
Jika aku dapat diberi pilihan kembali, aku ingin mengulang semua itu dari awal. Kebodohan yang pernah aku lakukan akan ku balas sebaiknya untuk saat ini, akan ku pastikan hanya kamu seorang yang dapat merasakan kehangatan cintaku, Layla.
Rasa cinta yang tidak pernah kurasakan pada orang lain, rasa cinta yang teramat besar yang hanya bisa kudapatkan dari hatimu. Kamu benar-benar sempurna, Layla. Kamu benar-benar sudah membuat diriku terlalu mencintaimu melebihi nyawaku sendiri.
Akan ku pastikan cinta kita akan sampai akhir, hingga nyawa kembali ke tempat asal dan raga sudah tidak dapat lagi membelai dengan indah wajahmu yang begitu ayu itu.
Aku tahu akan banyak cobaan bagi rumah tangga kita, asmara yang sedang kita bina. Semua itu berawal dari diriku yang bodoh ini, diriku yang terlambat mencintai dirimu.
Apa kita akan sanggup melewati badai yang begitu dahsyat itu nantinya?
Apa kita akan tetap bersama untuk selamanya?
Aku berharap kata itu adalah iya.
Kata yang dapat membuat diriku cukup merasa lega untuk sementara.
Aku tahu sebagai wanita kamu tidak dapat menerima kenyataan pahit itu dengan begitu mudah.
Tapi … ku harap kamu berbeda, Layla.
Aku harap kamu dapat menerima tinta hitam yang sudah ku perbuat selama ini.
Memaafkan diriku akan semua kebodohan di masa lalu.
Apapun takdir kita nantinya.
Akan ku terima dengan lapang dada.
Karena … kamu juga berhak bahagia, Layla.
Walaupun kata bahagia itu bukan kamu dapatkan dari diriku yang begitu payah.
*****
"Mas, ada apa?" tanya Layla ketika dapat merasakan ada sesuatu yang tengah dipikirkan oleh suaminya tersebut.
"Aku hanya sedang berpikir, kenapa kamu begitu cantik malam ini." ucap Helmi sembari membelai lembut genggaman tangan Layla.
Pipi Layla merona kembali, ia benar-benar tidak tahan jika terus diberi gombalan gombalan dari suaminya tersebut yang memang begitu lihai untuk hal seperti itu.
"Terima kasih, Layla." ucap Helmi sembari memberikan kecupan manis di kening Layla.
"Terima kasih? Terima kasih buat apa, Mas?" tanya Layla yang memperlihatkan raut wajah heran akan ucapan suaminya tersebut.
Helmi tersenyum manis dan segera berucap.
"Terima kasih akan semua yang sudah kamu berikan padaku, Layla. Terima kasih sudah hadir dalam kehidupanku." ucap Helmi yang menatap lekat wajah Layla yang dapat ia lihat dengan begitu jelas.
"Sama-sama, Mas Helmi." balas Layla dengan tersenyum manis pada suaminya tersebut.
"Hmmm, aku juga mau bilang sesuatu sama kamu, Mas." ucap Layla yang membuat Helmi begitu penasaran akan ucapan yang akan disampaikan oleh Layla pada dirinya.
"Iya, kamu mau ngomong apa, sayang." ucap Helmi yang kembali menggenggam tangan Layla dengan teramat sayang.
Layla tersenyum dan seraya berucap.
"Sama seperti kamu, Mas. Aku juga mau bilang terima kasih pada kamu. Terima kasih sudah menerima diriku dalam hatimu, terima kasih akan semua cinta yang sudah kamu berikan pada diriku, terima kasih, Mas Helmi." Layla yang segera memeluk erat suaminya tersebut dan pelukan hangat tersebut juga dibalas dengan begitu rasa teramat sayang pada Layla.
"Aku juga mau bilang sesuatu hal yang juga sama seperti kamu, Layla." ucap Helmi ketika mereka sedang berpelukan dengan begitu mesra.
"Hmmm?" Layla yang berucap heran.
