
Bell, setidaknya bersikaplah biasa saja. Pulanglah bersamaku, aku berjanji takkan berbuat macam-macam." Tatapan alan pada belly menunjukkan kejujuran. Belly sempat ragu, apalagi jika raja melihatnya bersama alan. Namun, belly mengingat lagi jika raja tak pernah mempedulikannya. Mereka pun saling berjanji jika takkan mencampuri urusan masing-masing.
"Alan tapi...."
Dengan cepat, alan menuntun belly menuju mobilnya. Ia membukakan pintu untuk belly, tanpa berontak belly pun percaya pada alan. Ia tak ingin terus menghindar dari alan karena menghindar takkan menyelesaikan masalah.
Di dalam mobil, alan memutar musik pada siaran radio. Di tengah keheningan, merasa tak enak pada suasana di antara mereka alan pun memulai obrolan.
"Bell, apa kau baik-baik saja?" Tanya alan penuh perhatian.
"Aku sangat baik." Belly masih tak ingin banyak kata, ia hanya menanggapi ucapan alan singkat.
"Bell, apakah kau tak ingin berteman denganku?" Sebentar saja alan melirik belly, kemudian ia fokus menyetir mobil kembali.
"Maksudmu?" Tanya belly tak mengerti.
"Bell, kita mungkin pernah gagal dalam hubungan asmara. Tapi dengan hubungan pertemanan mungkin lebih baik. Bukan begitu?" Alan masih tak ingin menjauh dari belly, meskipun ia tahu belly sudah menikah.
"Al, kau tahu aku sudah..."
"Menikah! Aku tahu itu bell. Tapi, apakah suamimu akan melarang mu berteman dengan orang lain? Kau terlihat takut?" Alan menghentikan laju mobilnya ke tepi jalan. Ia ingin melihat kebenaran dimata belly.
"Al, raja tak seperti itu. Ia memperbolehkanku bergaul dengan siapapun. Tapi, aku sendiri yang ingin menjaga jarak pada orang lain." Jelas belly dengan tatapan mengarah keluar jendela.
"Emm, baiklah jika begitu. Tapi tolong jangan pernah lagi menghindar dariku bell..." Dengan wajah melas, alan sangat berharap pada belly agar tak lagi menghindarinya.
"Alan...."
__ADS_1
"Itu sangat menyakitkan bell. Mengetahui jika dirimu sudah menjadi milik orang lain pun sangat sakit untukku. Jangan tambah lagi dengan menghindariku bell, itu sangat sulit bagiku..." Dapat terlihat jelas oleh belly, mata alan kini berkaca-kaca.
"Alan, maafkan aku..." Lirih belly, "Ayo antar aku pulang, ini sudah siang." Ajak belly agar alan melajukan mobilnya.
Alan pun menuruti perkataan belly, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hingga tak butuh waktu lama, mobil alan pun telah sampai di pelataran rumah raja.
"Terimakasih al sudah mengantarku.." Ucap belly pada alan dari luar mobil.
"Aku yang berterimakasih padamu karena sudah diizinkan untuk mengantarmu.." Senyum dan wajah ceria alan pun dapat terlihat oleh belly.
Alan tak diizinkan untuk turun apalagi singgah ke rumah oleh belly, alan pun menurutinya. Alan hanya melambaikan tangannya dan menekan klakson satu kali sebagai tanda menyapa belly. Kemudian alan melajukan mobilnya menuju rumah alex.
Sejak dari kepergian belly pagi tadi, hati raja merasa tak tenang. Ia berusaha menghubungi belly namun ia lupa, selama ini tak menyimpan nomor telepon belly. Raja gusar, semua yang dilakukannya serba salah. Jika ia mencari belly, ia harus mencari kemana? Yang raja tahu hanya nama stephani, namun ia juga tak tahu dimana rumah stephani.
Saat raja mendengar suara mesin mobil di pelataran rumah, raja segera melihat dari atas balkon kamarnya. Raja dapat menyaksikan dengan jelas jika belly sudah pulang namun bersama seorang pria. Raja ingat mobil itu milik siapa dan sempat terlihat jika alan yang berada di dalam mobil hitam metalic itu.
