Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Pancingan Maura


__ADS_3

Raja tak ingin bertemu dengannya, apalagi bercakap-cakap. Itu tak ingin dilakukannya kepada Maura, wanita yang tak penting lagi baginya.


Namun, bukan Maura namanya jika tak bisa memancing Raja. Meskipun bersikap dingin padanya, ia akan selalu terus membuat Raja memperhatikannya.


"Raja! Tunggu.." Maura mencoba menghentikan langkah Raja bersama Rangga yang hendak pergi.


"Aku tak punya waktu!" Raja pun melanjutkan langkahnya dengan wajah dinginnya.


Maura tersenyum, menurutnya sikap Raja padanya seperti ini membuat ia semakin berani menggoda Raja.


"Aku dengar, istrimu hilang? Apa benar?"


Ucapan Maura berhasil menghentikan langkah kaki Raja.


"Apa katamu?" Raja berbalik arah kembali menghampiri Maura.


"Jadi benar? Sayang sekali. Apa kau sudah menemukannya?" Tanya Maura berpura-pura.


"Tak perlu berbasa-basi! Apalagi yang kau ketahui??"


Raja tak sabar, menurutnya Maura berbicara seperti ini pasti karena mengetahui sesuatu.


"Apakah kita harus bicara disini? Bahkan kaki jenjang milikku ini amat pegal!" Maura tersenyum senang, kali ini ia berhasil memikat Raja kembali untuk lebih dekat dengannya.


Raja pun berjalan menuju cafe terdekat, ia meminta Rangga menunggu di mobil. Sementara Raja dan Maura berada di cafe untuk berbicara.


"Katakan apa yang ingin kau katakan!" Raja menyeruput kopi dinginnya, ia benar-benar tak ingin berlama-lama melayani Maura.


"Kau sungguh tak sabar?" Maura mengaduk-aduk minumannya dengan memamerkan jari-jari lentiknya.


"Apa kau menipuku lagi?" Raja semakin kesal dengan sikap Maura.


"Aku tak pernah menipu! Kau saja yang tak pernah percaya padaku." Maura kembali menyunggingkan senyumannya.


"Lalu apa yang kau ketahui?" Tanya Raja tak ingin berbasa-basi. semakin ia keras, maka Maura semakin mengulur waktunya.


"Apakah benar istrimu hilang, bukan kabur??"


"Apa maksudmu? Kabur???"


Raja tak percaya, ia mencoba mengulang pertanyaannya pada Maura.


"Ya, jika hilang maka orang lain takkan melihatnya bukan? Tapi aku....."


Maura sengaja mengatur ucapannya agar Raja percaya padanya kali ini.


"Apa? Katakan cepattt!!!" Raja mulai memanas, emosinya kini sudah naik satu oktaf.


"Raja, aku melihatnya kemarin! Kau pasti takkan mempercayaiku."


"Kau melihatnya? Dimana?" Sungguh kali ini Raja mulai menanggapi ucapan Maura. Bahkan ia sudah hampir percaya.

__ADS_1


"Ya, tapi aku takut salah. Aku hanya melihat jelas wajah pria yang bersamanya."


"Pria?? Kau jangan mengada-ada Maura!!"


"Seharusnya aku tak mengatakan ini! Toh, kau tak akan percaya." Maura menarik ulur perkataannya lagi.


"Dimana kau melihatnya??!" Sentak Raja dengan nada tinggi.


"Aku hanya melihat jelas wajah pria yang bersamanya Raja, aku tak yakin itu adalah Belly."


"Jangan membuatku bingung Maura, katakan sebenarnya dimana kau melihat mereka?"


"Di hotel XXX!"


Raja terdiam, matanya membulat dan kini sudah berubah kemerahan.


"Raja? Apa kau sebenarnya sudah tahu??"


"Hotel XXX?"


"Ya, sebenarnya aku tak ingin mengatakan ini. Aku hanya melihat sekilas saja, tapi sangat jelas."


Maura berbicara plin-plan, ia sengaja membuat Raja semakin kacau dan percaya pada ucapannya.


"Apalagi dia menggandeng tangan Alan dengan mesra. Aku bahkan jijik melihatnya, sudah bersuami tapi masih saja bertemu dengan mantan kekasihnya!"


Maura memasang wajah seperti orang yang sedang jijik.


"Maura, apakah kau melihat kemana mereka pergi?"


