Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Keberadaan Belly


__ADS_3

"Aku yang takkan memeberikanmu Ampun Maura prianka, seorang model yang sudah TAK LAKU LAGI!!" Bisik Alan dengan menekankan kata tak laku lagi.


"Beraninya kau menghinaku, hahhhhh??"


Maura merasa terhina atas perkataan Alan, ia begitu geram dan akan membuat perhitungan pada Alan.


"Wanita Sepertimu tak patut dikasihani!"


"Aku pun tak butuh belas kasihan darimu!"


Maura tersenyum menyeringai jahat, "Kau sudah kalah tuan Alan..."


Bughhh!!!


Pukulan kuat mengenai punggung Alan, seseorang datang dari belakang dan membuat tubuh Alan ambruk seketika.


Remang-remang dapat terlihat oleh Alan sosok pria yang memukulnya, ingin tubuhnya segera bangkit dan menghajar sosok itu. Namun Sipemukul langsung menutup mulut Alan dengan kain yang sudah diberi obat bius. Kepala Alan terasa semakin berat hingga pandangannya pun menjadi gelap. Alan pun tak sadarkan diri lagi.


"Sudah kubilang, kau telah kalah Alan..." Maura tersenyum jahat, disekanya peluh yang sudah mulai mengalir dipelipisnya sembari merapihkan pakaian dan rambutnya yang sempat berantakan.


Untung saja anak buah Maura segera datang dan membantunya untuk mengatasi Alan.


"Cepat kalian bawa dia!"


Perintah Maura pada dua orang anak buahnya.


"Baik bu!"


Secara serentak dua orang itu pun segera menuruti perintah Bossnya.


Sementara diluar, Alex yang tengah menunggu Alan pun tertidur didalam Mobil. Sebegitu lelahnya ia, hingga rasa kantuk itu tak dapat lagi dihindari.


...****************...


Tiga hari yang lalu...


Diruangan dengan penerangan yang remang, tembok dengan cat yang kian pudar, lantai ubin yang begitu kusam dan kasur usang yang kini telah meninggalkan aroma Apek.


Belly, saat ini dirinya tengah terbaring dengan kepala yang teramat pusing. Perutnya terus meronta merasa ingin diisi, mungkin bayinya kini butuh asupan makanan.


Belly membuka kelopak matanya perlahan, aroma tak sedap pada kasur yang hanya tergelar dilantai tanpa ranjang membuatnya merasa semakin mual.


Dilihatnya pintu berwarna cokelat disana, langit-langit kamar yang sudah rusak, ia berfikir sepertinya tempat saat ini berbeda.


"Dimana aku??"


Belly memegangi kepalanya, perlahan ia angkat tubuhnya mencoba bangun dari pembaringannya.


"Tempat apa ini?? Aku, aku berada dimana?"


Setelah sadar, Belly langsung bangun meraih gagang pintu yang sudah terdapat bubuk-bubuk kayu menandakan kelapukan.

__ADS_1


"Tolong!!!....." Teriak Belly sembari memukul-mukul pintu yang sudah kian lapuk namun masih terasa kokoh.


"Buka!!!!!"


"Tolong!!!!!"


Belly menangis, teriakannya tak berarti. Tak ada siapapun diluar sana yang mendengar dirinya.


"Raja...... Tolong aku.... "


Lagi, Belly terisak namun tetap saja tak ada yang menggubrisnya.


Ia duduk bersandar di belakang pintu hingga membuat baju yang kini ia pakai terkena debu dan kotor.


Ia terus saja terisak sembari memegangi perutnya. Kali ini ia benar-benar mengkhawatirkan anak yang ada didalam perutnya.


Belly mencoba memutar ingatannya terakhir kali ia merasa seseorang membekap mulutnya dan sekarang tiba-tiba ia sudah berada di tempat ini.


"Siapa yang melakukan ini padaku?? Apakah aku sedang diculik??"


Belly benar-benar tak bisa melihat orang yang telah membekapnya saat itu.


"Raja.... Raja pasti begitu mengkhawatirkanku? Dia pasti mencariku kemana-mana?"


Belly mengusap Airmatanya, ia kembali berdiri menepuk-nepuk pintu berharap ada yang membukanya. Ditariknya lagi gagang pintu itu, namun hasilnya masih nihil.


"Aku tidak boleh lemah, anakku membutuhkanku. Saat ini yang terpenting aku harus keluar dari sini terlebih dulu!"


Sayangnya, tak ada keajaiban yang datang. Tak ada yang menolongnya, ia hanya membuang tenaganya yang kini bahkan sudah hampir habis.


"Rajaaaaaa!!!!!!!!!! Tolong akuuu!!!!!"


Belly terus saja berteriak dengan suaranya yang kian serak! Tak ada apapun yang ia temukan didalam ruangan itu sebagai petunjuk atau sesuatu yang dapat membantunya keluar.


