Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Penuh dengan Pengganggu


__ADS_3

Bell, ini tak seperti yang kamu fikirkan..."


"Tapi, aku melihatnya raja." Tanpa banyak kata lagi, belly pun berlari keluar rumah meninggalkan raja dan maura.


"Belly......." Raja mencoba mengejar belly namun maura menahannya.


"Raja, tidak akan ada wanita yang mencintai mu sebesar rasa cintaku!" Ucap maura dengan senyum kelicikannya.


"****!!!" Raja menghempaskan tangan maura. "Pergi kau ja**ng!!!" Raja segera berlari mengejar belly.


"Raja!!!!!!!!!!!" Maura berteriak kesal.


"Apa yang kau kejar dari wanita itu raja? Jelas aku lebih baik darinya!!! ****!!"


Maura pun berlari mengejar raja, namun ia kehilangan jejak raja.


"Ish!!, Si*l." Umpat maura kesal, ia melihat raja telah melaju cepat dengan mobilnya yang kian menghilang dari pandangan maura.


"Oke, tak apa raja malam ini menolakku lagi! Tapi setidaknya aku sudah berhasil membuat belly pergi dari sisinya..." Maura tertawa senang, ia menganggap dirinya sudah berhasil mengecoh rumah tangga belly dan raja.


***


"Bell??" Steva menatap heran belly yang kembali dengan mata yang sembab. "Hey, ada apa denganmu?" Tanya steva penuh kekhawatiran.


"Stev... Hikss...hikss..." Belly menangis tersedu merangkul tubuh steva.


Belly menceritakan kejadian malam ini kepada steva, dimana maura datang dan belly melihat kemesraannya dengan raja......


Steva tak mau banyak komentar, saat ini ia paham akan perasaan belly dan belly butuh istirahat untuk menenangkan hati serta fikirannya. "Beristirahatlah, kau pasti amat lelah."


Ketika belly sudah masuk ke dalam kamarnya, raja pun datang ke apartement steva.


"Stev, dimana belly??" Tanya raja ketika steva membukakan pintu untuknya.


"Biarkanlah belly istirahat dulu.." Jawab steva dengan menatap malas kearah raja.


"Tapi stev, aku perlu meluruskan masalahku dengan belly." Ucap raja memohon dengan menelungkupkan kedua telapak tangannya.


"Kau urus saja wanita pengganggu itu, untuk belly serahkan saja padaku." Steva tersenyum tegas.


"Wanita pengganggu??" Raja semakin tak mengerti ucapan steva.


"Belly sudah Menceritakan semuanya! Pulanglah pak raja, aku harap kau menuntaskan urusanmu dengan wanita itu lebih dulu!.."


"Maaf steva, aku sudah tidak memiliki urusan apapun dengan wanita itu! Aku datang kesini untuk menemui belly istriku." Raja masih bersikeras, ia pun menerobos masuk ke dalam apartement steva.


"Bell... Belly..."


Raja memanggil-manggil belly dari luar kamarnya.


"Bell, buka pintunya.." Raja masih memohon pada belly.


"Huft!! Masalah rumah tangga memang rumit! Itulah mengapa aku belum siap untuk menikah hingga saat ini!" Steva menggerutu, ia membicarakan dirinya sendiri.


"Steva, bantu aku untuk membujuk belly kembali please..." Raja memohon pada steva, ia menunggu belly dan steva di luar kamar.

__ADS_1


Brak!!!


Dengan kekuatan penuh, steva berhasil mendobrak pintu. Raja terheran-heran melihat kejadian itu. Ternyata tenaga steva bukanlah kaleng-kaleng.


"Bell, pulanglah bersama raja! Jika kau begini, maka wanita pengganggu itu akan merasa menang! Dan dia akan lebih leluasa untuk menemui raja!" Steva meromet mengomeli belly.


Belly masih meringkuk menutupi wajahnya yang sudah di basahi dengan air mata.


"Pulanglah bell!!" Steva dengan kesal pun mengambil koper milik belly, kemudian memasukkan semua pakaian dan peralatan belly kedalamnya.


"Stev? Kau mengusirku?" Tanya belly masih dengan suara parau akibat terus menangis.


"Belly zeana, aku bossmu!" Steva merasa greget dengan belly. "Bell, tempo hari kau bilang wanita itu mendatangi kantor raja, dan sekarang dia mendatangi rumah raja! Bukan tidak mungkin suatu hari dia akan mendatangi kamar raja! Apakah kau hanya bisa menangis??"


"Steva,...."


"Maka dari itu, pulanglah. Wanita itu sudah berhasil mengoyak-ngoyak rumah tanggamu! Kali ini dia pasti merasa menang!" Steva mengomeli belly sembari memasukkan barang-barang belly kedalam koper. "Selesai!" Ia menepuk-nepuk kedua telapak tangannya.


"Stev, aku..." Belly tidak bisa berkata-kata lagi.


"Kau adalah temanku yang tangguh, serba bisa, cantik! Tunjukkan pada saudara tirimu itu jika kau bukanlah orang yang lemah!" Dengan ucapan tegas, steva memeluk tubuh belly penuh kasih sayang.


Apa yang dikatakan steva semuanya memang benar...


Belly menunduk, ia berfikir dan berkata-kata dalam hati mencari keyakinannya.


"Terimakasih stev, kau begitu banyak membantuku. Padahal aku belum sempat membalas segala kebaikanmu.."


Mereka berdua keluar dari kamar, steva membawakan koper belly. Sementara di luar, raja mondar-mandir seperti setrikaan.


