
Aku tidak ingin melepaskan pelukan ini!
Seakan aku berharap waktu dapat berhenti!
Agar petaka yang berusaha aku sembunyikan darimu tidak akan pernah terjadi.
Remang-remang suara adzan kembali membangunkan Layla yang masih dipeluk mesra Helmi. Dirinya mencoba mengumpulkan semua semangat yang seakan mati ketika sedang tidur dalam pelukan Helmi.
"Apa mas Helmi sudah bangun? Aku harus segera membangunkan mas Helmi agar dirinya dapat melaksanakan sholat subuh.' batin Layla yang menguatkan hati dan pikiran dirinya agar dapat membangunkan Helmi yang sedari awal terus memeluk Layla hingga suara adzan yang kembali membangun kan tidur nyenyak Layla yang sedang dipeluk mesra oleh Helmi.
Dirinya meraba-raba wajah yang masih tertidur pulas dan mengucap dalam hatinya.
'seandainya penglihatan ku masih normal, pasti aku dapat melihat wajah tampan suamiku ini. Ya Rabb, berikanlah hamba sedikit waktu nantinya untuk dapat melihat wajah suami hamba sendiri.' Layla yang begitu berharap agar dapat melihat wajah Helmi.
Helmi yang merasakan geli di bagian wajahnya berusaha untuk membuka mata dan melihat apa yang telah terjadi.
Helmi menyulingkan senyum ketika menatap Layla yang tengah memegang pipinya tersebut.
Helmi segera memegang tangan Layla yang sedang berada di pipinya dan segera berucap.
"Kapan kamu bangun, sayang?" tanya Helmi yang memberikan kecupan manis.
"Mas! Maaf …." Layla yang berucap karena begitu kaget jika mengetahui Helmi sudah bangun.
"Kenapa harus meminta maaf? Kamu kan tidak salah, Layla." ucap Helmi yang kembali memeluk Layla yang sontak kembali membuat pipi Layla merona seketika.
"Maaf karena Layla sudah bangunin mas Helmi." ucap Layla.
Helmi tersenyum manis dan segera berucap.
"Enggak apa-apa kok, toh ini memang yang aku inginkan, bukan?" ucap Helmi yang membuat Layla seakan memberikan ekspresi wajah bingung akan ucapan Helmi.
"Maksudnya, Mas? Maaf Layla tidak begitu paham." ucap Layla yang kembali membuat Helmi mencubit pipi gemas Layla dan berucap.
"Berapa kali mas harus bilang sama kamu, sayang. Jangan sekalipun kamu meminta maaf pada Mas. Kamu tidak pernah salah dan tidak akan pernah salah di mata Mas."
"Jangan berucap seperti itu lagi yah! Kalo sekali lagi kamu ngomong hal seperti itu, nanti mas kasih hukuman!" ancam Helmi pada Layla.
"Maaf, Mas." ucap Layla yang terucap tanpa dirinya sadari.
Helmi yang mendengar ucapan kata maaf dari Layla tersenyum tipis dan segera memberikan kecupan manis pada bibir Layla.
Pipi Layla semakin merona dan Helmi yang melihatnya pun segera berucap.
"Itu hukuman bagi kamu, sayang. Jika kamu berucap kata maaf lagi pada mas, mas akan kasih hukuman pada kamu nanti!" ucap Helmi yang segera duduk dan menghidupkan lampu yang berada di sebelah ranjang pasien tersebut.
"Mas tahu kamu pasti mau bangunin mas kan? Karena udah waktunya sholat subuh." ucap Helmi yang sudah semakin dekat dengan Tuhannya.
Layla hanya memberikan anggukan akan ucapan Helmi.
Helmi turun dari ranjang pasien dan kembali mencium kening Layla dengan teramat sayang.
__ADS_1
"Kamu tunggu sebentar yah, mas mau ambil wudhu dulu. Kamu jangan turun dari ranjang pasien ini sebelum mas kembali." ucap Helmi pada Layla.
