Menjadi Yang Kedua: Gadis Belia Untuk Om Duda

Menjadi Yang Kedua: Gadis Belia Untuk Om Duda
AB Rhesus positif.


__ADS_3

Aku hingga saat ini masih terus berusaha agar kamu tidak tahu kenyataan yang sebenarnya. Kenyataan yang akan membuat air mata berharga itu jatuh secara percuma. Maafkan diriku, Layla. Aku memang lelaki bodoh yang tidak layak untuk kamu cintai! Aku hanya seorang pecundang yang tidak seharusnya mendapatkan dirimu yang begitu sempurna bagiku.


******


"Layla, kamu jangan pernah berucap seperti itu. Kamu sempurna Layla, kamu sempurna lewat hatimu. Tidak ada celah retak dalam kehidupanmu Layla."


"Aku … aku lelaki yang tidak sempurna itu! Aku seharusnya tidak pantas untuk mendapatkan cinta dari wanita sempurna seperti kamu, Layla."


"Tapi … kamu malah mampu merubah semua yang ada dalam hatiku, hidupku. Kamu yang mampu membuat diriku sadar akan kesalahan besar yang pernah aku lakukan. Hanya kamu wanita sempurna itu, Layla."


"Aku berjanji, aku berjanji padamu, Layla. Akan ku serahkan hidupku hanya untukmu selamanya, hingga hanya kematian yang akan memisahkan kita nanti." ucap Helmi yang berucap dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Tidak dapat ia bayangkan nantinya jika Layla akan meninggalkan dirinya akan kesalahan yang sudah ia perbuat selama ini, semua kebohongan yang pernah ia lakukan pada Layla.


'aku memang lelaki bodoh! Padahal diriku ini sudah mendapatkan bidadari surga itu, aku malah menyia-nyiakan dia. Hingga akhirnya dirinya akan tahu kenyataan pahit yang berusaha aku tutupi hingga saat ini.'


'oh Tuhan, jika aku boleh meminta padamu. Aku hanya ingin satu hal biarkan aku mengukir kisah cinta dengan layla.'


'jika aku boleh meminta permintaan bodoh padaMu aku hanya ingin semua rahasia ini hanya aku yang mengetahui kepahitan dari masa lalu ku itu.' batin Helmi yang begitu takut akan kehilangan Layla dalam hidupnya.'


"Mas, kamu jangan seperti itu. Kamu sempurna di mataku, Mas Helmi. Walaupun aku tidak pernah melihat wajahmu tapi … aku dapat merasakan cinta di hatimu."


"Aku hanya ingin hidup bersama dengan dirimu, Mas. Hanya itu yang aku inginkan, kamu jangan pernah tinggalkan aku Mas, apapun alasannya. Aku tidak bisa hidup tanpamu mu Mas. Hatiku sudah dikuasai oleh cintamu dan itu tidak akan bisa aku lupakan untuk alasan apapun." ucap Layla yang berusaha untuk menghapus air mata Helmi yang sudah mulai bercucuran keluar meratapi hal yang paling ia takutkan itu akan terjadi.


'walaupun kamu tahu semua kenyataan pahit itu, Layla?! Akan ku pastikan kamu akan membenci diriku nantinya. Aku telah membuat tinta hitam dalam rumah tangga kita, Layla.' batin Helmi yang kembali tersakiti jika hal yang paling ia takutkan benar-benar akan terjadi.


"Mas, kamu jangan menangis lagi, Mas. Aku tidak bisa membiarkan kamu menangis seperti ini." Layla yang berusaha untuk menghibur Helmi yang air matanya sama sekali tidak ingin berhenti untuk menyatakan maaf secara tersirat lewat air mata penyesalan itu.


Helmi memegang tangan Layla yang sedang berada di wajah yang semakin menangis tersedu-sedu, ia pegang wajah itu dengan teramat sayang sembari berucap.


"Layla, aku tidak akan pernah berhenti menangis. Apalagi jika kamu tidak ada di sampingku, Layla. Aku … hatiku … sudah dikuasai oleh kamu, Layla."


