
"Tolong tinggalkan aku sendiri Al.."
Sejak tadi Belly hanya diam, namun setelah mengeluarkan suara paraunya, ia malah memilih untuk mengusir Alan dari ruangan rawatnya.
"Bell,"
"Please...."
Permohonan Belly dituruti oleh Alan. Ia pun mengurungkan niatnya untuk menyuapi Belly dengan bubur ayam yang sudah dibelinya. Alan pun beranjak keluar meski dengan perasaan berat.
Sejak dua hari lalu, Belly telah sadarkan diri. Begitu Alan menceritakan semua yang terjadi pada mereka berdua, termasuk tentang kehilangan janinnya. Belly seperti seseorang yang rapuh dan patah. Ia terus merenung dan menangis meratapi nasib dirinya.
Fikirannya begitu kalut, ia tak menyangka jika musibah datang bertubi-tubi menghampirinya. Mulai dari penculikan yang didalangi oleh saudaranya sendiri, kemudian ia ditalak Raja, saat itu pula ia harus kehilangan janin yang begitu diharapkannya.
Belum lagi pagi ini, Rangga datang menemui Belly untuk memberikan sebuah amplop cokelat. Belly tak menduga begitu membuka isi amplop itu ternyata sepucuk surat cerai yang dilayangkan untuknya dari kantor pengadilan Agama.
Semakin terpuruk dan semakin terpuruk keadaannya. Raja yang sangat diharapkan agar menemani dan menghiburnya dikala sedih seperti ini, justru semakin menyiram air garam pada luka yang menganga dihatinya. Perih, semakin perih rasanya.
Ingin ia merobek-robek secarik kertas ditangannya, tapi apalah daya. Surat cerai ini dilayangkan untuknya dan ia harus menerima semua keputusan Raja yang memintanya untuk berpisah.
"Raja....."
Belly menangis tersedu diatas brankar dengan kedua lutut yang menopang kepalanya. Menangis tanpa suara, hingga rasanya air matanya ini telah kering. Sakit dan sangat sangat sangat sakit yang dirasakannya.
Satu tangannya masih dipasang selang infus, sedangkan tangan yang satu digunakan untuk membungkam mulutnya berharap agar suaranya tak dapat didengar oleh siapapun.
Harapannya seperti itu, namun ia salah. Dari luar sana Alan dapat mendengar jelas tangisannya yang terdengar sesak karena Alan tak menutup pintu dengan rapat saat keluar tadi.
Alan yang melihat pemandangan itu dari luar hanya bisa mendongakkan kepalanya keatas. Berharap air matanya juga tak ikut tumpah.
Tapi Alan tak ingin hanya berdiam diri saja menyaksikan penderitaan Belly. Ia sudah berjanji akan terus bertanggung jawab atas apapun yang menimpa Belly.
__ADS_1
Alan masuk kedalam kamar rawat Belly, dipeluknya tubuh lemah wanita yang sudah duduk meringkuk diatas brankar rumah sakit itu.
"Menangislah sekuat-kuatnya, setidaknya kau akan merasa sedikit lega."
Dari situlah Belly menyandarkan kepalanya pada dada Alan. Ia tumpahkan semua air matanya, kali ini ia benar-benar tak sanggup lagi menahan deritanya sendiri, setidaknya Alan datang dan mau meminjamkan sebuah sandaran untuknya. Baginya, itu sudah cukup membantu.
"Kamu sudah cukup menderita Bell, tapi kamu sangat cukup kuat. Mungkin jika aku yang ada di posisimu saat ini, aku takkan mungkin bisa hidup!!" Suara seorang wanita menyadarkan Belly dan Alan setelah beberapa menit.
Mata Belly menatap kearah wanita yang begitu dikenalnya itu. "Stev....."
Steva duduk di kursi roda dengan kaki yang dipasang chips, sementara Hendrick mendorong kursi roda itu dari belakang mengarah ke brankar dimana Bellydan Alan berada.
"Bell...."
Mereka berdua berpelukan, kedua sahabat baik itu sudah lama sekali tak bertemu. Ketika mereka bertemu, malah dipertemukan dengan keadaan yang tidak memungkinkan seperti ini.
