Menjadi Yang Kedua: Gadis Belia Untuk Om Duda

Menjadi Yang Kedua: Gadis Belia Untuk Om Duda
yaa, ini akan menjadi yang terakhir.


__ADS_3

Inginku berteriak sekuat mungkin, mengatakan jangan pernah pisahkan kami berdua untuk alasan apapun. Tapi itu semua hanyalah percuma, takdir memang tidak pernah sesuai dengan logika. Banyak hal di alam sana yang perlu kita taklukkan bersama.


'mungkin ini akan menjadi suapan terakhir dariku, Layla. Apapun yang nanti terjadi aku sudah siap menghadapi. Jangan tanyakan aku sedang apa jika nanti kita berpisah, karena jawaban yang selalu sama akan kusampaikan padamu. Aku akan senantiasa memikirkan dirimu, mendambakan dirimu. Tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan selain kata aku begitu mencintaimu.'


"Kamu sudah selesai makan, Layla? Apa kamu mau tambah lagi?" tanya Helmi yang sedari tadi berusaha menahan air mata itu. Air mata kerinduan yang akan begitu ia rasakan nantinya.


"Sudah, Mas. Layla sudah kenyang." balas Layla dengan mengeluarkan sendawa kecil.


Helmi tersenyum tapi senyuman penuh makna kerinduan yang begitu memuncak dalam hati dan pikiran dirinya.


'maafkan diriku, Layla. Kita akan semakin terpisah setelah ini. Ada hal yang begitu penting harus diselesaikan terlebih dahulu.'


'maafkan diriku jika nantinya kepergian diriku ini tidak kusampaikan padamu. Aku hanya tidak ingin kamu menangis meratapi kepergian diriku, maafkan lah diriku layla.' batin Helmi yang merasa detik itu semakin cepat saja berdetak.


"Mas?" panggil Layla ketika Helmi sedari tadi hanya diam.


"Mas, apa kamu pergi meninggalkan diriku?" ucap Layla yang membuat Helmi memberikan sebuah pelukan.


"Kamu bilang apa sih! Mana mungkin aku akan meninggalkan dirimu, Layla. Hatiku sudah menjadi milikmu dan itu akan kekal selamanya." ucap Helmi dalam pelukan Layla.


"Maaf, Mas. Habisnya kamu tidak bersuara sama sekali, Layla pikir kamu udah pergi ninggalin Layla." balas Layla yang semakin mempererat pelukannya pada Helmi.


"Hmmm" Helmi tersenyum tapi dengan linangan air mata yang seakan siap untuk jatuh mendera rasa cintanya pada Layla.


Ujian cinta sudah siap menghadang di depan mata, menguji siapa yang nantinya akan dapat bertahan dengan dera yang tiada kunjung berhenti.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu, Layla. Aku akan selalu disisi kamu, sayang. Apapun alasannya." ucap Helmi yang berusaha menutupi hal yang akan terjadi sebentar lagi.


"Iya, Mas. Layla yakin mas Helmi tidak akan pernah ninggalin, Layla." ucap Layla yang seakan mendapatkan firasat bahwa Helmi akan segera meninggalkan dirinya.


Pelukan itu masih terjadi, hingga ada sebuah ketukan kecil yang menganggu keromantisan yang tengah terjadi. Pelukan hangat yang mungkin akan menjadi pelukan terakhir di antara labuhan cinta Helmi dan Layla.


Helmi yang mendengar suara ketukan tersebut bergerak untuk melepaskan pelukan dirinya dan Layla.


Entah hati Helmi dan Layla sudah semakin menjadi satu, Layla tidak mau melepaskan pelukan hangat tersebut dari Helmi.


"Mas, jangan pergi!" ucap Layla yang membuat hati Helmi semakin sakit mendengar ucapan istri tercinta.


Helmi berusaha menenangkan hatinya kembali, dirinya memang tidak ingin adanya perpisahan tapi dirinya juga tidak dapat melihat Layla akan semakin terancam nantinya.


"Layla sayang, mas ngak bakal pergi. Mas cuman mau membuka pintu saja, apa kamu tidak mendengar ada suara ketukan pintu? Apa kamu tidak mau melepaskan pelukan ini, sayang?" ucap Helmi yang ingin Layla mau melepaskan pelukan hangat tersebut.


"Aku ngak mau lepasin pelukan ini, Mas." ucap Layla yang begitu berucap dari hatinya untuk Helmi.


Helmi sudah menduga jika orang yang berada diluar adalah Keano, sahabat lamanya yang sekaligus juga merupakan seorang detektif hebat seperti dirinya.


