
'ternyata bukan Layla yang begitu aku inginkan, aku tahu itu semua akan begitu mustahil terjadi dalam diriku ini, tapi … aku juga hanya seorang manusia biasa, aku juga butuh kata cinta, kata yang begitu didambakan oleh umat manusia.'
*****
"Senior! Sadar senior! Bukan seperti ini caranya!" Morgan yang berusaha menyadarkan kembali pikiran kosong yang tengah di alami oleh senior nya sendiri
Keano hanya menatap kosong, tak sedikit pun mendengar ucapan dari Morgan, ia justru malah mengeluarkan kata-kata yang membuat Morgan justru semakin khawatir akan kesehatan mental dokter Keano
"Layla …" ucap Keano sembari tersenyum kecil, seakan sosok layla yang begitu ia dambakan telah hadir tepat di depan nya sekarang
'Layla?!' batin Morgan yang ikut menatap pada tatapan kosong dari senior nya tersebut
'apa dokter Keano begitu mencintai wanita yang bernama Layla itu? Kenapa harus separah ini? Kenapa senior begitu mendambakan wanita itu? Siapa dia sebenarnya?' batin Morgan ketika melihat senior nya seakan sudah hampir mendekati gila dalam jatuh cinta.
*****
Morgan yang tak ingin senior nya berlama-lama di dekat jembatan yang mungkin bisa saja memanggil nya kembali untuk melenyapkan nyawa sendiri
"Ayo Senior kita pergi dari sini." Morgan yang berusaha menopang tubuh seniornya mendekat ke mobilnya yang terparkir di belakang mobil Keano
Keano hanya diam ketika Morgan bertanya, mengajak dirinya agar mau berbicara
'kenapa Senior hanya diam saja? Apa yang sebenarnya telah terjadi? Apa ini semua masih ada sangkutan dengan gadis yang bernama Layla itu?'
'gue harus berusaha mencari tahu tentang gadis tersebut! Siapa dia sebenarnya? Kenapa Senior begitu gila dibuatnya!' batin Keano ketika sudah menopang tubuh seniornya ke dalam mobil.
******
Ketika dokter Morgan masih berada di luar mobil, ia segera meraih ponselnya dan segera menekan nomor yang bertuliskan ( Dokter Olga)
Panggilan pertama langsung masuk ke nomor yang dituju, Dokter Morgan yang tak mau melewati kesempatan yang bisa saja terganggu akan jadwal panjang dari dokter bedah nomor dua di rumah sakit kawasan elit tersebut
📱Halo Dokter Olga, ini saya, Morgan. Saya ingin meminta bantuan anda, apa anda bisa pergi ke ruangan pribadi Dokter Keano? (Morgan)
📱 Maaf Morgan, untuk masuk ke ruangan pribadi Dokter Keano, saya harus memiliki izin terlebih dahulu." (Olga)
📱 Tidak perlu meminta izin Dokter Olga, senior sedang bersama saya. Tapi … kondisi nya begitu buruk untuk saat ini." (Morgan)
📱 Maksud anda apa? Ada apa dengan Dokter Keano? Apa Dokter Keano mengalami kecelakaan?" (Olga)
📱 Tidak, Senior tidak kecelakaan, hanya saja terlalu sulit untuk diceritakan sekarang. Apa anda bisa melacak wanita yang bernama Layla di ruangan pribadi Dokter Keano?" ( Morgan)
📱Layla? Rasanya saya pernah melihat fotonya di ruangan kerjanya Dokter Keano, saya akan segera kesana." ( Olga)
📱 Baiklah, terimakasih. Saya tunggu kabar baiknya, Dokter." ( Morgan)
Dokter Morgan segera menutup telepon dan segera melangkah masuk ke dalam mobil pribadi nya
'gue harus cari tahu secepatnya tentang wanita yang bernama Layla itu! Gue gak bisa lihat Senior semakin menderita seperti ini!'
