
Sementara itu, di tempat berbeda, Layla masih berada di dalam hotel. Ia masih begitu setia menunggu Helmi, tampa menyadari jika Helmi akan mengalami masalah pelik, yang akan di mulai detik ini juga. Layla sama sekali tak menyadari, mungkin saja dinner romantis ini akan menjadi dinner terakhir bagi dirinya, apa mungkin cinta yang mulai tumbuh akan terhenti?
Temukan jawabannya di episode berikut ini! Jangan skip yah!
*****
Layla yang masih duduk termenung di ranjang perpisahan antara dirinya dan Helmi, ia masih begitu setia menunggu kepulangan Helmi. Mungkin itu semua firasat dari seorang istri, entah perasaan apa yang sedang terbelenggu di hati Layla. Tiba-tiba saja perasaan khawatir itu semakin menjelma, tampa sedikit pun mengerti akan perasaan cemas itu sendiri.
'apa ini hanya perasaanku saja? Kenapa tiba-tiba saja perasaan cemas itu kembali menjelma?' batin Layla yang merasakan akan ada hal buruk yang akan terjadi, walaupun dirinya sendiri tidak tahu hal buruk itu akan menimpa siapa.
(Tok, tok, tok, tok)
Suara yang memecah lamunan Layla, ia kembali tersadar dan bergumam,
"Astaghfirullah, apa yang tengah aku pikirkan."
"Itu pasti, Mas Helmi." Layla yang berusaha melangkah secara perlahan-lahan di karenakan tongkat miliknya tidak diketahui keberadaannya oleh Layla.
Helmi sudah berjanji pada Layla, jika dirinya mulai detik ini juga akan selalu berada di samping Layla. Tapi … apa mungkin itu semua akan terjadi setelah ini? Sementara nyawa Helmi akan di pertaruhkan malam ini juga. Apa mungkin Helmi akan selalu berada di samping Layla, seperti yang ia ucapkan pada Layla ketika dinner romantis di antara mereka berdua?
Layla masih berusaha melangkah menuju ke sumber suara pintu diketuk tersebut, dengan perlahan-lahan ia seakan dituntun oleh tembok hotel, menelusuri setapak demi setapak takdir yang akan berubah malam ini juga.
"Tunggu sebentar, Mas." ucap Layla ketika ia mulai membuka pintu kamar hotel.
"Mas Helmi kenapa lama banget? Layla cemas banget loh sama Mas Helmi." ucap Layla ketika pintu kamar hotel sudah terbuka.
Tuan Pradana yang melihat sendiri jika putrinya begitu mencintai Helmi, seakan tak sanggup mengatakan sebenarnya tentang keberadaan Helmi yang masih belum diketahui pasti oleh tuan Pradana sendiri.
'ya Allah apa aku harus berbohong pada putri ku sendiri? Aku tak sanggup mengatakan semua nya sekarang, ketika aku sendiri melihat jika Layla sudah begitu mencintai Helmi.' batin tuan Pradana yang seakan tak memiliki semangat untuk menyampaikan bahwa Helmi sudah dapat dipastikan tidak akan dapat bersama dengan Layla malam ini juga.
"Mas?" Ucap Layla yang hanya mendapatkan respon diam
'apa orang yang mengetuk pintu ini buka Mas Helmi? Siapa orang ini? Apa dia seorang penjahat?!' batin Layla yang seakan takut, jika orang tersebut akan melakukan sesuatu yang buruk pada dirinya
"Siapa kamu?!" ucap Layla dengan berusaha memberanikan dirinya.
"Ini Papa, Layla." ucap tuan Pradana yang membuat Layla seakan malu sendiri akan perbuatan pura-pura berani yang Layla lakukan.
"Papa?!" Layla yang berucap dengan begitu malu.
"Ada apa, pa? Kenapa malam-malam seperti ini berkunjung?" tanya Layla yang heran dengan kedatangan papanya.
"Hmmmm," tuan Pradana yang begitu bingung harus berucap seperti apa pada Layla, tidak mungkin dirinya mengatakan tentang keberadaan Helmi yang belum diketahui pasti oleh tuan Pradana sendiri.
"Layla sayang, mama kangen banget sama kamu. Kamu mau kan malam ini temani mama tidur?" ucap bohong tuan Pradana yang tak ingin putrinya khawatir akan keberadaan Helmi.
"Tapi … Pa, terus mas Helmi gimana? Gimana kalo Mas Helmi ngak ketemu sama Layla disini? Pasti Mas Helmi bakal begitu khawatir akan Layla nanti, Pa." ucap Layla.
