
"Gimana, apakah sudah membaik??" Tanya Raja pada Belly yang kini tengah duduk sembari terus memandangi panorama yang menyejukkan didepannya.
"He'eum..." Belly menganggukkan kepalanya pelan, kemudian disandarkan kepalanya dibahu Raja.
"Apakah dia baik-baik saja, tidak lapar?" Raja menunjuk perut Belly kemudian mengusapnya pelan.
Belly hanya menggeleng pelan, ia merangkul tubuh Raja dengan erat.
"Jangan terus bersedih, senyum..." Pinta Raja pada istrinya.
Belly pun menggerakkan bibirnya dan menyunggingkan sedikit senyum pahitnya.
"Full senyum sayang...."
Ucap Raja dengan menampilkan senyuman lebarnya disertai beberapa kali kedipan mata dihadapan Belly. Tingkah Raja yang sedikit konyol itu pun membuat Belly mengeluarkan tawa kecilnya.
"Kau begitu cantik, tak ada yang bisa mengalahkan kecantikan wajahmu apalagi hatimu!" Raja membelai lembut rambut Belly dengan menatap matanya tajam.
Ciiitttt!!
Belly mencubit kulit tangan Raja sedikit kuat hingga membuat Raja meringis kesakitan.
"Awwww!!!" Raja mengelus-elus tangannya yang tadi dicubit oleh istrinya. "Bell, sakit..." Rintih araja merasakan panas pada kulitnya.
"Dasar Gombal! Apakah kau sangat suka menggombal seperti ini kepada Maura?" Belly memutar matanya malas.
"Hmmmmm...." Raja menarik nafasnya perlahan kemudian membuangnya.
"Aku tak pernah mengatakan ini selain kepada istriku..."
"Bohong!" Belly masih tak percaya pada Raja.
"Sungguh!!!" Dengan wajah seriusnya, Raja berusaha meyakinkan Belly.
"Lalu, mengapa Maura terus saja mengejarmu, Jika bukan karena gombalanmu itu??" Belly sepertinya kini tengah merajuk hingga kepalanya pun beralih tak lagi bersandar di bahu Raja.
Raja hanya mengangkat kedua pundaknya seolah tak mengerti. Ia juga tak ingin menanggapi pertanyaan Belly mengenai Maura. Rasanya Raja amat lelah membahas Maura yang tak penting baginya.
"Raja, kau tak mau menjawab? Atau kau hanya menghindari pertanyaanku tentang Maura?" Wajah Belly semakin ditekuk, ia tak lagi menunjukkan senyumannya yang tadi sempat tersimpul manis di bibirnya.
"Sayang, aku bukannya menghindar. Aku hanya tak ingin lagi mengaitkan wanita itu didalam kehidupan kita. Aku hanya ingin kita hidup dalam damai tanpa pengganggu!" Raja meraih kedua tangan Belly, ia mencoba menenangkan kembali perasaan istrinya itu.
"Bell, kamu sedang mengandung anak kita. Tidak baik memikirkan hal-hal yang dapat mengganggu kesehatanmu dan bayi kita. Aku tidak ingin itu terjadi, aku sangat menyayangi kalian berdua.."
Belly merasa semakin membaik, Raja kini mampu menenangkan perasaannya yang tengah kacau. Ia pun berusaha semaksimal mungkin untuk lebih berfikir positif agar tidak stress. Karena hal itu dapat mengganggu kesehatan bayinya.
"Malam ini, kita istirahat disini...." Lanjut Raja membuyarkan lamunan Belly.
"Malam ini?? Kenapa?" Tanya Belly tak mengerti.
"Karena aku masih ingin berdua denganmu disini." Jawab Raja dengan santai. Ia pun membopong Tubuh istrinya ala bridal style. Kemudian membawanya masuk kedalam kamar yang ada di villa.
Tak banyak pergerakan ataupun perlawanan dari Belly saat Raja membopong tubuhnya hingga membaringkannya diatas Ranjang.
"Raja, aku sedang hamil apakah bisa??"
Raja hanya tersenyum, ia membawa Belly mengikuti pergerakannya secara perlahan dan hati-hati hingga mereka berdua pun terhanyut dalam permainan malam ini.
...****************...
Dua hari kemudian......
Setelah merasa cukup menenangkan diri dari hiruk pikuk kota yang padat akan kebisingan, Raja membawa Belly kembali pulang ke Rumah.
Sebenarnya Belly masih betah berada di villa, namun karena Raja harus bekerja dan mengurus kantornya Belly mau tak mau harus menuruti permintaan suaminya itu.