*****
Ketika Dokter Morgan telah berada di dalam mobilnya, ia mendapati seniornya sedang menangis tersedu-sedu, seakan ia sudah kembali sadar dari lamunan setan yang sudah terjadi dan membuat sang dokter bedah nomor satu di Indonesia itu ingin melenyapkan nyawa nya sendiri
"Senior, apa senior sudah sadar kembali?" Tanya Morgan
"Maaf, jika saya sudah bertindak gegabah seperti ini. Saya memang pria yang tidak berguna sama sekali!" Ucap Keano yang berusaha menghapus air mata yang sudah terlanjur terkucur tak mau bersabar
"Tidak apa-apa Senior, saya bisa memaklumi perasaan yang tengah Anda alami." Ucap Morgan yang kembali menancapkan mobil nya semakin menjauh dari jembatan itu.
*****
Sementara itu, Helmi sedang berada di luar untuk membelikan Layla bakso seperti yang ia minta dengan membawa sekantong kresek hitam penuh dengan pembalut untuk Layla
Dengan hati penuh gembira, Helmi menelusuri malam dingin ini dengan perasaan tak sabar untuk segera sampai kembali ke hotel
"Tinggal beliin bakso aja, habis itu pulang." Ucap Helmi yang melihat ada gerobak tukang bakso yang terparkir tak jauh dari minimarket hotel tempatnya belanja
'Aku beli satu apa dua mangkok yah?' batin Helmi ketika semakin dekat dengan gerobak bakso tersebut
'sepertinya satu mangkok aja cukup deh, biar romantis gitu ….' batin Helmi yang semakin riang gembira membayangkan malam romantis akan terjadi di rumah tangga Helmi dan Layla
"Pak, bakso nya seporsi di bungkus yah." Pesan Helmi pada tukang bakso
"Baik dek, tunggu sebentar yah." Balas tukang bakso yang masih menyiapkan berapa pesanan dari pelanggan yang kebanyakan seorang ibu-ibu.
*****
Yang namanya emak-emak rempong pasti banyak banget pertanyaan yang akan diajukan, tak terkecuali juga pada Helmi yang tengah membawa sekantong kresek hitam penuh pembalut
"Hmmmm, Dek. Mau jualan itu yah?" Tanya seorang emak memakai jilbab hijau
"Oh enggak buk, ini untuk istri saya." Balas Helmi
"Kok belinya banyak amat sih, mau nyetok setahun yah?" Timpal emak-emak lainnya
"Iya, biar gak kehabisan stok entar di minimarket nya."balas Helmi dengan cukup judes pada pertanyaan yang diajukan oleh emak-emak komplek tersebut
__ADS_1
'dasar emak-emak Indonesia! Bisanya cuman ngurusin hidup orang lain aja!' batin Helmi yang cukup kesal pada sikap emak-emak yang ia temui di gerobak tukang bakso.
******
Tukang bakso yang melihat Helmi, dengan tersenyum tipis seraya berucap yang dapat membuat pipinya Helmi merona secara tiba-tiba
"Itu untuk istri muda nya yah, Pak?" Tanya tukang bakso yang sedang meracik bakso pesanan Helmi
Helmi hanya memberikan selintas senyum manis ketika tukang bakso itu masih meracik bakso pesanan Helmi
"Untung tuh emak-emak udah pergi, lebih baik nanya nya sama tukang bakso ini aja.' batin Helmi yang ingin menanyakan sesuatu yang masih belum bisa ia mengerti tentang perempuan ( datang bulan).
" Hmmm, Pak. Apa saya boleh bertanya sesuatu sama bapak?" Tanya Helmi seakan masih malu untuk bertanya
"Iya, mau tanya apa, dek, Silahkan," tukang bakso yang mempersilahkan Helmi untuk bertanya
"Jadi gini … istri saya sedang datang bulan di hari pertama, dan katanya perutnya akan selalu kontraksi ketika haid pertama nya Pak. Apa bapak ada solusi untuk mengurangi rasa nyeri haid untuk istri saya, Pak?" Tanya Helmi yang mengingat kembali dimana badan Layla begitu menggigil.
"Selalu kontraksi yah? Apa cuman di hari pertama aja?" Tanya Abang tukang bakso yang masih meracik pesanan Helmi
"Iya sih pak, kata istri aku sih gitu."
"Aku udah coba ajak dia ke rumah sakit, tapi … katanya ngak usah aja, cuman butuh istirahat aja kok, ini normal bagi dia, gitu pak."