"Sama-sama, Layla ku sayang." ucap Helmi yang berbisik pada telinga Layla yang kembali membuat rona wajah bahagia Layla kembali terpancar.
Romansa diantara dua insan manusia tersebut masih berlanjut, pelukan mesra itu masih terasa dan meninggalkan jejak indah dalam cinta yang tengah mereka bina. Menjadi pasangan setia adalah hal yang begitu diharapkan dalam sebuah bahtera rumah tangga.
"Mas, aku boleh bertanya sesuatu satu hal lagi sama kamu, Mas?" ucap Layla ketika mereka masih mesra dalam pelukan cinta satu sama lain.
"Hmmm, kamu mau tanya apa, sayang." Helmi yang berucap seraya memberikan belaian kasih sayang.
"Kamu jangan marah yah, Mas." ucap Layla yang membuat wajah heran Helmi kembali terlihat.
__ADS_1
"Emang kamu mau tanya apa, sayang. Kok ngomong seperti itu? Mana mungkin aku bisa marah sama tulang rusukku ini." Helmi yang menggapai wajah Layla.
"Tadi … sebelum ke rumah sakit, sebelum aku tahu kondisi kamu sekarang. Aku cuman merasa aneh aja, Mas. Karena … yang kasih tahu infonya itu dari anggota kepolisian."
"Emangnya kamu kenapa, Mas? Kenapa kamu tiba-tiba bisa masuk rumah sakit? Maaf jika aku bertanya seperti itu, Mas. Aku hanya ingin tahu tentang kondisi kamu yang sebenarnya." ucap Layla yang membuat Helmi kembali memberikan kecupan manis di bibir Layla.
"Maaf yah, Layla. Aku bikin kamu khawatir seperti ini, aku berjanji mulai sekarang aku tidak akan pernah pergi dari kamu." Helmi yang berucap sembari memberikan belaian kasih sayang di wajah Layla.
"Untuk jawaban dari pertanyaan kenapa anggota kepolisian yang memberitahukan kepada kamu tentang kondisi ku sekarang, karena … aku mengalami kecelakaan di jalan raya dan kebetulan juga ada beberapa anggota dari kepolisian yang sedang berpatroli ketika itu." Helmi yang terpaksa kembali berbohong pada Layla. Dirinya hanya tidak ingin jika Layla mengetahui bahwa Helmi sebenarnya adalah seorang detektif yang nyawanya sedang diincar.
"Kamu kecelakaan, Mas?! Tapi … kenapa bisa?!" Layla yang memberikan ekspresi begitu kaget akan penjelasan Helmi pada dirinya.
Helmi tersenyum manis sambil berucap.
"Itu karena aku sedang terburu-buru waktu itu." ucap Helmi.
"Terburu-buru! Tapi … untuk alasan apa, Mas. Apa ada pekerjaan yang harus kamu kerjakan?!" Layla yang begitu tidak menyangka jika suaminya sudah menghadapi musibah dan itu bisa saja membuat dirinya dan Helmi akan dapat berpisah untuk selamanya.
"Iya, Layla. Ada pekerjaan yang begitu mendesak yang harus segera aku selesaikan dan pekerjaan itu masih belum bisa terselesaikan dengan baik malam ini." ucap Helmi yang begitu gemas ketika melihat raut wajah Layla yang begitu cemas pada dirinya.
"Apa sih pekerjaan kamu, Mas. Kenapa sampai teledor seperti itu! Aku nggak suka, Mas. Kalo kamu seperti ini!" ucap Layla yang kembali membuat Helmi semakin merasa beruntung telah memiliki Layla sebagai istrinya.
"Kamu mau tahu tentang pekerjaan ku malam ini, Layla. Pekerjaan yang membuat diriku masuk rumah sakit ini?!"
"Hmmm, pekerjaan aku itu adalah kamu." ucap Helmi yang membuat ekspresi wajah heran layla kembali muncul.
