Menjadi Yang Kedua: Gadis Belia Untuk Om Duda

Menjadi Yang Kedua: Gadis Belia Untuk Om Duda
pelukan terakhir!


__ADS_3

Ibarat mata koin, dia memiliki dua sisi. Jika ada satu sisi yang tengah merasakan kegelisahan maka dilain sisi akan ada yang tengah merasakan ketenangan.


Ketenangan cinta bukanlah apa-apa sekarang, karena ujian cinta itu akan dimulai.


Apakah ini akan menjadi momen terakhir romansa kita?!


Sepertinya iya, akan banyak pemisah yang akan terjadi dan itu tidak akan mengizinkan kita untuk bersama saling merajut kasih layaknya insan manusia yang sudah saling jatuh cinta pada waktu yang tepat.


Sepertinya kita sudah tidak akan ada celah untuk saling berbagi rasa cinta ini, Layla. Terlalu banyak kerikil-kerikil kecil yang harus kita hadapi saat ini.


Ya Tuhan ….


Izinkan aku mengatakan untuk terakhir kalinya jika ini memang akan menjadi takdir diantara kita.


Izinkan aku menyampaikan bahwa aku begitu mencintai wanita sempurna yang bernama Layla.


******


Saat ini Helmi begitu merenungkan pesan yang baru saja ia terima dari Keano. Dirinya seakan hancur dalam seketika, dirinya benar-benar goyah dan air mata itu sudah semakin terlihat jelas di wajah tampan itu.


'Huh! Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?! Apa aku akan meninggalkan cinta ku untuk kedua kalinya lagi?!' batin Helmi yang menutup matanya untuk seketika.


Tidak sanggup bagi dirinya untuk membayangkan jika takdir yang akan kembali memisahkan dirinya dan Layla.


Helmi kemudian memeriksa kembali pesan yang kembali masuk lewat ponsel miliknya.


Tertera atas nama Keano pada pukul 03.21 menit.


( Helmi, mungkin ini akan menjadi berita yang tidak enak jika harus kamu dengar. Tapi … ada hal penting yang harus kita bicarakan! Saya tahu kamu akan menolak ajakan saya kembali, tapi … masalah ini bersangkutan dengan keselamatan Layla. Saya harap kamu mengerti posisi rumit ini!)


Helmi menghela nafas panjang dan segera berucap dalam hatinya.


'kenapa takdir tidak bisa ditebak seperti ini! Kenapa ketika aku mulai jatuh cinta dan tidak ingin adanya perpisahan malah takdir sendiri yang akan memisahkan aku dengan wanita yang sedang aku rajut kemesraan bersama dengan dirinya.' batin Helmi yang segera membalas pesan yang sudah dikirimkan oleh Keano pada dirinya.


(Baiklah, kapan kita bisa bertemu?!) Pesan dari Helmi pada Keano.


(Jika bisa secepatnya! Karena ada hal aneh yang sedang begitu saya pikirkan sekarang dan sepertinya masa lalu kita akan kembali sebentar lagi!) Pesan Keano pun kembali diterima oleh Helmi.


(Baiklah, kita akan bertemu pada pukul 09.30. bagaimana?! Apa kamu sudah pulih pada pukul itu?!) Helmi segera membalas pesan yang ia terima dari Keano.


(Baik, saya menyetujuinya. Kita bertemu di atas gedung rumah sakit ini.) Keano yang segera membalas pesan dari Helmi.


(Baiklah, saya harap kamu tidak akan membahas masalah yang berkaitan erat dengan Layla nantinya. Saya hanya takut jika dirinya tahu siapa saya sebenarnya maka sudah dapat dipastikan dirinya akan terlibat semakin jauh dalam urusan yang seharusnya hanya kita yang melewati ini semua. Apa kamu dapat saya percaya kembali, Keano?!) Helmi yang kembali memberikan satu pesan pada sahabat lamanya tersebut.


Sebenarnya Helmi sudah dapat menebak dari awal, dimulai Helmi dan Keano begitu penasaran pada sebuah organisasi.


Dirinya dapat menebak jika ada seorang wanita yang sedang menjadi incaran organisasi tersebut. Tapi … Helmi begitu tidak percaya jika wanita yang menjadi incaran organisasi tersebut adalah Layla.


'apa sebenarnya hubungan antara Layla dengan mereka semua! Apa yang telah terjadi di masa lalu itu?! Kenapa Layla bisa ikut terjerat dengan organisasi bahaya seperti mereka.' batin Helmi yang begitu heran seakan ada satu alur masa lalu yang terlewati oleh dirinya.