Helmi kembali memberikan kecupan manis dan segera melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Tapi selang beberapa langkah, Layla kembali memanggil dirinya.
"Mas, Layla ikut yah." Pinta Layla pada Helmi.
Helmi kembali ke ranjang pasien dan kembali mengecup lembut kening Layla.
"Kamu kan lagi tidak sholat, sayang. Apa kamu takut yah berpisah sama mas?" goda Helmi pada Layla.
"Bukan itu, Mas. Layla mau ganti pembalut." ucap Layla dengan suara yang berusaha ia pelankan.
Helmi tersenyum dan kembali mencium kening Layla untuk kesekian kalinya.
"Tunggu bentar yah, mas ambilin dulu pembalut kamu. Maaf yah Mas ngak peka, kamu pasti ngak nyaman banget yah?" Helmi yang melangkah pada sebuah lemari kecil yang berada di sebelah Layla dan segera mengambil satu pembalut pengganti untuk Layla.
Helmi kembali menggendong Layla tanpa meminta persetujuan dari Layla.
"Mas, Layla jalan aja." pinta Layla pada Helmi.
"Ngak apa-apa kok, Lagian kan kamu masih belum berat, sayang." ucap Helmi yang tidak ingin menurunkan Layla.
"Bukan itu Mas …." ucap Layla terpotong karena saking malunya jika dirinya harus berucap pada Helmi.
"Kamu tenang saja, Layla. Mas tidak bakal jijik kok." Bisik Helmi yang mengerti maksud kenapa Layla tidak mau di gendong oleh dirinya sekarang.
"Ngak usah Mas, Layla bisa sendiri!" ucap Layla ketika tangan Helmi akan membuka celana tidur yang tengah dirinya pakai.
"Kenapa?! Kamu masih malu sama Mas? Mas inikan suami kamu, masa iya nggak boleh bantuin istrinya sih!" ucap Helmi yang mengerti bahwa Layla masih belum bisa terbuka untuk alasan apapun pada dirinya.
"Bukan itu maksud Layla, Mas." ucap Layla yang seakan takut jika Helmi akan kembali salah faham pada dirinya nanti.
"Ya sudah, Mas tahu kalo kamu belum terbiasa."
"Kamu yang buka celana kamu yah, setelah itu biar mas yang bilas." ucap Helmi yang akhirnya mengalah pada Layla.
Walaupun sebenarnya Layla masih begitu malu jika Helmi yang akan membersihkan darah haidnya, tapi mau bagaimana lagi dirinya tidak dapat melihat sudah dipastikan jika Helmi akan begitu cemas jika Layla kembali terjatuh di kamar mandi untuk kedua kalinya.
"Iya, Mas." balas Layla yang akhirnya setuju dengan ucapan suaminya tersebut.
Helmi sudah selesai membersihkan pembalut Layla dan sepertinya Layla juga sudah selesai memakai kembali pembalut pengganti nya.
Helmi segera berdiri dan berucap.
"Sudah selesai pakai nya, sayang?" tanya Helmi yang membasuh tangan nya dengan sabun.
"udah, Mas." balas Layla sembari berucap.
"Makasih, Mas Helmi." ucap Layla yang kembali mendapatkan kecupan manis di kening Layla.
__ADS_1
"Iya, sama-sama." balas Helmi.
"Mas ambil air wudhu dulu yah, kamu tunggu disini sebentar." ucap Helmi yang segera berwudlu seperti yang sudah diajarkan oleh Layla pada dirinya.
Helmi sudah selesai berwudhu dan dirinya segera melangkah mendekat pada Layla yang mengikuti arahan dari Helmi agar tetap berdiri disana hingga Helmi kembali mendekat pada dirinya.
"Kamu nunggu lama yah sayang, maafin Mas yah." ucap Helmi yang segera menggendong Layla kembali untuk kembali ke ruangan utama.