"Apalagi Layla masih menunggu Mas Helmi, Mas Helmi pasti akan marah pada Layla nanti, Pa." ucap tambahan oleh Layla, yang seakan menolak permintaan papanya.
"Kamu tenang saja Layla, Papa sudah minta izin sama Helmi." tuan Pradana yang masih berusaha meyakinkan Layla.
"Terus, Mas Helmi nya dimana, Pa?" tanya Layla.
"Helmi masih ada urusan yang harus ia lakukan malam ini, Layla. Oleh sebab itu, Helmi meminta Papa untuk membawa kamu kembali ke rumah sakit. Helmi begitu khawatir jika kamu sendirian di kamar hotel ini, sementara Helmi tidak dapat pulang malam ini."
"Kamu ngak apa-apa kan, Layla?" tuan Pradana yang masih semakin terpaksa untuk berbohong pada putri kesayangannya.
"Ya udah, Pa. Ngak apa-apa, kalo Mas Helmi yang meminta, Layla akan ikut Papa." Layla yang akhirnya setuju akan ucapan tuan Pradana.
"Ya udah, sekarang kita ke rumah sakit yah, barang kamu ngak ada yang ketinggalan kan, Layla?" Tanya tuan Pradana yang menuntun Layla untuk melangkah meninggalkan ruangan hotel bintang lima tersebut.
__ADS_1
"Enggak, Pa." ucap Layla.
'tapi … kenapa perasaan ku seakan tidak enak seperti ini? Apa ini hanya firasat ku saja?!' batin Layla yang masih dilanda oleh kecemasan yang tak mau pergi dari pikirannya dan kecemasan itu semakin menjadi-jadi ketika langkah kaki semakin menjauh dari ruangan hotel yang menjadi saksi cinta itu nyata sudah hadir dalam rumah tangga Helmi dan Layla.
Tuan Pradana yang dapat merasakan jika putrinya begitu cemas walaupun Layla dan sekali tak menceritakan apapun pada tuan Pradana, yang namanya firasat orang tua pasti akan dapat mengetahui jika putrinya sedang memikirkan sesuatu yang begitu berat malam ini, kecemasan yang tak kunjung berhenti.
"Ada apa, Layla? Kenapa kamu kelihatan begitu cemas? Apa ada yang kamu pikirkan?" Tanya tuan Pradana yang masih menuntun Layla menuju ruangan parkir kawasan elit tersebut.
"Enggak kok, Pa. Layla cuman kangen Mama aja," balas Layla yang tak ingin papanya ikut merasakan kegelisahan yang tengah di rasakan oleh Layla.
"Kamu ngak lagi bohong sama Papa kan?" ucap tuan Pradana yang memastikan jika putrinya baik-baik saja.
"Enggak kok Pa, lagian … untuk apa juga Layla bohong sama Papa kan? Papa tenang aja yah, ngak usah cemas." ucap Layla yang mencoba meyakinkan papanya yang seakan dapat membaca pikiran Layla.
"Ya udah deh, Papa bakal percaya sama kamu yah. Tapi … kalo putri kesayangan Papa ini punya masalah, Papa siap kok gantiin posisi Helmi sebagai teman curhat Layla," ucap tuan Pradana yang membuat pipi Layla merona seketika.
"Ihhhh, Papa. Papa ejek Layla yah?" Layla yang cukup terhibur dan seakan tersenyum-senyum sendiri ketika mendengar ucapan dari tuan Pradana.
"Papa ngak lagi ngejek Layla kok, tapi … Papa dapat merasakan jika layla sudah begitu mencintai Helmi." ucap tuan Pradana yang membuat pipi Layla semakin merona bagaikan buah delima yang merekah indah.
"Buktinya aja, pas buka pintu Layla sempat-sempatnya bilang kangen sama Helmi, Layla udah lupa yah sama Papa?" ucapan canda yang diberikan oleh tuan Pradana pada Layla, tujuan tuan Pradana hanya tidak ingin jika putrinya bertanya macam-macam tentang Helmi nantinya.
"Ihh, Papa. Nanti Layla ngadu sama mama yah, kalo Papa masih ejek Layla." ucap Layla yang seakan menyembunyikan rasa bahagianya seorang diri.
"Bilang aja, Papa ngak bakal takut kok sama mama. Yang ada nih, mama juga bakal merona seperti Layla nantinya. Kan Layla sama mama cuman beda tipis, sebelas dua belas kelakuannya. Sama-sama ngak tahan di gombal."
"kalo mama ngak tahan dengar gombalan dari Papa, kalo Layla tuh ngak tahan dengar gombalan dari Helmi tersayang, bukan begitu Layla? Benar kan yang Papa ucapkan?!" Tuan Pradana yang masih berusaha agar Layla tak kembali menampilkan raut wajah cemas, walaupun tuan Pradana masih menduga jika hal yang tengah dicemaskan oleh putri kesayangan keluarga Pradana adalah tentang keberadaan Helmi.