"Aku hanya ingin hidup bahagia bersama dengan dirimu, Layla. Hidup bahagia dengan anak kita nantinya, menua bersama, hanya itu yang aku inginkan." ucap Helmi yang segera memeluk erat kembali tubuh Layla. Seakan pelukan itu akan menjadi pelukan terakhir bagi dirinya dan Layla.


*****


Helmi dan Keano sudah berada di rumah sakit untuk mendapatkan tindak lanjut, semua para anggota detektif begitu panik.


"Bagaimana ini, Inspektur?! Mereka berdua kehabisan darah begitu banyak dan membutuhkan banyak darah! Sementara rumah sakit ini sedang kehabisan darah yang mereka butuhkan." ucap salah seorang detektif yang melaporkan kondisi drop dari Helmi dan Keano.


"Apa tidak ada golongan darah yang pas untuk mereka berdua?! Bagaimana dengan golongan darah Anda, Detektif?! Apa anda sudah melakukan pemeriksaan?!" ucap Inspektur yang begitu panik.


"Golongan darah saya hanya cocok dengan satu detektif saja, sedangkan golongan darah dari anggota detektif lainnya tidak ada cocok Inspektur." ucap Detektif yang sudah berhasil melakukan transfusi darah sayangnya hanya satu detektif yang bisa ia bantu mendonorkan darah nya.


"Apa golongan darah satu detektif itu?!" ucap Inspektur yang begitu panik.


"Golongan darah AB rhesus positif, dan itu golongan darah yang sulit untuk didapatkan sekarang. Dan pihak dari rumah sakit ini sudah kewalahan mencari golongan darah itu sudah lebih dari satu bulan lamanya." Detektif yang menceritakan semua informasi tentang golongan darah yang begitu sulit untuk didapatkan pendonor darah yang sesuai dengan golongan darah satu detektif lagi.


*****


"Golongan darah saya AB rhesus positif, apa saya bisa melakukan transfusi darah itu?" Layla yang berucap ketika dirinya didampingi oleh mamanya ketika kedua orang tua dari Helmi sedang mengurus biaya administrasi dan papanya Layla yang tidak dapat ikut untuk ke rumah sakit dikarenakan urusan mendadak yang harus segera ia selesaikan.


"Anda siapa, Nona?!" Tanya inspektur kepolisian yang menatap penuh harap pada Layla.


"Saya istri dari pasien, apa boleh saya melakukan transfusi darah itu sekarang?!" ucap Layla yang mengira jika orang yang membutuhkan golongan darah itu adalah Helmi.

__ADS_1


"Baiklah, Anda boleh ikut saya segera. Kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu ini." Inspektur kepolisian yang berucap dengan wajah lega karena satu orang detektif yang membutuhkan golongan darah dapat tertolong dengan seorang wanita yang memiliki golongan darah yang sama dengan dirinya.


"Mari saya bantu, Nona. Ibu tunggu disini sebentar ada hal yang perlu saya bicarakan dengan ibu." ucap Inspektur kepolisian pada mamanya Layla.


"Baik, Pak." Mamanya Layla yang menyetujui ucapan dari inspektur kepolisian.


Akhirnya Layla diantarkan oleh seorang anggota detektif yang telah melakukan transfusi darah dan segera berucap pada Layla.


"Mari, Nona. Saya antarkan Anda keruangan nya." ucap detektif yang menuntun Layla melangkah.


Layla hanya memberikan anggukan kecil dalam hatinya ia begitu mencemaskan Helmi, Layla tidak henti-hentinya berdoa memohon agar Helmi masih bisa terselamatkan.


'ya Allah aku butuh keajaiban Mu, ya Rabb. Berilah kesehatan pada Mas Helmi. Biarkan hamba dapat kembali mencintai Mas Helmi.' pinta Layla pada Tuhan yang maha esa.


Layla sudah berada di ruangan tempat Dokter yang akan melakukan transfusi darah.


"Malam, Dokter. Nona ini memiliki golongan darah yang sama dengan pasien." ucap seorang detektif yang sudah mengantarkan Layla.


"Baik, mari saya periksa kembali golongan darah Anda, Buk. Jika cocok kita akan segera melakukan transfusi." ucap Dokter tersebut.


"Baik, Dokter." ucap Layla yang harap-harap cemas.


