Menjadi Yang Kedua: Gadis Belia Untuk Om Duda

Menjadi Yang Kedua: Gadis Belia Untuk Om Duda
hamil.


__ADS_3

Helmi dan Keano sudah berada kembali di ruang lingkup rumah sakit tempat mereka berdua dirawat.


"Baiklah, Keano. Kita sudahi dulu obralan kita pada hari ini, nanti kita lanjutkan. Saya permisi." ucap Helmi yang ingin segera melangkah kembali menuju ke ruangan tempat Layla menuju dirinya sekarang.


"Baiklah, Helmi. Saya tunggu pertemuan kita berikutnya." balas Keano yang memberikan satu hal pada Helmi.


"Ini?!" ucap Helmi menatap lekat pada benda yang diberikan oleh Keano pada dirinya.


"Nanti saja kamu lihat, Helmi. Saya juga harus kembali ke ruangan saya sekarang." ucap Keano yang juga ingin mengistirahatkan tubuh nya yang sudah mulai kembali letih.


"Baiklah, Jika begitu saya pamit dahulu. Saya permisi." ucap Helmi yang melihat seorang yang begitu familiar dalam lingkungan Keano akan menghampiri Keano.


"Keano, sepertinya junior kamu sudah datang." ucap Helmi yang segera melangkah meninggalkan Keano.


Keano pun segera menatap pada ucapan Helmi dan benar saja seniornya sudah berada di ruangan yang sama dengan dirinya.


"Morgan! Bagaimana dia bisa tahu tentang keberadaan saya?!" ucap Keano yang tidak menyangka jika juniornya tersebut dapat menemui keberadaan dirinya saat ini.


"Kenapa dia bisa tahu bahwa saya sedang dirawat di rumah sakit ini sekarang?! Bukannya tidak ada satupun yang mengetahui kondisi saya sekarang. Darimana Morgan mendapatkan informasi tentang keberadaan saya?!" gumam Keano yang berjalan melangkah mendekat pada Morgan yang juga semakin dekat pada dirinya.


"Morgan, kenapa kamu bisa ada disini?! Apa ada tugas yang mengharuskan kamu berada di rumah sakit ini?" tanya Keano yang tidak ingin orang lain mengetahui tentang siapa dirinya sebenarnya termasuk Dokter Morgan yang merupakan senior yang seperti adik kandung nya sendiri.


"Iya, Senior. Saya memang sedang ditugaskan di rumah sakit ini karena saya tadinya mengantarkan seorang pasien tabrak lari dan saya tidak sengaja bertemu dengan Senior di rumah sakit ini."


"Kenapa Senior menghilang kabar selama berhari-hari?! Para dokter di rumah sakit begitu khawatir akan keselamatan Dokter."


"Apa Dokter tidak apa-apa sekarang?! Apa Dokter melakukan transfusi darah di rumah sakit ini?!" tanya Morgan yang begitu Khawatir ketika melihat bekas suntikan yang diterima oleh seniornya tersebut.


"Ya, saya memang sedang melakukan transfusi darah di rumah sakit ini, Morgan. Oleh sebab itulah saya tidak bisa memberitahukan siapapun tentang keberadaan saya beberapa hari yang lalu." ucap Keano pada junior nya tersebut.


"Apa?! Senior melakukan transfusi darah?! Apa Senior mengalami kecelakaan atau ada hal telah terjadi pada senior?!" ucap panik Dokter Morgan pada ucapan yang baru saja ia dengar dari senior nya.


"Kamu tenang saja, Morgan. Saya tidak apa-apa, apa kamu tidak dapat melihat bahwa saya baik-baik saja."


"Lagian saya tidak mengalami kecelakaan apapun saya hanya melakukan transfusi darah di rumah sakit ini karena ada pasien yang membutuhkan golongan darah saya." ucap Keano yang terpaksa berbohong pada juniornya tersebut.


"Oh, syukurlah senior. Anda baik-baik saja." ucap Dokter Morgan yang begitu lega bahwa seniornya tidak apa-apa.

