Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Aku menyesal, Bell.


__ADS_3

#POV. Belly


Aku menggeleng keras ketika menatap sosok gagah yang terakhir kali ku lihat. Terakhir kali kami bertemu, dan seolah kami tak saling mengenal. Dia terlihat baik-baik saja, bahkan dapat ku lihat dengan jelas jika keadaannya tanpa kehadiranku disisinya akan biasa saja.


Namun hari ini, sosok gagah itu kini terbaring lemah dan tak berdaya dengan perban di kepala, leher yang di pasang penyangga, dan beberapa alat medis menempel ditubuhnya.


Aku fikir, selepasnya diriku darinya ia akan bahagia dan baik-baik saja. Namun ternyata aku salah, aku meninggalkannya yang jelas-jelas masih membutuhkan diriku.


Ah, apa-apaan aku ini? Aku harus sadar diri. Keadaan Raja seperti ini bukan karena aku meninggalkannya atau karena aku tak disisinya, mungkin semua ini terjadi padanya karena sudah digariskan oleh Tuhan yang mengatur segala kehidupan manusia.


Tess!


Air mata itu pun jatuh menetes dipipi, ku angkat tanganku lalu segera kuseka sisa-sisa air mata ini. Aku tak ingin ada yang melihat jika sekarang aku sedang menangis. Aku juga tak ingin menunjukkan betapa lemah dan cengengnya diriku ini saat berada dihadapan Raja.


"Belly," sapa Tante Rianti dengan memegang pundakku.


Aku langsung menoleh kearahnya dan memasang senyum sipuku kepada mantan Mama mertuaku ini. Sampai-sampai aku bingung harus memanggilnya dengan sebutan apa, Mama atau Tante?


"Bell, terimakasih sudah datang menemui Raja,"


Tante Rianti kembali mengeluarkan suaranya, namun aku hanya bisa menjawab dengan menganggukkan kepalaku dengan pelan.


"Mama titip Raja sebentar ya," ucap Tante Rianti.


Aku tak bisa berkutik jika berhadapan dengan Tante Rianti, berbeda jika aku berhadapan dengan Om Darmawan. Mungkin, karena aku menganggap dia sebagai ibuku sendiri dan selama aku menikah dengan Raja aku selalu bersikap manja padanya namun sekarang berbeda karena aku tetap menjaga batasanku, hingga terasa kaku dan serba salah. Perasaan kaku dan serba salah itu muncul setelah aku berpisah dengan Raja.


Apalagi kali ini, Tante Rianti masih menyebutkan dirinya sebagai Mamaku. Disitulah aku semakin tak bisa berkutik lagi.


Setelah Tante Rianti keluar dari ruangan dimana Raja dirawat, aku pun kembali menangis sejadinya dengan suara sesak yang masih tertahan.


Jika tak mengingat ini adalah rumah sakit, mungkin aku sudah menderu-deru mengeluarkan suaraku. Ku raih tangan Raja yang kian mengurus dengan dipasang selang infus dan menggenggam tangan dingin nan pucat itu dengan erat.


"Kamu harus sembuh, kamu adalah pria kuat, Raja," ucapku masih diiringi dengan rasa sesak didada.


Semakin ku eratkan genggaman ini pada jemari milik Raja yang terasa dingin, hingga air mataku ini malah semakin mengalir dengan deras. Tak kuat rasanya aku menopang kepala ini dengan tegak meski tubuhku sedang duduk di kursi, akhirnya kurebahkan kepalaku di brankar rumah sakit dimana Raja sedang terbaring.


Ku coba menahan tangis ini, berharap tak terjadi banjir di kamar rawat Raja akibat air mataku.

__ADS_1


Namun, aku merasa ada sesuatu yang menyentuh kepalaku dengan lembut hingga membuat aku harus menegakkan kembali kepalaku.


"Be-lly," suara seraknya pun terdengar jelas ditelingaku, entah berapa lama ia tertidur seperti yang dikatakan oleh om Darmawan, kini akhirnya aku dapat melihat matanya telah terbuka.


"Ra-ja," aku terkejut sekaligus senang melihatnya kini telah membuka matanya. Seketika itu pula, ku lepaskan tanganku yang sejak tadi memegang tangannya.


"Ha-us," ucapnya dengan suaranya yang kian mengecil.


"Mau minum?"


Dia tak lagi menjawab pertanyaanku, hal itu membuatku khawatir. Namun dapat aku lihat ketika ia mengisyaratkan dengan mengedipkan matanya.


Segera aku mengambil air mineral yang ada di atas nakas, dan aku bingung bagaimana caranya membantunya untuk minum. Aku pun meletakkan kembali air itu dan memutuskan untuk keluar memanggil Dokter.


