Menjadi Yang Kedua: Gadis Belia Untuk Om Duda

Menjadi Yang Kedua: Gadis Belia Untuk Om Duda
suapan terakhir!


__ADS_3

Memang tidak ada yang akan tahu perubahan itu kapan akan terjadi. Tapi yang pasti perubahan itu akan menghampiri. Entah itu lewat perantara seorang wanita yang terpaksa buta wanita yang berhasil merubah semua kepribadian ku dengan tanda cintanya.


Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah dapat melupakan wanita itu, hatiku sudah dikuasai oleh dirinya. Tak ada celah lagi bagi wanita lain untuk dapat menetap lama di hatiku sekarang.


Walaupun … aku tahu kesalahan masa lalu masih terus bergentayangan di pikiranku. Aku tahu lambat laun dirinya akan tahu tentang semua yang berusaha disembunyikan oleh suami brengsek nya ini.


Aku tidak yakin akan dapat terus mengelabui dirinya terus menerus, tapi … biarkan untuk sesaat aku selesaikan masalah ini satu persatu hingga diriku mempunyai sedikit nyali mengatakan semua kenyataan pahit itu pada dirinya.


"Cup." Satu kecupan manis kembali dirasakan oleh Layla.


"Kamu sudah selesai sholat, Mas?" tanya Layla yang sedari tadi masih duduk di ranjang pasien.


"Udah, kamu mau makan apa sekarang?" tanya Helmi yang dapat mendengar perut Layla sudah mulai keroncong karena pasti Layla sudah begitu kelaparan sekarang.


"Terserah kamu aja, Mas. Layla ikut aja." ucap Layla dengan teramat gemas membuat Helmi kembali mengecup lembut kening Layla.


"Ok, sayang." ucap Helmi yang segera mengangkat Layla kembali.


Dan sontak saja tindakan Helmi membuat Layla begitu kaget dan segera berucap dengan cukup polos bagi Helmi.


"Kamu mau angkat aku kemana, Mas?" tanya Layla yang memasang wajah heran.


"Mau angkat kamu ke bathtub." ucap Helmi yang semakin gemas ketika melihat tingkah Layla yang menurutnya terlalu polos. Padahal hal tersebut wajar seharusnya mereka lakukan karena status mereka sudah sah menjadi suami istri. Mungkin dikarenakan Layla baru pertama kali berada dekat dengan pria membuat dirinya selalu polos ketika menanggapi ucapan yang Helmi berikan pada dirinya.


"Bathtub?!" ucap Layla mengerutkan keningnya.


Helmi yang dapat mengetahui jika Layla takut jika dirinya akan berbuat hal macam-macam ketika mereka di dalam bathtub, Helmi kembali terkekeh mendengar ucapan polos Layla.


"Kamu tenang saja, Mas ngak bakal berbuat mesum kok sama istri sendiri." ucap Helmi yang dapat membuat ekspresi Layla kembali normal.


"Mas cuman mau mandiin kamu aja, mas tahu kalo lagi gak sholat gak boleh melakukan itu, bukan?" ucap Helmi yang segera menurunkan Layla ketika mereka berdua sudah berada di dalam kamar mandi.


Layla hanya terpaksa menurut akan ucapan suaminya tersebut. Ketika Helmi sedang mengisi bathtub tersebut dirinya kembali berucap pada Layla.


"Layla, mas sekitaran pukul setengah sembilan ada meeting. Kamu disini sama si mbok yah? Mas udah bilang sama si Mbok. Ngak apa-apa kan kalo mas pergi bentar?" ucap Helmi yang kembali terpaksa berbohong pada Layla.


Helmi hanya tidak ingin jika Layla merasa bersedih jika takdir akan hadir untuk memisahkan mereka berdua. Dan dirinya juga masih belum ingin Layla mengetahui tentang siapa Helmi sebenarnya terutama tentang masalah yang akan segera diselesaikan oleh Helmi sendiri. Itu pasti akan terlalu menyakitkan bagi Layla jika mengetahui bahwa suaminya akan bertukar nyawa demi keselamatan Layla nantinya.


"Iya, Mas. Gak apa-apa kok kalo Layla sama si Mbok. Mas hati-hati yah." ucap Layla yang selalu percaya akan ucapan yang disampaikan oleh Helmi pada dirinya.


Helmi tersenyum dan kembali melangkah mendekat menuju tempat Layla berada.


