
"Maura!!!" Teriak Nadia ketika melihat putri kesayangannya kini telah tersungkur dilantai. Dihampirinya putrinya itu, kemudian ia pun membantu Maura bangun.
"Siapa kalian? Beraninya menyakiti putriku?" Merasa tak terima, Nadia mencoba menggertak beberapa pria yang tengah berdiri sembari terus menatapnya dengan sangar.
Alan memberi sebuah kode kepada dua pria berbadan tinggi besar dengan kepala plontos itu dengan satu lirikan saja. Tak banyak bertanya keduanya pun segera melakukan aksinya.
"Apa yang kalian lakukan? Jangan macam-macam!" Bentuk Maura mendapati kedua pria menyeramkan itu mendekatinya.
"Ra, siapa mereka?" Ucap Nadia dengan suara sedikit berbisik, nafas yang sengal, diiringi berjalan mundur.
"Mama tenang, mereka hanya orang-orang yang tidak berguna!" Maura sedikit berteriak, berharap kedua orang didepannya mau berhenti. Namun sayang saat tubuhnya terhimpit tembok, Maura dan Nadia tak bisa pergi kemana-mana lagi.
Kedua orang itu membungkam mulut Maura dan Nadia yang terus berteriak. Hingga jeritan keduanya tak terdengar lagi.
"Eeummmmm!!!!" Teriak Maura mencoba memberontak.
"Al, apa yang akan kau lakukan?" Sedari tadi, Darwin hanya terus menatap Alan, iya bingung apa yang akan dilakukan sahabatnya itu terhadap Maura.
"Aku akan melakukan, apa yang pernah mereka perbuat pada Belly." Alan berkata Pelan, namun terdengar penuh dendam dan amarah.
"Kau dendam?" Tanya Darwin meyakinkan. Pasalnya ia tahu jika Alan bukanlah orang yang pendendam. Selain itu, Alan juga tak pernah terlihat semenakutkan ini.
"Aku tidak dendam, tapi hanya memberi pelajaran!" Celetuk Alan dengan tatapan tajam ke arah Maura.
"Butuh bantuan?" Tawar Darwin dengan senyum menyeringai. Karena sedari pertama kali bertemu dengan Maura Darwin merasa senang jika bisa bermain-main dengannya.
"Kau bisa apa?" Seolah tak mempercayai perkataan Darwin, tatatpan Alan padanya meremehkan.
"Serahkan saja padaku." Darwin merasa percaya diri dan takkan mengecewakan Alan.
"Aku tidak yakin padamu win, bisa saja kau menyeleweng!"
"Ck! Please Al, biarkan sahabatmu ini bersenang-senang." Darwin mulai merajuk.
"Kau merayuku??"
"Al, aku tidak merayu. Aku tak ingin tangan perjakamu itu kotor."
Alan tertawa, ia mengerti apa yang akan dilakukan oleh sahabatnya itu. Sejenak ia berfikir, hingga akhirnya ia pun menyerahkan Maura kepada Darwin yang lihai dalam urusan wanita.
"Baiklah, aku serahkan padamu. Tapi ingat, kau harus bisa mengontrol diri."
"Tenang saja Al. Tapi, aku hanya ingin dia. Aku tak ingin ibunya." Darwin menatap ke arah Maura yang kini sudah terikat dengan mulut ditutup oleh plaster hitam.
"Aku tahu." Alan menepuk pundak Darwin, ia pun meminta kedua orang suruhannya membawa Nadia pergi bersama mereka. Sedangkan Maura tinggal bersama dengan Darwin di Apartemennya.
"Eeeeeeghhhhhh!!!" Maura berusaha berteriak meski mulutnya saat ini sedang dibungkam. Ia tak terima Alan membawa Ibunya.
Nadia pun sama begitu, ia juga tak mau dipisahkan dengan putri kesayangannya. Meski sudah berusaha keras untuk memberontak, tetap saja Nadia kalah. Karena lemas, ia pun akhirnya pingsan.
Setelah Alan pergi bersama antek-anteknya, Darwin mencoba mendekati Maura. Ia berjongkok menyesuaikan posisinya agar sejajar dengan Maura yang kini terduduk dilantai.
"Eeeuhhhhhhhh!!!!" Maura mencoba berteriak, seolah meminta pertolongan, berharap Darwin akan melepaskan ikatan pada kedua tangan dan kakinya.
"Ssstttt!" Darwin meletakkan jari telunjuknya pada mulut Maura yang kini tertutup oleh plaster hitam. "Jangan berteriak."
