
"Ck! Bulan madu apanya?? Dasar anak ini!!" Belly menutup ponselnya, ia menggerutu menghadapi kekonyolan steva.
"Bulan madu?" Raja yang sudah kembali dari kamar mandi mendengar ucapan belly.
"Ra..ja.??" Belly terkejut, ia hanya menelan salivanya.
Raja mengahampiri belly yang duduk di pinggiran ranjang, ia memegang kedua tangan belly dengan senyuman kecil.
"Kau ingin berbulan madu kemana??".....
"Ra..raja?" Dengan kedua mata yang membola, belly menahan debaran hatinya.
"Bell, haruskah kita memulainya dari awal lagi??"
Tatapan raja dan belly pun bertemu,
"Raja, aku...." Belly terbata tak tahu lagi harus berkata apa.
"Bell, malam ini aku ingin mengatakan sebuah pengakuan." Masih dengan menggenggam erat tangan belly, raja berusaha menahan gejolak hatinya.
"Pengakuan??" Belly sebenarnya sangat menanti hal itu. Namun belly menyadari jika ia memanglah naif.
"Bell, aku menyukaimu. Entah kapan itu di mulai, aku pun tidak tahu. Tapi, sejak awal kita bertemu aku sudah merasakan jika perasaanku padamu ini berbeda." Dengan satu kali tarikan nafas, akhirnya raja bisa mengungkapkan perasaannya selama ini. Ia sudah sedikit lega.
Hati belly berdesir, rasanya melayang-layang mendengar sebuah pengakuan raja.
"Belly, aku tak memintamu segera membalas perasaanku ini. Tapi aku berharap, kita memiliki rasa yang sama, tujuan yang sama dalam pernikahan kita."
Tess!!
Air mata belly pun kini menetes di pipinya. Ia tak bisa lagi berkata-kata.. Mendengar raja berbicara saja rasanya ia sudah bahagia.
"Hey, ada apa bell? Kenapa kau menangis?..." Raja melepas pegangan tangannya, ia menyeka air mata di wajah belly.
Belly pun berhambur kepelukan raja, ia menangis sesegukan. Raja yang mengerti hal itu, langsung mendekap erat belly. Tangannya mengusap pelan rambut belly dengan lembut.
"Andai setiap hari aku bisa memelukmu seperti ini..." Lirih raja, ia mengecup puncak kepala belly dengan lembut. "Aku takkan melepaskanmu lagi bell, aku tak ingin kau pergi lagi."
Belly melepaskan pelukan raja, ia duduk dengan tegap. "Raja, apa aku bisa mempercayai semua ucapanmu??" Belly masih mencari-cari kejujuran lewat mata raja.
"Kau ragu padaku??" Raja menggenggam kedua tangan belly namun sepertinya belly belum bisa mempercayai raja sepenuhnya.
"Bell, tatap mataku. Apakah terlihat sebuah kebohongan??" Tanya raja meyakinkan.
Belly hanya menggelengkan kepalanya. Tanda tak menemukan kebohongan dalam diri raja.
__ADS_1
"Aku yakin, lambat laun kau akan sepenuhnya percaya padaku." Raja berbangga hati, ia yakin belly sudah mulai membuka hati untuknya. Ia mengecup kedua punggung tangan belly.
Hal itu membuat belly semakin tersipu malu.
Aku percaya padamu raja, sangat mempercayaimu.
"Sudah malam, istirahatlah...." Pinta raja pada belly. Ia menarik selimut, menutupi sebagian tubih belly.
Belly mengusap-usap pipinya, menyeka jejak-jejak air mata yang tersisa.
Dengan berani raja pun melayangkan sebuah kecupan lembut di pipi belly. "Jangan menangis lagi, selamat malam bell." Raja beralih dari duduknya dipinggiran ranjang, ia hendak menuju sofa untuk membaringkan tubuhnya.
"Mau kemana?" Belly menarik tangan raja.
"A..aku?? Aku mau ke sofa." Ucap raja.
"Apakah kau ingin tidur di situ?" Tanya belly.
Raja hanya diam, tak menjawab.
"Tidurlah disini, disebelahku..." Belly menepuk ranjang agar raja tidur di sebelahnya.
"Bell, kau yakin??" Raja merasa tak percaya.
"A..aku melakukan ini agar mama dan papa tidak curiga! Ya, hanya itu." Jelas belly terbata.
"Eits!! Tunggu dulu raja!" Belly menahan raja.