"Ihhh, Papa." Layla yang tahan diberikan candaan oleh papanya sendiri yang memiliki kelakuan sama persis dengan Helmi.
Tapi … yang namanya perasaan seorang istri, ia pasti akan ada saja hal yang harus ia cemaskan, jika suami tercinta sedang tidak bersama dengan dirinya. Begitu juga yang tengah dihadapi oleh Layla, entah darimana perasaan cemas itu.
'kenapa sedari tadi perasaan ku semakin tidak enak seperti ini? Kenapa seakan hal buruk itu akan menimpa Mas Helmi? Apa ini semua hanya karena aku begitu ingin berada disamping Mas Helmi sekarang? Apa karena itulah aku begitu cemas jika Papa tadinya mengatakan jika Mas Helmi mungkin akan pulang terlambat besok.' batin Layla yang semakin dilanda oleh kecemasan yang seakan tak mau berhenti untuk ia pikirkan.
*****
Sementara itu, di tempat berbeda, di ruangan rawat inap tuan Andika. Kecemasan itu juga tidak mau hilang, seakan hal buruk memang nyata akan mendekati Helmi.
Entah ini hanya sebuah naluri dari seorang ayah kepada anaknya, membuat tuan Andika terlihat begitu gelisah. Terutama ketika mengingat kembali semua kejadian yang pernah terjadi di masa lalu, membuat dirinya begitu cemas akan keselamatan sang putra satu-satunya milik keluarga Andika.
Nyonya Melisa yang juga merasakan hal yang sama seperti yang tengah dirasakan oleh tuan Andika, sama-sama cemas akan keberadaan Helmi yang seakan ia tengah berada dalam hal yang begitu berbagai.
Terutama ketika mengingat pesan terakhir yang Helmi sampaikan pada Nyoya Melisa lewat sambungan telepon. Itu semua membuat kecemasan tersebut seakan semakin menjelma dalam hati seorang ibu.
"Mas, kenapa perasaanku jadi tidak enak seperti ini? Apa Helmi akan baik-baik saja?" ucap Nyonya Melisa yang mendekat pada ranjang tuan Andika yang juga tak kalah cemas akan keselamatan Helmi, yang seakan memberikan isyarat bahwa Helmi sedang mempertaruhkan nyawanya untuk sesuatu yang penting malam ini.
"Sabar dulu, sayang. Mungkin ini hanya firasat kamu saja. Helmi pasti akan baik-baik kok," tuan Andika yang mencoba menenangkan kondisi hati gelisah Nyonya Melisa yang begitu mencemaskan keberadaan Helmi sekarang.
"Tapi … Mas, entah kenapa perasaanku jadi tidak enak seperti ini? Aku hanya takut, Mas. Jika kejadian yang lalu itu kembali menimpa Helmi, aku hanya takut jika itu semua terjadi, Mas. Aku takut kehilangan Helmi, Mas." Nyonya Melisa yang lantas memeluk tuan Andika seakan rasa cemasnya akan berkurang jika sedang dalam dekapan suami tercinta.
"Kamu tenang yah, sayang. Kita berdoa saja, jika kejadian yang lalu itu tak kembali menimpa Helmi. Aku yakin, Helmi pasti akan dapat menyelesaikan masalah yang tengah ia hadapi sekarang."
"Kita berdoa saja, semoga hal baik masih berpihak pada Helmi." Tuan Andika yang masih berusaha menenangkan istri tercinta yang begitu mencemaskan keberadaan dan keselamatan Helmi.
Sembari memberikan kecupan manis di atas kerudung milik istri tercinta, lantas berucap,
" Sayang, jangan khawatir seperti ini. Jika kamu khawatir, aku akan lebih khawatir lag." Tuan Andika yang begitu teringat dengan kejadian yang terjadi di masa lalu, dimana kejadian awal Nyonya Melisa masuk rumah sakit.
Nyonya Melisa yang diagnosa mengidap penyakit lemah jantung, membuat tuan Andika harus ekstra hati-hati untuk membuat kondisi pikiran Nyonya Melisa tetap stabil.
"Iya, Mas." Ucap Nyonya Melisa yang semakin mempererat pelukannya pada suami tercinta, walaupun perasaan cemas itu tidak mau pergi dari pikiran Nyonya Melisa sendiri.
__ADS_1
'ya Allah hamba mohon bantuan Mu, Ya Allah. Lindungi lah putra hamba, jangan sampai berita buruk itu kembali hadir, Ya Allah.' batin Nyoya Melisa yang begitu menginginkan jika putranya dalam keadaan baik-baik saja.
