Menjadi Yang Kedua: Gadis Belia Untuk Om Duda

Menjadi Yang Kedua: Gadis Belia Untuk Om Duda
kelinci percobaan!


__ADS_3

Apakah takdir akan selalu kejam seperti ini?


Apakah kita akan dipisahkan lagi!


Kenapa?!


Kenapa ketika hati sudah terikat oleh wanita yang bernama Layla


Malah takdir yang akan memisahkan cinta yang sudah bersemayam abadi.


'Mas, kamu seperti ini benar-benar bikin aku semakin ketakutan. Entah kenapa firasat buruk itu selalu menghantuiku, apa ini hanya akan menjadi sekedar firasat? Apa ini mimpi buruk yang akan ku rasakan nantinya?' batin Layla ketika dirinya masih berada dalam pelukan Helmi.


"Hik hik hik." Suara tangisan Layla yang kembali terdengar oleh Helmi.


"Kenapa, Layla? Kenapa kamu menangis lagi? Apa aku menyakiti mu?" tanya Helmi yang segera melepaskan pelukan hangat tersebut ketika mendengar Layla semakin menangis tersedu-sedu.


"Enggak, Mas. Layla hanya bahagia karena Mas Helmi selalu berada disamping Layla." ucap Layla pada Helmi yang semakin merasa bersalah.


'sepertinya takdir itu memang sedang menguji kita, Layla. Kita akan kembali terpisah bahkan untuk waktu yang begitu lama. Maafkan diriku jika harus kembali berbohong pada dirimu.' batin Helmi yang menahan semua rasa sakit itu seorang diri. Dirinya hanya tidak mau jika Layla ikut merasakan masalah besar yang sudah didepan mata sekarang.


"Hmmm, mas akan selalu berada disamping kamu, Layla. Mas gak bakal biarin kamu menangis lagi." ucap Helmi yang segera mengangkat Layla kembali.


"Sekarang kita tidur yah, kamu pasti capek bukan?" tanya Helmi yang kembali mengecup lembut kening Layla dengan teramat sayang. Seakan kecupan terakhir yang bisa ia berikan pada Layla.


"Iya, Mas." Balas Layla lembut.


"Biarkan aku memeluk kamu, Layla. Aku akan begitu merasa tenang." ucap Helmi yang berucap dengan mata yang sudah mulai tertutup dengan memeluk Layla ketika mereka akan kembali tertidur di ranjang pasien tersebut.


Perasaan Layla begitu berbunga-bunga saat ini, walaupun firasat buruk itu seakan tidak mau pergi dari pikiran Layla. Dirinya hanya berusaha tetap tenang ketika bersama dengan Helmi.


'ya Allah, kenapa hatiku semakin sakit saja? Padahal mas Helmi sedang bersama dengan diriku. Kenapa aku merasa pelukan ini akan menjadi pelukan terakhir bagi diriku?' batin Layla yang berusaha membuang jauh-jauh pikiran tersebut. Dan dirinya berusaha untuk tidur di pelukan hangat Helmi.


Helmi kembali membuka matanya ketika merasakan jika Layla sudah benar tertidur. Dirinya menatap teduh pada wajah yang sedang berada di depan nya sekarang.


Dibelai lembut wajah tersebut dan berucap secara membatin.


'apa aku akan terus bisa melihat wajahmu yang begitu teduh ini, Layla. Apa aku akan bisa merasakan ketenangan itu nantinya? Sedangkan kita akan kembali terpisah oleh takdir.'


'tapi … aku juga tidak boleh egois. Nyawa kamu sedang ku pertaruhan disana. Aku tidak akan tinggal diam ketika mengetahui kamu yang ternyata menjadi buronan bagi mereka semua. Akan ku pastikan kamu akan tetap merasa aman, layla.' batin Helmi yang kembali teringat dengan pesan yang disampaikan oleh Keano pada dirinya.


'apa sebenarnya hubungan antara Layla dengan mereka semua?! Kenapa Layla yang menjadi buronan sebenarnya dari organisasi tersebut! Apa ini memang sudah direncanakan?! Apa saya hanya dijadikan kelinci percobaan untuk menangkap berlian sebenarnya?!' batin Helmi yang seakan tidak percaya jika Layla seakan menjadi hal yang paling berbahaya dan menjadi ancaman terbesar bagi organisasi tersebut.


*****


Sementara itu, di tempat yang berbeda Detektif Bromo sudah berada kembali di kantor kepolisian. Dirinya langsung disambut oleh inspektur kepolisian dan beberapa detektif senior lainnya yang memang sudah menunggu Detektif Bromo sedari tadi.