"Ada apa lagi bell?" Tanya raja ingin tahu.
"Ini, kau dan aku dilarang melewati batas ini." Belly meletakkan guling di tengah-tengah mereka sebagai pembatas.
"Bell, apa-apaan ini?? Apakah seorang suami dilarang memeluk istrinya saat tidur??" Raja merasa dirinya tidak leluasa karena pembatas yang dibuat belly.
"Jika kau keberatan, maka tidurlah di sofa." Belly pun jual mahal.
"Oke, oke... Baiklah. Tapi jika kau yang melewati batas ini maka jangan salahkan aku apabila aku bertindak lebih." Raja kini berganti menyerang belly dengan senyum jahilnya.
"A..apa? Kau mau bertindak apa?" Belly mengerucutkan bibirnya.
"Ya, terserah diriku." Jawab raja dengan membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Tapi jika kau yang melanggar dan melewati batas ini bagaimana??" Tanya belly lagi.
"Ya, terserah dirimu bell. Aku siap jika kau melakukan hal apappun.." Raja tersenyum menggoda belly lagi.
__ADS_1
"Kau ini!" Belly memukul-mukul raja dengan guling.
"Bell, ampun...." Raja sedikit berteriak. Ia tak mungkin membalas pukulan belly, ia hanya pasrah saat belly melakukan itu padanya.
"Dasar kau mes*m! Awas ya...." Belly berlanjut memukuli raja, hingga tangannya di cekal oleh raja. Hal itu membuat belly tak bisa menggerakkan kedua tangannya.
"Apakah kau ingin terus memukulku??" Tanya raja dengan masih mencekal kedua tangan belly.
Belly berusaha sekuat tenaga melepaskan tangannya dari raja. Namun tenaga raja sepertinya lebih kuat dari dugaannya. "Raja, lepaasss..." Rengek belly.
"Aku tidak akan melepaskanmu lagi bell, tidak akan pernah.." Dengan sigap, raja melambungkan kecupan bibirnya di tengkuk leher belly. Hal itu membuat belly bergelinjang.
"Ra..ja.." Belly mencoba mengalihkan tubuhnya, namun raja segera menangkapnya dengan melingkarkan tangannya pada pinggul belly.
"Bell, jika kau tak menolaknya maka aku tak bisa lagi menghentikannya.." Raja mulai mendekatkan bibirnya pada wajah belly.
Belly, apa yang terjadi padamu? Mengapa kau begitu menikmatinya?
Belly merutuki dirinya sendiri, dengan matanya yang terus terpejam menerima setiap sentuhan raja.
Tak ingin berlama-lama, raja pun memberanikan diri menyentuh bibir ranum milik belly. Hingga keduanya pun saling berpagutan.
Raja melepas perlahan kecupannya pada bibir belly, "Aku mencintaimu bell, sungguh mencintaimu..." Kemudian ia kembali meraup bibir belly.
Raja ******* pelan dan lembut bibir belly, belly pun mengikuti alur permainan raja.
Keduanya saling menikmati sentuhan satu sama lain. Mereka melepas pagutan ketika sudah merasa kehabisan nafas, namun kembali melanjutkannya lagi.
Tangan raja mulai bergerilya mencari-cari sesuatu yang ingin dimainkannya, dan ia pun akhirnya menyentuh kedua benda kenyal milik belly. Raja merem*s dengan gemas keduanya, Meski belum menyentuh secara langsung, hal itu membuat belly terkejut hingga mendorong tubuh raja.
"Raja!!" Belly mengatur nafasnya yang terengah-engah. Dan melihat posisi raja sudah berada di lantai akibat dorongan yang belly lakukan.
Raja merasa tubuhnya sedikit ngilu akibat terjatuh, hingga meringis kesakitan.
"Ra..raja? Kau tidak apa-apa?" Belly membantu raja bangun dari lantai.
"Aw, ternyata tenaga istriku lebih kuat dari dugaanku." Raja teekikik pelan sembari terus meraaa kesakitan.
"Ma..maafkan aku.." Ucap belly merasa semakin bersalah.
"Tidak apa, aku tidak akan memaksamu jika kau belum siap." Raja melayangkan kecupan lembut di dahi belly. "Tidurlah..." Raja pun pergi ke kamar mandi.
Belly, apa yang kau perbuat? Raja pasti marah.... Bagaimana ini?......
Belly memukul-mukul pelan kasurnya, ia merasa sikapnya terhadap raja sangat keterlaluan.
__ADS_1
To be continue.....