"Apalagi istri saya nih sedikit susah minum obat dari rumah sakit. Apa ada yah obat tradisional yang untuk ngilangin nyeri haid untuk istri saya?" Tanya Helmi yang hanya mau memberikan obat herbal untuk Layla
"Sebenarnya sih banyak obat alami yang untuk ngilangin nyeri dek, coba aja di kasih perasan daun pepaya muda sama istri nya Adik. Setahu saya kata orang dulu-dulu meminum air perasan daun pepaya muda dapat ngilangin rasa nyeri di haid pertama, istri saya juga gitu soalnya Dek, cuman bermasalah di hari pertama aja." Usul Abang tukang bakso yang sudah selesai meracik bakso pesanan Helmi dan segera memberikan pesanan tersebut pada Helmi
"Ini Dek, totalnya 15 ribu." Ucap tukang bakso
"Oh iya Pak, ini uangnya." Balas Helmi yang memberikan uang lembaran 20 ribu.
*****
Masih tentang resep herbal alami untuk mengurangi nyeri haid di hari pertama
"Apa kasih air perasan daun pepaya tuh manjur, Pak?" Tanya Helmi yang ingin mencoba meracik air perasan itu untuk Layla nantinya
"Manjur sih dek, tergantung orang yang minumnya sih. Emang kalo air perasan daun pepaya muda tuh emang sedikit pahit, tapi … kalo di istrinya Abang cukup baik di perut nya istri." Ucap tukang bakso pada Helmi
"Kalo istri nya Adik nanti gak suka minum air perasan daun pepaya muda itu, coba dikasih minum jamu yang mengurangi haid." Usul tambahan tukang bakso yang segera memberikan kembalian uang yang Helmi
"Emang nya ada jamu penghilang nyeri haid bang?" Tanya Helmi yang cukup khawatir jika harus selalu memberikan jamu untuk Layla
"Ada dek, jika gak mau kasih yang kemasan sachet, bisa kasih yang buatan sendiri. Nanti minta aja jamu kunyit, cuman 5 RB tuh udah dapat satu gelas penuh. Dan rasanya pun gak bakal sepahit air perasan daun pepaya muda dan gak bakal ada efek samping untuk istri Adik nantinya." Usul tukang bakso
"Ada Dek, nanti cuman tinggal belok aja di persimpangan situ, nanti pasti ketemu satu ruko yang menjual jamu tradisional, di jamin original kok Dek. Tenang aja, soalnya Bapak juga sering minum jamu disana." Tukang bakso yang mencoba meyakinkan Helmi yang masih kelihatan ragu
"Oh, baik Pak, makasih atas usulan nya Pak. Saya permisi duluan." Ucap Helmi yang ingin segera menuju ke tempat ruko tukang jamu yang direkomendasikan oleh tukang bakso yang baru saja ia kunjungi
"Yah, baik Dek, semoga istri nya Adek bisa sesuai minum jamunya." Ucap tukang bakso dengan begitu ramah pada Helmi
"Semoga Pak" ucap Helmi yang kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ke arah mobil nya yang tengah terparkir.
*****
Di perjalanan dengan mobil untuk menuju tempat yang menjadi rute selanjutnya bagi Helmi, ia bergumam
'pembalut udah, bakso pesanan Layla juga udah, cuman tinggal beliin Layla jamu yang semoga saja bisa mengurangi rasa haidnya Layla nanti. Semoga aja Layla mau minum jamu itu nantinya' Helmi yang mempercepat laju kendaraannya seakan tak sabar untuk segera bertemu dengan Layla yang baru ia tinggal 10 menit
Tak perlu waktu lama, Helmi tiba di ruko penjual jamu itu hanya memerlukan waktu 2 menit, ia segera turun dan langsung menuju ke tempat ruko yang cukup ramai walaupun sudah malam hari
"Mau pesan apa, Dek?" Tanya ibu lansia yang seperti nya adalah pemilik ruko jamu tradisional tersebut
"Buk, apa disini jual jamu kunyit?" Tanya Helmi
"Ada Dek, mau berapa?" Tanya ibu lansia tersebut
"Lima ribu aja, buk. Saya pesan satu bungkus yah." Pesanan Helmi pada ibu lansia penjual jamu tradisional rekomendasi oleh tukang bakso
"Baik Dek, tunggu sebentar yah, ibu racik dulu jamunya." Ucap ibu lansia penjual jamu tradisional
"Baik, Buk. Apa saya boleh melihat bagaimana cara meracik jamunya?" Tanya Helmi yang ingin memastikan ke higienis dan originil jamu yang akan ia belikan untuk Layla
"Boleh, silahkan ikut ke dalam Dek." Ibu lansia yang mempersilahkan Helmi untuk melihat bagaimana cara meracik jamu tradisional untuk Layla
"Terima kasih, Bu." Helmi yang mengikuti ibu lansia menuju tempat biasa ia meracik jamu pelanggan.
