
"Huah, sungguh menyebalkan!!!" Belly yang baru saja keluar dari toilet kantor pun merutuki dirinya sendiri karena sejak tadi perutnya terus merasakan mual.
Dengan tangan yang terus memegangi perutnya, ia berjalan perlahan kembali menuju ruang kerjanya. Dan ternyata steva telah menunggunya.
"Bell, why??" Steva melihat raut wajah belly yang pucat. Tak ada aura cerah sedikit pun. "Kau sakit?"
"Tidak.." Belly menanggapi Steva dengan malas, ia menarik kursi kerjanya dan menyandarkan tubuhnya disana.
"Kau terlihat pucat, seperti seorang pasien!" Steva terkikik geli melihat Belly, wajah yang biasanya segar dan cantik itu kini berubah menjadi layu.
"Jika kau kemari hanya untuk mengejekku, maka keluarlah!" Umpat belly semakin kesal.
Steva berjalan mengarah pada Belly, diperhatikannya seluruh tubuh Belly dari atas hingga ke bawah. Hal itu membuat Belly semakin risih dengan tatapan Steva yang terus memeperhatikannya begitu intens.
"Apa? kau lihat apa Stev?!" Nada bicara Belly kini berintonasi tinggi, wajahnya pun berubah masam.
"Kau galak sekali, ada apa sebenarnya Bell? Bagaimana jika kita ke rumah sakit?" Steva menyarankan untuk pergi ke rumah sakit.
"Ck! Kau dan Raja sama saja! Membuat mood ku semakin buruk." Belly bangun dari posisinya, ia pun keluar dari ruangan menuju pantry kantor untuk makan siang.
Steva pun mengikutinya dari belakang dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang ingin dilontarkan. Namun, Steva masih mencari waktu yang tepat, ia tahu jika saat ini Belly sedang tak ingin diganggu.
Belum saja tiba di pantry, Belly sudah mencium aroma yang menyengat. Aroma masakan yang tak begitu disukainya, ia pun berlari kecil meninggalkan lingkungan pantry.
Hueekkkk......
Banyak mata yang tertuju memperhatikannya, termasuk Steva. Ia tak mengerti apa yang tengah terjadi dengan sahabatnya itu.
Siang ini karena merasa amat lemas, Belly meminta izin pada Steva untuk pulang cepat. Steva pun mengizinkan Belly untuk kembali ke rumah, karena ia pun begitu khawatir dengan kondisi Belly.
Steva berniat mengantarkan Belly ke rumah sakit, namun Belly masih ngeyel, ia tak mengindahkan tawaran baik Steva. Menurutnya ia hanya sakit biasa atau masuk angin. Dengan sitirahat saja di rumah akan membantunya untuk segera pulih.
Belly menunggu taksi di pinggir jalan dekat dengan kantor, belum juga mendapat taksi kepalanya terasa amat berat.
Mual yang melanda perutnya membuat kakinya terasa semakin lemah, hingga ia tak kuat untuk berdiri lagi.
Brughh....
Tubuh Belly pun terhoyong jatuh di pingggiran jalan.
Banyak orang yang mengerubungi Belly, hingga kerumunan itu menyita perhatian mata Alan yang kebetulan lewat.
Melihat hal itu, Alan menghentikan laju mobilnya dan menepikannya dekat dengan kerumunan.
__ADS_1
"Ada apa ini?" Tanya Alan pada seorang disana yang ikut berkerumun.
"Ada yang pingsan."
Mata alan terbelalak, ia terkejut mendapati Belly yang kini sudah terkulai lemas dikerumuni banyak orang.
"Belly??" Alan segera menepikan beberapa orang agar mau memberi jalan untuknya. "Maaf, biarkan saya yang membawanya ke rumah sakit. Dia teman saya!" Ucap Alan pada seorang pemuda yang sudah mendekati Belly untuk menolongnya.
Alan berjalan membopong tubuh Belly menuju mobilnya, ia meletakkan tubuh Belly di bangku belakang dengan bantuan beberapa orang untuk membukakan pintu mobil.
"Bell, ada apa denganmu?....."
Dengan perasaan khawatirnya, alan menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Ia pun mengirim pesan pada Bastian untuk memberitahukan kepada Raja jika Belly saat ini tengah bersamanya di rumah sakit.
***
Sampai di rumah sakit, Belly di periksa oleh dokter. Di saat itulah Belly perlahan membukakan matanya. Tubuhnya terasa semakin lemas tak berdaya, matanya memutar-mutar menelisik seluruh penjuru ruangan. Dengan tangan yang dipasang selang infus, Belly pun tersadar.
Dokter yang memeriksa Belly pun tersenyum manis, hal itu justru membuat Alan semakin bingung. "Apa yang terjadi dok??"