'ya Allah semoga golongan darah ku ini cocok, semoga Mas Helmi dapat terselamatkan.' Layla yang begitu berharap jika golongan darahnya dapat ditransfusikan.


*****


Waktu transfusi darah pun sudah selesai, sekarang Layla dengan satu detektif yang membutuhkan darah dari dirinya sedang berbaring bersebelahan dengan Layla, hanya sebuah kain yang menjadi batas di antara detektif tersebut dengan Layla.


Mata detektif itu mulai terbuka kembali, dan samar-samar penglihatannya sudah kembali pulih.


"Dimana aku?! Apa aku masih hidup?!" ucap detektif yang dapat mencium bau obat-obatan dari ruangan tempat ia berada sekarang.


"Siapa yang telah melakukan transfusi darah padaku? Golongan darah diriku begitu sulit untuk didapatkan, siapa orang baik yang sudah menyelamatkan nyawa ku ini?!" Detektif tersebut yang akhirnya menyadari jika dirinya baru sadar setelah menerima transfusi darah dari seorang.


Dirinya melihat sebuah tirai yang membatasi dirinya dengan pendonor darah yang sudah menyelamatkan nyawanya dari kematian.


Dengan susah payah dirinya berusaha membuka tirai tersebut dan begitu berterima kasih pada orang yang sudah mendonorkan darahnya untuk dirinya.


Tapi siapa sangka pendonor tersebut adalah orang begitu ia kenali.


"Layla?!" ucap dirinya yang begitu tidak percaya jika pendonor darah yang sudah menyelamatkan nyawanya dua kali adalah Layla.


'bagaimana mungkin?! Bagaimana mungkin ini bisa terjadi! Apa ini satu tanda jika diriku sebenarnya memang ditakdirkan bersama dengan Layla?!' Keano yang begitu tidak percaya ketika menatap lekat pada wanita yang masih belum sadar setelah melakukan transfusi darah untuk dirinya.


Layla masih belum tersadar dan itu membuat Keano yang begitu dekat dengan Layla dapat menatap puas pada wajah yang sudah menyelamatkan nyawanya, ia seraya bergumam dalam hatinya.


'Oh Tuhan, apa aku salah mencintai wanita ini? Apa aku salah jika aku begitu berharap dapat bersama dengan dirinya nanti. Aku tahu hatinya sudah dikuasai oleh seseorang tapi … hatiku juga sudah dikuasai oleh dirinya. Apa aku salah jika berharap dirinya akan kumiliki nantinya.'


*****


Sementara itu di ruangan tempat Helmi dirawat, hanya terdapat seorang wanita tua renta yang tidak lain adalah si mbok yang merupakan asisten kepercayaan keluarga Andika selama ini. Kedua orangtuanya dan juga mama mertuanya masih ada urusan yang harus mereka selesaikan dengan para anggota kepolisian.


Helmi sudah mulai tersadar dari koma dan ia mulai mengumpulkan semangat agar ia dapat melihat jelas tentang dimana ia sekarang berada. Helmi sudah kembali tersadar sepenuhnya dan ia segera berucap.

__ADS_1


"Layla." ucap Helmi dengan nada cukup lembut.


Helmi mulai menatap tempat ia berada sekarang dan segera berucap dengan pelan karena dirinya masih dalam tahap pemulihan.


"Dimana aku sekarang? Apa aku di rumah sakit?" Pikir Helmi yang dapat melihat tembok berwarna putih dan dapat mencium bau obat-obatan yang tercium dengan jelas di ruangan tempat dirinya berada sekarang.


"Apa aku telah melakukan transfusi darah?" Helmi yang samar-samar melihat pada tangannya.


"Dimana Layla?! Aku membutuhkan dirinya saat ini. Apa dia baik-baik saja?!" Gumam Helmi yang tidak dapat menemukan Layla di satu ruangan tersebut.


Tiba-tiba ceklek, salah satu pintu terbuka dan Helmi yang mendengar pintu terbuka tersebut langsung berucap.


"Layla?!" ucap Helmi.


"Den, den sudah sadar. Syukurlah jika den Helmi selamat." ucap si mbok yang mendekat pada Helmi.


