Menjadi Pengantin Satu Hari

Menjadi Pengantin Satu Hari
Pura-pura tidak tahu


__ADS_3

Bandara International Juanda, Surabaya.


Belly menarik koper miliknya diiringi Alan yang terus berjalan disampingnya. Mereka berdua berjalan beriringan dengan memakai kaca mata hitam.


Keduanya pun menaiki taksi, namun saat diperjalanan Belly merasa aneh karena jalan menuju ke rumah Papanya bukan melewati jalan yang kini mereka tempuh.


Saat Alan meminta sopir taksi berhenti disebuah rumah sakit, Belly bertambah heran lagi.


"Al, kenapa kita ke rumah sakit bukan ke rumah papa?"


"Masuklah, kau akan tahu nanti." Alan tak banyak berbicara, ia hanya ingin Belly mengetahuinya sendiri nanti.


Saat tiba disebuah ruang rawat bertuliskan Melati, Alan meminta Belly masuk terlebih dahulu kedalam ruangan itu.


Sementara Alan menunggunya diluar untuk memberi ruang waktu pada Belly.


Didalam ruangan itu, Belly semakin terkejut ketika menatap seorang lelaki yang dulu gagah kini menjadi kurus dan semakin keriput.


Belly berlari menghampiri papanya, ia merangkul erat tubuh kurus Prass yang selama ini amat dirindukannya.


"Pa? Sebenarnya apa yang terjadi?" Belly menangis menatap ke arah Prass papanya yang kini duduk di kursi roda dengan kondisi yang memprihatinkan.


Prass hanya menatap putrinya itu tanpa bisa berbuat apapun. Air mata keduanya sama-sama menetes, seolah merasakan hal yang sama.


Belly memegangi kedua telapak tangan Prass yang terasa dingin. Entah anak macam apa dia, sampai tidak mengetahui keadaan papanya seperti ini.


Belly terus merutuki dirinya sendiri, rasa bersalah semakin menyelimuti dirinya. "Anak macam apa aku ini, sampai tidak tahu keadaan papa. Maafkan aku pa..."


Prass memegangi puncak kepala Belly, meski tangan kirinya tak bisa bergerak, namun tangan kanan Prass masih bisa berfungsi meski kaku. Kali ini ia benar-benar merasa menjadi seorang ayah yang lemah karena tak mampu bertindak apapun untuk menjaga anaknya.


Ternyata sudah beberapa bulan terakhir, Perusahaan Prass mengalami penurunan karena uangnya terus saja dikuras oleh Nadia istrinya. Lambat laun, Perusahaannya pun bangkrut dan semua hartanya habis tak tersisa.


Nadia kabur meninggalkannya, entah kemana ia pergi. Dan saat itulah kondisi Prass mulai menurun hingga ia harus mengalami Stroke.


Saat ini, Prass dirawat oleh pak Ujang mantan sopirnya. Prass dibawa ke rumah pak Ujang, disanalah prass dirawat hingga suatu hari Raja datang menemui Prass dan membawanya ke rumah sakit.


Pak Ujang menceritakan runtutan kejadian yang menimpa Prass pada Belly.


"Pa, maafin Belly..." Belly terus saja menangis tersedu melihat kondisi papanya dalam keadaan Stroke.

__ADS_1


Belly benar-benar tidak mengetahui apapun yang menimpa orang tuanya, namun ia tak mengerti mengapa Raja masih peduli pada papanya.


Menurut cerita pak Ujang, Raja sudah sering bolak-balik ke rumah sakit beberapa bulan ini mengunjungi Prass.


Namun, untuk satu bulan ini Raja tak lagi mengunjungi Prass. Tetapi pihak rumah sakit sudah menyatakan jika semua biaya pengobatan Prass telah ditanggung penuh oleh Raja.


Setelah beberapa menit, Alan masuk ke dalam ruang rawat Prass. Hal itu sontak membuat Prass terkejut, karena yang bersama putrinya bukanlah menantunya Raja melainkan mantan kekasihnya.


Alan memberi salam, dengan suara lembutnya ia menyapa Prass."Senang bertemu lagi dengan om Prass."


Prass mengangguk perlahan, tatapannya tertuju pada Belly kemudian beralih lagi pada Alan. Seolah menyimpan segala tanya, Prass benar-benar bingung dibuatnya.


...****************...


Seminggu tinggal di rumah orang tuanya, bukannya mendapat ketenangan seperti harapannya ia malah mendapat gangguan yang ditimbulkan oleh Maura.


Raja tak ingin lagi lebih lama berada di Bandung, karena Maura terus saja mengikutinya. Padahal Raja sudah memberikan pelajaran padanya, namun bukannya merasa jera Maura justru semakin lengket.


Hari ini Raja diam-diam kembali ke Jakarta tanpa sepengetahuan Maura, namun sepertinya Raja tidak beruntung. Ketika didalam pesawat, Maura malah duduk tepat disebelahnya.


