Menjadi Yang Kedua: Gadis Belia Untuk Om Duda

Menjadi Yang Kedua: Gadis Belia Untuk Om Duda
kembali hadir!


__ADS_3

Siapa sangka ini akan menjadi hal yang paling menyakitkan dalam hidupku. Siapa sangka malam ini linangan air mata itu akan kembali jatuh.


Tak ada hal yang lebih indah dari senyum wanita itu, wanita yang hadir di masa lalu, terpisah oleh rentang waktu, di pertemukan oleh kebencian dan kembali dipisahkan oleh takdir yang tak diinginkan.


*****


Helmi dan Keano masih dalam misi berbahaya yang akan selalu mengintai nyawa, bahkan untuk sedetik saja jika mereka lengah, maka nyawa itu akan benar-benar melayang untuk selamanya.


"Helmi, gue tahu tujuan Lo sebenarnya! Lo hanya ingin kita berdua yang menemui orang tersebut, bukan?!" ucap Keano yang masih fokus untuk mengendarai sepeda motor milik detektif Bromo.


"Keano, Lo pasti sudah paham akan semua kejadian yang kembali terulang. Gue hanya tidak ingin, jika ini akan kembali memakan lebih banyak korban!"


*****


Kasus serupa akan kembali hadir ...


"Apa anda tau dengan pepatah yang mengatakan jangan pernah percaya dengan tampilan luar saja. Kadang orang yang terkesan paling tak mungkin untuk di curigai, adalah pelaku sebenar nya!" ucap sang detektif SMA yang membuat para detektif, inspektur Dien kepolisian begitu tercengang dan berusaha untuk memikirkan tentang apa maksud dari perkataan sang detektif SMA tersebut.


"jangan pernah percaya dengan tampilan luar saja, kadang orang yang terkesan paling tak mungkin untuk di curigai, adalah pelaku sebenar nya!" Detektif Bromo yang juga ikut terlibat dalam kasus kali ini, begitu penasaran akan maksud dari perkataan Helmi muda.


"Apa yang di maksud oleh sang detektif SMA ini?!" Inspektur kepolisian yang masih mencoba mencocokkan pepatah yang di maksud oleh sang detektif SMA dengan kasus kali ini.


*****


"Tunggu sebentar! Jangan bilang jika nona ini adalah pelaku nya?!" dugaan dari Detektif Bromo.


"Hmm," tersenyum tipis.


"Salah! Ya, walaupun sang nona ini seperti nya memang ingin merencanakan kasus pembunuhan, tapi … beruntung nya sang nona ini masih memiliki perasaan sehingga tidak menjadi seorang tindakan kriminal. Bukan begitu nona?!" melirik ke arah nona Mutia.


Semua orang terperanjat dengan deduksi brilian dari sang detektif SMA tersebut. Helmi memang begitu cemerlang ketika memberikan deduksi hebat, bahkan tak butuh waktu lama untuk dirinya dapat memecahkan kasus-kasus rumit.


Tunggu sebentar!" ucap dua orang lelaki yang tak menyangka jika orang yang di kira dapat begitu di percaya, merencanakan sebuah tindakan pembunuhan.


"Mana mungkin! Mana mungkin dia merencanakan pembunuhan! Sementara dia ini begitu baik kepada semua orang, lagi pula setahu saya, hubungan kamu dengan korban juga baik-baik saja bukan?!" tanya Pras yang begitu meragukan bahkan terkesan tak percaya dengan deduksi dari sang detektif SMA tersebut.


"Anda jangan menuduh sembarangan! Anda hanya seorang siswa SMA. lagi pula memang nya Anda ada bukti sampai menuduh nona Beby juga ingin merencanakan pembunuhan ini!" Pras yang masih berpendapat bahwa deduksi dari Helmi hanyalah omong kosong belaka.


"Hmm," menyeringai,


Helmi begitu berharap jika nona Beby dapat mengaku akan semua tindakan yang sudah ia perbuat dan meninggalkan setitik tinta hitam di lembaran cahaya putih yang sudah ia bangun dan begitu ia jaga selama ini.


"Itu memang benar! Apa yang di bicarakan oleh sang detektif SMA ini memang benar!" kata-kata yang keluar dari mulut nona Beby benar-benar tak dapat di percaya oleh dua orang lelaki yang ada di ruangan tersebut. Yang sekaligus ditetapkan sebagai saksi dari kasus pembunuhan kali ini.


"Tapi … kenapa?! Untuk alasan apa kamu harus melenyapkan nyawa korban in?! Apa dia pernah menyakiti kamu. Sampai sampai kamu ingin melenyapkan nyawa orang yang tak berdosa?!" tanya Pras yang masih begitu terpukul dengan apa yang baru saja ia dengar.


*****


Nona Beby mendekat kepada tuan Prasetyo

__ADS_1


"Pras! Jangan di teruskan!" ucap Nona Beby yang memberikan ucapan begitu penuh makna bagi Pras.