__ADS_1


"Jika begitu mari saya antarkan Anda ke ruangan." ucap Morgan pada Dokter Keano.


"Yah, mari." saut Keano pada ajakan junior nya tersebut.


'maafkan saya Morgan. Saya terpaksa berbohong pada Anda, saya hanya tidak ingin terlalu banyak orang yang tidak berdosa harus terlibat dalam urusan yang begitu berbahaya seperti ini. Termasuk Anda! Anda sudah saya anggap seperti adik kandung saya sendiri, tidak mungkin saya mengajak Anda menantang maut seperti ini.' batin Keano yang sebenarnya begitu tidak enak hati akan ucapan yang terpaksa berbohong pada junior yang sudah ia anggap seperti adik kandung sendiri.


Tapi … mau bagaimana lagi hanya ini satu-satunya cara yang bisa Keano lakukan agar tidak ada lagi warga sipil lainnya yang ikut terlibat dan menjadi korban berikutnya.


Keano dan junior nya pun kembali ke ruangan inap Keano, di tengah perjalanan Keano menanyakan satu hal pada Dokter Morgan.


"Morgan, saya ingin bertanya satu hal pada Anda. Apakah boleh?!" ucap Keano yang memang sudah terbiasa harus meminta izin terlebih dahulu pada orang lain sebelum bertanya.


"Ya, silahkan. Memangnya senior mau bertanya apa pada saya?" tanya balik Dokter Morgan pada Keano.


"Saya ingin menanyakan selama saya tidak berada di rumah sakit, apakah kedua orang tua saya sering berkunjung ke ruangan saya, Morgan?" tanya Keano.


"Hmmm, saya tidak pernah melihat orang tua Senior berada di rumah sakit beberapa hari ini. Tapi … hanya ada satu wanita yang begitu sering bolak-balik ke ruangan senior tapi para petugas rumah sakit menghalangi wanita tersebut." ucap Dokter Morgan pada pertanyaan yang diajukan oleh Keano pada dirinya.


"Wanita?! Siapa dia?! Kenapa dia berani menerobos ke ruangan pribadi saya?!" tanya Keano setelah mendengarkan sendiri ucapan dari junior nya tersebut.


"Saya tidak tahu senior siapa wanita tersebut, tapi dirinya mengaku adalah tunangan Anda dan diperintahkan oleh mama Anda senior."


"Huhhhhh, syukurlah jika begitu." ucap Keano yang lega bahwa wanita yang sudah dapat ditebak adalah tunangan dari kedua orang tuanya tidak dapat masuk ke ruangan pribadi miliknya.


'syukur lah wanita itu tidak dapat masuk ke ruangan pribadi saya, jika dia berani menerobos kedalam bisa-bisa Layla akan kembali dalam masalah. Terutama jika wanita itu membeberkan semuanya pada Mama dan Papa bisa-bisa hancur semuanya.' batin Keano yang begitu lega bahwa wanita yang dijodohkan dengan dirinya tidak dapat menerobos masuk ke dalam ruangan pribadi miliknya.


*****


Sementara itu, Helmi juga sedang melangkah menuju ke ruangan tempat ia dirawat bertemu dengan Layla adalah prioritas utama nya sekarang.


Tapi di tengah perjalanan, hari Helmi kembali terisak ketika melihat sepasang suami istri tengah bermain bersama di taman bermain dengan kondisi sang istri yang sedang hamil dan sang suami yang begitu setia menemani sang istri.


Ketika itulah hari Helmi seakan meratapi nasibnya yang sebentar lagi akan meninggalkan Layla demi membuktikan bahwa dirinya adalah lelaki yang sudah mencintai Layla seutuhnya dan sudah menerima Layla sebagai istri yang begitu ia cintai dan sayangi.


'ahhh, seandainya aku tidak terlibat dalam masalah ini. Pasti diriku dan Layla akan mesra seperti pasangan Serasi tersebut.'


