
Tangis pun pecah dan raut wajah duka menyelimuti sekujur tubuh Layla, bagaimana tidak berita tentang Helmi masuk rumah sakit nyata membuat tubuh Layla bergetar seakan tak percaya.
Bagaimana mungkin orang yang mengatakan hanya pergi untuk sementara akan berujung dengan deraian tangis yang ia bawa.
'jika aku tahu semua akan seperti ini pada akhirnya, seharusnya aku tak pernah ingin berpisah dengan dirimu, mas Helmi. Walaupun itu untuk sedetik saja!'
'hatiku nyata begitu hancur ketika mendengar duka yang engkau berikan padaku dan itu begitu menyakitkan bagi batin ku mas Helmi.'
Awal berita duka Helmi …
"Hey!"
"Detektif!" Teriak seorang lelaki paruh baya yang mendekat pada tubuh Helmi dan Keano yang sudah terkulai tak berdaya.
"Cepat panggil ambulance!" ucap pria tersebut dengan begitu tegas pada bawahan nya yaitu Detektif Bromo.
"Anda?!" Helmi yang tidak dapat melihat dengan jelas tentang pria yang berusaha menyadarkan tubuhnya ke sebuah kayu besar yang ada di sebelah Helmi.
"Tenanglah Detektif, kami sudah menghubungi pusat rumah sakit. Anda akan selamat." ucap pria tersebut yang masih belum terlihat jelas oleh Helmi.
Mata Helmi semakin kabur, bayangannya semakin buram dan penglihatan itu semakin redup. Di tengah keredupan penglihatan Helmi masih sempat untuk berucap dan ucapan tersebut membuat raut bingung seorang Inspektur kepolisian tersebut terjadi.
"Layla …." ucap Helmi akhirnya mata Helmi tertutup rapat.
Wajah panik pun terlihat dari para Detektif yang tengah berusaha sekuat tenaga untuk memastikan jika dua detektif yang begitu penting dan paling berharga dalam dunia penyelidikan itu masih bisa diselamatkan.
"Apa ambulance itu belum datang juga! Tidak bisakah ambulance itu cepat datang kesini!" ucap inspektur kepolisian yang begitu panik.
"Huf, untung dia hanya pingsan!" Inspektur kepolisian yang dengan lega segera menggendong Helmi yang sudah berlumuran dengan darah.
"Akan Anda bawa kemana dia, Inspektur?!" Cegat seorang detektif muda yaitu Detektif Bromo yang juga sudah berada di tempat tubuh dua detektif muda yaitu Helmi dan Keano akhirnya ditemukan.
"Saya akan segera membawa dia ke rumah sakit, jika kita hanya terus berdiam diri disini untuk menunggu kedatangan ambulance nyawa mereka berdua akan dalam bahaya! Segera Anda urus detektif yang satu lagi, dia juga cukup terluka parah!" Perintah inspektur kepolisian yang segera menggendong Helmi yang sudah tidak sadarkan diri melangkah menuju mobil polisi yang berada di seberang jalan.
"Baik, Inspektur." Detektif Bromo dan juga Detektif Wati Bexxa segera menuju ke tempat Keano yang syukurnya masih sadarkan diri.
__ADS_1
"Detektif! Apakah anda baik-baik saja?!" Detektif Bromo yang segera membantu Keano yang sedang berusaha berdiri.
"Detektif Wati Bexxa, segera ambil perban!" Perintah Detektif Bromo pada Detektif Wati Bexxa.
"Baik, Detektif." ucap Detektif Wati Bexxa yang menyetujui dan segera berlari kembali menuju tempat mobil kepolisian yang terparkir.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Detektif?! Kenapa kalian berdua mendapatkan luka brutal seperti ini?!" Detektif Bromo yang dengan sigap membantu Keano yang sepertinya sudah begitu kewalahan menghadapi luka yang ia dapati.
'Sebenarnya diriku ini tidak membutuhkan orang lain, saya masih bisa berdiri sendiri. Tapi … ketika mendengar orang lain menyebut nama wanita yang paling saya cintai seketika semua semangat itu hilang seketika, seketika aku benar-benar terpuruk nyata.'
'aku tahu jika diriku dan dirinya begitu berbeda, dia adalah pria sah bagimu sedangkan diriku ini hanya pria yang selalu bermain dengan ilusi ku.' batin Keano yang begitu tersakiti ketika dirinya sendiri mendengar dengan jelas nama (Layla ) diucapkan oleh Helmi dan itu begitu menyakitkan bagi seorang pria yang hanya bisa mencintai dari jauh tanpa sedikitpun dapat menyentuh bahkan untuk mendekat saja sudah tidak ada celah, seakan harapan itu nyata sudah musnah.