"Maksudnya, Mas?!" tanya Layla yang semakin dibuat bingung akan ucapan suaminya tersebut.
"Kamu itu adalah pekerjaan terbesarku Layla, maaf jika diriku membuat dirimu menjadi cemas seperti ini." Helmi yang membelai lembut tangan Layla.
"Tapi … aku begitu bahagia sekarang, aku begitu bahagia karena dapat masuk rumah sakit." ucap Helmi yang membuat Layla kembali memberikan ekspresi wajah heran akan ucapan suaminya tersebut.
"Ihhh, Mas. Masuk rumah sakit kok malah senang sih! Aku gak suka lo kalo kamu masuk rumah sakit seperti ini." ucap Layla yang tidak setuju akan ucapan yang baru saja Helmi ucapkan.
"Hmmm, sepertinya untuk yang satu ini kita tidak sehati deh. Jika kamu tidak suka jika aku masuk rumah sakit, kalo aku malah suka banget sekarang."
"Karena … aku bisa dekat sama kamu, kita bisa bermesraan seperti ini, tidak ada yang bakal ganggu apalagi, Manda. Kapan lagi kan?" ucap Helmi yang membuat rona kesal Layla bertukar menjadi memerah akan ucapan yang baru saja Helmi sampaikan pada dirinya.
"Oh iya, Mas. Papa sama Mama dimana? Kok aku gak dengar suara mereka di ruangan ini? Apa Papa sama Mama udah tidur?" Layla yang teringat jika dirinya sama sekali tidak mendengar satu suara pun kecuali suara mereka berdua yang sedang kasmaran cinta.
"Maksud kamu, Mas?" Layla yang begitu tidak mengerti akan ucapan dari suaminya tersebut.
"Papa sama Mama memang tidak aku izinkan tidur di ruangan ini, kalo di izinin satu ruangan sama kita … aku gak bisa mesra dong sama kamu, sayang."
"Emang kamu mau Papa sama Mama lihat adegan mesra kita ini? Kalau kamu mau, aku bisa aja minta Papa sama Mama satu ruangan sama kita. Kalo kamu gak malu sih setiap aku berikan ciuman itu? Mau aku panggilkan Papa sama Mama?" Helmi yang kembali membuat Layla salah tingkah ketika mendengar ucapan vulgar suaminya tersebut.
"Ihhh! Mas Helmi!" ucap Layla yang tidak tahan jika terus digoda oleh Helmi.
"Maaf yah, sayang. Aku memang suka banget jailin kamu, habisnya sih kamu tuh bikin aku ketagihan lihat wajah merona kamu seperti ini." Helmi yang kembali memberikan cubitan kecil di hidung Layla.
"Aku emang minta Papa sama Mama pulang aja, sayang. Lagian aku toh juga ngak apa-apa kan, yang aku butuhkan sekarang itu hanya kamu." ucap Helmi.
"Mas, kamu bilang tadi Manda? Emang Manda tadi kesini, Mas?" tanya Layla yang teringat dengan ponakan Helmi tersebut.
"Hmmm, Manda emang kesini sama si Mbok. Tapi … aku juga suruh Manda pulang aja sama si Mbok."
"Kamu tahu, sayang. Manda tuh susah banget diajak pulang sama si mbok. Dia masih kekeh banget mau di sini, karena … Manda tahu kalo kamu juga ada di rumah sakit ini. Aku benar-benar kesal sih sama Manda sekarang!" ucap Helmi yang membuat Layla tertawa kecil akan ucapan suaminya tersebut.
Helmi yang tidak mengerti tentang alasan kenapa Layla menertawakan dirinya, ia lantas langsung bertanya pada Layla.
"Kamu kenapa ketawa, sayang? Emang ada yang lucu dengan ucapan aku? Perasaan gak ada yang lucu deh, tapi … Kenapa kamu seperti meledek aku sih?" tanya Helmi yang begitu heran akan Layla yang tiba-tiba saja tertawa kecil setelah dirinya berucap.
