Menjadi Yang Kedua: Gadis Belia Untuk Om Duda

Menjadi Yang Kedua: Gadis Belia Untuk Om Duda
aku bukan robot, Pa


__ADS_3

'ternyata ada berkah juga datang bulan ini, Layla. Aku semakin mengenalmu lebih jauh lagi, walaupun … aku tidak mengerti sama sekali tentang perihal wanita ( datang bulan)'


*****


Entah ini hanya feeling ku saja, apa kamu begitu ingin ku manja, Layla.


*****


"Mas, disini aja." Layla yang seakan tak mau melepaskan genggaman tangannya padaku


Dengan tersenyum manis, Helmi berucap sembari mengecup lembut kening Layla


"Iya, kamu tunggu sebentar yah. Aku mau ambil laptop dulu" ucap Helmi dengan tak lupa memberi belaian lembut pada rambut hitam lekat Layla


"Iya, mas" balas Layla yang akhirnya mau melepaskan genggaman tangannya.


*****


15 menit berlalu


Langkah kaki yang tak begitu asing bagi Layla, mendekat kembali ke ranjang


"Layla, kamu kenapa? Apa kamu sakit? Akan ku antar kamu ke rumah sakit sekarang!" Helmi dengan perasaan begitu cemas ketika melihat keringat dingin di wajah Layla


"Maafkan aku, maafkan aku terlalu lama perginya. Sekarang kita ke rumah sakit yah, aku akan telepon dokter yang paling terbaik untuk kamu dan meminta mereka untuk menyiapkan kamar paling VIP untuk kamu." Helmi yang segera meraih telepon dari saku celana nya, segera menelpon dokter pribadi yang sudah menjadi langganan keluarga Andika


"Mas," ucap Layla dengan begitu pelan, Layla tak dapat berbicara banyak karena merasakan satu badan nya begitu sakit


"Iya, apa kamu sudah tidak tahan? Sekarang kita ke rumah sakit!" Helmi yang segera menggendong Layla


Lagi-lagi Layla menghentikan tindakan Helmi, dan itu semua membuat Helmi bertambah khawatir saja akan Layla yang seakan memberikan isyarat bahwa dirinya tidak mau ke rumah sakit


"Ada apa Layla? Apa kamu tidak mau ke rumah sakit? Apa kamu mau aku datangkan saja dokter nya?" Tanya Helmi yang begitu cemas, ketika melihat tubuh Layla bertambah berkeringat dingin


"Nggak usah Mas, aku ngak apa-apa kok." Balas Layla lembut


"Layla, kamu jangan ngomong seperti itu! Aku hanya takut kamu kenapa-napa, sekarang aku akan panggilkan dokter itu ke sini!" Ucap Helmi yang kembali dicegat oleh Layla


"Mas, aku beneran gak apa-apa kok, ini biasa kok Mas." Ucapan Layla membuat raut wajah Helmi berubah menjadi begitu heran akan ucapan Layla


"Maksud kamu apa? Sakit kok di anggap cuman biasa aja?" Ucap Helmi yang tidak mengerti maksud perkataan dari Layla


"Mas ini biasa bagiku, jika haid pertama aku pasti akan seperti ini. Aku cuman butuh istirahat 30 menit Mas, kamu tidak perlu khawatir lagi yah, aku gak sakit kok." Ucap Layla yang tak ingin Helmi begitu khawatir padanya


"Apa kamu yakin tidak apa-apa Layla? Jika kamu merasa tubuh kamu sakit, bilang saja nanti, jangan malu lagi padaku." Ucap Helmi yang akhirnya percaya dengan ucapan Layla.


"Iya, Mas." Balas Layla dengan tersenyum manis pada Helmi, senyuman itu nyata membuat hati Helmi semakin tentram rasanya, senyum yang tak kan pernah bisa Helmi lupakan. Senyuman yang nyata telah membuat Helmi berubah, senyuman yang seakan pernah hadir dalam kehidupan dirinya di masa lalu.


*****


(Romansa itu nyata telah hadir dalam rumah tangga kita, Layla. Aku harap ini akan menjadi awal yang baik untuk kedepannya, aku takkan pernah ingin romansa ini berhenti, bahkan untuk sedetik pun aku takkan pernah rela!)