"Eeeeuuuuuuhhhhhhh!!!!" Maura terus saja memberontak.
__ADS_1
"Slow baby....." Darwin tersenyum, tak bosan-bosan ia memandang kearah wajah Maura yang menurutnya begitu unik dan langka.
Darwin mencabut plaster hitam dari mulut Maura dengan sekuat tenaga hingga menimbulkan bunyi dan Maura mengaduh kesakitan hingga ia mengeluarkan air mata.
"Kau menangis?" Darwin masih tak mengalihkan pandangannya. "Apakah sakit??"
"Lepaskan aku!!!" Teriak Maura.
"Pasti! Aku pasti akan melepaskanmu baby... Tapi tidak sekarang." Darwin tersenyum jahat.
"Apa maumu? Aku tidak memiliki urusan denganmu!"
Mendengar ucapan Maura, Darwin tersenyum. Ia duduk bersebelahan dengan Maura dengan tubuh menyandar pada tembok.
"Kita memang tak memiliki urusan apapun sebelumnya, tapi kita akan mulai memiliki urusan sekarang."
"Aku tidak sudi! Lepaskan aku." Maura tak ingin memiliki urusan apapun kepada lelaki yang menurutnya manis tempo hari, namun hari ini ternyata kurang ajar.
"Kau sekarang terlihat sombong, sebelumnya kau begitu ramah padaku." Darwin menatap Maura penuh dengan tatapan yang semakin tajam.
"Apalagi, kau begitu antusias menggodaku didepan pacarmu.!" Lanjut Darwin, dengan jari yang mulai menelusuri wajah Maura.
"Ups, maksudku MANTAN PACAR!" Darwin tertawa senang.
"Enyah kau!!!" Tak terima wajahnya kini disentuh oleh Darwin, Maura pun mencoba menghindar. Namun ia tidak bisa bergerak lebih karena tangan dan kakinya dalam kondisi terikat.
"Kau tak suka sentuhanku?" Darwin menyeringai. "Heuhhh! Aku ingin lihat seberapa tahan kau akan sentuhanku."
"Aku tidak sudi!!!!"
"Ck, memang benar ya. Kebanyakan wanita itu munafik." Darwin mengarahkan tangannya pada tangan Maura.
Namun tetap saja Darwin melanjutkan aksinya, ia tak menggubris perkataan Maura sedikitpun.
"Kau! Jangan kurang Ajar!!! Atau aku akan me...."
"Melaporkanku pada Raja? Mantan kekasihmu itu?" Darwin tersenyum senang ketika melihat raut wajah Maura yang kian memerah akibat terbakar amarah.
"Ck!, dia bahkan sudah tak peduli padamu. Untuk apa kau mengaharapkan mantanmu itu?"
Darwin membuka ikatan tali pada Kaki Maura hingga ikatan itu terlepas dari sampulnya.
"Aku mengejar cintaku! Daripada kau menasihatiku, lebih baik kau nasihati Alan temanmu itu yang juga mengejar mantannya sama sepertiku. Kau lupa???"
"Jelas berbeda, Alan adalah lelaki yang baik. Dia bukan mengejar mantannya, dia melindungi Belly."
Darwin tersenyum, "Sementara kau, mengejar Raja dengan menghalalkan segala cara. Termasuk cara yang kotor!"
"Tidak ada hubungannya denganmu!!! Cepat lepaskan aku!" Merasa hanya membuang waktunya, Maura tak mengindahkan perkataan Darwin. Ia menganggap jika Darwin salah tempat jika ingin berceramah.
"Maura.... Maura..., rupanya kau tidak sabaran!"
"Lepaskan aku berengs*k!!!!"
Mendengar ucapan Maura, Darwin pun segera mencekal dagu milik Maura dengan kuat hingga Maura terlihat semakin kesakitan. "Apa katamu?? Aku berengs*k?? Heuhhh!!"
Darwin menghempaskan cekalannya dengan kuat, hingga kepala Maura terbentur tembok. "Kita akan lihat, seberapa berengs*knya aku."
__ADS_1
"Kurang ajar!!!" Maura merasa emosinya kian memuncak, ia tak terima diperlakukan seperti ini oleh Darwin, yang bahkan belum pernah dikenalnya.
Darwin mengarah kearea dapur unit Apartemen milik Maura. Ia menemukan pisau yang bisa digunakannya untuk melepas ikatan tali pada tangan Maura. Setelah itu, ia kembali lagi keluar untuk menemui Maura.
