Menjadi Yang Kedua: Gadis Belia Untuk Om Duda

Menjadi Yang Kedua: Gadis Belia Untuk Om Duda
ponakan!


__ADS_3

Tidak ada hal yang paling aku inginkan sekarang


Tidak ada hal yang paling aku nantikan detik dan saat ini juga


Yang ku ingin hanya kamu seorang


Kamu yang telah mengisi semua kekosongan hidupku


Hanya kamu yang ku inginkan sekarang.


Jam sudah menunjukkan pukul 21.30 malam, seperti malam yang begitu Helmi inginkan untuk saat ini. Dirinya begitu dekat dengan Layla dapat melihat wajah yang akan begitu ia rindukan nantinya.


'seandainya kita akan terpisah nanti, Layla. Seakan aku dan kamu akan berada dalam dunia yang berbeda, aku tidak akan menyesal bahkan aku akan begitu berterima kasih pada Tuhan yang maha kuasa yang telah menemukan kita berdua dan aku dapat merasakan kasih sayang darimu yang tiada tara padaku.' batin Helmi sembari membelai pipi Layla yang begitu dekat dengan dirinya sekarang.


Tiba-tiba saja dering ponsel mengganggu kekagumannya pada wanita ciptaan Tuhan yang begitu sempurna, malaikat tanpa sayap dan wanita itu adalah Layla.


'pantas saja Keano begitu tergila-gila pada kamu layla.' batin Helmi yang akhirnya mengerti kenapa Keano tidak dapat menggantikan Layla dari hatinya dengan wanita manapun.


"Dert dert dert dert." Dering ponsel Helmi terus bergetar mengganggu keromantisan dan rasa kagum serta rasa cinta pada Layla yang sedang tertidur pulas didalam pelukan hangat Helmi.


"Sial! Siapa sih yang menelpon malam-malam seperti ini! Tidak tahu apa ini bukan waktunya menerima telepon dari siapapun sekarang!" ucap kesal Helmi pada ponsel miliknya yang terus berdering.


Layla mulai membuka matanya karena dirinya ikut terganggu akibat dering ponsel milik Helmi yang tidak mau berhenti sedikitpun.


'mama!' batin Helmi yang cukup kaget ketika melihat orang yang terus menelpon dirinya sedari tadi.


'aduh, kenapa Mama telepon malam-malam sih! Kayak nggak pernah muda aja sih mama!' ucap Helmi yang bingung antara harus mengangkat telepon dari mamanya tersebut atau terus mengabaikan dering ponsel miliknya tersebut.


'angkat apa kagak yah?' batin Helmi yang merasa terganggu akan dering ponsel dengan sumber dari mamanya sendiri.


'tapi … kalo nggak diangkat gak enak juga sama Mama. Tapi kalo diangkat pasti Mama bakal tanyain Layla terus?' batin Helmi yang tahu jika Mamanya seakan lebih menyayangi Layla daripada dirinya sekarang, bahkan bisa dibilang Mama nya Helmi seperti menganggap Layla seperti anak kandungnya sendiri.


'angkat aja deh, kan bisa kasih banyak alasan sama mama. Biar mama gak ganggu malam romantis aku sama Layla sekarang.' batin Helmi yang akhirnya mengangkat ponsel miliknya yang terus berdering sebanyak tiga kali.


"Halo, Ma." ucap Helmi dengan mengecilkan suaranya agar tidak dapat mengganggu Layla yang sedang begitu kecapean akan olahraga malam yang telah mereka lakukan sebagai sepasang suami istri yang sedang mesra-mesranya.


"Helmi, kok kamu lama banget sih angkat telepon dari Mama! Layla dimana sekarang? Apa Layla baik-baik saja?!" ucap Mamanya Helmi lewat sambungan telepon.


"Tuh kan udah ditebak aja, pasti Mama gak bakal nanyain anak kandungnya sendiri sekarang!" ucap Helmi dengan menjauhkan ponsel dari telinganya.


Tapi siapa sangka ternyata Layla mulai sadar dan mendengar ucapan suaminya tersebut walaupun tidak begitu jelas.


"Mas?" ucap Layla dengan menguap karena rasa kantuk yang berusaha ia lawan untuk sejenak.


"Layla." ucap Helmi yang cukup kaget ketika mendengar sebutan yang paling ia cintai terdengar kembali dari mulut wanita yang begitu ia cintai.


"Awhg!" ucap Layla yang merasakan perih di bagian daerah intim nya.


Helmi pun segera mematikan telepon miliknya secara sepihak tanpa memberikan aba-aba sedikit pun pada mamanya.


Helmi kembali fokus pada Layla dan segera berucap.


"Apa masih sakit, sayang?" tanya Helmi ketika menyadari bahwa daerah intim Layla masih sakit karena ini kali keduanya mereka melakukan hubungan suami istri.

__ADS_1


"Iya, Mas." balas Layla yang berusaha menahan rasa sakitnya.