"Bagaimana?! Apa kamu sudah menemui mereka?! Apa kamu sudah mengatakan perihal yang berbahaya ini?!" tanya Inspektur kepolisian pada Detektif Bromo yang segera menyeduh kopi panas.

__ADS_1


"Sudah, Inspektur. Saya sudah mengatakan semuanya, dan tentunya tentang ancaman tersebut." ucap Detektif Bromo pada Inspektur kepolisian.


"Huh! Saya benar tidak menyangka jika dua detektif tersebut hanya dijadikan kelinci percobaan oleh mereka semua!" Inspektur kepolisian yang kembali teringat dengan ucapan ketua organisasi berbahaya tersebut ketika dirinya dapat berhadapan langsung dengan ketua organisasi berbahaya tersebut.


Kejadian sebelumnya ….


Awal dimana semua para detektif yang sudah berhasil terkecoh oleh kode yang diberikan Helmi dan Keano.


"Sepertinya mereka memang tidak ingin kita terlibat seperti dahulu!" ucap detektif yang menyamar dan penyamaran tersebut berhasil dibongkar oleh Helmi dan juga Keano.


"Anda memang benar, Detektif. Tapi … urusan mereka tetap akan menjadi urusan kita sekarang apapun alasannya!" ucap Detektif Bromo yang sudah mengetahui rute yang sedang dituju oleh Helmi dan Keano sekarang.


"Yah, tapi … kita tidak tahu mereka berdua sekarang sedang di posisi mana! Bagaimana kita bisa mengikuti mereka sedangkan kita sudah tertinggal jauh!" ucap inspektur kepolisian yang sudah begitu pasrah seakan tidak ada celah lagi bagi mereka para anggota detektif untuk dapat membuntuti Helmi dan Keano yang memang sengaja untuk mengecoh para anggota detektif tersebut.


"Tenang saja, saya sudah mengetahui tentang trik ini." ucap Detektif Bromo yang segera menyatukan dua kode yang diberikan oleh Helmi dan Keano pada para anggota detektif.


"Untuk apa kode itu, Detektif Bromo?!" tanya inspektur kepolisian yang begitu heran ketika melihat Detektif Bromo merobek berapa bagian dari kode yang sudah berhasil mengecoh mereka semua.


"Saya sudah mengetahui jika mereka berdua akan berusaha mengecoh dua senior penting dalam kepolisian." ucap Detektif Bromo yang sembari menatap lekat pada inspektur kepolisian dan detektif yang menyamar tersebut.


Dua orang tersebut hanya memberikan tatapan begitu heran dan seakan bertanya-tanya akan maksud sebenarnya dari kode tersebut.


"Dan saya sudah menduga jika Sebenarnya mereka berdua sudah meninggalkan rute jalan sebenarnya di dalam kode ini, hanya saja di antara kalian berdua tidak ada yang menyadari maksud sebenarnya kode tersebut."


"Kalian berdua terlalu gegabah dalam menyelesaikan sebuah kasus dan hal tersebut sudah pasti dapat ditebak oleh mereka berdua."


"Gambar seekor ayam!" ucap Inspektur kepolisian dan juga detektif yang menyamar secara serentak ketika Detektif Bromo sudah selesai merakit rute sebenarnya yang sudah ditinggalkan oleh kedua detektif tersebut.


"Apa gambar seekor ayam ini akan menjadi sebuah rute sebenarnya?!" ucap inspektur kepolisian seakan begitu meragukan.


"Coba Anda lihat lebih baik lagi!" Perintah Detektif Bromo pada inspektur kepolisian dan detektif yang menyamar.


"Ini memang hanya gambar seekor ayam, tapi … ada filosofi tersembunyi sebenarnya! Ayam jantan ini identik dengan sebuah rute sebenarnya yang harus kita tempuh sedari tadi." ucap Detektif Bromo yang akan memberikan narasi brilian dirinya dalam sebuah penyelidikan kembali.


"Anda bisa lihat bukan jika dua sobekan ini kembali diberikan jarak maka di sobekan pertama Anda dapat melihat sebuah huruf yang bertuliskan T besar."


"Dan ketika dua sobekan ini kembali disatukan, Anda berdua akan kembali melihat seorang gambar ayam, bukan begitu?!" tanya Detektif Bromo yang menatap pada inspektur kepolisian dan juga detektif yang menyamar.


Mereka hanya memberikan anggukan kecil.


Detektif Bromo segera melanjutkan makna tersembunyi dari kode yang sudah ditinggalkan oleh Helmi dan Keano.