*****
Sementara itu, di ruangan inap tuan Andika di rumah sakit milik keluarga vermando. Dua keluarga besar nampaknya tengah mengobrol hingga larut malam
"Alhamdulillah yah, Mel. Helmi sama Layla udah romantis banget, jujur aku takut banget jika mereka berdua tuh butuh waktu lama untuk saling mengenal, karena status dijodohkan oleh kita." Ucap Nyonya Nami pada Nyonya Melisa yang duduk disampingnya
"Iy, Mi. Aku juga begitu senang ketika melihat Helmi begitu memperlakukan Layla dengan begitu baik dan begitu romantis." Timpal Nyonya Melisa
"Oh yah, aku penasaran banget loh, sedang apa yah mereka berdua sekarang ini?" Ucap Nyonya Melisa dengan menahan rasa bahagia akan perubahan sikap Helmi
__ADS_1
"Huss, Mama ngomong apaan sih. Itu mah urusan pengantin baru, ngapain juga ikut campur coba." Tuan Andika yang juga ikut ngobrol karena kesehatan nya yang sudah mulai membaik
"Iya nih, Dika. Malah ngurusin pengantin baru, mau ngapain juga udah berkah kok, kayak gak pernah aja jadi pengantin baru." Timpal tuan Pradana yang telah selesai mengecek keuangan perusahaan keluarga Pradana.
*****
Usulan Helmi yang segera diangkat sebagai CEO perusahaan
"Hmmmm, karena kita semua sedang ngumpul seperti ini. Sebenarnya saya ada usulan untuk Helmi." Ucap tuan Andika yang merasa waktu nya begitu pas untuk membincangkan nasib rumah tangga Helmi dan Layla
"Mau bicara apa, Dika? Mau membicarakan tentang Helmi yang segera diangkat menjadi CEO perusahaan?" Dugaan dari tuan Pradana yang sebelumnya sudah pernah berkompromi untuk mengangkat Helmi sebagai CEO dua perusahaan besar setelah Helmi menikah dengan Layla.
*****
Flashback …
Satu Minggu sebelum usulan perjodohan antara Helmi dan Layla
Tuan Andika begitu pusing akan ulah putranya yang telah gagal untuk berumah tangga seperti yang diharapkan oleh tuan Andika
"Ada apa, Dika? Kok tuh muka di kecut segala?" Tanya tuan Pradana yang menyeruput kopi hangat di sebuah kafe terkenal di kota
"Huhhhh" menghela nafas panjang
"Aku bingung banget sama kelakuan Helmi, sudah dicariin jodoh yang pas untuk dia, tapi malah nggak bertahan lama. Bingung banget kan, malahan kamu tahu kan kalo aku nih udah makin tua. Jika gak ada yang nerusin perusahaan, ke siapa lagi coba! Malah Helmi tuh anak satu-satunya, mau diserahkan ke orang lain, takutnya kan gak amanah gitu, apalagi kalo untuk pangkat seorang CEO mana bisa serahkan ke orang lain, kalo anak sendiri aja ada." Tuan Andika yang curhat masalah putra nya pada sahabat lama yang bernama tuan Pradana yang juga seorang pemilik perusahaan mebel terkenal
"Sabar aja kali, namanya juga anak muda, perlu ngerasain asam pahit kehidupan dulu, baru bakal mengerti maksudnya kamu. Toh untuk masalah pernikahan, berarti bukan jodoh kan, gak usah diambil pusing."
