
"Kamu gadis kuat Lia…,” Lirih Aska di balik cendela memandangi adiknya yang kembali ditangani dokter.
Beberapa saat setelah kepergian Syifa, gadis itu bereaksi. dan Aska segera memanggil Dokter Rika. melihat Dokter yang terus memompa jantung, membuat air mata Aska tumpah.
"Ya Allah… jangan biarkan Aku sendiri…”
Batinnya memohon, Lia adalah penyelamatnya, gadis itu adalah alasannya bertahan. sulit baginya membayang hari tanpa adiknya.
Beberapa saat setelah dokter berusaha menstabilkan jantung lia. akhirnya Aska bisa bernapas lega ketika Dokter Rika dan asisetennya memperbaiki alat alat yang tadi menempel di tubuh lia.
“Dok, apa yang terjadi dengan adik saya?” kata Aska setelah Dokter rika keluar.
Dokter rika tak langsung menjawab, ia mengajak Pria itu ikut keruangnnya. setelah sampai, ia menyodorkan sebuah gambar tengkorak otak pada Pria itu kemudian duduk. sementara Aska menatapnya bingung.
"Benturan yang di alami Lia ketika terjatuh menyebabkan pendarahan pada otaknya, akibatnya kangker yang diidap Lia menjadi ganas dan mulai bereaksi."
Penuturan Dokter membuat Aska menyebik, kesal, marah pada diri sendiri. mungkin Lia terjatuh karena menginjak lantai licin akibat pertengkarannya tadi.
“Keadaan Lia semakin memperhatinkan, hanya doa dan perlangkapan medislah yang bisa membantunya bertahan.” Dokter rika menghela napas, “rumah sakit kami terbatas, Nak aska. alat alatnya tak lengkap untuk menangani lia sementara lia butur penanganan yang lebih. saya sarankan kamu membawa lia berobat ke jepang."
**
Diaknosa demi diaknosa yang diberikan Dokter rika tadi tak ada yang menenangkan, baginya semua hanyalah kabar buruk meski sudah di recomended rumah sakit yang lebih baik dari tempat lia sekarang. tapi bukankah itu berarti keadaan lia makin terpuruk sampai harus mendapat perawatan ke luar negri?
“Aarg!”
Bug!
Aska memukul tembok sekuat tenaga melampiaskan penyesakan hingga membuat tangannya memar. ia mendongak menatap adiknya dari candela kaca.
“Ini semua salah ku, ini salah kakak, Lia.. maafkan kakak."
Ia menempelkan keningnya pada cendela tersebut kemudian memejam mengingat semua tentang adiknya. senyum lia, tawa lia, canda lia. ia masih ingat, ia rindu itu.
Ditengah menghayati memori yang tersengat di otaknya, deringan ponsel membuat ia merogo ponsel dalam saku celana.
"Mama?"
Baru kali ini ia mendapat panggilan dari orang tuanya semenjak meninggalkan rumah. apa ini kekuatan batin dari seorang ibu?
Aska belum mengangngkat, ia sangat takut ketika mamahnya menanyakan Lia. apa yang harus ia katakan.
"Iya, Ma?" akhirnya ia memberanikan diri menjawab panggilan.
__ADS_1
Ditempat lain, sejak tadi Syifa berada dibengkel menunggu nabil datang. karena merasa lelah menunggu dan buang buang waktu ia kemudian menghampiri Eky yang sedang berjongkok memodifikasi sepeda motor.
"Aku pulang saja.” katanya pada Pria itu.
"Serius? gak mau nunggu dia?” Eky berdiri, “bentar lagi..." kalimatnya tak dilanjutkan letika menyadari wanita didepannya menangis.
“Aku pulang aja, Kak. mau ditunggu sampai besok pun kayaknya dia gak bakal datang," balas syifa parau seraya mengusap air matanya.
"Kalian ada masalah?” akhirnya pertanyaan yang dari tadi ditahan keluar juga dari mulut Eky, namun sayangnya ia tak mendapat jawaban.
"Assalamu alaikum."
"Waalaikumussalam. hati hati, Fa."
Eky membiarkan wanita itu pergi tak memaksanya menjawab. namun beberapa saat kemudian ia berbalik ketika mendengar suara motor nabil, dan syifa masih berada di area bengkel.
“Fa?” Nabil yang sudah turun dari motor menghampiri wanita itu.
PLAK!
Pupil mata Eky membesar ketika melihat sahabatnya ditampar oleh tangan wanita yang diketahuinya tak pernah niat menyentuh pria yang bukan mahromnya.
“Kenapa baru datang?” cekal syifa memandang nanar Pria yang sedang terkejut di hadapannya.
“Kenapa?!” teriak Syifa ketika tak ada tanda-tanda jawaban dari pria itu. setetes air mata mulai antusias mengguyur pipi cabinya, namun segera ia seka ketika menyadari beberapa orang menjadikannya pusat perhatian. ia kembali menatap nabil yang masih mematung.
“Aku mau bicara” pintanya kemudian melangkah ke samping bengkel.
