Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Mencari Titik Terang


__ADS_3

Raja dan Pak Amran pergi ke Rumah Sakit dimana Steva tengah dirawat saat ini.


Di dalam Ruangan ICU, Raja bertemu dengan Hendrick yang kini tengah duduk menunggu Steva. Ternyata Steva belum sadarkan diri, ia masih koma dan waktu berkunjung untuknya sangat dibatasi oleh Dokter.


Raja melihat Steva dengan jelas, ia berfikir tak mungkin Steva yang datang menemui Belly pagi tadi. Raja pun menceritakan kejadian yang tengah menimpanya hari ini, Belly hilang dan belum juga ditemukan. Ia juga mengatakan, jika Steva sempat menemui Belly sesuai yang dikatakan Bu Sity padanya.


"Raja, apa maksudmu? Steva sedang terbaring didalam sana! Bagaimana mungkin dia menemui Belly?" Hendrick tak memepercayai itu, Raja sepertinya sedang memfitnah calon istrinya.


"Kau memfitnah wanita lemah di sana?? Apakah setega ini dirimu?? Kau....."


"Hen... Tenanglah, maksudku bukan begitu. Aku hanya menceritakan kronologi yang terjadi sesuai apa yang dikatakan Asisten Rumah Tanggaku." Raja Menyela ucapan Hendrick yang kini tengah tersulut emosi.


"Hendrick, sebenarnya aku juga tak mempercayai ini dari awal. Aku hanya ingin menjelaskan padamu, sepertinya penyusup di Rumahku itu sengaja ingin mengadu domba kita?"


Itulah penjelasan Raja, ia berharap Hendrick tak salah paham padanya.


Sejenak Hendrick berfikir, ternyata saat ini ada musuh yang sama antara dirinya dan Raja.


"Polisi sempat mengatakan jika kasus Steva ini murni kecelakaan. Tapi, aku tak mempercayainya."


"Maksudmu??" Raja tercengang, berharap Hendrick segera menjelaskan hal yang tak dimengerti olehnya.


"Aku meminta seorang mekanik terbaik kepercayaan keluargaku untuk memperbaiki mobil Stev. Dia mengatakan jika kabel Rem sengaja dirusak oleh seseorang." Jelas Hendrick pada Raja.


"Apa?? Benarkah begitu?" Raja memasang wajah tak percayanya.


"Aku sempat tak mempercayai polisi, aku fikir mereka akan melakukan tugasnya dengan murni. Tapi otakku berfikir, sepertinya ada yang tak beres dengan polisi itu. Aku tengah menyelidiki sendiri kasus Stev tanpa bantuan mereka."


Guratan kekecewaan pada wajah Hendrick dapat terlihat Jelas. Saat ini Hendrick sedang diam-diam menyelidiki kasus yang menimpa kekasihnya itu.


"Jika aku menemukan pelakunya, aku sendiri yang akan memberinya pelajaran!" Lanjut Hendrick lagi dengan meraup wajahnya kasar.


"Hen, apakah kau memiliki musuh??" Tanya Raja, ia berharap segera menemukan titik temu melalui keterangan Hendrick.


"Tidak ada, hanya saja ada seseorang yang pernah mengganggu Stev. Entahlah, aku pun tak yakin karena aku sedang menyelidiki kasus ini." Jawab Hendrick lagi.


"Baiklah, jaga Stevamu. Aku harap ia akan segera sadar dari komanya Hen.. Maaf sudah membuatmu salah paham." Tak lupa Raja meminta maaf pada Hendrick saat akan meninggalkan Rumah Sakit.


"Segera temukan Belly, bukankah dia sedang hamil??" Hendrick juga berharap Belly segera ditemukan.


Raja hanya menganggukkan kepalanya, ia pun segera pergi ketempat lain untuk mencari Belly.


"Tuan, kita akan kemana?" Sembari menyetir, pak Amran bertanya pada Bossnya akan arah tujuan mereka.


"Aku tak tahu pak, aku tak tahu harus mencarinya kemana....."

__ADS_1


Dari kaca depan, pak Amran dapat melihat kesedihan Raja saat ini. Ia duduk dibangku belakang kemudi dengan tangan yang terus menutupi wajahnya.


Kehilangan Belly membuatnya amat terpukul, ia mencoba menghubungi Alex dan Bastian berharap sudah menemukan keberadaan Belly.


Namun, kabar baik itu tak didapatkannya. Alex dan Bastian belum juga menemukan Belly.


Raja membuka galeri di ponselnya, ia menggulir beberapa photo istrinya. Setidaknya hal itu akan membuatnya sedikit tenang.



"Dimana kamu sayang...." Tak terasa airmatanya pun menetes, segera ia menghapus airmata itu dari pipinya.


Pak Amran melihat Raja dari kaca, ia yang sudah mengetahui bagaimana Raja sejak kecil pun memaklumi keadaannya saat ini. Ia terus melajukan kendaraan roda empat itu tanpa arah, tanpa banyak tanya.


Kali ini Pak Amran hanya ingin memberi ruang waktu untuk Raja.