"Lebih baik kamu serahkan saja urusan pasangan itu sama anak kamu sendiri, biar rumah tangga dia juga awet nantinya." Usul tuan Pradana akan masalah tuan Andika
"Huhhhh"
"Mau serahkan ke dia masalah pasangan! Bisa-bisanya hancur semua usaha yang sudah aku bangun dari nol ini!" Ucap tuan Andika yang segera menyeruput kopi hangat miliknya.
"Maksud kamu apa? Apa anak kamu udah ngenalin calon nya sama kamu dan Melisa? Terus gimana? kamu terima apa kamu tolak?" Tanya tuan Pradana yang dapat melihat dari raut wajah tuan Andika
"Udah sih, anak aku tuh udah pernah bawa perempuan ke rumah, tapi … langsung aku tolak mentah-mentah waktu itu." Ucap tuan Andika yang membuat raut wajah tuan Pradana justru merasa begitu aneh dan heran akan perihal kenapa tuan Andika tak menerima calon menantu yang sudah dipilih oleh Helmi.
"Kenapa langsung ditolak sih Dika? Kenapa gak ditelusuri dulu wanita pilihan anak kamu?" Tanya Pradana yang ingin mendengar alasan dari tuan Andika yang langsung menolak wanita pilihan Helmi waktu itu.
"Gak perlu ditelusuri kok! Udah ketauan gimana kelakuan nya dari awal. Mana ada coba lelaki dan perempuan yang bukan muhrim berpelukan seperti itu! Apalagi pas pertama kali bertemu dengan calon mertuanya. Dimana sopan santunnya coba!"
"Yah Jelas aku tolak mentah-mentah lah waktu itu! Belum nikah aja kelakuan nya udah kurang ajar gitu! Gimana kalo udah nikah sama anak aku! Bisa-bisa aku sama istri ku gak dianggap lagi sama mereka berdua!"
"Kamu sendiri kan tahu gimana sifat nya aku, aku tuh maunya semua yang terbaik untuk Helmi, masa iya pilihan dia pasangan yang tidak beretika seperti itu!" Ucap tuan Andika yang menceritakan semuanya pada tuan Pradana yang menjadi teman curhat cowok yang paling dapat dipercaya oleh tuan Andika selama ini.
******
Selain awal usulan Helmi yang akan diangkat sebagai CEO perusahaan di sinilah awal perbincangan perjodohan antara Helmi dan Layla
"Hmmmm, sebenarnya saya memiliki satu usulan untuk masalah kamu Dika, dan kebetulan masalah kita akarnya sama." Ucap tuan Pradana yang ingin mengusulkan perjodohan antara Helmi dan Layla
"Usulan? Kamu punya usulan terbaik seperti apa untuk masalah saya?" Tanya tanya tuan Andika yang menantikan usulan terbaik dari sahabat lamanya tersebut, yang memang paling handal untuk memberikan masukan apalagi usulan-usulan yang paling bisa dilakukan dan paling mempan untuk semua masalah yang dihadapi oleh tuan Andika selama ini.
"Jadi gini, kamu kan tahu kalau perusahaan ku juga tidak ada penerus selain putri yang kuangkat waktu itu. Kan tidak mungkin yang akan menjadi seorang CEO perusahaan adalah seorang wanita, walaupun aku tahu kemampuan dari putri angkat ku tersebut."
"Dia memang begitu cocok untuk diangkat menjadi seorang CEO perusahaan, tapi … sudah pasti harus memiliki seorang suami yang juga bisa membantu nya nanti."
"Aku juga memiliki prinsip yang sama seperti kamu, Dika. Tidak mungkin akan menyerahkan posisi sebagai seorang CEO pada orang lain, takutnya kan nanti orang tersebut tidak amanah karena bukan dari keluarga kita sendiri."