"Kamu tahu Mas, sekarang tuh aku berpikir bahwa kamu lebih kecil daripada, Manda. Masa iya suruh ponakan sendiri pulang malah bikin sampai nangis lagi, apalagi ini di rumah sakit loh." ucap Layla pada Helmi.
Helmi yang merasa sedang diledek oleh Layla ia segera berucap.
"Kamu tahu, sayang. Aku belum pernah cemburu sama anak kecil selama ini, tapi … pas aku udah jadi suami kamu. Aku malah jadi orang yang begitu pencemburu walaupun itu sama ponakan aku sendiri."
"Kamu tahu, sayang. Aku cemburu banget pas Manda juga jatuh cinta sama kamu, masa iya gitu dia minta tidur bareng sama kamu dan aku nya yang malah disuruh pulang sama si mbok." Helmi yang kembali meraba tubuh Layla hingga dirinya dapat merasakan tubuh Layla seketika bereaksi sewaktu dirinya memberikan belaian lembut.
"Kamu kenapa? Apa kamu sudah tidak tahan, Layla?" goda Helmi pada Layla seakan ada hal yang tengah ia tahan sekarang.
__ADS_1
"Mas, aku mau ke toilet." ucap polos Layla pada Helmi yang membuat Helmi segera turun dari ranjang pasien dan segera mengangkat kembali Layla.
"Mas, aku bisa jalan sendiri loh. Kamu kan lagi sakit masa iya kamu gendong aku sih." Layla yang tidak enak ketika dirinya kembali digendong oleh Helmi.
"Kamu lupa yah sama ucapanku? Kan aku udah bilang kalo kamu tuh masih belum berat dan aku udah kuat kok apalagi cuman untuk gendong kamu."
"Udah, kamu gak usah banyak protes yah. Sekarang biar aku gendong kamu, lebih baik kamu tenang aja, sayang. Nikmati aja, kapan lagi kan aku bisa gendong kamu seperti ini." ucap Helmi yang sama sekali tidak ingin melepaskan Layla dari dirinya untuk sesaat dan untuk alasan apapun.
"Tapi …. Mas. Aku kan malu sama kamu!" ucap Layla. Layla masih berusaha keras agar Helmi mau menurunkan dirinya.
"Malu? Kamu malu memiliki suami seperti aku yah?" ucap Helmi yang sebenarnya mengerti jika sebenarnya Layla masih begitu bisa terbuka pada dirinya.
"Bukan gitu maksud Layla, Mas. Kamu jangan salah paham dulu!" Layla yang berucap cemas, dirinya begitu takut jika Helmi akan berpikir aneh tentang ucapan yang baru saja diucapkan pada Helmi.
"Terus maksud kamu apa, sayang? Kamu jangan bikin aku berpikir yang macam-macam deh!" Helmi yang kembali mengeluarkan bakat aktingnya pada Layla.
"Maaf Mas, Layla nggak bermaksud seperti itu." Layla yang akhirnya takut jika Helmi akan marah pada dirinya.
'padahal aku hanya masih begitu malu pada Mas Helmi, hanya itu.' batin Layla yang merasa bersalah akan ucapan yang ternyata begitu menyakitkan bagi suaminya tersebut.
"Kenapa meminta maaf?! Aku kan butuh penjelasan kamu, Layla. Bukan kata maaf seperti ini."
"Kamu malu kenapa?! Apa kamu benar-benar malu memiliki suami duda seperti diriku ini! Jika begitu lebih baik kita …." ucapan Helmi yang langsung dicegat oleh Layla.
"Bukan itu maksud aku, Mas." Layla sontak saja mengeluarkan cairan bening dari wajahnya.
"Maaf, Mas. Layla sama sekali tidak malu memiliki suami yang begitu sempurna seperti kamu."
"Layla … hanya masih begitu malu jika kamu terus memperlakukan Layla seperti seorang ratu seperti ini. Hanya itu Mas, Layla sama sekali ngak bermaksud bikin kamu marah seperti ini."
"Maafin Layla, Mas Helmi."