"Tapi … kenapa?! Apa kamu sudah tau alasan kenapa saya kembali lagi ke sini?!" tanya Pras yang seakan begitu ingin meneteskan air mata nya.


"Karena … saya sudah ternodai!" ucapan nona Beby membuat Pras benar-benar tak percaya, sampai-sampai Pras dengan lemas nya membuang sebuah kotak berbentuk love, dengan tatapan kosong bagi seorang pria.


"Sebuah cincin?!" Detektif Bromo melihat cincin yang keluar dari kotak tersebut, ketika terjatuh di lantai


"Apa jangan-jangan … Dia ini ingin melamar Nona tersebut?" Dugaan dari Detektif Bromo.


"Dia pasti begitu terpukul dengan kenyataan pahit yang harus ia dengar." pikir detektif tersebut yang mengerti dengan perasaan tuan Pras .


*****


"Ternodai?!" tanya detektif Tomon yang ikut berbicara untuk menyelesaikan kasus kali ini.


"Ya, karena alasan tersebut lah saya begitu berusaha untuk melenyapkan nyawa dia, tapi … hal tak terduga itu hadir, saya sama sekali tidak menyentuh tubuh korban ini! Saya sudah menemui tubuhnya tergeletak di lantai dengan mulut penuh busa." Nona Beby yang begitu geram seakan hatinya sudah dipenuhi oleh dendam yang tak dapat ia tahan lebih lama lagi tapi juga ada hal yang menjanggalkan terjadi.


"Jika alasan nya suka sama suka, untuk apa anda harus melenyapkan nya?! Bukan nya Anda sendiri yang telah menyerahkan tubuh berharga Anda pada lelaki tersebut. Lantas kenapa sekarang harus seperti ini? Bukan nya ini terlalu aneh, Nona?!" ucap detektif SMA yang melirik pada wanita yang hanya terdiam menunduk.


"Itu memang benar! Tapi … setelah kejadian tersebut. Dia sama sekali tak mau bertanggung jawab. Dasar lelaki palsu! Bermulut manis tapi … setelah itu hanya mau lepas tangan!" ucap sang nona tersebut.


"Menurut saya, kamu tidak ada alasan untuk marah pada dirinya, apalagi berniat untuk membunuh nya! Jika sebenarnya kamu sendiri yang menyerahkan aset berharga Anda pada orang tersebut!" ucap sang detektif SMA yang membuat nona Beby geram dan mendekat ke arah Helmi yang tengah terluka parah dan langsung memegang kra baju Helmi seraya berucap.


"Karena kamu laki-laki! Kamu tak kan pernah mengerti!" ucap nona Beby dengan nada yang begitu keras mencekram kra baju Helmi.


"Jika Anda sudah tahu resikonya, kenapa Anda masih mau meneruskan nya!" tanya sang detektif SMA yang membuat sang nona terdiam.


"Jangan pernah menyalahkan orang lain dari kasus yang sebenarnya anda buat sendiri! Adalah pelaku sebenarnya!"


"Jika sudah tahu mulut lelaki itu dipenuhi oleh kepalsuan! Lantas kenapa masih mempercayai ucapan itu!" ucap Helmi muda pada wanita yang hanya terdiam lesu, karena menyadari akan tindakan gegabah yang sudah diperbuat waktu itu.


"Benar kata Anda, detektif muda. Penyesalan itu hanya akan selalu datang di akhir cerita, mungkin … itu yang tengah saya alami. Di butakan oleh cinta di awal cerita, diakhiri dengan dendam yang sudah begitu membara." Nona tersebut yang hanya bisa menyesali semua perbuatan yang sebenarnya, akar masalah itu dimulai dari nona tersebut.


"Tapi … saya memang belum sempat untuk membunuh korban, ketika itu saya memang berniat untuk menghabisi nyawa korban ini. Yang saya temukan korban sudah tidak bernyawa dengan mulut berbusa ketika saya pertama kali memasuki ruangan ini." Ucap Nona Beby yang membuat masalah baru kembali muncul. Ketika semua anggota kepolisian sudah lega bahwa kasus rumit ini sudah berhasil dipecahkan oleh detektif SMA yang begitu terkenal, tapi … nyatanya kasus itu belum tuntas untuk sepenuhnya.


Pelaku sebenarnya …


"Jika Anda memang tidak melenyapkan nyawa korban, lantas siapa pelaku sebenarnya?!" ucap Inspektur kepolisian yang begitu bingung akar masalah itu kembali melebar.


"Ada hal aneh Inspektur, jarak hotel ini dengan pos kepolisian kita begitu jauh. Tapi kenapa Anda dapat mendengar jeritan itu?!" Tanya Inspektur kepolisian pada seorang anggota detektif.


" Oh, mungkin karena waktu itu anggota yang lain sedang ada urusan, dan kebetulan saya juga tengah fokus ketika itu, dan mungkin juga semua penghuni hotel ini, tidak mendengarkan suara tersebut"ucap anggota kepolisian yang ditanyai oleh Inspektur kepolisian.