...****************...


Tiga hari sudah, selama tiga hari itu pun Raja belum menemukan titik terang akan menghilangnya Belly. Sesuai keterangan polisi, dugaan sementara Belly diculik. Dan penculik itu menghilangkan barang bukti hingga polisi pun belum menemukan Belly hingga saat ini.


"Apakah Polisi belum juga menemukan titik terangnya?" Tanya Bastian dengan memberikan kopi kaleng pada Raja dan Alex.


"Belum." Raja berkata lemas, ia membuka penutup kaleng dan meneguk kopi dingin itu.


"Andai Alan ada di sini, aku pasti akan meminta bantuan padanya untuk melacak CCTV itu!" Alex melirik kearah Raja, berharap Raja tak keberatan dengan idenya itu.


"Memangnya dia kemana?" Tanya Bastian, karena Raja tak menanggapi apapun.


"Dia pergi ke jepang!" Jawab Alex.


Ya, Alan memang pergi ke jepang saat ini. Ia mencoba menahan hatinya, ia berusaha menenangkan diri agar tak terus memikirkan Belly. Terakhir bertemu di Rumah Sakit, Alan ingin berpamitan pada Belly jika ia akan pergi ke Jepang untuk beberapa bulan.


Namun, kala itu Alan tak sempat berpamitan. Karena ia dan Belly malah berdebat.


"Kapan dia berangkat ke jepang?" Tanya Bastian lagi.


"Hari Jum'at kemarin." Jelas Alex.


Jum'at? Bukankah itu hari yang sama saat Belly hilang?? Tidak mungkin dia yang membawa pergi Belly??


Sejak tadi diam, Raja ternyata mendengar semua pembicaraan Alex dan Bastian dengan jelas. Ia juga sempat berfikir jika Alan lah dalang dibalik semua ini.


Karena tepat saat kepergiannya, Belly pun hilang. Itu sangat masuk akal.


Karena selama ini Raja merasa tak punya musuh. Hanya satu pria yang dibencinya, yaitu Alan.

__ADS_1


"Hei, Raja kau terus saja melamun??" Bastian menggibaskan telapak tangannya didepan Raja.


"Istri dan anakku, aku tidak tahu mereka sedang apa dan dimana? Apakah aku harus terus berdiam diri??"


Raja tak ingin membuang waktu lagi, ia pun segera beranjak dari duduknya. Kepergiannya disaksikan oleh kedua sahabatnya itu.


"Berdiam diri dia bilang?? Bahkan dia tak berhenti mencari Belly sejak hari itu!" Dengus Bastian.


"Bas, apakah kau berfikiran yang sama denganku?" Tanya Alex dengan terus menyaksikan punggung Raja yang kian menjauh.


"Sepertinya tidak!" Jawab Bastian asal, soalnya dia tak tahu pembicaraan Alex mengarah kemana.


"Ck!" Alex berdecak kesal, ia merasa percuma berbicara pada Bastian yang menurutnya memang tak tahu apa-apa.


"Lex, aku mencurigai wanita iblis itu! Apakah mungkin jika dia yang menculik Belly??" Mata yang sejak tadi mengarah kepada Raja yang kian menghilang, kini bertemu dengan mata Alex.


Alex menautkan jarinya hingga berbunyi, ia tak menyangkal hal itu, menurutnya Bastian sefrekuensi padanya. "Ya!"


"Kau memikirkan Maura juga?" Tanya Bastian serius.


"Bagaimana jika kita mencari wanita itu sekarang?" Ajak Alex pada Bastian.


"Tapi tunggu lex, apakah mungkin? Pasalnya Maura dan Belly itu kan saudara?" Bastian masih merasa ragu.


"Bas, kita tidak langsung menangkapnya! Kita hanya perlu mengawasinya lebih dulu, jika dugaan kita sudah benar, maka kita akan melaporkan hal ini pada Raja!"


Itulah ide dari Alex, hal itupun disertai anggukan kepala oleh Bastian. Setelah selesai menghabiskan Kopi mereka berdua pun memilih pergi untuk mencari keberadaan Maura.


Di dalam perjalanan, Alex maupun Bastian bingung hendak mencari Maura kemana. Pasalnya mereka berdua tak tahu dimana Maura saat ini tinggal.


Alex pun memilih untuk mengabari Alan terlebih dulu, karena merasa jika Alan akan membantu mencari Belly.


Alex mengirimkan pesan kepada Alan yang kini tengah berada di Jepang. Niatnya ingin menelpon agar lebih jelas, tapi biaya telpon ke luar negeri begitu mahal menurutnya.


[Kau tahu, Belly saat ini menghilang. Jangan bilang jika kau berkaitan dengan ini!!!]


Alex kemudian menekan tombol send untuk mengirim pesan pada Alan.


To be continue....


🍒 Udah kenyang makan gulai, othor sempetin Up buat kalian...


Selamat membaca, selamat meninggalkan jejak dikarya othor yang receh ini..


...Terimakasih......

__ADS_1


__ADS_2