan hari ini ia konseling dengan dokter Yulia.


"Kemajuan yang bagus untuk waktu satu minggu." Ucap dokter Yulia menatap wajah Belly yang sudah terlihat sedikit bersinar.


"Terimakasih dok." Ucap Belly.


"Berterimakasihlah juga dengan Pak Alan, karena dialah orang pertama yang berperan membuatmu pulih kembali." Lirikan dokter Yulia kini mengarah pada Alan yang kini menunggu Belly diluar ruangannya.


Belly hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan dokter Yulia. Setelah selesai dan diberi resep obat, Belly pun segera keluar.


Namun saat ia keluar menghampiri Alan, sepertinya Alan tengah sibuk berbicara dengan seseorang via telepon. Hingga ia memutuskan untuk menebus resep obat terlebih dulu ke Apotek.


Alan terus saja menunggu Belly didepan ruangan dokter Yulia. Hingga dokter Yulia pun keluar menyapanya.


"Pak Alan? Masih disini?"


"Oh, iya dok. Bagaimana? Sudah selesai memeriksa Belly?"


"Kami sudah selesai sekitar sepuluh menit yang lalu pak." Dokter Yulia mengerenyitkan dahinya,


"Apakah pak Alan tidak bertemu dengannya? " Tanya dokter Yulia lagi.


"Terimakasih dok, saya permisi." Alan bergegas pergi mengambil langkah seribu mencari-cari keberadaan Belly.

__ADS_1


Ia mencoba pergi ke toilet wanita, dari luar ia memanggil nama Belly namun tak juga ada sahut apapun.


Alan pergi lagi menyusuri setiap lorong rumah sakit, namun matanya tak juga menemukan keberadaan Belly.


"Belly, dimana kamu?" Alan mencoba menghubungi nomor ponsel Belly. Namun ia lupa jika selama ini Belly tidak memiliki ponsel.


"Ya tuhan, Belly." Alan berlari lagi menuju ke parkiran mobilnya. Ia mencari keberadaan Belly, barangkali Belly sudah menunggunya di mobil. Namun perkiraan ya itu salah, Alan tak menemukan siapapun disana.


Setiap orang yang lewat sudah ditanya olehnya, namun semua orang itu menjawab tidak tahu dan tidak melihat seorang wanita dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh Alan.


Alan seperti hilang arah, ia khawatir akan kehilangan Belly lagi.


"Bagaimana aku bisa seceroboh ini??" Alan meremas rambutnya dengan kedua tangannya hingga bentuknya yang semula rapih menjadi berantakan.


"Belly...... Kamu dimana?" Alan menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Sudah selama setengah jam ia mencari-cari Belly disekitaran rumah sakit, namun tak juga menemukannya.


Alan juga menghubungi penjaga unit Apartemennya, namun mereka berkata jika Belly belum kembali.


Kembali ia meremas rambutnya, ia terus berkutat dengan ponselnya menghubungi beberapa orang kepercayaannya untuk mencari Belly.


Seperti seseorang yang sedang prustasi, ia hanya bisa menyalahkan diri sendiri karena kehilangan Belly untuk yang kesekian kali.


Padahal ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan bertanggung jawab atas Belly. Sedikit lengah saja, ia hari ini menjadi kehilangan Belly lagi.


"Bodo*h!!!" Alan merutuki dirinya sendiri, disandarkan tubuhnya pada tembok rumah sakit dengan perasaannya yang semakin sesak.


"Al,"


"Belly!" Dengan segera ia menghampiri Belly dan memeluknya erat.


"Apa yang terjadi Al, mengapa kamu menangis?" Belly yang dipeluk oleh Alan dengan erat merasa bingung.


Alan segera melepas pelukannya, "Jangan tinggalkan aku lagi bell."


"Al, apa yang terjadi?"


"Aku mencarimu. Aku fikir kau...."


"Hmmm..." Belly menunjukkan satu kantong obat yang ada ditangannya.


"Aku habis menebus obat Al, aku tidak pergi atau hilang!"


Melihat obat ditangan Belly, Alan sadar. Jika kekhawatirannya terhadap Belly saat ini begitu berlebihan.


To be continue....


🍒 Suka dengan cerita ini? Bantu vote, like, komentar dan kasih giftnya ya buat othor... Terimakasih atas dukungan kalian semua readers.

__ADS_1


__ADS_2