"Hik hik hik hik" suara tangis Layla pun kembali pecah ketika dirinya tidak menduga jika Helmi akan salah paham akan ucapan yang baru saja diucapkan pada Helmi.
Helmi yang merasa bersalah pada Layla dirinya tidak menyangka jika Layla juga sama seperti dirinya, Helmi begitu tidak menyangka jika Layla akan menangis seperti ini padahal maksud sebenarnya Helmi hanyalah ingin kembali memberikan kejutan kecil untuk Layla.
Helmi sama sekali tidak menduga jika Layla akan menangis seperti ini akan ucapan yang sudah ia sampaikan.
Tidak ingin Layla hanya seorang diri mencintai dirinya, tidak ingin Layla kembali menangis seperti itu seakan memberikan isyarat bahwa Layla lah yang salah.
Helmi segera memberikan kecupan manis di bibir Layla agar Layla dapat berhenti untuk menangis.
Cukup puas Helmi memberikan ciuman panas itu pada Layla, ia segera melepaskan ciumannya dan segera berucap pada Layla.
"Maafkan aku, Layla sayang. Aku tidak bermaksud membuat kamu seperti ini, aku juga tidak akan pernah berucap seperti itu selamanya. Kamu adalah hidupku sekarang, jika aku tidak bersama kamu maka aku akan mati, Layla."
"Maafkan suamimu yang bodoh ini, Layla." ucapan Helmi yang akhirnya dapat membuat Layla menghentikan tangis itu dari wajah Layla.
"Maafin Layla juga Mas Helmi." ucap Layla yang segera memeluk erat suaminya tersebut.
Helmi tersenyum ketika dirinya mendapatkan pelukan hangat itu dari Layla, ia segera berucap pada Layla yang tengah memeluk dirinya erat-erat.
"Kamu memang obat penenang ku, Layla. Kamu benar-benar bisa membuat diriku merasa damai jika kamu memelukku seperti ini."
"Aku benar-benar beruntung dapat memilikimu seutuhnya, Layla. Dan aku begitu berterima kasih pada Tuhan yang maha esa yang sudah mempertemukan kita dan memberikan takdir cinta yang begitu indah ini untukku."
"Aku tidak akan dapat melupakan sentuhan lembutmu ini, pelukan lembut ini dan wajah teduh milikmu, Layla. Aku sudah begitu tergila-gila akan dirimu."
"Aku berjanji, aku tidak akan membuat air mata itu kembali jatuh mulai detik ini. Apa kamu bisa berjanji pada diriku, Layla? Apa kamu bisa jangan menangis lagi? Hatiku akan begitu hancur ketika melihat wanita yang begitu aku cintai menangisi diriku." Helmi yang berucap penuh cinta pada Layla.
"Iya, Mas."
"Layla janji, Layla janji tidak akan menangis lagi dihadapan kamu. Layla juga begitu beruntung pada takdir Layla, takdir yang telah menyatukan kita dalam bahtera rumah tangga. Layla juga sudah begitu mencintai, Mas Helmi. Layla juga berharap mas Helmi tidak meninggalkan Layla untuk alasan apapun, Mas. Layla juga akan gila jika Mas Helmi pergi dari kehidupan Layla." Layla yang juga menyampaikan kata hati yang sudah begitu mencintai Helmi.
"Iya, aku juga berjanji padamu, Layla sayang. Aku berjanji tidak akan pernah pergi dari hidupmu, kita akan terus bersama melewati rintangan demi rintangan hingga hidup bahagia sampai masa tua kita." ucap Helmi yang semakin mengeratkan pelukannya pada Layla.
Sok atuh dikasih like dan komentar nya🤗.
Mari kita membucin akan kemesraan antara Layla dan Helmi!
Tunggu up berikutnya yah!
__ADS_1
Btw boleh dong kasih tanda cintanya pada Layla dan Helmi dengan memberikan vote/ gift hadiah bagi kebucinan Helmi dan Layla.
Thanks semuanya 🤗.