'maafkan aku Layla, aku juga tidak ingin melepaskan pelukan ini. Tapi ada hal yang berbahaya yang telah menanti diriku didepan sana.' batin Helmi yang segera mengangkat tubuh Layla yang masih begitu enggan untuk melepaskan pelukannya dengan Helmi.


"Mas, kamu mau ngapain?" tanya Layla yang begitu terkejut ketika Helmi menggendong dirinya.


"Kamu kan ngak mau lepasin pelukan ini, bukannya lebih baik aku menggendong kamu, Layla. Biar kita bisa membuka pintu itu bersama-sama." Bisik Helmi dengan ucapan yang begitu menggoda.

__ADS_1


"Tapi … bagaimana jika yang diluar itu mama sama papa, Mas. Layla kan malu jadinya." ucap Layla dengan pipi yang sudah bersemu dengan begitu indah merekah.


"Biarin aja, kenapa harus malu? Kamu kan istri aku sekarang." ucap Helmi yang sebenarnya hanya ingin Layla mau melepaskan pelukan tersebut.


"Enggak, Mas. Layla turun aja yah. Ngak enak dilihat nanti sama mama dan papa." ucap Layla yang seakan begitu memberontak tapi Helmi tidak membiarkan Layla untuk turun dari gendongan dirinya.


"Mas, turunin Layla yah. Layla malu mas kalo sampai dilihat oleh mama dan papa." ucap Layla yang masih memberontak kecil karena Helmi sama sekali tidak mau melepaskan Layla.


"Bukannya kamu yang bilang kalo gak mau lepas pelukan ini, sayang? Mas sih mau banget kalo gitu." ucap Helmi yang semakin menggoda Layla dan membuat wajah Layla sudah merona bagaikan buah delima merekah.


"Mas, Layla cuman bercanda aja. Sekarang lepasin Layla yah, Mas. Kasihan kalau sampai yang diluar sana mama sama papa Mas." ucap Layla yang dapat merasakan nafas Helmi semakin dekat pada dirinya.


"Boleh, tapi ada syarat dan itu ngak gratis sayang?" ucap Helmi yang menginginkan romansa terakhir yang dapat dirinya rasakan dari Layla.


"Apa, Mas? Kalo bisa Layla akan usahakan." ucap Layla yang semakin salah tingkah ketika bersama dengan Helmi terutama ketika Helmi sudah mulai berucap gombal pada dirinya.


"Cium aku, sayang. Apabila kamu usahakan?!" ucap Helmi yang semakin membuat Layla semakin merasakan detak jantung nya semakin kuat saja.


Layla hanya memberikan senyuman yang berusaha ia sembunyikan dengan pipi yang sudah begitu merona.


"Gimana, sayang? Apa kamu bisa mewujudkan keinginan dari suami kamu ini?" ucap Helmi yang semakin menggoda Layla.


Layla berusaha memberikan dirinya dan segera mendekat dengan secepat kilat pada pipi Helmi.


"Cup." sebuah kecupan secepat kilat Helmi rasakan.


"Eh, Kok cepat banget sih sampai aku ngak ngerasa loh kalo kamu kecup pipi aku?!" ucap Helmi yang begitu gemas melihat tindakan Layla yang masih begitu malu untuk mencium dirinya terlebih dahulu.


"Ih, Mas Helmi!" ucap Layla yang memukul-mukul dada bidang milik Helmi.


Pipi Layla semakin merona, dirinya pun membatin dalam hatinya.


'mana mungkin aku akan tahan diperlukan selama ini, sentuhan, Ucapan. Semua hal yang kamu berikan pada diriku begitu berarti, Mas. Apa salah jika diriku meminta agar jangan pernah memisahkan kita?'


"Mas, papa udah nunggu!" ucap Layla yang semakin membuat Helmi semakin gemas saja melihat tingkah polos Layla.


Dirinya tersenyum dan segera menurunkan Layla dan berucap.


"Maaf yah, sayang." ucap Helmi ketika dirinya menuntun Layla melangkah menuju pintu tersebut.


"Maaf kenapa, Mas?" ucap Layla yang memberikan ekspresi bingung.


"Maaf karena aku sudah bikin pipi kamu merah seperti ini, aku janji akan ulang lagi!" ucap Helmi yang membuat Layla seakan melayang mendengar ucapan gombalan dari Helmi.


"Ihhh, Mas Helmi.' batin Layla dan tanpa sadar dirinya hampir terjatuh akibat tersandung dilantai yang tidak rata.


"Ehhhhh!" ucap Helmi yang begitu dengan sigap langsung menarik pinggang Layla dalam pelukannya.


"Maaf, Layla. Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Helmi yang begitu panik dan segera memeluk erat Layla kembali.


"Nggak, Mas. Layla nggak kenapa-napa. Maaf, Layla bikin mas panik seperti ini." ucap Layla yang menyesal karena sudah membuat Helmi begitu panik.