"Ya sudah, jika begitu apa kamu sudah mau bangun, sayang? Mas mau siapin kamu beberapa buah." ucap Helmi yang merasa kasihan pada Layla.


Layla menggelengkan kepalanya dan semakin memeluk erat Helmi.


"Nanti saja Mas, Layla masih mau dipeluk." ucap Layla yang membuat Helmi tersipu menurutnya Layla sudah mulai terbuka untuk hal-hal yang cukup vulgar bagi dirinya.


"Hmmm, pasti kamu ketagihan kan sama, Mas. Nanti subuh kita coba lagi yah?" goda Helmi pada Layla.


Dirinya begitu bahagia karena dapat menemukan wanita yang benar-benar dapat membuat dirinya mengerti maksud cinta yang sebenarnya. Rasa cinta yang tidak dapat kurasakan begitu hebatnya ketika bersama wanita lain terutama Carina wanita masa lalu Helmi yang membuat dirinya berpaling dan seakan tidak dapat melihat Layla di awal pernikahan mereka berdua.


Ya walaupun Carina akan menjadi ancaman sesungguhnya dalam rumah tangga Helmi dan Layla. Dirinya pasti akan mengganggu keromantisan yang tengah Helmi berikan pada Layla seorang.


"Ihh, Mas Helmi." ucap Layla dengan pipi yang sudah merona dan kembali memeluk erat Helmi.


Helmi pun membalas pelukan dari Layla dan segera berucap yang dapat membuat pipi Layla semakin merona saja.


"Makasih yah sayang, kamu udah bikin mas senang banget malam ini." ucap Helmi memberikan belaian lembut di rambut Layla.


Tiba-tiba saja " dert!" Suara pintu seakan dibanting dari luar terdengar.


Layla dan Helmi sama-sama terkejut terutama Helmi dirinya mengira bahwa orang yang sudah berhasil masuk ke ruangan inap miliknya adalah gerombolan organisasi berbahaya yang sedang mengincar keselamatan nyawa Layla.


'tidak mungkin! Tidak mungkin mereka semua ada disini!' batin Helmi yang mempererat pelukannya pada Layla.


Helmi seakan memberikan isyarat bahwa dirinya sudah siap mati bersama Layla jika itu semua yang akan menjadi takdir bagi kisah cinta antara sepasang kekasih yang sudah saling mencintai satu sama lain.


'jika sudah begini, kita akan mati bersama-sama sayang.' batin Helmi yang tetap memeluk Layla.


"Mas tidak tahu sayang, tapi … kamu tenang saja mas akan selalu berada disini bersama kamu." ucap Helmi yang sudah siaga dari awal dengan memegang sebuah pistol yang memang sudah dirinya persiapkan untuk momen momen terdesak seperti ini.


"Mas Layla takut." ucap Layla yang mengeratkan genggaman tangannya pada tubuh Helmi.


"Kamu tenang saja Sayang, Mas akan selalu melindungi kamu apapun keadaannya!" ucap Helmi mantap dan sudah siap siaga untuk menembakkan peluru dari pistol yang sudah disiapkan dengan begitu sempurna.


'jika sudah begini, untung saja aku sudah menyiapkan senjata ini dengan begitu rapi!' batin Helmi yang sudah begitu menatap lekat pada sumber suara yang membuat dirinya dan Layla saling berpelukan semakin erat.


Helmi sudah siapa untuk menembakkan peluru yang akan menembak tepat pada sasaran yang sudah mengganggu kenyamanan yang dirasakan Helmi dan Layla.


"Mama!" ucap kaget Helmi dan kembali menyembunyikan pistol yang sedang ia pegang.


"Helmi, Layla mana?!" ucap Mamanya Helmi yang ternyata adalah orang yang sudah mengganggu keromantisan antara Helmi dan Layla.


Mamanya Helmi tidak seorang diri sekarang, dirinya bersama dengan gadis kecil yang tidak lain adalah Manda ponakan dari Helmi sendiri dan juga mamanya Layla yang juga datang dengan memasang raut wajah panik bukan main.


"Hik!" ucap kaget mamanya Helmi dan mamanya Layla ketika melihat bahwa Layla baik-baik saja bahkan terkesan begitu lebih baik dari sebelumnya.


Mamanya Layla dan juga mamanya Helmi saling bertatapan satu sama lain dengan menahan rasa malu karena telah masuk pada ruangan yang menjadi tempat keromantisan Helmi dan Layla terjadi.


Walaupun begitu, lain halnya dengan Manda, gadis kecil yang merupakan keponakan dari Helmi. Yang namanya anak kecil dan masih dibawah umur mana mungkin akan mengerti kejadian yang sedang terjadi.


Manda memperhatikan seluruh ruangan terutama yang berada di dekat ranjang pasien.