"Huuuft!" Raja hanya bisa menghela nafasnya panjang. Ternyata Maura tak menyerah begitu saja.


"Bangunlah dari mimpimu itu!" Celetuk Raja dengan ekspresi kesal.


"Emm, kau masih juga belum menyadari jika aku ini adalah jodohmu?" Maura tersenyum smirk, ia tak mau menampakkan mental ciutnya karena Raja sudah terang-terangan menolaknya.


Raja tak mengindahkan perkataan Maura, ia mencoba diam dan memejamkan matanya berharap pesawat akan segera tiba di Jakarta.


Saat mata Raja terpejam setelah beberapa menit, Maura mencoba menyandarkan kepalanya dipundak Raja. Ia tersenyum-senyum sendiri sembari berfikir nakal. Tangannya perlahan mulai menyentuh bagian paha Raja.


Raja yang merasa mendapat sentuhan aneh pada dirinya pun sontak terkejut. Ia tak menyangka jika Maura berani berbuat senekat itu di dalam pesawat.


"Apa yang kau lakukan?!!" Raja menyentak Maura sembari mencekal tangannya dengan kuat.


Sentakan Raja membuat Maura terkejut, ia tak menyangka jika Raja akan bangun dari tidurnya dan menggagalkan aksinya yang baru saja akan di mulai.


Tak ingin Raja menggagalkan itu, Maura mencoba bersikap tenang dan merangkul lengan Raja.


"Aku hanya ingin menyenangkanmu my king..." Ucapnya lirih sambil terus menyandarkan kepalanya pada bahu Raja.

__ADS_1


Raja mengelak, ia tak mau jika Maura semakin seenaknya menyentuh dirinya. Ia melirik kesana-kemari, kemudian ia beranjak dari duduknya menuju ke kursi didepannya yang terlihat kosong.


Disana hanya ada seorang lelaki, "Permisi tuan, apakah aku boleh duduk disini?"


Dengan senyum keramahan, seorang pria itu pun mempersilahkan Raja untuk duduk disebelahnya. "Silahkan..."


"Terimakasih."


Melihat hal itu, Maura pun menjadi semakin kesal. Lagi-lagi Raja menghindarinya. Satu minggu di Bandung ternyata tak membuahkan apapun baginya, karena Raja terus saja menghindari dirinya.


Ia mendengus kesal, sembari terus memikirkan cara agar Raja tetap akan kembali kepadanya.


Maura pun segera beranjak dari duduknya, ia menuju ke kursi tepat dimana dua pria sedang duduk bersama.


"My king, aku tahu kau marah padaku. Tapi ku mohon kembalilah duduk bersama......"


Belum sempat Maura menyelesaikan perkataannya, ia dikejutkan dengan seorang pria yang kini duduk disebelah Raja. Maura menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Lelaki itu menatap Maura dengan intens, ia mengenal siapa wanita yang kini ada dihadapannya. Ia hanya tersenyum ala Devil, benar dugaannya jika Maura adalah seorang wanita tak baik.


Maura mencoba mengambil nafasnya dengan teratur, ia mencoba membuat dirinya bersikap sekalem mungkin. Tak pernah ia merasa hatinya seperti ini didepan pria lain, saat melihat pria manis itu mentalnya seakan menjadi ciut.


"Tuan yang waktu itu, hai apa kabar? Sebelumnya aku mau mengucapkan terimakasih karena sudah mengantarku dengan selamat." Maura memasang senyumannya sebaik mungkin. Ia juga melirik kearah Raja yang kini sedang memejamkan matanya tanda sedang tidur. Dari situ ia bisa lebih leluasa menebar pesonanya kepada pria manis yang sempat membantunya tempo hari.


Mulai dari merapihkan Rambut, baju dan yang terakhir memasang senyuman yang manis, semanis Madu.


"Ck!" Pria itu hanya berdecak lirih, ia tak menyangka jika Maura akan berperilaku buruk seperti ini padahal ada kekasihnya disebelahnya. Namun ia tak habis fikir, mengapa wanita seperti Maura memiliki kekasih seperti Raja. Amat tak masuk akal baginya.


Melihat kekesalan pada wajah pria itu, Maura hanya bisa menelan salivanya. Ia merasa telah sia-sia. Ia juga menyesali perbuatannya kali ini karena sudah bersikap manis padanya.


Maura berjalan perlahan menuju kursi tempatnya duduk, kemudian ia mencondongkan sedikit tubuhnya dan berbisik tepat ditelinga si pria.


"Jangan sombong, karena aku bisa menghancurkan kesombonganmu itu dan membuatmu berlutut padaku!!"


Mendapat sebuah ancaman dari Maura, pria itu pun menyunggingkan senyumannya. "Aku tunggu."


Maura segera membenarkan kembali posisinya, ia tak menyangka jika pria itu malah akan balik menantang dirinya.


Raja tahu apa yang kedua insan itu perbuat, Tanpa mereka sadari. Sementara ia terus saja memejamkan matanya pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


To be continue....


__ADS_2