Namun saat ia keluar, ia sudah melihat Maura berada di depan pintu untuk melarikan diri. Karena tangannya masih terikat, Maura terlihat kesusahan untuk membuka pintu. Dengan segera Darwin menghentikan aksi Maura dan melempar pisau yang da ditangannya ke lantai.
"Tidak semudah itu untuk lari dariku!!" Darwin menarik rambut hitam yang wangi milik Maura.
"Awww... Sakit!!!! Lepaskan aku.
Darwin menangkap tubuh Maura, ia membopong tubuh itu diatas pundaknya. "Kau tidak akan bisa kabur dariku!"
"Lepaskan akup!!!" Maura berteriak sekuat-kuatnya dengan kaki yang mengayun-ayun.
"Tidak akan!" Darwin membawa Maura kedalam kamar, kemudian ia lempar tubuh itu dengan kasar diatas ranjang.
"Apa sebenarnya mau mu?" Merasa ada sesuatu hal buruk yang akan terjadi, Maura mencoba berfikir keras agar Darwin tidak melakukan hal yang kini ada difikirannya.
"Aku yakin kau sudah tahu apa mauku!" Jawab Darwin sembari tersenyum ala Devil.
Maura menggeleng, diatas ranjang ia tidak bisa berbuat lebih karena keadaan tangannya yang masih terikat dengan kencang hingga menimbulkan memar dan lecet pada kulitnya akibat tali yang mengekang pergelangan tangannya.
Darwin meraih ponsel dari saku celananya. Ia kemudian meletakkan ponsel itu diatas nakas dekat ranjang mengarah ke posisi Maura saat ini.
"Please, jangan lakukan itu..... Aku mohon..." Rengek Maura, ia harap Darwin akan berbelas kasih padanya.
Darwin tak menggubris perkataan atau rengekan palsu Maura. Ia berjalan semakin mendekat kearahnya, "Kau penyebab kekacauan ini bukan?"
"A..apa maksudmu, a..aku tidak mengerti." Maura terlihat ketakutan ketika tatapan tajam Darwin menatapnya.
Darwin membuka satu kancing kemejanya bagian atas, ia merasa gerah karena Maura masih saja menyangkal dan pura-pura bodoh. "Wanita cantik sepertimu, siapa yang akan menduga jika kau adalah penjahat."
Darwin sedikit berbisik ditelinga Maura, "Haruskah aku...."
"Tidak!!!!! Jangan lakukan itu aku mohon! Aku menjaganya rapat-rapat diriku hanya untuk my king! Aku tidak akan memberikannya pada siapapun!"
"Oh, jadi begitu. Jadi kau begitu tergila-gila pada Raja? Dan kau dengan tega memfitnah belly dengan kejam?"
"Aku melakukan itu hanya untuk Raja, aku tidak ada pilihan lain!"
"Lalu benar kau yang menjebak Alan dan Belly di Hotel?"
"Ya aku yang melakukannya! Aku yang menjebak dan menculik Belly juga Alan. Tolong Darwin, tolong lepaskan aku... Aku mohon. Jika kau lepaskan aku, aku akan memberimu apapun yang kau mau. Kau mau uang bukan???"
"Heuh!!! Dasar wanita busuk!!!" Darwin mendorong tubuh Maura yang tadinya berada diposisi duduk menjadi terlentang.
Darwin mendekat kearah nakas, ia meraih ponselnya yang tadi sempat merekam semua pengakuan Maura. Ia segera mengirim video itu kepada salah satu kontak di ponselnya.
"Aku mendapatkannya!!" Darwin menyeringai, ia memasukkan ponselnya kembali kedalam saku celananya.
"Kaa...kau, kau merekam ku? Beraninya kau! Sialan!!! Lepaskan aku!" Maura merasa terjebak, ia fikir jika Darwin akan melakukan hal negatif pada tubuhnya. Namun ternyata ia salah besar.
"Kau fikir aku haus akan tubuh indahmu itu nona? Kau salah! Bersiaplah untuk besok!!" Darwin tersenyum, ia kemudian pergi dari kamar Maura dan meninggalkannya sendiri.
"Berengs*k!!!!!!!!" Maura berteriak merutuki kelakuan Darwin. Ia tak menyangka jika Darwin melakukan hal ini untuk menjebak dirinya.
"ARGGGGHHHHHHH!!!!!"
__ADS_1
To be continue....