"Mbok! Layla dimana, Mbok. Kenapa dia tidak ada di ruangan ini?!"


"Apa Layla masih belum tahu tentang kondisi saya sekarang, Mbok?" tanya Helmi pada si mbok.


"Nyonya Layla sedang melakukan transfusi darah, Den. Dan kedua orang tua Den Helmi sedang ada urusan di kasir rumah sakit ini." ucap si Mbok yang memberitahu pada Helmi yang memberikan raut cukup kaget.


"Transfusi?!" ucap Helmi dengan raut kaget.


"Iya, Nyonya Layla sedang memberikan transfusi darah pada seseorang yang membutuhkan donor darah, Den Helmi. Dan untungnya golongan darah Nyonya Layla sesuai dengan orang yang membutuhkan sedang banyak darah." Penjelasan dari si Mbok yang membuat Helmi hanya terdiam.


'apa orang yang membutuhkan golongan darah Layla adalah Keano?!' batin Helmi yang juga menyadari jika Keano juga membutuhkan banyak darah sama seperti dirinya.


Helmi kembali bertanya pada si Mbok untuk memastikan penerima golongan darah dari Layla.


"Siapa pasien yang menerima golongan darah Layla, Mbok?! Apa mbok tahu?" tanya Helmi.


"Maaf Den Helmi, untuk itu si Mbok tidak tahu. Tapi … yang pasti Nyonya Layla tadinya diantar oleh anggota kepolisian ke ruangan transfusi darah." Penjelasan si mbok yang membuat Helmi sudah dapat menduga jika orang yang menerima donor darah dari Layla adalah Keano.


'sudah dapat dipastikan jika penerima darah Layla adalah Keano, apa ini bukti jika Keano lah yang akan memiliki Layla seutuhnya?! Ya Allah, jika hamba boleh meminta permintaan bodoh padaMu, hamba hanya berharap jika ini semua hanyalah sebuah kebetulan bukan bukti dari diriMu jika aku bukanlah yang terbaik untuk Layla.'


'ya Rabb, hamba tahu jika diri hamba tidak sempurna untuk Layla. Tapi … izinkan hamba memulai kembali dari awal semua ini, izinkan hamba membahagiakan Layla selamanya.'


*****


Sementara itu, di tempat Keano berada yang satu ruangan dengan Layla. Dirinya sama sekali tidak bosan untuk menatap wajah indah Layla yang dapat ia lihat dengan begitu dekat.


"Layla, kamu masih sama seperti dulu. Kamu masih mampu membuat diriku terhipnotis oleh wajahmu yang begitu ayu."


"Apa salah jika diriku ini begitu menginginkan memiliki mu untuk seutuhnya, Layla?! Aku tidak dapat membohongi kata hatiku, Layla. Aku sudah begitu mencintai dirimu, Layla. Hatiku sudah dipenuhi akan namamu, wajahmu, semua tentang dirimu, Layla."


"Aku berjanji, aku tidak akan menikah dengan perempuan manapun kecuali dengan dirimu. Aku tahu keadaannya begitu pelik untuk saat ini, aku sudah tidak ada celah sedikitpun untuk memilikimu sekarang."


"Helmi sudah begitu mencintai dirimu, Layla. Aku dapat merasakan itu dari matanya, dia sudah berhasil jatuh cinta pada dirimu."


"Jika sudah begini, aku akan tetap melajang hingga masa tuaku nanti. Seandainya aku dan kamu dapat bersama walaupun itu hanya sementara aku akan begitu bersyukur akan takdir itu." ucap Keano sembari menatap wajah teduh Layla yang sudah tidak dapat digantikan oleh wanita manapun dalam hatinya, hanya Layla wanita yang sudah membuat dirinya merasakan jatuh cinta dan itu sudah begitu besar rasa kecintaannya pada Layla.


"Aku bisa gila jika kita tidak bersama, Layla. Aku akan setia menunggumu dalam hatiku, walaupun itu harus menunggu masa tua. Aku akan setia menunggu kedatanganmu dalam hatiku, tidak ada wanita manapun yang dapat menggantikan posisimu dalam hatiku, Layla."

__ADS_1


__ADS_2