'ya Rabb, berikan lah aku sedikit waktu untuk bisa bersama dengan Layla sebelum diriku benar-benar meninggalkan Layla untuk sementara. Izinkan aku dan Layla saling jatuh cinta di waktu yang sudah begitu tepat untuk kami saling memadu cinta, ya Rabb.' Batin Helmi yang segera melangkah kembali menuju ke ruangan tempat dirinya di rawat.

__ADS_1


Helmi sudah berada di depan pintu ruangan tempat dirinya di rawat, Helmi menarik nafas dalam-dalam sebelum membuka pintu tersebut.


'ahhh, sudah saatnya ini akan menjadi pertemuan terakhir kita, Layla. Aku harap kamu masih menyimpan rasa cinta untuk diriku seorang nantinya.' Batin Helmi yang tidak dapat dipungkiri mungkin saja ketika dirinya tidak berada di samping Layla dan semakin jauh dengan Layla ketika itulah Layla akan jatuh cinta pada Keano yang Helmi minta untuk menjaga Layla ketika dirinya pergi berjuang bertukar nyawa demi keselamatan Layla.


Helmi pun segera membuka gagang pintu tersebut dan dengan langkah yang sebenarnya tidak rela jika harus meninggalkan Layla dengan Keano nantinya, tapi mau bagaimana lagi hanya Keano yang dapat memastikan Layla baik-baik saja ketika dirinya pergi.


"Layla." ucap Helmi dengan nada yang begitu pelan.


Helmi sama sekali tidak menemukan Layla di ruangan utama dirinya hanya menemukan si mbok yang baru saja keluar dari kamar kecil.


"Den Helmi sudah pulang?" tanya si mbok yang ketika melihat Helmi mendekat pada dirinya.


"Mbok, Layla dimana?" tanya Helmi pada si Mbok.


"Nyonya Layla sedang di kamar mandi, Den Helmi." ucap si mbok dengan tersenyum-senyum sendiri.


"Kenapa mbok tersenyum seperti itu pada Helmi? Ada apa dengan Layla, Mbok?" ucap Helmi memasangkan raut wajah heran.


"Den Helmi gak perlu khawatir seperti itu, Nyonya Layla tidak apa-apa kok, Den Helmi." ucap si mbok yang masih senyum-senyum sendiri yang membuat raut wajah heran Helmi semakin menjadi-jadi.


"Jika begitu kenapa mbok tersenyum seakan ada maksud seperti ini?" tanya Helmi pada si mbok yang masih tersenyum-senyum sendiri.


"Selamat yah Den Helmi, sebentar lagi Den Helmi bakal menjadi seorang ayah." ucap si mbok yang membuat raut wajah Helmi seketika begitu terkejut mendengar ucapan dari si mbok.


"Hamil! Layla hamil, Mbok?!" tanya Helmi pada si mbok.


"Iya, Den Helmi. Nyonya Layla sedang hamil." Balas si mbok.


Bukannya senang mendengar kabar bahwa Layla sedang mengandung anak dari dirinya, Helmi begitu semakin khawatir dan semakin berat untuk meninggalkan Layla nantinya.


'ya Rabb, hamba begitu senang ketika mendengar kabar bahwa istri hamba sedang Engkau titipkan seorang janin dalam dirinya. Tapi … kenapa harus sekarang?! Kenapa dalam keadaan terdesak seperti ini. Mana mungkin hamba bisa menemani istri hamba yang sedang hamil nantinya, ya rabb.'


'hamba harus melewati banyak rintangan yang Engkau uji pada hamba Mu yang lemah ini, hamba hanya memohon satu hal padamu ya Rabb mohon jaga dan lindungi Layla dan calon bayi hamba, ya Rabb. Hanya itu yang hamba mohonkan padamu, Ya rabb.' batin Helmi yang semakin merasa berat jika harus meninggalkan Layla yang sedang mengandung anak pertama mereka.


Apakah Helmi akan sanggup meninggalkan Layla yang sedang hamil anak pertama mereka?


Author sudah updated episode terbaru, sok diberi tanda jempol dan kasih VOTE nya buat episode hari ini.

__ADS_1


Nantikan episode berikutnya!


__ADS_2