Nabil menoleh eky ketika pria itu hendak menghampirinya. ia kemudian mengangguk agar eky tidak usah mencampuri masalah ini.
Setelah menengangkan diri, nabil menghampiri syifa. wanita itu menghadap bentangan sawah hijau yang ujung daunnya sedang bergoyang disentuh angin yang mensejukkan, wangi khas padi yang masih asri nan segar itu seharusnya memberi kesan tenang bagi yang meghirupnya. namun suasana yang menentramkan itu sepertinya tak mengubah suasana hati seorang Syifa.
"Kau ingin jadi pembunuh?”
Nabil yang masih berjarak dua meter dari wanita itu tiba tiba menghentikan langkah. "Faa..., aku gak sekejam itu..” niat untuk melanjutkan langkah terpangkas ketika syifa berbalik cepat padanya.
"Lalu? mengapa harus kau bongkar padanya!?” bentak syifa mengingat keadaan lia yang semakin terpuruk, “kau tahu keadaannya, Bil. bagaimana bahayanya dia jika mengetahui ini. kenapa harus kau rebut harapannya!?”
"Yah karena aku sudah mengatakan dari awal, Fa!” balas nabil tak kalah emosi, ia menarik napas sejenak menenangka diri.
"Jangan salahkan aku jika keputusanmu ini terlalu lama,” lanjutnya mengingatkan wanita itu pada kalimatnya saat dimintai untuk berpura pura mendampingi lia. "karena kamu, Fa. ini juga salahmu yang terlalu lama memberiku harapan!”
“Enggak!" bantah syifa "semua ini salahmu! aku menjauhimu bukan hanya karena lia! tapi karena keadaan yang memang tak berpihak pada 'kita, Bil!”
__ADS_1
"Keadaan yang tak berpihak karena kamu yang sok mengaturnya, Fa!”
Syifa menggeleng, “itu karena ayahmu seorang pembunuh!”
Nabil mematung mendengar tuduhan itu kembali terucap. ia masih ingat betul, bagaimana dulu wanita itu memercayai jika bukan ayahnya yang membunuh.
Sirna sudah solidaritas itu untuk mencari benalu kesalapahaman keluarga. semua usaha harus berakhir dengan alasan yang sama.
"Perlahan kau sudah mengikuti jejak ayahmu, Bil ambisi! dan cara kalian sama! menghalalkan segara cara demi merebut apa yang kalian mau!”
“Cukup, Syifa!"
“KAMU YANG CUKUP!” sentakannya berhasil membuat pria itu terdiam, ia memejam mengatur napas dan kembali menatap, “kau pikir mudah melewati hari bersama orang yang kita cintai, tapi pikiran dan hati gelisah memikirkan penderitaan orang di seberang sana. kau pikir aku tega?"
Nabil menyernyit menatap.
"Dia akan kehilangan, Bil. kau akan membuatnya sendiri. caramu untuk mendapakanku akan membuat kami kehilangan sosoknya.”
Syifa semakin menunduk karena tangis, ia bahkan duduk memeluk kedua lututnya. meski kejam sudah memikirkan lebih dulu, bukankah tiada lagi harapan untuk gadis malang itu.
Melihat kepiluan wanita itu membuat nabil ikut berjongkok disampingnya, "Fa, hey? maafkan Aku.”
Syifa mendongak menatap nanar Pria itu, “jika kau ingin menenangkan dukaku... lepaskan aku, Bil. karena bersamamu aku hanya semakin menyesal.”
Nabil tak merespos, ia hanya tak mengerti mengapa syifa sampai sesedih ini, sebab setelah mencetitakan semuanya pada lia, ia langsung pergi usai memberi pemahaman pada gadis itu.
“Sebenarnya apa yang terjadi, Fa? apa terjadi sesuatu dengan Lia?”
Syifa menarik salah satu sudut bibirnya, "kenapa kau panik, Bil? bukankah itu harapanmu?” tanyanya, "kamu sudah hampir berhasil melenyapkan benalu dalam hubungan yang tak ada harapannya ini!”
"Lia kenapa?” desak Nabil.
Syifa tak memberi jawaban, ia berdiri dan meninggalkan Pria itu. namun dengan sigap tangannya tertarik ketika nabil mengejar.
"Lepaskan, Bi!"
"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Lia, jika sekarang kamu meminta bantuanku aku akan menolongnya, Fa. selama kamu masih ingin berjuang dengan kisah kisah kita."
Syifa tak memedulikan bujukan Pria itu. buat apalagi meminta bantuan jika lia sudah mengetahui semuanya. dengan sekuat tenanga akhirnya ia berhasil melepas diri dari cengkraman Pria itu kemudian berlari menghampiri motor dan segera meninggalkan bengkel tersebut
-Bersambung.
Gak bosan bosan nih, Aku mau minta support dari kalian semua. hargai waktu kami, hargai tulisan kami dengan cara meninggalkan jejak ataupun komentar pertanda novel ini ada yang tungguin.
__ADS_1
Mohon Suppornya ya, kakak kakak. terimah kasih.