"Aneh ya, bagaimana mungkin anda yang menjaga di pos kepolisian, yang berada 3 kilometer dari ruangan ini, bisa begitu mengerti jika sudah terjadi kasus?!" ucap sang detektif SMA yang akan membuka kasus itu hingga tuntas.


"Itu hanya filing saja." balas anggota kepolisian mengelak


"Filing?!" Detektif Tomo yang mendekat kepada anggota kepolisian yang pertama kali menemukan tubuh korban.

__ADS_1


"Ya, karena saya melihat nya berhenti di persimpangan jalan hotel ini dengan begitu lesu dan seperti sudah terjadi hal buruk padanya. Saya ingin mendekat, tapi .. tiba tiba saja ternyata telah terjadi kasus perampokan. saya berpikir, itu mungkin hanya saja masalah kantornya, karena, anda bisa lihat sendiri bukan, jika korban menggunakan pakaian kantoran, oleh sebab itu, saya lebih mementingkan kasus perampokan."


"Sekitar 15 menit, ketika saya sudah kembali ke pos saya, pikiran saya masih melayang kepada pemuda yang berpenampilan lusuh seperti itu, dan ketika itu lah, saya mencoba masuk ke dalam hotel untuk memastikan jika filing saya salah."


"Tapi … ternyata feeling saya begitu benar, telah terjadi sesuatu. Saya menemukan tubuh korban tergeletak di lantai ini." penjelasan dari anggota kepolisian agar Helmi dapat mempercayai perkataannya tersebut.


(Tersenyum tipis)


Sang detektif SMA pun memberikan sebuah kata yang membuat satu ruangan begitu kaget akan ucapan dari sang detektif SMA tersebut.


( Tidak ada surga atau kehidupan setelah mati bagi komputer komputer yang rusak, itu hanya cerita bohong bagi orang yang takut kegelapan)


.


*****


Semua orang terperanjat dengan perkataan dari sang detektif SMA tersebut, seakan begitu penasaran dan ingin segera mengetahui maksud sebenarnya dari ucapan Helmi.


(Leon tersenyum tipis)


"Lebih baik anda sekarang jujur saja!"ucap sang detektif SMA kepada anggota kepolisian yang tertunduk diam.


"Saya … Saya hanya tidak ingin reputasi yang sudah saya bangun selama ini, hancur seketika karena kebodohan saya sendiri." ucap anggota kepolisian yang akhirnya mengakui akan kesalahan yang diperbuat.


"Tunggu sebentar!" detektif Tomo yang juga ikut berbicara seakan masih tak percaya jika salah satu dari anggota kepolisian lah pelaku sebenarnya.


"Tapi … untuk motif apa anda harus sampai melenyapkan nyawa korban?! Jika korban pernah melakukan kesalahan, seharusnya anda melaporkan nya bukan?! Kenapa harus dengan melenyapkan nyawa korban?!" tanya detektif Tomo yang masih tak percaya dengan kebenaran yang baru saja ia dengar dari mulut pelaku sebenarnya.


"Jika itu hanya kasus sederhana, mungkin saya akan melakukan seperti apa yang anda ucapkan. Tapi saya …." ucapan terpotong akibat Helmi juga ikut bersuara dan memberikan deduksi brilian nya kembali


"Seharusnya anda mengerti! Sebagai seorang detektif, jangan pernah membawa urusan pribadi dalam hal berbahaya seperti ini bukan?!" tanya sang detektif SMA.


"Seandainya saya tidak berbuat gegabah, mungkin saja mimpi buruk ini tidak terjadi!" mengepal tangannya yang dipenuhi oleh rasa penyesalan.


"Tapi … saya terlalu gegabah! Saya seorang penegak keadilan, tapi … malah saya yang terjebak dalam hal kriminal seperti ini!" Pelaku sebenarnya pun mengakui semua kesalahan yang sudah diperbuat.


*****


"Maaf detektif, silahkan anda jelaskan masalah ini di kantor kepolisian!" Detektif Tomo yang benar-benar tak menyangka jika pelaku sebenarnya adalah anggota kepolisian sendiri. Yang seharusnya menjadi penegak dan pelindung masyarakat, malah menjadi seorang kriminal. Anggota kepolisian yang sudah mengakui kesalahan akan perbuatan nya pun tertunduk mengikuti jalur hukum yang harus ditempuh untuk menebus semua kesalahan yang sudah diperbuat.


Ketika melangkah keluar kamar tempat tubuh korban ditemukan, pelaku sebenarnya membalikkan badannya ke arah Helmi


"Terima kasih." ucap nya yang kembali berlalu meninggalkan ruangan kamar.


*****


Masih tentang lanjutan part ini, akan banyak misteri masa lalu yang satu persatu akan dibahas tuntas di episode berikutnya. Jadi … stay tune!


Update episode terbaru pada pukul 10.45 besok pagi! Jangan sampai kelewatan yah!

__ADS_1


__ADS_2