Raja mengepalkan erat telapak-telapak tangannya, wajah merah dan mata tajamnya dapat jelas terlihat jika ia sedang emosi saat ini. Segera raja melangkahkan kaki untuk turun dari kamarnya menuju lantai dasar rumahnya. Ia menghampiri belly yang kini tengah duduk di sofa ruang tengah sembari melepas sepatu heelnya.
"Kau ada di rumah? Aku fikir kau keluar?" Belly menghampiri raja mencoba meraih tangannya untuk memberi salam pada suaminya. Namun raja menghempaskan tangan belly dengan kuat.
"Jika aku keluar rumah kau akan semakin leluasa bersenang-senang dengan pria itu? Hingga tak ingat waktu?" Tatapan raja kali ini benar-benar membuat belly takut. Dengan wajah merah dan mata tajamnya yang terus menatap belly.
"Bersenang-senang? Apa maksudmu? Oh, apakah alan? Aku tadi tak sengaja bertemu dia dan...."
"Alasan!! Dasar wanita, tak cukupkah kamu dengan satu pria? Tak sadarkah kamu akan statusmu sebagai seorang istri??" Raja memotong ucapan belly. Kali ini ia sangat marah hingga tak ingin mendengar alasan apapun dari belly.
"Apa maksudmu... Aku..." Belly mencoba menjelaskan lagi, namun raja masih bersikeras tak mau mendengar apapun.
__ADS_1
"Beralasan mencari pekerjaan padahal hanya untuk bertemu dengan pria lain? Aku jadi tahu sekarang, jika aku tidak di rumah apa kegiatanmu selama ini!!!"
"Dengarkan penjelasanku dulu, aku benar-benar..."
"Cukup! Aku tak membutuhkan penjelasan apapun! Wanita ******??" Tatapan raja yang tajam semakin menakutkan bagi belly. Apalagi kata-kata itu, semakin menyakitkan untuk belly.
"A..apa??" Belly tak mengerti, ia merasa sangat sakit hati mendengar ucapan raja. Matanya kini sudah mulai meluncurkan bulir-bulir air bening.
Raja semakin mendekat kearah belly, ia duduk disamping belly kemudian mencekal kedua tangan belly hingga membuat belly susah bergerak. Meskipun belly sudah memberontak, raja tak juga melepaskan belly. Ia mengunci tubuh belly dengan cekalan tangannya.
"Apa sebenarnya yang kau cari? Sensasi??? Atau uang?? Atau sebuah kepuasan seperti ini?" Raja memegang dagu belly kemudian mengecup bibir belly dengan kasar. "Ini yang kau cari?? Apa kau fikir aku tak bisa memberikannya hah??" Setelah melepaskan kecupannya pada bibir belly, raja mulai mendaratkan bibirnya pada leher jenjang belly hingga meninggalkan kiss mark disana.
"Raja hentikan!!" Belly akhirnya bisa melepaskan satu tangannya dari cekalan dan kuncian tubuh raja.
PLAK!!!!
"Raja, kali ini kau sungguh keterlaluan..."
Belly menampar keras pipi raja, ia tak tahan dengan perlakuan raja terhadapnya. Belly mendorong tubuh raja yang tengah mematung. Dengan air mata yang bercucuran, belly berlari menuju kedalam kamarnya.
Belly mengunci pintu kamar, ia membaringkan tubuhnya di ranjang ddngan posisi tengkurap. Dengan tangisan yang pilu, belly terus mengeluarkan air matanya hingga matanya berubah sembab dan sedikit membengkak.
Apakah nasibku harus seperti ini? Tuhan, apa sebenarnya salahku? Rumah tangga seperti inikah yang kau berikan untukku?? Apakah aku kuat bertahan dalam rumah tangga ini??
*Hai readers kesayangan, terimakasih sudah terus mendukung othor dalam berkarya. Jangan lupa kasih vote buat cerita ini yaa..
Dan, tinggalkan jejak²nya ya dears. Kasih gift, komentar dan like nya buat othor.
__ADS_1
Terimakasih banyak raeders... Kalian lah penyemangatku, tanpa kalian othor bukanlah apa².
Yuk bantu semangatin othor biar bisa UP banyak² besok.. 💪💪*