Pikiran Helmi akhirnya tergoyahkan oleh suara benda jatuh dari kamar mandi.

__ADS_1


"Astaghfirullah!" ucapan yang samar-samar terdengar di telinga Helmi dan ucapan tersebut membuat dirinya begitu panik dan segera berlari ke dalam kamar mandi.


"Layla!" Teriak Helmi ketika dirinya mendapatkan Layla terjatuh.


"Mas?!" ucap Layla yang berusaha tenang walaupun dirinya mendapatkan luka di bagian kening akibat dirinya yang terjatuh dari dalam kamar mandi.


Helmi segera mengangkat Layla menuju ke kamar utama kembali untuk segera memberikan obat pada luka dan itu cukup berdarah di bagian kening Layla.


Helmi segera mendudukkan Layla di tepi ranjang dan segera mengambil kotak pertolongan pertama yang memang sudah disediakan di ruangan tersebut.


"Awg!" Layla yang perih akan obat antiseptik yang diberikan oleh Helmi pada keningnya.


"Tahan sebentar yah, Layla. Ini memang perih tapi jika tidak diobati takutnya luka kamu akan semakin infeksi nantinya." ucap Helmi yang dapat melihat raut wajah Layla yang sedang menahan perih akan obat antiseptik yang ia berikan pada luka Layla.


"Iya, Mas." Balas Layla yang berusaha menahan rasa perih tersebut.


Helmi pun dengan begitu cekatan memberikan obat antiseptik tersebut pada luka Layla, tidak membutuhkan waktu lama luka yang dialami oleh Layla sudah tertutup dengan sempurna oleh Helmi.


Helmi segera menutup kembali kotak pertolongan pertama tersebut dan segera berucap pada Layla.


"Tunggu sebentar yah, Layla. Mas ngak bakal lama kok." ucap Helmi yang kembali memberikan kecupan manis di kening Layla.


Entah kenapa di setiap Helmi memberikan kecupan manis tersebut pada dirinya, pipi Layla akan selalu merona bagaikan buah delima yang merekah dengan begitu indah.


'ya Rabb, kenapa hatiku selalu berdebar kencang ketika mas Helmi selalu memberikan ciuman itu?! Kenapa hatiku begitu takut sekarang?! Seakan ciuman yang diberikan oleh mas Helmi akan menjadi yang terakhir bagi diriku?!'


'ya Rabb, hamba hanya meminta agar mas Helmi akan selalu berada di samping ku. Apa aku salah meminta demikian ya Rabb?!' batin Layla yang dapat merasakan Filing kembali jika suaminya tersebut akan kembali meninggalkan dirinya bahkan filing kali ini terlalu membuat Layla begitu ketakutan seakan suaminya akan meninggalkan dirinya untuk selamanya.


Satu kecupan manis pun kembali Layla rasakan di bagian kening nya dan itu kembali membuat pipi Layla selalu merona merah ketika Helmi memberikan ciuman dengan teramat lembut.


"Kenapa, Layla?!" tanya Helmi ketika dirinya duduk bersebelahan dengan Layla.


"Maksudnya, mas?!" ucap Layla heran yang mendengarkan ucapan dari suaminya tersebut.


"Kenapa pipi kamu merona seperti itu?" ucap Helmi yang semakin membuat pipi Layla kembali beraksi dan menunjukkan rona yang semakin merah saja.


Layla hanya memberikan gelangan kepala dan tingkah Layla tersebut terlalu polos bagi Helmi yang menurutnya ciuman tersebut adalah hal yang wajar dalam sebuah pernikahan dan sudah menjadi kebutuhan bagi Layla maupun dirinya.


"Mas heran deh, kenapa setiap kali mas kasih kamu ciuman. Pipi kamu pasti akan selalu merona seperti ini?"


"Hmmm, jangan bilang yah kalo kamu tuh masih malu pas lagi sama, Mas?" Helmi yang kembali berniat untuk menggoda Layla yang sudah menjadi rutinitas sehari-hari Helmi setiap kali Layla memberikan respon yang menurutnya begitu polos.


"Mas!" Pekik Layla yang selalu tidak akan tahan jika suaminya memberikan ucapan yang menurut dirinya ucapan yang begitu gombal untuk dirinya terima.


"Hehehe, maaf Layla. Mas hanya menggodamu saja."