Ada sebuah jendela yang tertutup seng, namun dipasang sebuah tralis besi. Tak mungkin ia bisa menjebol tralis itu, mendobrak pintu yang sudah terlihat lapuk saja tenaganya sudah terkuras habis.


Hanya menangis yang bisa ia lakukan, tak ada hal lain. Ia terus meratapi nasibnya kali ini, entah bagaimana ia bisa sampai ditempat yang begitu mengerikan seperti ini.


Hingga malam hari, ia masih terus saja terisak dan itu membuat suaranya habis terkuras.


"Nak, kamu harus kuat!"


Belly terus mengelus perutnya perlahan, mencoba menguatkan anak yang dikandungnya.


Dilihatnya kasur beraroma apek itu, ia mencoba merebahkan diri disana karena tubuhnya kini kian lemas dan tak berdaya.


"Tuhan, tolong kami...."


Belly terus merintih, tubuhnya menggigil kedinginan karena angin malam terus berhembus dan masuk kedalam ruangan itu melalui celah-celah kecil.


Wajahnya yang pucat, kini semakin pucat. Tenggorokannya kering, bibirnya pecah-pecah dan suhu tubuhnya kian panas.

__ADS_1


Saat matanya mencoba terpejam dengan tubuh meringkuk, tiba-tiba pintu lapuk itu pun terbuka.


Seseorang muncul dengan samar-samar, tak bisa Belly melihatnya dengan jelas karena pencahayaan diruangan itu tak cukup terang.


"To...tolong a..aku.." Ucap Belly terbata mencoba melambaikan tangannya kearah orang yang berdiri didepan pintu.


Andai tenaganya masih kuat, ia pasti akan segera lari dari tempat ini melewati seseorang yang tak dikenalnya itu.


"To...tolong a..anakku, a..kuu sedang hamil. Beri aku air...aaiir...."


Itulah ucapan Belly dengan suara seraknya, membuat seseorang itu menutup pintu kembali dan pergi.


Belly hanya bisa meneteskan Airmatanya lagi tanpa suara, sakit sekali rasanya. Ia tak bisa berbuat apa-apa padahal sudah ada orang yang membuka pintu itu.


Terus menangis, hingga Airmatanya habis Belly mendengar suara pintu lapuk itu terbuka kembali setelah sekitar setengah jam lamanya.


Seseorang itu berjalan mendekat dengan perlahan, ia membawa sesuatu ditangannya.


"Ini, aku hanya punya ini..." Suara seorang wanita tua sekitar enam puluh tahunan, ia memberikan air putih dan empat buah pisang matang kepada Belly.


Belly ingin sekali meraih segelas Air yang diberikan wanita tua itu, tapi tubuhnya tak kuat bangun.


Ternyata wanita tua ini masih memiliki belas kasihan terhadapnya, hingga ia mau membantu Belly untuk bangun dan duduk.


Dengan segera Belly meneguk Air putih itu, kemudian ia memakan buah pisang dengan lahap.


"Terimakasih...." Itulah yang diucapkan Belly secara perlahan dengan mulut yang masih mengunyah buah pisang, suaranya pun masih terdengar serak.


Wanita tua itu menatapnya penuh kasihan, sebenarnya ia tak tega pada Belly yang harus dikurung didalam Rumah tuanya ini.


Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, karena seseorang sudah menyewa tempat ini dengan cukup mahal. Uang hasil sewaan itu pun digunakan untuk membayar hutang peninggalan mendiang suaminya kepada seorang lintah darat dengan bunga yang begitu besar.


Ia merasa bersalah telah mengorbankan Belly disini, tapi mau bagaimana lagi? Ia tak memiliki pilihan yang lain.


Dengan memberikan Belly makan dan minum seadanya, setidaknya rasa bersalahnya sedikit berkurang.


Wanita tua itu pun bangun dari duduknya setelah menemani Belly makan seadanya. Ia beranjak untuk keluar dari kamar.


"Tu..nggu.." Ucap Belly hingga menghentikan langkah wanita tua itu. "Ibu siapa? Dan mengapa aku ada disini?"


Wanita tua itu tak menggubris pertanyaan Belly, ia dengan segera melangkah keluar dan menutup pintu itu kembali.


"Tunggu bu, tolong bantu aku keluar dari sini. Kasihanilah aku, suamiku pasti khawatir...." Tak ada tenaga lagi untuk berteriak dengan keras, hanya suara serak yang keluar dari mulutnya.


Namun wanita tua itu dapat mendengarkan ucapan Belly dengan jelas. Ia semakin merasa bersalah, pilihan ini amat berat untuknya.


"Maafkan aku...." Lirih wanita tua itu dari luar.


To be continue.....


🍒 Silahkan menunggu, othor belom bisa UP yang banyak. Yang sudah menunggu, othor ucapkan terimakaaih banyak 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2