__ADS_1


"Enggak apa-apa, sayang. Maafin mas yang gak perhatikan jalan kamu." ucap Helmi yang kembali memberikan kecupan manis di kening Layla dengan teramat sayang.


"Yaudah sekarang kita buka pintunya yah." ucap Helmi yang menarik nafas dalam-dalam.


'maafkan aku Layla, kita akan terpisah setelah pintu ini terbuka.' batin Helmi yang mengumpulkan semua hal-hal yang begitu membuat dirinya harus kuat menahan semua kerinduan yang teramat besar pada Layla nantinya.


Pintu pun sudah terbuka dan seperti dugaan Helmi bahwa Keano sudah sedari tadi menunggu Helmi.


Hati Keano begitu tersakiti ketika melihat Helmi keluar bersama-sama dengan Layla.


'kamu harus sadar Keano! Layla bukanlah yang terbaik untukmu. Kamu harus bisa menerima takdir ini!' batin Keano yang berusaha tegar ketika melihat wanita yang begitu dicintai sudah dimiliki oleh orang lain.


"Mama, Papa!" ucap Layla yang mengira jika orang yang mengetuk pintu tersebut adalah mama dan papa mertuanya.


Helmi seakan memberikan isyarat pada Keano agar tetap diam.


"Mas, siapa?" ucap Layla yang mendapatkan respon diam.


"Oh itu klien mas, Layla." ucap Helmi yang melihat si mbok juga sudah berada di lorong yang sama.


'syukur lah si mbok datang di waktu yang tepat.' batin Helmi yang menyulingkan senyum ketika melihat si mbok jalan mendekat.


"Layla, mas pergi meeting dulu yah, si mbok sudah datang, kamu sama si mbok dulu yah." ucap Helmi pada Layla.


"Iya, Mas " balas Layla menurut.


"Mbok, Helmi titip Layla sama mbok yah. Sebentar lagi papa sama Mama bakal datang kesini, kalo mereka berdua bertanya bilang aja Helmi ada urusan kantor dengan klien yang bernama tuan Kevin." ucap Helmi pada si mbok yang menatap lekat pada Keano.


"Oh baik, Den." ucap si mbok yang mereka tidak asing dengan wajah pria tampan yang berada di depan nya sekarang.


"Layla, Mas pergi dulu yah. Kamu sama si mbok, jangan lupa makan siang." Helmi yang memberikan kecupan manis di kening Layla, kecupan terakhir yang bisa ia berikan pada Layla sebelum takdir akan benar-benar memisahkan mereka berdua.


"Iya, Mas." ucap Layla dengan pipi yang kembali merona.


'bagaimana mungkin aku bisa tahan jika harus berada di posisi seperti ini, melihat wanita yang begitu aku cintai, wanita yang begitu aku dambakan begitu mesra dengan orang lain, dan orang lain tersebut adalah sahabatku sendiri.' batin Keano yang berusaha tegar melihat kecupan mesra yang diberikan Helmi untuk layla.


'jika aku bisa memilih maka lebih baik aku segera pergi dari tempat ini! Tapi … nyawa wanita yang begitu aku cintai sekarang dalam keadaan yang begitu terancam. Mana mungkin aku membiarkan dirinya berada dalam kondisi pelik seperti ini, jika bisa akan ku tukarkan nyawaku dengan nyawanya nanti.' batin Keano yang harus ingat dengan misi yang harus segera dirinya dan Helmi selesaikan agar keselamatan Layla dapat terjamin.


"Mbok, Helmi titip Layla yah sama Mbok. Jaga Layla baik-baik, Mbok." ucap Helmi pada si mbok.


"Baik den Helmi." balas si mbok.


Helmi dan Keano pun segera melangkah semakin meninggalkan Layla dan si mbok, berjalan di tengah lorong-lorong menuju sebuah tempat dimana sebuah kesempatan akan terlaksana dan takdir akan bertukar untuk sementara.


'huhhh! Detik yang paling aku takutkan akan terjadi sebentar lagi. Maafkan diriku Layla, takdir akan semakin memisahkan kita.' batin Helmi yang berusaha tegar menerima jalan takdir yang sudah menjadi suratan bagi dirinya dari Tuhan yang maha kuasa.


Kesepakatan apa yang akan terjadi diantara Helmi dan Keano nantinya?!


Apakah Helmi akan meninggalkan Layla?


Apakah Helmi akan menukarkan nyawanya demi wanita yang sudah mengisi relung hatinya selama ini?!

__ADS_1


Nantikan jawaban episode kali ini di episode berikutnya!


Btw kasih like dan vote yah semua, agar author semakin semangat nulis bab baru!.


__ADS_2