"Mari saya bantu, Detektif!" Detektif Bromo yang segera membantu Keano untuk melangkah menuju ke tempat duduk yang tidak cukup jauh dari tempat mereka berdua sekarang berdiri.
'Bukan Anda yang saya butuhkan sekarang, saya hanya butuh Layla! Hanya dia yang saya butuhkan sekarang.' batin Keano yang semakin terpuruk akan nasib cinta yang semakin membuat dirinya semakin menderita.
'jika aku bisa memilih lebih baik aku mati saja daripada harus hidup tertekan seperti ini!'.
*****
Sementara itu, di tempat yang berbeda tempat Helmi dan juga Inspektur kepolisian berada.
"Maaf Inspektur, apa dimobil ini ada perban?" tanya Detektif Wati Bexxa yang tidak ingin mengulur waktu.
"Tunggu sebentar! Akan segera saya ambilkan." ucap Inspektur kepolisian yang mengerti kondisi pelik yang sudah menimpa dua detektif terkenal itu.
"Tidak perlu Inspektur! Saya baik-baik saja." Suara dari Keano yang membuat Inspektur kepolisian cukup lega mendengar kembali ucapan dari salah satu detektif yang berpengaruh tersebut.
"Detektif! Apa Anda sudah mulai mendingan?!" ucap Inspektur kepolisian yang begitu kaget.
"Yah, saya sudah mendingan. Sepertinya Helmi yang perlu diberikan penanganan lebih insentif lagi." ucap Keano yang melirik jika Helmi sudah mulai sadarkan diri.
"Dia sudah mulai sadar, Inspektur." ucap Detektif Bromo yang melihat kedua mata Helmi mulai berkedip.
"Huhhhhh, syukurlah." Inspektur kepolisian yang begitu lega jika dua detektif tersebut baik-baik saja walaupun mereka berdua mendapatkan banyak luka.
__ADS_1
"Layla …." Helmi yang kembali berucap.
Hati Keano semakin tersakiti ketika melihat dan mendengar sendiri jika Helmi sudah begitu nyata dalam mencintai Layla.
'apa aku harus mundur sekarang?!' batin Keano yang sepertinya sudah tidak ada harapan untuk bisa bersama dengan Layla.
"Siapa wanita yang dipanggil oleh dirinya ini?! Sedari tadi dirinya terus memanggil -manggil nama itu!" Inspektur kepolisian yang begitu penasaran.
"Wanita itu adalah istrinya." ucap Keano yang mencoba menahan sesak dan berusaha untuk tegar dan ikhlas akan takdir cinta yang tidak pernah ia rasakan bahagia pada akhirnya.
Sementara itu ditempat ruangan inap tuan Andika, Layla, kedua orangtuanya dan juga kedua mertuanya sudah berada dalam ruangan yang sama, seakan masih berharap jika yang akan mengetuk pintu itu adalah Helmi.
"Tok! Tok! Tok." Suara pintu diketuk dari luar.
"Mas Helmi?!" ucap Layla yang begitu bahagia.
Layla yang menganggap jika orang yang sedang berada diluar sana adalah suaminya.
"Layla, biar Papa aja yang buka pintunya, kamu tunggu disini sebentar yah, sayang." ucap papanya pada Layla.
"Iya, Pa." Balas Layla yang menurut akan ucapan dari papanya.
'Akhirnya mas Helmi sampai juga, pasti mas Helmi capek sekarang.' batin Layla yang begitu senang seakan menyambut kedatangan pangeran hatinya yang sudah lelah seharian.
*****
Hal yang mengejutkan pun terjadi, bukannya Helmi yang berada diluar ruangan inap tuan Andika melainkan para pria yang berpenampilan seperti seorang anggota kepolisian.
"Ada apa, Pak?" tanya tuan Pradana yang begitu kaget akan kedatangan para anggota kepolisian.
"Apa ini benar ruangan tuan Andika?" tanya seorang anggota kepolisian.
"Iya benar, ada yang bisa saya bantu, Pak?" Tuan Pradana yang masih berpikir positif thinking.
"Saya hanya ingin memberitahukan jika Helmi Andika sedang dirawat di rumah sakit cempaka ia mengalami banyak kehabisan darah akan luka tembak yang ia dapati." Anggota kepolisian yang memberitahukan kenyataan pahit yang harus didengar oleh Layla dan orang yang berada di ruangan inap tuan Andika tersebut.
__ADS_1
"Apa?! Mas Helmi sedang di rumah sakit!" Layla yang begitu kaget dan akhirnya tidak sadarkan diri ketika dirinya dituntun oleh mamanya dan juga mama mertua.
"Layla!" ucap semuanya yang begitu kaget.