"Rute sebenarnya yang harus kita tempuh adalah jalan yang berada di gang sebelah kiri yang berlambangkan dengan begitu jelas sebuah monumen ayam jantan yang menjadi simbol sesungguhnya." ucap Detektif Bromo yang membuat inspektur kepolisian dan juga detektif yang menyamar saling bertatapan satu sama lain.


Mereka berdua benar tidak menyangka jika mereka berdua dapat dikecoh dengan begitu mudah oleh dua detektif tersebut.


"Jika sudah begini, kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu yang tersisa! Kita harus segera bergerak!" Perintah inspektur kepolisian.

__ADS_1


Akhirnya anggota kepolisian segera berangkat menuju lokasi yang sedang dituju oleh Helmi dan Keano.


Mereka tetap menggunakan dua mobil kepolisian seperti biasanya, hanya ada beberapa perubahan yang mereka lakukan.


Inspektur kepolisian dan detektif yang menyamar mereka berada dalam mobil yang sama dan Detektif Bromo dan Detektif Wati Bexxa mereka juga berada di dalam mobil yang sama.


Hal canggung pun kembali terjadi di antara dua detektif muda yang selalu dipisahkan oleh takdir dalam dunia penyelidikan.


"Maaf tentang waktu itu." ucap Detektif Bromo yang fokus mengendarai mobil.


Detektif Wati Bexxa menatap Detektif Bromo dan segera berucap.


"Tidak apa-apa, saya mengerti posisi Anda, Detektif." ucap Detektif Wati Bexxa.


"Hmmm, apa saya boleh berbicara dengan Anda sebentar?" tanya Detektif Bromo.


"Silahkan, Detektif." Detektif Wati Bexxa yang mempersilahkan Detektif Bromo bertanya.


"Apa Anda mau kita kembali seperti dahulu lagi?!" ucap Detektif Bromo yang membuat Detektif Wati Bexxa begitu kaget.


Detektif Wati Bexxa yang tidak ingin dirinya kembali terlibat dalam keambiguan sebuah cinta yang akan menjadi ancaman besar.


Detektif Wati Bexxa segera berucap akan pertanyaan yang dilontarkannya oleh Detektif Wati Bexxa pada dirinya.


"Maaf, Detektif. Sepertinya takdir kita memang begitu pelik. Saya tidak ingin terikat dengan apapun untuk saat ini." Balas Detektif Wati Bexxa yang menahan rasa perih akan nasib cinta yang selalu mendapatkan tantangan dan ancaman besar.


Akhirnya para anggota detektif sudah berada di lokasi sebenarnya dan hal buruk yang sudah menanti mereka.


Dua detektif hebat tersebut sudah berlumuran darah darah oleh anggota organisasi tersebut.


Tanpa pikir panjang pun, inspektur kepolisian segera menghadap ke seorang pria berjubah hitam tersebut.


"Akhirnya Anda sampai juga, inspektur kepolisian!" ucap pria berjubah hitam yang ingin melangkah meninggalkan tersebut.


"Apa tujuan Anda sebenarnya! Kenapa Anda menghakimi mereka berdua seperti ini! Apa mereka berdua begitu berbahaya bagi organisasi Anda!" ucap Inspektur kepolisian yang benar-benar tidak menyangka jika organisasi berbahaya tersebut telah bertindak melampaui batas.


"Menghakimi mereka! Anda salah, Inspektur! Mereka berdua hanyalah kelinci percobaan, bukan mereka yang menjadi ancaman terbesar bagi saya." ucap pria berjubah hitam tersebut yang membuat inspektur kepolisian seakan begitu heran.


"Maksud Anda apa?! Siapa orang yang menjadi ancaman terbesar bagi organisasi kalian!" ucap inspektur kepolisian yang benar-benar tidak menyangka jika Helmi dan Keano ternyata hanyalah sebuah kelinci percobaan bagi organisasi berbahaya tersebut.


"Huh, Anda pasti sudah tahu siapa orangnya. Tidak perlu saya jelaskan lebih detail lagi bukan, Inspektur?!" pria berjubah hitam yang segera melangkah meninggalkan inspektur kepolisian yang menatap heran pada dirinya.


Episode terbaru telah datang!


Mohon beri tanda cinta dan vote bagi episode kali ini yah!


Satu persatu misteri itu semakin terbuka dan hal yang paling mendasar dari dendam masa lalu tersebut semakin terkuak.

__ADS_1


Nantikan maksud dari ucapan pria berjubah hitam tersebut di episode berikutnya!


__ADS_2