"Bawalah dia pulang, aku sudah mengusirnya." Ucap steva sembari tertawa kecil.


"Steva??" Belly membelalakkan matanya kearah steva.


Raja segera meraih kopper belly dari tangan steva, "Ayo bell, kita pulang..." Raja mengulurkan tangannya kearah belly. Namun belly masih saja diam tak bergerak.


"Ayoo sana....." Steva memberikan kode lewat mata pada belly.


"Stev, terimakasih atas kebaikanmu selama ini telah menjaga belly. Aku sangat berhutang budi padamu." Ucap raja.


Steva mendorong belly perlahan dengan tangannya, hal itu membuat belly menabrak tubuh raja. "Steva, kau ini....." Belly sebenarnya masih sangat kesal dengan raja, tapi karena nasihat dari steva ia jadi sadar jika apa yang dilihatnya tadi hanyalah akal-akalan maura saja.


"Sudah pergilah sana, aku menunggu balas budi dari kalian berdua..." Dengan kedipan sebelah mata dan senyuman riangnya, steva mendorong keduanya hingga keluar dari apartementnya.


Steva tak ingin lagi menunda-nunda kepergian belly dan raja dari apartementnya, hingga ia segera menutup pintu.


"Bell, kita selesaikan kesalahpahaman tadi di rumah ya??" Ucap raja lirih, sembari menarik koper.


Belly hanya menganggukkan kepalanya pelan. Namun saat turun dari lift menuju parkiran mobil, raja dan belly bertemu dengan alan.


"Ck! Ya tuhan, apa lagi ini? Kenapa hidup kami penuh dengan pengganggu?" Umpat raja kesal, ia segera menggandeng tangan belly dengan merapatkan jari-jemarinya.


Belly yang mendengar ucapan raja pun segera menoleh kearah pandangan yang sama. Ia hanya bisa diam ketika melihat alan disana yang semakin mendekat kearah mereka.


"Bell?? Kau mau kemana?" Tanya alan dengan mata penuh tanya dan ke khawatiran.

__ADS_1


"Aku...."


"Belly akan pulang ke rumah kami!" Potong raja menjeda ucapan belly yang belum selesai.


"Bell? Apakah kau yakin??" Alan menatap belly dengan serius.


"Kami tak punya banyak waktu, jadi kami permisi!" Raja segera menuntun belly untuk menuju mobil.


"Bell....." Alan menarik satu tangan belly.


"Sial*n kau!!" Raja merekatkan rahangnya dan segera berbalik arah, ia memberi satu hantaman pada wajah alan.


Buggh!!


Alan pun langsung tersungkur di lantai.


"Raja??" Belly terkejut! Mulutnya ia tutup dengan kedua telapak tangannya. Ia tak habis fikir jika raja akan berbuat senekat ini.


"Alan, jangan pernah menyentuh milikku!! Aku harap, ini terakhir kali kau muncul dihadapanku!" Ancam raja pada alan dengan emosi yang memuncak.


"Milikmu?? Cu*hhh!!!" Alan membuang ludahnya, "Belly bukan milikmu!" Jawab alan, ia bangun dan berdiri tegak memberikan satu pukulan kuat pada raja.


BUGH!!!!!!


Pukulan itu tepat terkena hidung raja, hingga mengeluarkan darah.


"Raja?? Alan, cukup!!!" Belly berteriak. "Hentikannnn!!" Belly membantu raja yang kini tengah tersungkur di lantai. "Raja, kau berdarah..."


Raja memegangi hidungnya yang terasa sakit, kemudian ia mencoba bangkit hendak membalas alan.


"Raja, sudah! Hentikan, jangan berkelahi lagi.." ucap belly memohon. Raja pun segera menahan amarahnya, kemudian ia menggandeng tangan belly dan menuntunnya masuk kedalam mobil.


Raja melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Suasana masih sunyi tanpa sepatah katapun dari mereka berdua.


Ternyata benar yang dikatakan alex, raja dan alan selalu berkelahi jika bertemu. Dan ini semua karena aku....


Belly bergumam, ia menatap kearah raja yang tengah menyetir mobilnya, di sekanya darah yang terlihat dari hidung raja dengan tissue.


"AW,.." Raja mengaduh kesakitan saat belly menyentuh hidungnya.


"Maaf, aku benar-benar tidak memikirkan perasaanmu juga lukamu..." Ucap belly perlahan tangannya mengusap-usap hidung raja pelan.


Raja menghentikan laju kendaraannya dengan rem mendadak, hingga membuat belly terkejut.


"A..ada apa raja? Kenapa berhenti, apa ada sesuatu??" Tanya belly penasaran.


"Jangan membuatku tak fokus menyetir bell," Raja memicingkan senyumannya, di raihnya tangan belly kemudian diarahkan di dada bidangnya. "Kau membuat jantungku terus berperang !"


Belly segera menarik tangannya, dapat ia rasakan degupan jantung raja yang cukup kuat. "Bahkan disaat seperti ini kau masih bisa bercanda? Haa??" Belly melipat kedua tangannya didepan dada dengan mengerucutkan bibirnya.


"Apakah kau ingin aku bersikap serius didalam mobil??" Ucap raja lirih, ia memajukan wajahnya mendekati wajah belly.


"Oh, tidak!! Kau ini, bukan begitu maksudku." Kali ini jantung belly yang tengah berperang.


"Lalu?" Raja mendekatkan wajahnya lagi, hingga jarak mereka hanya sekitar beberapa senti saja.

__ADS_1


TO be continue......


__ADS_2