__ADS_1


"Ihh! Kak Helmi jorok banget sih! Masa iya handuk dibiarkan di lantai!" ucap Manda ponakan Helmi yang melihat pada dua handuk yang tergeletak di lantai dekat ranjang pasien.


Helmi mengerutkan keningnya dan berucap dalam hatinya.


"Duh mampus! Kenapa anak dibawah umur juga ada disini sekarang?!' batin Helmi yang tidak tahu bagaimana akan menjawab pertanyaan dari Manda ponakannya sendiri.


"Ini lagi buah-buahannya dibuang begitu aja!" ucap Manda yang segera merapikan semua buah-buahan yang berserakan dan memasukkannya kembali ke nampan yang tidak jauh berada dari ranjang pasien.


"Bukan dibuang kali! Tapi gak sengaja kesenggol!' batin Helmi yang seakan berusaha menjawab semua pertanyaan konyol yang diajukan oleh anak dibawah umur yaitu Manda ponakan nya sendiri.


Manda sang ponakan Helmi melirik lekat pada Layla yang sedang berusaha Helmi sembunyikan dengan selimut yang cukup tebal.


'untung pakai selimut tebal kalo selimut tipis kan bisa berabe nantinya.' gumam lega Helmi.


Mamanya Helmi dan juga mamanya Layla saling bertatapan satu sama lain seakan begitu malu karena telah mengganggu pasangan yang sedang mesra-mesranya sekarang.


'aduh, malu banget sih aku. Masa iya main dobrak pintu ini aja.' batin mamanya Layla yang seorang atlet beladiri.


Begitu juga dengan mamanya Helmi dirinya juga sedang menahan rasa malu.


'untung saja papa tidak datang bersama, kalo papa juga ada disini sekarang pasti bisa tambah berabe nih urusan!' batin mamanya Helmi.


Tapi lain halnya dengan Manda gadis kecil keponakan Helmi, dirinya mana mungkin akan mengerti tentang kejadian saat ini.


Manda mendekat pada ranjang pasien lebih tepatnya di samping Layla.


Helmi sudah menatap risih pada Manda sang ponakan.


'aduh! Nih anak dibawah umur mau ngapain lagi?!' batin Helmi yang merasa ada aura yang tidak ia sukai akan kembali dilakukan oleh Manda sang ponakan.


"Ihhh! Kak Helmi ngapain ngumpetin kak Layla sih dari Manda?!" ucap kesal Manda dengan cemberut yang membuat mamanya Helmi dan juga mamanya Layla saling bertatapan satu sama lain.


'lah dia milik gue ngapain juga nih bocah yang repot?!' batin Helmi yang seakan berdebat dalam hatinya seperti seorang bocah kecil saja.


"Lepasin kak Layla gak!" ucap Manda sang ponakan Helmi yang akan membuka selimut tebal yang menyelimuti tubuh polos Layla dan Helmi saat ini.


"Ahhhhh, jangan!" ucap Mamanya Helmi dan juga mamanya Layla dengan begitu kompak.


"Kenapa?! Manda cuman mau lepasin kak Layla dari kak Helmi yang jahat ini!" ucap polos Manda sembari menatap tidak suka pada Helmi.


'enak aja nih bocah ngomongin gue jahat di depan Layla! Awas aja nanti pas udah di rumah!' batin Helmi yang juga ikut seakan anak kecil yang juga tidak suka melihat Manda sang ponakan.


"Jangan dibuka yah Manda, gak boleh." ucap Mamanya Helmi yang berusaha mencari alasan agar Manda tidak membuka selimut yang membungkus tubuh polos Layla sekarang.


'aduhhh! Gak mungkin juga kan kalo aku bilang kejadian yang sebenarnya pada Manda. Dia kan masih bocah banget mana mungkin akan mengerti dengan ucapan itu?!' batin mamanya Helmi yang bingung bagaimana dirinya akan menjelaskan pada anak dibawah umur yang ngewel ikut bersama ke rumah sakit tempat Helmi dirawat malam-malam seperti ini.


"Kenapa sih Tan! Apa Tante bersekongkol yah sama kak Helmi yang jahat nih!" ucap tak suka Manda sang ponakan pada Helmi.


Helmi pun segera membalas ucapan Manda sang ponakan di bawah umur dengan memberikan ekspresi lucu seakan dirinya juga seorang anak kecil yang sama seperti Manda.


"Gak boleh dibuka sekarang! Kak Layla lagi sakit." Helmi yang berucap dengan diakhiri sebuah uluran lidah keluar pada Manda gadis kecil keponakan Helmi.


Tingkah konyol Helmi membuat Mamanya dan juga mamanya Layla saling bertatapan satu sama lain seakan tidak percaya jika Helmi cemburu pada anak kecil dibawah umur yang tidak lain adalah ponakan nya sendiri.

__ADS_1


Episode baru sudah comeback, sok dikasih tanda jempol cintanya dan jangan lupa kasih VOTE / GIFT HADIAH bagi episode hari ini!


__ADS_2