Belly yang saat ini sudah tidak lagi bekerja sebagai asisten Steva karena sudah mengundurkan diri dua hari yang lalu, tepat saat ia pergi ke kantor Raja untuk memberitahu hal ini pada Raja.
Namun yang terjadi malah Belly mengetahui semua kelakuan Maura selama ini, Semua kebusukan Maura telah terbongkar karena mencoba merayu suaminya kembali.
Dari situlah, Belly mencoba untuk lebih waspada jika bertemu dengan saudara tirinya itu. Saudara yang menganggap dirinya adalah musuh terbesarnya.
Sementara di dalam Apartemen yang sudah tak karuan lagi bentuknya. Kamar yang berantakan, barang-barang berserakan karena semua barang yang di lihat akan dilempar oleh Maura, membuat ruangan itu seperti kapal pecah.
Ya, Maura sejak terakhir bertemu dengan Raja ia sudah seperti orang yang frustasi. Rasa sesalnya karena dulu telah meninggalkan Raja kini semakin bersarang didalam dirinya. Stress, mungkin kata yang tepat untuk Maura saat ini.
Maura terus saja mengurung dirinya didalam kamar, ia tak tahu apa yang kini harus dilakukannya untuk merebut Raja kembali.
__ADS_1
Segala macam cara sudah dilakukannya, namun bukannya berhasil Raja malah semakin dekat dengan Belly dan semakin membencinya.
Menurut Maura, semua ini terjadi karena Belly. Belly telah merusak hubungannya dengan Raja. Padahal, jika ditelaah lebih dalam Maura sendiri yang menimbulkan kekacauan ini. Dia lah biang kerok dibalik kisahnya sendiri.
"Aku sangat membencinya!! Aku sangat membencinya........!!!!"
Prankkkkkkk!!!!
Maura melempar benda yang ada ditangannya kearah tembok hingga benda itu pecah dan menimbulkan suara kacau dikamarnya.
"Argggggggghhhhhhhh!!!!!!!"
"Aku akan membuatmu menangis DARAH!!! Aku akan membalas semua perlakuanmu!!"
PRANKKKK!!!!!!!
Maura kembali melempar barang-barang yang ada dihadapannya.
Entah bagaimana pemikiran Maura saat ini, dialah yang menyakiti namun dia bersikap seolah paling tersakiti.
Hikssss....Hikssssss....
Tangisan Maura terus pecah, selama dua hari ini ia tak melakukan apapun. Yang ia lakukan hanya menangis, meneguk minuman keras, membanting barang-barang dan terus memendam dendam kepada Belly.
AYO MAURA, AYO BANGKITLAH!!!!!
Jika kau terus begini, maka Belly akan senang dan membuat Raja tak bisa kembali kesisimu lagi!! Balaskan DENDAMMU!!! Jangan beri dia Ampunnn Maura....
Salah satu se*tan disebelah Maura berbicara untuk menyemangati Maura agar membalaskan dendamnya pada Belly.
Jangan Maura, bertaubatlah!! Belly adalah saudaramu. Bagaimanapun kalian adalah sama-sama wanita, meskipun mencintai pria yang sama. Relakanlah Belly dan Raja bahagia. Yakinlah jika suatu hari nanti Kau akan mendapatkan pengganti yang lebih baik dari Raja.
Disisi lainnya, seorang peri baik mencoba menasihati Maura agar segera bertaubat.
Jangan dengarkan dia Maura!! Dengarkan aku saja! Jika kau mengalah, maka harga dirimu akan diinjak-injak olehnya! Kau akan menjadi wanita lemah yang tak berguna!!
Se*tan itu tak mau kalah dari peri baik, ia terus menyalakan Api untuk terus menghasut Maura agar memilih jalan yang ia tunjukan.
Maura, bertaubatlah kejalan yang benar....
Sang peri belum juga selesai memberikan nasihat dihati Maura, Maura sudah bangkit dari posisinya. Ia mencari-cari benda yang tengah terfikir di otaknya, dan akhirnya ia mengambil gunting yang ada dilaci meja riasnya. Kemudian memangkas Rambutnya hingga menjadi pendek tepat dibawah telinga. Tubuhnya berdiri tegap didepan Kaca riasnya yang sudah retak akibat benda yang ia lemparkan.
*Anggap aja suara gunting lagi motong rambut*
"Aku, Maura Prianka. Aku bukan wanita lemah!! Aku bukan wanita yang mudah menyerah!! Akan ku buktikan kepada dunia jika aku bisa, aku bisa menaklukan dunia ini!!!!"
