
“Kamu habis kecelakaan Nak?" Tanya Ana mengikuti langkah Shifa.
Sifa mengambil segelas air yang berada di atas meja makan, lalu duduk dan meminumnya.
Blubub. ... Blubub... Blubub.
Suara tenggorokan Shifa yang kering membuat Ana mengurungkan niatnya untuk bertanya. ia tidak tega melihat Putrinya baru pulang sudah mendapati banyak pertanyaan atas penasarannya.
Shifa menatap ibunya setelah minum lalu berdiri menarik tangan Ana mempersilahkan nya duduk. Ia pun juga duduk berhadapan dengan ibunya.
"Kenapa sayang?" Tanya Ana, ia tidak bisa menahan penasarannya lagi ketika melihat Putrinya kini mendadak muram dengan mata yang mulai berkaca kaca.
Seketika Shifa teringat kelakuan Aska padanya, perlahan Air mata sudah menetes di pipi cabinya terlebih ketika ia melihat pergelangan tangannya yang kini sudah memar membiru. Isak tangis terus meledak, ia mulai merasakan perih di sana.
Ana membiarkan putrinya meluapkan dulu emosinya, namun melihat memar ditangan Shifa membuatnya terkejut.
"Ya Allah nak! itu kenapa?" Ana mengangkat lengan kiri shifa.
Shifa mengusap kedua matanya menarik napas dalam-dalam, Mempersiapkan diri untuk bercerita.
"Tadi pas Shifa berangkat kerja, motor Shifa di cekat orang, Maa...," ia kembali menangis di awal pembicaraannya. "Orang itu terus menarik paksa tangan Shifa, sampai motor Shifa jatuh." Lanjut Shifa.
Kini hanya suara tangis yang mendominan diruangan itu.
"Dia menarik kasar tangan Shifa tanpa melihat yang ditariknya itu tangan laki-laki atau perempuan," Lanjutnya menunduk dan terus menangis di hadapan sang bunda.
Ana melepaskan tangannya dari lengan sifa lalu berdiri kemudian memeluk putrinya.
"Tenangin diri kamu, sayang" ucapnya mengelus punggung shifa.
Ana ikut menangis mendengar cerita putrinya. "Ya Allah siapakah Pria itu yang tidak menghormati seorang Wanita," Gumam Ana membuat Shifa melepas pelukannya lalu mengusap bekas air matanya.
"Aska maa," Kata Shifa.
Ana menghentikan aktivitasnya kemudian menatap putrinya. "Nak Aska?"
Shifa mengangguk.
"Kenapa dia melakukan itu, Nak?"
"Mungkin dia marah karena Shifa menolak lamarannya lagi mah."
"Mama gak nyangka dia masih berbuat kasar sama kamu Nak. Mama pikir dia sudah berubah." Ana kembali memeluk Shifa membiarkan putrinya menangis dalam pelukannya.
Perubahan Aska yang lembut dan santun semalam memang mengelabui Ana. ia lupa bagaimana kehidupan dan prilaku Pria itu di masa lalu.
Setelah merasa puas Shifa mulai tenang dan menutup matanya Namun Ia teringat sesuatu, ia melepas pelukannya "Mah shifa harus ke Rumah Sakit," Shifa berdiri dari duduknya.
"Ngapain lagi ke Rumah Sakit?"
"Orang yang menolong Shifa tertusuk mah, dia---"
"Aska menusuk nya?!" Ana terbelalak.
Shifa mengangguk.
"Aska betul-betul gak bisa di jadikan Menantu!" Cecar ana kecewa. "Mama harus ketemu sama Aska."
Ana hendak melangkah namun tangannya ditahan shifa.
"Maa.. tolong jangan cari masalah lagi." pinta shifa.
"Mama mana bisa diam klo dia masih giniin kamu, nak!"
Shifa memeluk Ibunya, "sekarang Shifa cuman punya mama. Shifa gak mau mama kenapa-napa lagi" Shifa kembali menangis, kini ia merasa takut kehilangan orang yang ia sayangi.
__ADS_1
Ana menatap iba putrinya. terlalu berat cobaan yang dihadapi putri semata wayangnya itu. Ia mengecup ujung kepala Shifa "mama gak akan ninggalin kamu nak, maafkan mama" ucapnya kemudian.
Merasa tenang shifa mendongakkan kepalanya, "Mah? bolehkan Shifa kerumah sakit?"
"Gak sekarang sayang kamu masih sakit. tunggu mama pulang, yah.kita berangkat bareng-bareng."
Shifa melepas pelukannya "ini cuman luka kecil mah." ia memperlihatkan pergelangan tangannya.
"Kelamaan klo Shifa nungguin mama. Pria itu dirumah sakit sendirian, sampai sekarang Shifa belum tahu keluarnya dimana. Shifa harus tanggung jawab. toh pria itu terluka karena menolong shifa juga." shifa masih meyakinkan ibunya.
"Mamah masih khawatir sama kamu, Nak," Ana mengusap kepala Putrinya.
Shifa mencakup pipi ibunya, "Mama gak usah khawatir, Shifa udah baikan kok."
Shifa tersenyum ia tahu mamanya benar benar sangat menghawatirkan dirinya "Nanti Shifa ajak Lia temenin."
Mendengar itu, Ana menatap ragu Putrinya.