'apa seperti ini rasanya sudah begitu mencintaimu, bahkan sedetik pun aku tak rela romansa ini untuk diberi jeda.' batin Helmi menatap lekat pada Layla yang berusaha untuk tidur

__ADS_1


'layla, wajah kamu begitu ayu, wajah yang membuat aku nyata jatuh cinta. Wajah yang seakan pernah hadir dalam kehidupanku di masa lalu, apa ini semua hanya perasaan ku saja? Apa ini semua hanya khayalan ku saja? Apa karena aku sama sekali tak bisa melupakan wajah itu hingga sekarang?' batin Helmi yang merasakan jika Layla adalah sosok wanita yang pernah hadir dalam masa lalu Helmi, wanita yang telah mengisi hati Helmi dengan bunga-bunga cinta yang tiada tara.'


*****


Dilain sisi, Helmi begitu merasa bersalah akan kebohongan yang masih saja begitu berusaha ia simpan dari Layla


'Apa yang harus aku lakukan sekarang, oh Tuhan? Ingin rasanya jujur pada Layla, tapi … itu semua hanya akan membuat Layla menderita ketika mendengar semua kebohongan yang telah aku perbuat!'


'Maafkan aku Layla, aku memang lelaki pengecut!' batin Helmi yang kembali teringat dengan pertemuan tak sengaja yang terjadi di hotel


Flashback …


'carina!' batin Helmi yang tak menyangka jika dirinya akan bertemu dengan Carina di hotel yang sama


" Helmi, kamu kemana aja sih? Aku cemas banget loh sama kamu, kenapa belakangan ini nomor kamu jadi susah aku hubungi? Kamu sibuk banget yah sampe gak bisa kasih kabar sama aku?" Ucap Carina yang memeluk erat Helmi


"Maaf Carina, aku begitu sibuk belakangan ini." Ucap Helmi yang begitu was-was ketika berucap


Helmi begitu khawatir jika Carina yang akan membongkar rahasia terbesar yang tengah Helmi sembunyikan dari Layla


"Aku kangen banget sama kamu sayang, kamu temani aku yah, pleaseeee." Pinta Carina yang memberikan kecupan manis di leher Helmi


" Maaf Carina, untuk saat ini aku tidak bisa, aku masih ada urusan diluar." Helmi yang segera melepaskan pelukan Carina


"Apa urusan kamu lebih penting dari aku yah?" Goda Carina


"Bukan begitu …" ucapan terpotong


"Jika begitu kita ke ruangan aku aja gimana? Aku kangen banget sama sentuhan kamu, sayang." Carina yang kembali memeluk erat tubuh Helmi


Carina hanya memberikan raut wajah tak suka pada tindakan Helmi


'kenapa Helmi begitu berbeda? Padahal selama ini dia yang selalu mengejar ngejar aku! Tapi … kenapa sekarang seakan dia berusaha menghindar dariku! Apa yang sebenarnya telah terjadi pada Helmi? Apa ini semua karena gadis buta itu!' batin Carina yang begitu merasakan perubahan sikap Helmi pada dirinya.


*****


Flash on …


'Layla, seandainya aku memiliki kekuatan untuk mengatakan semua kebohongan yang telah aku perbuat padamu. Tapi … aku tak dapat kehilangan dirimu dalam hidupku Layla! Bahkan aku takkan pernah rela romansa kita jeda untuk sedetik saja.' batin Helmi menatap lekat pada Layla.


Helmi yang melihat jika Layla semakin menggigil, membuat dirinya semakin cemas,


"Layla, apa kamu yakin tidak mau aku panggilkan dokter saja?" Helmi yang begitu tak tega melihat Layla seakan tersakiti


"Nggak usah, Mas." Balas Layla lembut


"Apa kamu mau aku beliin bakso, supaya perut kamu hangat kembali?" Ucap Helmi


Layla hanya memberikan anggukan kecil seraya berucap pada Helmi


"Mas, bagaimana dengan berkas yang harus kamu siapkan untuk besok?" Tanya Layla


"Kamu gak usah mikirin pekerjaan aku, mendingan kamu fokus aja untuk kesehatan kamu, Layla." Helmi yang memberikan kecupan manis pada kening Layla

__ADS_1


"Kamu tunggu disini sebentar yah, aku akan keluar untuk belikan kamu bakso. Kamu jangan kemana-mana, mendingan kamu istirahat yah, aku gak bakal lama-lama kok."