Huaaaahaaaahaahaaaahaaa!!!!!!!!
Tawa Maura pecah, ia merasa lega karena sudah mulai membaik. Selama dua hari ini ia sudah banyak terpuruk, menurutnya itu sudah cukup!
"Semua penghinaanmu akan ku terima my king, dan jangan panggil aku Maura Prianka lagi jika tak bisa menaklukanmu! Bagaimanapun caranya, aku akan terus memperjuangkan cintaku! My king...."
Tekat Maura sudah bulat. Dendam kini telah menyelimuti hatinya. Hatinya sudah berubah warna menjadi hitam gelap, bukan lagi merah seperti warna hati pada umumnya.
...****************...
Maura membersihkan dirinya, ia juga memanggil jasa pembersih ruangan ke apartementnya.
Sembari menunggu apartementnya di bersihkan, ia pun pergi ke salon langganannya untuk sedikit merombak penampilannya.
Setelah selesai dari salon, ia pergi menuju sorum untuk membeli sebuah mobil. Uang yang diberikan oleh Mamanya selama ini ternyata lumayan banyak, hingga dapat membiayai kehidupannya selama menganggur di Jakarta.
Entah dari mana Nadia mendapat uang sebanyak itu untuk putri semata wayangnya. Yang jelas, Maura sangat dimanja oleh Nadia. Segala keinginannya pasti akan dituruti bagaimanapun caranya.
Setelah selesai membeli mobil mewah pilihannya, ia pergi ke Bar tempat dimana dulu ia sering pergi bersama teman-temannya untuk sekedar bersenang-senang. Bar itu tak lain adalah milik hendrick mantan pacarnya. Yang sekarang sudah menjadi tunangan Steva sahabat Belly orang yang amat dibencinya.
Jika memikirkan hal itu, Maura merasa semua orang yang terlibat dikehidupannya telah direbut oleh Belly. Raja, hendrick, bahkan Alan yang dianggap pengganggunya pun ternyata adalah orang yang amat dekat dengan Belly.
Maura semakin Muak ketika mengingat itu semua.
Belly, Belly, dan Belly! Rasanya tiada habisnya, Itulah yang mengganggu fikirannya saat ini.
Banyak orang yang menatap Maura tanpa kedip di dalam Bar. Maura kini melenggok-lenggokkan tubuhnya dibawah alunan musik. Penampilannya hari ini benar-benar mampu menghipnotis mata para lelaki didalam Bar hingga mereka ingin sekali mendekati Maura dan menari bersama.
"Siapa namamu?" Tanya seorang lelaki yang kini tengah mendekat dan berbisik lirih ditelinga Maura. Ia merasa tertarik ketika pertama kali melihat body goal Maura.
Maura hanya menyimpulkan senyumannya, ia tak menanggapi pertanyaan laki-laki itu. Ia terus saja menari dan menari dengan lincah untuk menghempas semua gundah dan beban dihatinya selama ini.
__ADS_1
"MY KINGG!!!!!!!!"
Maura berteriak sekencang-kencangnya, hingga membuat orang-orang menoleh kearahnya. Termasuk satu pasang mata yang tengah duduk didepan bartender sembari meneguk minuman favoritenya.
Matanya terus tertuju memperhatikan tingkah Maura bersama beberapa pria disana.
"Ciiihh!, kau hanya merusak diri sendiri!" Alan menuju keluar dari Bar setelah selesai meneguk beberapa gelas minumannya. "Miris sekali.."
Alan berjalan gontai dengan terus bergumam menyaksikan tingkah Maura. Alan merasa kasihan pada Maura, hanya karena cinta dia merusak dan merugikan diri sendiri.
Beberapa menit alan diam di dalam mobilnya yang masih terparkir di area Bar. Dari dalam mobil ia melihat Maura yang keluar dari dalam Bar kemudian menuju mobilnya yang terparkir tepat disebelah mobil Alan.
Maura melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak butuh waktu lama, Maura pun tiba di tempat yang ia tuju.
"Sepertinya hari ini Tuhan berpihak kepadaku." Maura memicingkan senyuman jahatnya menatap kearah luar.
"Permainan dimulai...." Dengan kaca mata hitam besarnya, Maura keluar dari mobil hendak menghampiri sosok wanita yang tengah menyiram bunga di taman kecil samping rumahnya.