Isak tangis memenuhi seluruh ruangan rawat Belly, biasanya mereka bertemu dipenuhi dengan tawa dan canda, namun kali ini sangatlah berbeda. Kebahagiaan yang selama ini mereka jalin, kini berubah menjadi sebuah kesedihan yang tak terukur.
Steva mengalami patah kaki akibat kecelakaan dan pernikahannya terpaksa ditunda, sementara Belly harus kehilangan calon bayinya dan pernikahannya kandas begitu saja.
Hendrick maupun Alan hanya bisa menatap haru kearah kedua wanita itu yang saling melepas penat dan rindu. Mereka seolah terhanyut dan ikut merasakan kesedihan yang dialami Belly dan steva. Hingga tak terasa keduanya pun ikut menitikkan air mata.
"Aku tahu kamu lebih kuat dari yang ku kira!" Suara Steva meredam tangisan Belly. Ia berharap kata-katanya itu dapat menyemangati sahabatnya yang kian rapuh itu.
"Aku kuat karena belajar darimu!" Belly melepas pelukannya pada Steva. Ia menatap wajah Steva dengan penuh kasihan karena banyaknya bekas luka yang tertinggal akibat kecelakaan yang menimpanya.
Ia menyentuh bekas luka itu dengan jemari tangannya yang kian mengurus akibat berat badannya yang terus menurun.
"Aku senang, setidaknya saat ini kau akan menjadi muridku bukan sahabatku lagi!"
Seluruh orang didalam ruangan itu pun ikut tertawa mendengar guyonan yang dilontarkan Steva. Meskipun semua tahu, jika senyum yang disematkan Belly pada bibir manisnya saat ini hanyalah tipuan belaka.
__ADS_1
"Kau tak perlu tersenyum jika memang ingin menangis." Steva mengusap sisa-sisa air mata dari wajah Belly.
Belly mendongakkan wajahnya, dihembuskannya nafasnya dengan kencang. Tak ada lagi yang bisa ia ucapkan, tetap saja ia ketahuan meski sudah mencoba menutupi kesedihannya.
Steva mengambil sebuah berkas yang ada di atas brankar, ia menyodorkan secarik kertas itu kearah Belly. "Euh...."
"Steva??" Hendrick mencoba mengingatkan calon istrinya itu.
"Bell, dia tak ingin lagi bersamamu. Sudah cukup air matamu untuk menangisi ketidakbertanggung jawabannya. Come on Bell," Steva membuka tas kecilnya dan mengambil sebuah pulpen. Kemudian ia menyerahkan pulpen hitam itu ketangan Belly.
Lagi, air mata Belly kembali menetes dan membasahi secarik kertas dipangkuannya. Belly menggenggam kuat pulpen yang tadi diserahkan oleh Steva.
"Sayang, jangan memaksa Belly. Mungkin ia harus berfikir terlebih dulu..." Bujuk Hendrick dengan sedikit berbisik ditelinga Steva.
Alan tak mampu berkata apapun lagi, saat ini yang ia rasa hanyalah hatinya yang terus sakit akibat melihat Belly tak henti menangis.
"Bell, aku tak ingin kau goyah. Aku menyesal kala itu telah mendukung hubunganmu dengannya. Untuk kali ini, aku tak ingin lebih menyesal lagi!" Steva memeluk tubuh Belly yang bergetar. Ia pun ikut menangis bersama sahabatnya itu.
Belly mengusap air matanya setelah melepas pelukannya dari Steva. Kemudian ia menatap surat cerai yang dilayangkan oleh Raja padanya hari ini. Ia tak membacanya secara merinci lagi, dengan mengumpulkan tekad dan keberanian ia pun mengukir tanda tangannya diatas Surat cerai itu.
Sreekkkk srekkkk srekkkk!!
(Anggap bunyi pulpen lagi ngukir tanda tangan Belly diatas surat cerai)
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Steva setelah melihat sahabatnya menandatangani surat cerai itu.
Belly mengangguk, namun semua orang tahu jika ia saat ini sedang berbohong.
"Kita butuh liburan, aku akan mengatur jadwalnya!" Ucap Steva bersemangat mengalihkan pembahasan.
"Sayang, kau ingin liburan kemana?" Tanya Hendrick.
__ADS_1
"Ke jepang!"
To be continue....