"Bagaimana … jika kita jodohkan putri dan putra kita, agar kita bisa memiliki penerus perusahaan kita berdua? Setelah sudah cukup waktu nya, kita angkat putra kamu sebagai CEO perusahaan milik kita berdua dan akan dibantu oleh putri ku yang begitu mengerti masalah saham." Usul dari tuan Pradana yang langsung disetujui oleh tuan Andika
"Yah, saya begitu setuju dengan usulan kamu, Prada. Apalagi saya juga ingin menimang cucu sebelum saya meninggal, semoga memiliki pewaris selanjutnya."
Dari sinilah awal perjodohan antara Helmi dan Layla diusulkan, wanita yang dimaksud anak angkat memang lah Layla, karena tuan Pradana dan nyonya Nami tidak bisa memiliki keturunan karena masalah operasi yang pernah dilakukan oleh Nyonya Nami, yang mengharuskan pengangkatan rahim agar dapat menyelamatkan nyawa Nyoya Nami waktu itu
Dan untunglah, takdir Tuhan masih baik pada keluarga Pradana, tuan Pradana dan nyonya Nami dipertemukan dengan gadis muda yang begitu ayu wajahnya untuk dipandang, begitu mandiri layaknya seperti seorang lelaki, begitu bijak layaknya orang yang sudah begitu memakan pahit manisnya kehidupan, wanita tersebut adalah Layla, anak angkat yang sudah dianggap oleh tuan Pradana dan Nyonya Nami seperti anak sendiri, karena keuletan dan kesopanan Layla pada mereka berdua
Maka tak jarang, jika banyak lamaran dari lelaki kaya yang ingin segera mempersunting Layla sebagai seorang istri, tapi … sayangnya lamaran tersebut ditolak oleh Layla dengan alasan ia masih fokus untuk kuliah dan tidak mau mengganggu pekerjaan yang sedang diamanahkan oleh tuan Pradana waktu itu.
*****
Flash on …
Masih tentang usulan Helmi yang segera diangkat sebagai CEO dua perusahaan besar sekaligus dengan Layla yang akan membantu Helmi untuk urusan finansial perusahaan nantinya
"Papa, jadi usulin Helmi jadi CEO perusahaan sekarang? Apa tidak terlalu cepat, Pah. Gimana kalo Helmi langsung menolak seperti tahun lalu?" Ucap Nyonya Melisa yang tak begitu yakin jika Helmi akan mau diangkat sebagai seorang CEO perusahaan
"Iya, Dika. Masalah ini begitu besar tanggung jawab nya, apalagi jika Helmi dan Layla itu masih terlalu kecil jika harus memimpin dua perusahaan besar sekaligus. Takutnya mereka berdua kewalahan nantinya, karena belum terbiasa harus memegang jabatan penting di dua perusahaan besar sekaligus." Nyonya Nami yang juga begitu setuju dengan ucapan dari Nyonya Melisa yang masih begitu ragu jika Helmi dan Layla akan mampu menjalankan dua perusahaan besar sekaligus.
"Tenang saja, kalian berdua tidak perlu khawatir tentang masalah ini, karena masalah ini sudah dari lama kami bicarakan sebelum terjadinya perjodohan antara Helmi dan Layla." Tuan Andika yang mencoba membuat Nyonya Melisa dan Nyonya Nami bisa mempercayai Helmi dan Layla nantinya yang akan segera diangkat sebagai CEO dua perusahaan besar milik keluarga
"Bagaimana menurut kamu, Prada? Apa waktu nya sudah pas jika kita serahkan urusan perusahaan pada Helmi dan Layla?" tanya tuan Andika
"Jika aku sih setuju-setuju saja, tergantung dengan mereka berdua, terutama Helmi, jangan sampai ada unsur paksaan dalam hati Helmi, karena dia adalah seorang pemimpin nantinya, Jangan sampai Helmi nanti membuat perusahaan kita amburadul karena dia yang sebenarnya tidak mau diangkat sebagai seorang CEO perusahaan."
"Kita coba saja bicarakan masalah ini dengan Helmi dan Layla besok, kita minta dan dengarkan usulan mereka berdua, apakah Helmi dan Layla mau meneruskan perusahaan kita." Usul tuan Pradana yang memang begitu menginginkan jika yang menjadi seorang pemimpin ( CEO ) perusahaan nya adalah suami Layla sendiri.
__ADS_1