Melihat mobil hitam pekat berhenti didepan Rumah, dan seseorang wanita keluar dari dalam mobil Belly menghentikan aktivitas menyiram bunganya.
Belly berfikir lagi memperhatikan wanita itu dari kejauhan, "Sepertinya orang ini tidak Asing?"
Saat wanita berambut pendek itu tiba dihadapannya, dibukanya kaca mata hitam itu.
Dan Belly pun terkejut mendapati Maura yang kini telah berubah drastis hampir tak ia kenali.
"Terkejut?? Aku memang suka mengejutkan orang!" Dengan bahasa santainya, Maura menatap Belly dengan jeli.
"Maura??" Belly tak memiliki kata-kata lain yang ingin diucapkannya. Untuk saat ini ia hanya memegangi perutnya, berusaha melindungi bayinya takut Maura akan bertindak jahat lagi kepadanya.
"Ada apa? Kenapa memegangi perutmu?? Kau takut aku berbuat jahat?" Maura terkikik mendapati Belly yang bersikap waspada.
"Maura, ada perlu apa kau kemari?" Belly mencoba membentengi hatinya untuk terus bersikap tegar.
"Hmmmm, tujuanku masih sama. Jadi, jangan pura-pura tak tahu!" Lagi, Maura terkikik melihat raut wajah Belly.
"Maura, berhentilah mengganggu keluargaku! Raja suamiku,....."
"Dia suamimu ataupun bukan, aku tetap mencintainya! Dia adalah MI-LIK-KU!!! Dia milikku! Aku tak perduli padamu atau bahkan bayimu!"
Dengan tatapan yang semakin tajam, langkah kaki yang kian mendekat kearah Belly, Maura mengangkat satu tangannya. Namun sebelum tangannya melayang, seseorang telah mencekal tangannya.
"Hentikan!" Suara Bariton itu terdengar jelas ditelinga Maura. Tangannya mencengkram kuat-kuat tangan Maura.
"Kau???" Mata Maura membelalak sempurna seketika melihat Alan kini tengah berdiri mencekal tangan yang hendak ia layangkan kearah Belly. "Lepaskan!!!!" Maura berusaha melepaskan cekalan tangan Alan.
"Aku sudah memperingatkanmu, jangan pernah berniat mengganggu atau menyakiti Belly!" Alan menghempas tubuh Maura dan hampir saja jatuh.
Maura merasa sial lagi kali ini, entah darimana Alan datang tiba-tiba saja dia muncul dan menyelamatkan Belly.
"Heuh, aku jadi curiga sebenarnya apa hubunganmu dengannya? Jangan-jangan kalian berdua memang benar memiliki hubungan khusus?" Maura menatap tajam kearah Belly, kehadiran Alan benar-benar mengganggunya.
"Bell, jangan dengarkan dia. Lebih baik kau masuk kedalam Rumah" Pinta Alan pada Belly.
"Alan terimakasih...." Belly pun segera berjalan cepat menuju kedalam rumah.
"Kau????? Tunggu!!!" Maura berusaha mengejar Belly, namun Alan terus memeganginya. "Lepaskannn tanganku!!!"
"Jika kau memang mencintai Raja, harusnya kau ikhlaskan dia bahagia bersama Belly!" Alan berusaha memberi masukan baik untuk Maura.
"Jangan MENCERAMAHIKU!!! Aku tak butuh itu semua!" Dengan mengeluarkan tenaga sekuat mungkin, Maura melepaskan diri dari Alan.
"Aku bukan dirimu yang mudah menyerah ketika milikmu direbut orang lain!"
Maura pergi dari lingkungan Rumah Raja meninggalkan Alan, kemudian masuk kedalam Mobilnya.
"Hari ini mungkin aku tak berhasil memberi pelajaran padamu, tapi aku adalah Maura Prianka! Aku takkan menyerah begitu saja!" Maura menatap kearah pintu rumah yang sudah tertutup rapat. Hatinya semakin kesal karna Alan selalu saja menyelamatkan Belly.
"Arghhhh! Kurang A-jar!!!" Maura memukul stir Mobil dengan keras.
Ternyata tanpa sepengetahuan Maura, Alan mengikuti mobilnya. Untung saja Alan datang tepat waktu, jika tidak mungkin saat ini sudah terjadi sesuatu pada Belly akibat ulah Maura.
To be continue....
🍒 Nanti lagi ya Readers, Othor mau kerja dulu...
Jangan Lupa tinggalakan Vote, Gift, like dan komentarnya untuk terus mendukung karya othor yang recehan ini...
__ADS_1
Selamat Siang.....