"Yess! Pancinganku berhasil!" ucap Maura dengan bangga didalam hati.


"Raja, aku tak melihat mereka lagi setelah itu. Karena menurutmu itu bukan urusanku! Untuk saat ini, aku lebih ingin fokus mengurus diriku daripada orang lain yang tak penting!"


Maura sok jual mahal kali ini, ia berharap Raja akan meminta bantuan padanya.


"Aku permisi, aku masih banyak pekerjaan. Semoga istrimu itu segera ditemukan..." Maura mencoba beranjak dari duduknya, berharap Raja akan menahannya.


Sayang seribu kali sayang, Raja tak melakukan apapun sesuai keinginan Maura.


Saat Maura sudah beranjak beberapa langkah, Raja tiba-tiba memanggilnya.


"Maura, tunggu!"


Bangga sekali perasaannya saat ini, dengan tubuh yang membelakangi Raja, ia dapat mendengar langkah Raja mendekat kearahnya.


"Ada apa lagi Raja?" Maura pun membalikkan tubuhnya seksinya.


Dengan berat hati, Raja terpaksa mengatakan hal ini pada Maura. "Jika kau melihat mereka lagi, tolong beritahu aku!"


"Oh, apa aku tidak salah dengar?" Maura tersenyum smirk. "Raja, aku sebenarnya tak ingin melakukan ini, tapi karena aku masih sayang padamu aku bersedia membantu!"

__ADS_1


Lagi-lagi Maura jual mahal dengan mengatasnamakan rasa sayangnya terhadap Raja.


"Terimakasih." Hanya itu yang Raja ucapkan.


"Apa?? Sejak kapan my king mengucapkan terimakasih??" Maura membelalakkan matanya heran.


"Aku hanya meminta bantuanmu untuk menemukan Belly, bukan berarti kau bisa seenaknya memanggilnya dengan sebutan yang menjijikkan itu!"


"Upss! Maaf Raja, aku tahu kau sedang terpuruk. Mana nomor telepon?"


"Untuk apa?"


"Ck! Raja, jika aku melihat Belly bagaimana caranya memberitahumu? Apakah aku harus mendatangi kantormu? Itu hanya membuang waktu saja!"


"Berikan ponselmu!"


Maura pun memberikan ponselnya pada Raja. Dan Raja mendalam nomor telpon barunya untuk Maura simpan.


"Terimakasih My..... Em, maksudku Raja!" Maura bergembira, tak dapat diungkapkan lagi dengan kata-kata.


Raja pun memasang kembali wajah dasarnya, ia membenarkan jasanya dan berlalu dari hadapan Maura.


Hari ini Maura menang, ia sudah berhasil memikat Raja kembali meski belum berhasil sepenuhnya.


"Setidaknya aku berhasil mendekati mu hari ini, mungkin besok aku berhasil membuatmu percaya padaku! Kita tunggu saja nanti My king, kau pasti akan kembali kedalam pelukanku..."


Maura menulis nama kontak Raja dengan sebutan My king , sungguh sampai saat ini ia belum bisa move on dari panggilan kesayangannya ýterhadap Raja.


Sesekali ia mengecup ponselnya, sebagai tanda senang karena sudah berhasil mendapat nomor telepon Raja.


Sementara Raja, ia masuk begitu saja kedalam mobil dengan membating kuat pintunya. Kesal, marah, kecewa menjadi satu.


"Pak apa anda baik-baik saja?" Tanya Rangga khawatir.


"Menurutmu?"


"Setelah ini kita mau kemana lagi pak?"


"Terserah kau Rangga!"


Rangga jadi serba salah, Raja yang kesal tapi ia yang bingung dan selalu menjadi pelampiasan oleh bossnya.


Entah kemana lagi Rangga akan melajukan roda mobilnya, ia bingung karena sejak tadi Raja hanya diam saja dengan menatap kearah luar jendela. Dapat terlihat jelas oleh Rangga dari spion yang menggantung didepan, wajah kesal dan sedih Raja.


"Rangga! Kau mau bawa aku kemana? " Tersadar dari lamunannya, Raja menegur sang asisten.


"Pulang pak..." Ucap Rangga kaku.


"Ck!, kau mau bawa aku pulang untuk apa? Ini jam berapa?" Raja sedikit menaikkan nada bicaranya lagi. Ia semakin merasa kesal terhadap Rangga.


"Bukannya bapak bilang tadi terserah?" ....

__ADS_1


__ADS_2