'hmm, makasih karena kamu selalu percaya akan semua yang aku ucapkan pada dirimu. Kamu tidak pernah bertanya sedikitpun tentang diriku.' batin Helmi yang segera memberikan kecupan manis di kening Layla.

__ADS_1


"Sekarang kita mandi yah, kamu pasti udah gerah kan, sayang?" tanya Helmi yang segera membuka kancing baju tidur Layla.


Ya Tuhan apa salah jika diriku terlalu mencintai wanita ini?


Aku tahu bahwa takdir itu akan segera memisahkan kami berdua.


Izinkan semuanya dimulai dari awal lagi, oh Tuhan.


Izinkan aku mengatakan bahwa diriku begitu beruntung dapat memiliki wanita sempurna seperti dirinya.


Izinkan aku dapat membuktikan ucapan janji itu semua oh Tuhan.


Seperti ucapan awal Helmi bahwa dirinya hanya berniat untuk hanya mandi tanpa melakukan apapun di dalam bathtub tersebut, tidak sampai tiga puluh menit mereka berdua sudah selesai mandi.


Helmi keluar terlebih dahulu tanpa lupa memberikan kecupan manis kembali di kening Layla.


"Kamu tunggu sebentar yah, sayang. Mas akan ambilin handuk dulu buat kamu." ucap Helmi yang segera melangkah beberapa langkah menuju sebuah gantungan handuk yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit.


'ternyata mas Helmi orangnya menepati janji, dirinya sama sekali tidak melakukan apapun ketika kami sedang di dalam bathtub ini. Aku semakin yakin jika mas Helmi adalah pria yang tepat untuk diriku.'


'terima kasih ya Rabb, engkau telah mempertemukan diriku dengan mas Helmi. Aku akan menjaga hatiku hanya untuk mas Helmi seorang.' batin Helmi yang begitu semakin merasa beruntung telah memiliki suami seperti Helmi.


Helmi kembali melangkah ke tempat bathtub dirinya segera membantu Layla untuk berdiri dan segera berucap.


"Hmmm, aku cuman berpikir bahwa diriku begitu beruntung dapat memiliki kamu mas." ucap Layla yang membuat sedikit wajah sedih Helmi kembali terlihat.


'kamu salah Layla. Jika kamu mengetahui semua sisi yang berusaha aku sembunyikan dari dirimu. Pasti kamu akan begitu menyesal telah menikah dengan pria bodoh seperti diriku ini.' batin Helmi yang selalu dihantui oleh perasaan bagaimana sedihnya Layla jika mengetahui semua hal yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat dari Layla.


Helmi kembali memberikan kecupan manis di kening Layla dan dirinya segera berucap.


"Hmmm, kamu tahu aku juga merasakan hal yang sama. Aku juga berpikir bahwa diriku begitu beruntung dapat memilikimu sebagai istri ku Layla."


"Kita sama-sama diuntungkan, bukan?" ucap Helmi yang kembali menggendong Layla menuju ruangan utama.


Ketika mereka berdua sudah berada di ruangan utama, Helmi segera menurunkan Layla dan berucap.


"Kamu mau pakai pakaian apa hari ini, sayang? Mas udah siapin beberapa baju untuk kamu. Tapi … mas masih belum tahu selera kamu, sayang?" ucap Helmi yang segera mengarahkan tangan Layla untuk memegang beberapa jenis pakaian yang sudah disiapkan untuk Layla.


"Hmmm, terserah mas aja yang penting pakaian nya sopan dan menutup." ucap Layla ketika tangan nya masih dituntun oleh Helmi untuk mencoba merasakan bahan pakaian yang paling nyaman bagi Layla kenakan nantinya.


"Kok terserah mas sih, sayang? Kan kamu yang akan pake pakaian ini bukan mas?" tanya Helmi.


"Memang Layla yang akan pakai pakaian ini mas, tapi … kan yang akan melihat itu kamu. Jika kamu suka dengan pakaian tersebut pasti akan aku pakai." ucap Layla yang membuat dirinya semakin disayang oleh Helmi akan ucapan yang menurut dirinya Layla sudah mulai mahir untuk menggoda dirinya.

__ADS_1


"Hmmm, begitu yah." ucap Helmi yang menyeringai dan melangkah mendekat ke tubuh Layla.


"Mas …." ucap Layla yang cukup panik ketika Helmi sudah mulai mendekati wajah dirinya.


"Gimana kalo ngak pake baju aja? Mas pasti bakal senang lihat kamu?" Helmi yang kembali memberikan gombalan mautnya untuk Layla.