"Iya, mas. Aku gak bakal kemana-mana kok, kamu jangan lama-lama perginya yah." ucap Layla dengan begitu ingin dimanja oleh Helmi


"Ihh, kamu benar-benar bikin aku ngak bisa untuk menahan ini semua selama satu Minggu, Layla." Helmi yang memberikan kecupan manis pada kening Layla dan segera melangkah keluar kamar ruangan hotel.


******


Sementara itu, di tempat berbeda, Keano tengah berada di ruangan pribadi nya sendiri


'harus gimana sekarang? Aku takkan bisa menerima perjodohan ini! Tapi … jika berani menolak perjodohan ini, Layla pasti akan semakin tersakiti. Apa yang harus aku lakukan sekarang?' batin Keano yang benar-benar sudah begitu frustasi, berada di dua pilihan yang begitu membingungkan


'apa aku perlu meminta saran pada Morgan?' batin Keano yang tanpa disadari menekan nomor telepon yang bertuliskan nama Morgan


📱Halo, Morgan, apa kamu bisa membantu saya?" Keano


📱 Iya Senior, tapi saya sekarang tidak di rumah sakit, apa senior mau menunggu saya untuk beberapa saat?" Morgan


📱Kamu tidak perlu datang ke rumah sakit sekarang, lebih baik kita ketemuan nya di luar saja" Keano


📱 Ohh ok senior, nanti kirimkan saja alamat nya dimana" Morgan


📱Ok, saya tunggu kamu segera" Keano.


*****


Keano pun segera meninggalkan ruangan pribadi, dan melangkah menuju ke tempat parkiran mobil elit kawasan rumah sakit milik keluarga vermando


Tapi siapa sangka Keano kembali menemukan takdir buruk itu, ternyata di tempat parkiran, tuan Vermando telah menunggunya dengan aura yang begitu mencekam


'papa!' batin Keano


(Plakkkkkk) tamparan keras kembali terasa untuk kedua kalinya di pipi Keano


"Dasar anak tidak tahu malu! Saya sudah carikan pendamping yang setara dengan keluarga kita! Kamu malah mempermalukan saya seperti ini! Sebenarnya apa yang kamu mau! Kamu ingin membuat keluarga kita malu! " Ucapan yang penuh amarah kembali terdengar di telinga Keano


"Jika papa sudah tahu akhirnya akan seperti ini, kenapa Papa masih bersikeras menjodohkan Keano!"


"Papa hanya mau didengar! Tapi … Papa sama sekali tak mau mendengar!"


"Keano bukan robot, Pa! Keano ini anak Papa! Keano juga punya pilihan hidup Keano sendiri!" Keano yang segera masuk ke dalam mobilnya dengan segera menancapkan gas, meninggalkan tuan Vermando yang masih begitu amarah akan tindakan Keano.


*****


'kita begitu berbeda Layla, kita berada dalam kenangan yang semakin memudar sekarang. Hingga detik ini, aku takkan pernah bisa mencari sosok lain untuk masa depan.'


'hidup kan lebih kita carikan mimpi, aku masih berusaha untuk mencari cinta teristimewa, akankah kuat aku gelisah setiap hari, layla.'


'sepanjang waktu aku berusaha mencari jawaban, namun aku kembali tersesat dalam ruang dan waktu'


'hal yang tampak di mata dan apa yang tengah kini aku rasakan, ini semua tentang dunia kita tak peduli bagaimana aku bermimpi.'


'di masa kecil ketika kedua tangan dipenuhi dengan kerikil kecil, di masa yang bersinar bagai harta yang tak terlihat oleh siapapun.'

__ADS_1


'tidak disadari kita saling melewati pahit cinta yang tak sama, ku terbakar oleh satu yang tak berwujud, true love Mysterious eyes."


__ADS_2