Shifa menarik lengan Ana "Maa..., jangan samakan Dia dengan Kakaknya, Lia anak yang baik." ucap shifa yang sudah mengerti tatapan itu.
Ana menatap putrinya kemudian meenghela napas "Mama ijinin kamu. tapi jangan terlalu sibuk menjaga orang lain, ingat tangan kamu juga sakit kamu juga perlu jaga diri."
Shifa bala senyum "Iyah Maa, Klo gitu shifa ngabarin Lia dulu yah."
***
Jarum jam di dinding kamarnya sudah menunjuk pertengahan angka 1 dan 2,
Mengingatkan Shifa Yang seharusnya siang ini ia sudah berada di TPA siap mengajar murid-murid.
"Assalamu alaikum, Lia.." salam Shifa setelah panggilannya tersambung
"Waalaikumussalam, ada apa kak?"
"Lia.. Tolong sampaikan ke teman teman mu yah, klo hari ini aku gak bisa masuk ngajar."
"Nanti aku ceritain. " Shifa dia sejenak "Lia, kamu gak sibuk kan?"
"Nggak kak, Kenapa?"
"Bisa nemenin kakak keluar? kakak mau--.."
"Yes! jalan-jalan," seru Lia "Siap dong kak!"
Shifa tersenyum, inilah alasannya mengapa ia mengajak Lia. Pewibawaan gadis itu yang selalu ceria membuatnya nyaman dan terhibur walau ia kadang nyeselin.
"Sekalian motor kamu ikut yah!" Shifa merapatkan gigi-giginya sedikit canggung jika harus meminjam.
"Oo.. Beress! udah gak ada 'kan kak? Aku mau siap-siap nih! gak sabar mau jalan-jalan."
shifa terkekeh, apa kepergiannya ini bisa di sebut jalan-jalan juga? Mulai timbul rasa tidak enak kepada lia.
"Ya udah, sekalian aku juga mau siap-siap, Assalamu alaikum."
"Waalaikumussalam"
\*\*
Hari sudah mulai sore namun sinar matahahari masi semangat menampakkan cahayanya.
Pip... pip...
Suara klakson motor sedikit mengagetkan Shifa yang sedang menyiapkan barang yang akan ia bawa ke Rumah Sakit.
tak ada lagi suara brisik yang terdengar. Shifa malas berjalan hanya membuka pintu, toh ia juga tahu siapa yang datang.
__ADS_1
"Derr!!"
"Allahu akbar!! " shifa mengelus dadanya karena kaget mendapati Lia yang tiba-tiba berdiri debelakannya.
sementara itu Lia terkekeh sejadi-jadinya.
Shifa melempar benda kecil kepada lia.
"Iiih! kenapa gak beri salam dulu sih baru masuk! Ngagetin aja." Protes shifa, ia masih mengatur napas.
"Hahaha! habis aku klakson gak keluar keluar sih!" Lia mengembalikan benda yang dilempar shifa keatas meja.
"Mau piknik kak? "Tanya nya setelah melihat termos dan tikar yang masih dirapikan Shifa.
"Kenapa gak bilang sih klo mau piknik.
Kan aku bisa bawa kamera sama topi pantaiku juga!" lanjut Lia di akhiri manyunnya.
Namun tak ada tanggapan dari shifa. Dia nampak sibuk dengan barang-barang nya.
Lia mendengus, sadar wanita itu hanya peduli dengan keperluannya.
"Heem Jadi Mau piknik kema--"
"Ke rumah sakit," pangkas shifa.
"Huh! Ngapain?" Tanya lia. perasaannya mulai tidak enak.
"Ada teman kakak yang sakit,"
Shifa berdiri kemudian bergelayut manja di lengan Lia, "Temenin kakak, yah?" sambil menaik naikkan alisnya dan tentu senyum manis mengikut disana.
"Hadeeeh.. yaudah deh! jalan-jalan sore."
Shifa tersenyum kemudian memeluk Lia gemesh. "Makasyih yah dek"
Lia melepaskan pelukan shifa, "Lia mau kabarin mamah dulu,"Lia menempelkan telpon ditelinganya kemudian melirih shifa "Pasti nginep kan?"
Shifa mengangguk sambil merapatkan gigi-giginya.
"Halo mah?" Ponsel masih menempel ditelinga, Lia melangkah keluar rumah berharap ada pemandangan indah yang menyembuhkan suasana hatinya.
"Kak Aska kenapa mah?"
Samar samar Shifa mendengar percakapan dari luar, ia tahu anak dan ibu itu sedang membahas wajah babak belur Aska.
Usai membereskan perlengkapannya ia keluar menghampiri Lia. "Yuk!"
"Kak Aska ini bikin khawatir aja deh! masa pulang mukanya udah bengkak bengkak semua"
Shifa tak bergeming.
"Iih kok di cuekin sih!" Lia memasukkan ponselnya dalam tas "Gak khawatir apa sama kak Aska?"
"Kalo kamu khawatirin Dia, pulang sana!"
-Bersambung-
Jangan lupa bantu Support ceritaku ini yah.
biar Authornya semangat buat nulis, moodnya nambah buat ide ide spektakuler.
caranya gimana? gampang, kok. cuman modal jari doang tapi berharga banget buat aku.
LIKE, KOMEN,BINTANG LIMA. sama mohon bantu SHARE, yah! 😊 @airaannur_
__ADS_1
Terimahkasih.
#InsyaAllahBerkah.