*****
Sementara itu, Helmi dan Keano semakin dekat dengan maut yang mungkin saja akan terjadi beberapa saat lagi.
Persahabatan yang mulai akur kembali akibat penyelidikan yang kembali menyatukan mereka berdua, membuat Helmi dan Keano kembali layaknya seperti sahabat yang takkan dapat dipisahkan oleh apapun, apalagi hanya karena masalah penyelidikan.
Sekalipun penyelidikan itu akan terlalu berbahaya untuk dihadapi, tapi … bagi Helmi dan Keano, itu adalah santapan harian mereka ketika masih bergelut dalam dunia investigasi beberapa tahun yang lalu.
Flashback ...
wajah wanita itu pun semakin pucat, karena ruangan 21 mendekat ke arah ruangan tempat para mayat, ia berhenti tepat di depan ruangan yang bernomor 21, yang tidak lain adalah kamar mayat
Wanita itu begitu berusaha menahan air mata nya dan berusaha menegarkan hati nya.
"Yang di dalam pasti bukan dia! Pasti dia tidak akan ada di dalam ruangan itu!' batin wanita yang semakin dekat dalam ruangan mayat,
Ia masih berharap jika Detektif muda tersebut baik-baik saja, walaupun kemungkinan nya hanya sedikit. jika sudah berada di ruang mayat, maka sudah pasti takdir buruk itu memang nyata akan semakin menyelimuti.
Ia semakin melangkahkan kakinya ke dalam ruangan dan mendapatkan seorang yang tengah terbaring di atas ranjang dengan wajah yang di tutupi oleh kain berwarna putih. Wanita itu mendekat dan tangis pun pecah
"hikk hikkkkk hikkkkk!"
"Enggak, enggak mungkin! Lo jahat sama gue, kenapa lo ninggalin gue seperti ini! Lo udah janji ngak bakal ninggalin gue! Tapi … ini apa!"
"Lo ngak tepati janji lo sama gue! Lo pembohong! Lo pembohong!" Wanita itu memeluk erat tubuh yang di tutupi dengan kain putih bertuliskan nama ( Helmi ).
ketika itu lah pintu ruang jenazah terbuka dan seseorang berucap
"Lo lagi ngapain?!" suara yg begitu di kenali oleh wanita yang tengah meratapi mayat yang bertuliskan nama Helmi
"Helmi!" ucap kaget wanita tersebut yang melihat jika Helmi masih sehat, bahkan terlihat tidak terjadi luka.
"jika itu lo … ini siapa dong?!" Ucap wanita yang menatap lekat pada seorang tubuh yang sudah kaku tersebut.
"Itu mayat yang baru kami pindahan ke sini, saya pikir si mbak nya keluarga korban. makanya saya biarkan dari tadi
" ucap perawat rumah sakit yang kemudian keluar dari ruang jenazah.
Helmi yang dapat merasakan jika wanita yang begitu ia cintai sangat mencemaskan dirinya, lantas berucap.
"Maaf, jika gue bikin lo cemas seperti ini." ucapan yang pertama kali Helmi ucapkan.
"Lo ke mana aja! Kenapa lo ngak ada kabar berhari-hari! Gue bingung harus cari lo kemana lagi! Apalagi ponsel gue hilang! Gue ngak bisa hubungi Lo! Gue takut lo kenapa-napa"
"Eh, Lo malah baik-baik aja." ucap sinis melihat kondisi Helmi yang tidak terluka sedikitpun. Ia malah berpikir jika Helmi di rawat di rumah sakit, karena lokasi yang di berikan oleh khan adalah ruangan rumah sakit.
*****
"Ohh soal itu, gue minta maaf, Lo tau kan kalo gue nih detektif. Jadi banyak kasus-kasus di luar sana yang harus gue selesaikan." penjelasan dari Helmi semakin membuat hal yang begitu wanita tersebut simpan selama ini,. sudah tak bisa ia tahan lagi.
Ia begitu takut akan benar-benar kehilangan Helmi dari hidupnya.
*****
"Apakah wanita tersebut adalah Layla dimasa lalu Helmi? Dan apa yang akan terjadi pada Helmi dan Keano yang tengah mempertaruhkan nyawa nya demi nyawa banyak orang nantinya? Apa Helmi dan Keano akan baik-baik saja? Ataukah masa lalu itu akan kembali menjelma dan membuat takdir buruk itu kembali hadir?!"
Nantikan jawaban dari pertanyaan yang begitu menegangkan di part ini, di episode berikutnya!
Stay tune!.
__ADS_1