Layla yang mendengar ucapan dari suaminya tersebut lantas berucap dengan pipi yang kembali merona seperti buah delima merekah.


"Ihhh mas Helmi, bukan begitu juga maksud Layla loh!" ucap Layla yang berusaha menutupi pipinya yang sudah kembali merona akan buaian gombalan dari Helmi.


"Maaf, sayang. Mas cuman lagi menggoda kamu aja." ucap Helmi yang segera memilih salah satu baju dari tiga baju yang sudah dia siapkan untuk Layla.


"Gimana kalo ini saja, ini formal untuk kamu dan mas yakin pasti kamu bakal nyaman pakainya sayang. Apalagi bahan dasar baju ini juga paling lembut,kamu yakin mau ikuti pilihan mas, Layla? Gimana kalo kamu gak suka pakai pakaian pilihan yang mas pilih tapi kamu malah gak ngomong sama mas kalo kamu tuh ngak suka?" ucap Helmi yang takut jika Layla terus berusaha menjadi yang terbaik sebagai istrinya tapi dirinya sebenarnya tersiksa.


"Enggak kok, Mas Helmi. Layla pasti akan selalu suka dengan pakaian, makanan yang mas Helmi pilih untuk Layla." ucap Layla dengan menyulingkan senyum manis yang membuat Helmi tidak tahan untuk mengecup bibir lembut yang tengah tersenyum itu.


Helmi segera memberikan sedikit kecupan panas untuk Layla karena dirinya sudah tidak begitu tahan melihat senyuman manis dari Layla. Walaupun begitu Helmi harus tetap menahan semua nafsu cinta yang sudah menguasai dirinya.


'tahan Helmi! Tahan Layla tuh sedang haid! Kamu harus tahan untuk beberapa hari!' batin Helmi ketika dirinya merasa bahwa sudah tidak dapat menahan gejolak nafsu cinta tersebut.


"Kenapa, Mas?" ucap Layla dengan nafas tersengal-sengal.


"Enggak, sayang. Mas cuman ngak mau kebablasan aja sama kamu, sekarang kamu pakai baju yah supaya otak mas tidak semakin traveling." ucap Helmi yang segera memakaikan pakaian yang ia pilih untuk Layla.


Setelah selesai dirinya dan Layla memakai kembali pakaian Helmi kembali menggendong Layla menuju meja makan kecil yang ada di ruangan tersebut.


"Mas, emang makanan nya udah sampe, Mas?" tanya Layla ketika dirinya kembali didudukkan di sebuah kursi.


"Udah, sayang. Sekarang kita makan yah." ucap Helmi yang juga ikut duduk bersebelahan dengan Layla agar dirinya dapat memberikan suapan mesra pada Layla.


"Kok cepat banget sih Mas? Perasaan kamu tuh ngomong pas kita lagi mandi deh, tapi … kok udah siap aja?" tanya Layla yang kembali memasangkan raut wajah heran yang membuat Helmi kembali mencubit gemas hidung Layla dan berucap.


"Kamu tuh gemesin banget sih, sayang. Kan emang harus cepat biar kamu gak kelaparan?" ucap Helmi yang kembali mengecup lembut kening Layla.


"Sekarang kamu makan yah biar tenaga nya ngumpul lagi."


"Buka mulutnya …." ucap Helmi yang begitu romantis pada Layla. Suapan demi suapan yang begitu penuh cinta. Tidak pernah Helmi memperlakukan seorang wanita manapun lebih romantis daripada Layla sekalipun itu adalah Carina mantan selingkuhan Helmi yang berusaha ia sembunyikan dari Layla.


'ya Rabb aku begitu mendambakan suapan demi suapan penuh cinta yang aku berikan pada Layla, tapi … jika takdir itu yang memaksa ku untuk tidak dapat memberikan suapan tersebut seakan ini adalah suapan terakhir yang bisa aku berikan pada Layla, izinkan Engkau titipkan permanen dihatinya tentang semua perasaan cintaku pada wanita yang bernama Layla.' batin Helmi yang mengetahui jika sebentar lagi dirinya akan benar-benar meninggalkan Layla untuk sebuah alasan yang begitu penting sekaligus berbahaya.


Episode sudah kembali hadir dihadapan kita semua! Sok akang dan nona segera beri tanda jempol cintanya buat kemesraan Helmi dan Layla.


Nantikan episode berikutnya!

__ADS_1


__ADS_2