Hati Helmi begitu semakin sakit ketika memikirkan bagaimana dirinya akan meninggalkan Layla untuk urusan penting, urusan melindungi nyawa Layla dari mereka yang ternyata mengincar keselamatan Layla.
'ya Rabb, berikanlah hamba kekuatan agar dapat melindungi istri hamba. Hamba begitu ingin meminta maaf dengan tulus akan semua kebodohan yang pernah hamba lakukan pada dirinya.' batin Helmi yang berusaha tegar ketika tengah menggendong Layla.
Helmi segera menurunkan Layla kembali di ranjang pasien dan mengecup lembut kening Layla.
"Kamu tunggu sebentar yah, sayang. Mas mau sholat dulu, tetap disini hingga mas kembali memberikan kecupan itu untuk sekian kalinya di kening kamu." ucap Helmi yang kembali mengecup lembut kening Layla.
"Iya, Mas." balas Layla.
"Mas." Panggil Layla kembali.
"Iya, kamu mau apa, sayang?" tanya Helmi yang kembali memberikan kecupan manis di kening Layla.
"Jangan lupa doain Papa, Mas." ucap Layla pada Helmi yang membuat Helmi memberikan senyuman manis akan ucapan yang diucapkan Layla pada dirinya.
"Iya, makasih sudah mengingatkan Mas, sayang. Mas juga akan meminta pada yang di atas agar tetap menjadikan keluarga kita sakinah mawadah dan warahmah." ucap Helmi yang kembali memberikan kecupan manis di kening Layla sebelum dirinya melaksanakan sholat subuh.
"Amin …." ucap Layla yang kembali keceplosan dikarenakan dirinya begitu bahagia dapat merasakan perubahan sikap Helmi yang sudah kembali mengarah ke arah jalan yang benar.
Helmi tersenyum manis dan segera mencubit gemas pada pipi Layla yang cukup gembul dan itu membuat dirinya semakin disayang oleh Helmi.
" Ih, kamu kok makin hari makin gemes aja sih, sayang? Ngak mau pisah yah sama Mas?" goda Helmi pada Layla dan ucapan Helmi kembali membuat pipi Layla kembali merona seperti biasanya.
"Ihhh, Mas Helmi. Layla kan malu." ucap Layla yang begitu bahagia jika dirinya dan Helmi sudah benar-benar menjadi keluarga yang utuh bahkan sudah saling mencintai satu sama lain.
"Enggak apa-apa kok, sayang. Jujur aja jika kamu tuh nggak mau pisah untuk sedetik pun sama Mas." ucap Helmi yang kembali memberikan kecupan manis di kening Layla.
"Mas sholat subuh dulu yah, kamu tetap disini hingga mas kembali." ucap Helmi yang akan fokus menunaikan kewajiban nya sebagai seorang mustahil.
Helmi begitu beruntung dapat memiliki istri seperti Layla. Hanya Layla yang dapat merubah semua sikap buruk Helmi yang sudah mengakar dalam hatinya.
Dimulai dari mencintai Layla yang hanya ia miliki lewat perjodohan yang dilakukan oleh Papanya. Hingga Helmi yang sudah mulai kembali berbakti pada kedua orang tuanya terutama tuan Andika yang selama ini begitu dibenci oleh Helmi karena beberapa alasan.
Alasan pertama dikarenakan papanya yang selalu membanding-bandingkan dirinya dan Keano hingga acara perjodohan dengan Layla yang awalnya begitu ditolak oleh Helmi.
Tapi semua itu berubah ketika sifat baik Layla pada dirinya. Semua sifat buruk itu seketika hilang dalam hati Helmi dan Helmi kembali menjadi pribadi Helmi yang lebih baik lagi.
Episode baru sudah kembali!
Sok diberi jempol tanda cinta nya pada episode kali ini!
Jangan lupa kasih gift hadiah / vote bagi episode kali ini yah🤗
__ADS_1
Nantikan episode romantis antara Helmi dan Layla di episode berikutnya!