Belum juga aku meninggalkannya, Raja kembali mengeluarkan suaranya. "Jangan tinggalkan aku, Bell."


Langkah kakiku pun terhenti mendengar ucapan Raja, namun tetap aku harus keluar untuk memanggil Dokter.


Setelah aku berhasil memanggilkan Dokter untuk memeriksa Raja, aku sengaja menunggu di luar ruangan. Aku tetap harus menjaga batasanku dan sadar diri. Jika aku ini bukan siapa-siapanya Raja lagi. Rasanya tak pantas jika aku terus menemani Raja.


Entah mengapa, aku masih tetap menyimpan baik nama Raja di dalam lubuk hatiku yang paling dalam. Aku masih terus memikirkan dirinya meski aku tahu jika dia telah menyakiti perasaanku. Aku tidak bisa membencinya, melihatnya lemah seperti ini aku malah ingin selalu di sampingnya. Tapi, lagi-lagi batasan dan statusku dengan Raja yang menghalangi ruang gerakku.


Beginikah sulitnya mencintai tanpa status yang jelas? Itulah yang mengganggu fikiranku saat ini.


Rasanya tak enak, bahkan hatiku menginginkannya tapi logika berbicara lain.


Ku pejamkan mataku dengan tubuh yang masih bersandar pada kursi. Namun, fikiranku tiba-tiba teringat akan Alan. Aku langsung membuka mataku dengan lebar.


"Alan," ucapku lirih dengan mengingat dirinya.


"Apakah ini yang dirasakan Alan selama ini?"


"Seperti inikah sakitnya?"


Ku hembuskan nafasku dengan cepat, ternyata begini rasanya. Rasanya menjadi seorang Alan.


Hanya kata maaf yang besar yang bisa ku ucapkan untuk Alan. Maaf karena aku tak bisa membalas perasaannya. Maaf karena aku hanya bisa menyakitinya.

__ADS_1


"Keluarga Mr. Raja?" sapa Dokter itu padaku.


"Maaf Dok, keluarganya sedang keluar. Aku ..."


"Belly? Mr. Raja mencarimu," pungkas Dokter itu.


Aku pun mengangguk pelan dan segera masuk ke dalam ruangan rawat Raja.


Tiba di dalam, aku hanya berdiri dari jarak yang agak jauh menatap Raja, Aku melihat seorang perawat sudah melepaskan semua alat yang tadinya terpasang pada tubuh Raja. Aku sedikit lega, setidaknya kondisi Raja saat ini sudah membaik karena tak lagi membutuhkan peralatan itu, fikirku.


Raja menatapku dari jauh, kemudian ia pun tersenyum. "Bell,"


Aku menelan salivaku, tak bisa ku tahan getaran dihati ini. Jika tadi aku berani menangis menderu-deru saat Raja belum sadarkan diri, namun setelah Raja sadar aku malah tak bisa berkutik. Aku juga tak tahu apa yang akan aku katakan nanti pada Raja. Rasanya mulutku ini gagu, ingin berbicara tapi tak mampu.


Setelah langkah kakiku dekat dengannya, tepatnya kini tubuhku telah berdiri tegak disamping brankar. Aku mencoba mengeluarkan suaraku dan memberanikan diri menyapa Raja.


"Kau sudah siuman, syukurlah," ujarku tak ingin banyak berkata-kata. Bukan tak mau, tapi rasanya masih berat setelah sekian lama aku tak menatapnya kini aku harus dihadapkan dengan kenyataan jika Raja ada tepat didepanku.


Raja menyunggingkan senyumnya berat, entah apa yang ia fikirkan yang jelas kedua matanya kini mulai berkaca-kaca, tanpa berpaling menatapku.


"Aku sangat bahagia, ketika aku membuka mata untuk pertama kalinya yang ku lihat adalah dirimu, Bell."


Serr ...


Ada sesuatu yang berdesir di hatiku ketika mendengar kalimat yang diucapkan oleh Raja. Aku bingung harus menanggapinya bagaimana, hingga aku dibuat salah tingkah olehnya.


"Bell," Raja meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat.


"Jangan tinggalkan aku lagi, tetaplah di sini. Karena tanpamu hidupku berantakan dan hancur," ucap Raja lagi dengan suara yang berat seakan ada sesuatu yang membebani dirinya.


Aku dapat melihat air mata itu menetes di wajahnya, aku pun tak kuat menyaksikan itu hingga aku harus memalingkan wajahku dan tak lagi menatap dirinya.


"Aku menyesal, Bell."


To be continue ....


🍒 Readers, bantu vote, like, komen dan kasih giftnya ya buat karya othor. Terimakasih...

__ADS_1


__ADS_2