"Tak perlu khawatir, harusnya bapak dan ibu senang." Ucap dokter wanita yang bername tag Yulia itu.
"Se..nang?" Belly menjawab samar-samar ucapan dokter.
"Selamat, akhirnya bapak akan segera menjadi ayah." Jelas dokter.
"A..apa?? Maksud dokter?" Tanya Alan semakin bingung.
"Ibu sedang hamil, dan usianya masih tergolong muda. Dijaga baik-baik ya pak istrinya..."
Alan dan Belly saling pandang, Belly rasanya harus meluruskan semua kekeliruan dokter yang menganggap Alan adalah suaminya.
"Dok, ta..tapi...."
"Ibu harus banyak makan makanan yang bergizi, dan istirahat yang cukup. Pasti hari ini ibu belum makan apapun hingga tubuhnya lemas tak bertenaga." Dokter Yulia menasihati Belly.
"Oh ya pak, saat ini belikan makanan dan buah segar untuk ibu. Karena perut ibu kosong."
Tanpa jawaban apapun, Alan dengan sigap keluar dari ruang rawat Belly untuk melakukan perintah dokter Yulia.
Belly tak banyak bicara, ia hanya menghela nafasnya panjang. Cukup bahagia perasaannya kali ini karena mendapat kabar baik, tapi sayang yang menemaninya di rumah sakit adalah Alan bukan Raja suaminya.
__ADS_1
Belly mengelus pelan perutnya yang masih teihat rata namun ada janin didalamnya.
"Ibu Belly, apakah ini kehamilan pertama anda?" Tanya dokter Yulia.
"I..ya dok." Ucap Belly.
"Tolong jaga baik-baik ya, karena kandungan diusia ini masih sangat rentan. Kalau begitu saya permisi dulu..."
"Baik, terimakasih dok..."
Dokter Yulia keluar dari ruangan rawat Belly, sementara Raja dan Bastian pun tiba bersamaan.
"Belly?..." Raja menuju kearah Belly yang kini tengah berbaring di atas brankar rumah sakit.
"Raja??" Belly tersenyum sipu mendapati suaminya yang kini datang. "Bagaimana kau bisa tahu jika aku disini?"
"Apa yang terjadi Bell? Apa kata dokter? Dimana dokter yang menanganimu?" Bukannya menjawab pertanyaan Belly, Raja malah melontarkan banyak pertanyaan pada Belly.
"Aku baik-baik saja, dokternya sudah keluar." Ucap Belly menyimpulkan senyumannya.
"Bell?" Raja yang sedari tadi khawatir merasa heran dengan sikap Belly. Pasalnya Belly malah terus memasang senyuman manis, padahal jelas-jelas ia khawatir dengan keadaan Belly saat ini. "Bell, sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi padamu?"
"Aku baik-baik saja Raja...."
"Ehem!" Alan datang dan berdehem dengan membawa beberapa kantung makanan dan satu keranjang buah segar ke dalam ruangan. "Bell, aku sudah membelikan makanan untukmu. Makanlah, jangan sampai kau kurus karena tak diberi makan oleh suamimu."
Kali ini Alan benar-benar emosi melihat Raja disini, ia merasa jika Raja tak becus mengurus Belly. Lihat saja Belly sampai pingsan karena belum makan sejak pagi.
"Apa maksudmu? Apa kau memancing keributan lagi?" Raja pun kini mulai naik pitam.
"Aku tidak memancing keributan, aku berbicara fakta. Dokter sendiri yang mengatakan jika Belly pingsan karena belum makan sejak pagi. Apakah kau tak becus merawat Belly? Ataukah kau tak mampu memberikannya makan?" Alan memicingkan senyum pahitnya, di tatapnya seorang Raja yang berpenampilan bak Boss besar tapi tak mampu memberikan Belly makan.
"Apa yang kau katakan? Alan, aku tahu kau yang membawa Belly ke rumah sakit, tapi aku tak suka jika kau berbicara lancang!" Raja tak mau kalah, ia merasa Alan menghinanya.
Belly merasa kepalanya semakin berdenyut menyaksikan pertikaian Alan dan juga Raja.
Begitu juga Bastian, ia merasa jika Alan dan Raja adalah Tom and Jerry. Dimana pun mereka akan selalu bertikai.
"Apakah kalian berdua akan terus begini? Tak kasihankah kalian pada Belly yang sedang sakit?" Bastian memecah suasana tegang keduanya.
Alan dan Raja hanya saling menatap tajam. Alan menatap raja dengan sinis. "Jika kau tak mampu, maka berikanlah Belly padaku!"
Raja yang sejak tadi menahan emosinya pun kini tak mampu lagi menahan diri. Ia maju kearah Alan dan memberikannya sebuah pukulan di wajah.
__ADS_1
BUGHHHH!!!!
To be continue.....