"Habisnya sih pipi kamu tuh bakal terus merona bagaikan buah delima yang merekah setiap kali mas berikan ciuman." ucap Helmi yang kembali memberikan kecupan manis lagi dan lagi pada kening Layla.


"Buka mulutnya?" ucap Helmi yang membuat Layla merasa heran dan berpikir bahwa Helmi akan kembali memberikan kecupan manis itu sekarang di bibir miliknya.


Bukannya membuka mulut Layla malah semakin menutup rapat mulutnya dan suara deg deg degan yang dapat dirasakan oleh Helmi.

__ADS_1


Helmi sudah dapat mengetahui tentang pikiran yang sedang Layla pikirkan akan ucapan yang baru saja diucapkan pada Layla. Dirinya akan selalu semakin tergoda untuk membuat pipi Layla semakin merona secara dan membuat jantung Layla berdetak dengan begitu kencang.


Helmi pun semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Layla dan itu sontak membuat jantung Layla semakin berdetak dengan begitu kencang.


Layla menelan salivanya ketika Helmi memegang bagian leher belakang Layla.


Helmi semakin berniat untuk menggoda Layla, ia semakin mendekati wajah yang sedang berusaha menahan rona merah sekaligus perasaan deg deg degan yang tengah berusaha Layla sembunyikan dari Helmi.


"Puk." Satu kecupan pun kembali Helmi berikan pada Layla.


"Ini?!" ucap Layla ketika dirinya merasakan sedang memakan satu suapan apel kecil dari Helmi dan satu suapan apel kecil tersebut diberikan oleh Helmi ketika mereka berdua sedang berciuman.


"Kenapa, sayang? Mau lagi yah?" Helmi yang semakin berniat menggoda Layla ketika istrinya tersebut memberikan respon heran akan satu suapan yang tengah dirinya rasakan.


"Mas, ini …." Layla yang masih berusaha menebak apa yang baru saja ia kunyah.


"Mas ini apel?!" tanya Layla.


Sontak saja ucapan Layla membuat Helmi tertawa lepas ketika mendengar ucapan yang baru saja diucapkan oleh istri tercinta nya tersebut.


"Ha hah."


"Kamu baru sadar kalo yang kamu makan itu apel, sayang?" Helmi yang kembali memotong beberapa potongan apel untuk diberikan pada Layla.


"Buka mulut kamu, Layla?" ucap Helmi yang kembali membuat pipi Layla merona kembali.


"Tenang saja, sekarang mas gak berniat kok untuk menggoda kamu." ucap Helmi yang menyuapi beberapa potongan apel untuk Layla.


"Kamu harus makan banyak buah-buahan, Layla. Semoga kamu tuh gak gampang sakit nantinya." ucap Helmi pada Layla di sela-sela suapan yang diberikan Helmi untuk istri tercintanya.


"Mas kamu ngomong seperti ini, bikin hatiku cemas saja mas." ucap Helmi yang membuat raut wajah heran Helmi pun seketika muncul disela dirinya memberikan suapan pada Layla dengan teramat sayang.


"Maksud kamu apa, Layla? Kok kamu malah ngomong seperti itu sih?" ucap Helmi dengan raut wajah yang tidak suka akan ucapan Layla yang mengatakan jika Layla seakan mendapatkan firasat bahwa dirinya akan menghadapi masalah besar.


"Nggak, Mas. Layla hanya mendapatkan filling saja jika mas Helmi akan kembali meninggalkan Layla." ucap Layla yang membuat Helmi memberikan pelukan hangat pada Layla yang berucap seakan mereka berdua sudah memiliki koneksi satu sama lain.


Layla membalas pelukan hangat Helmi dan segera berucap yang membuat hati Helmi seakan tidak rela jika dirinya dan Helmi akan berpisah walaupun hanya untuk waktu sementara.


"Jangan tinggalkan Layla, Mas." ucap Layla yang semakin mempererat pelukannya tersebut.


Air mata yang tengah berusaha ditahan oleh Helmi agar tidak keluar dan tidak membuat ucapan cemas yang sedang Layla rasakan semakin terjadi.


Helmi segera berucap untuk menenangkan Layla.


"Mas gak bakal ninggalin kamu, sayang." ucap Helmi yang juga semakin mengeratkan pelukan tersebut.


Bab baru sudah datang, cuss mari diberi tanda jempol cintanya bagi author ….


Btw kasih vote juga yah readers ….


Tunggu up selanjutnya!

__ADS_1


__ADS_2