Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
pria bermasker.


__ADS_3

Aska menatap tepat di mata Shifa "aku serius fa, sama kamu. dan sepertinya mama juga sudah merestui hubungannya kita, kamu terima kan?"


Shifa menundukkan pandangannya merasa risi dengan pertanyaan aska yang langsung pada intinya, Padahal ia belum menyiapkan Narasi untuk menolaknya secara halus.


Ia menarik napas kemudian kembali menatap Aska. "bukannya kamu sudah tahu jawaban ku kemarin gimana, terus kenapa masih di tagih” balas shifa dan menunduk. ia tahu sebentar lagi pria itu akan marah padanya.


Mendengar itu Aska membuang muka dengan senyum masam.  kemudian menatap kembali wanita dihadapannya.


“kenapa sih hatimu se egois ini, huh!"


"Aku yakin kamu akan bahagia hidup denganku faaa,  Apa yang kamu mau akan kuberikan. kamu mengenalku 'kan!?"


Gertak Aska membuat Shifa  memejamkan mata, Ia ingin sekali menutup telinganya enggan mendengar kata-kata menyakitkan lagi dari lisan pria itu.


"Aku serius sama kamu faaa, aku tidak bisa memulai hubungan dengan yang lain” lirih aska tiba-tiba lembut usai melihat ketakutan di wajah Shifa.


"Apa kamu meragukan Keseriusan ku?


Atau kamu yang tidak bisa melihatnya?"


"Faa, lihat aku." pinta Azka, namun Shifa masih diam dalam tunduknya. ingin sekali tangannya menyentuh wajah wanita itu dan mengarahkan padanya namun Shifa bukanlah Shifa yang dulu, Wanita itu sudah menjunjung tinggi harga dirinya. ia hanya bisa menatap kain yang menutupi kepala wanita yang dulu pernah menjadi kekasihnya itu.


"Aku sampai mengorbankan kepercayaan ku untukmu," bisiknya kemudian.


Akhirnya wanita disampingnya itu berani menatapnya. Shifa membuang napas dan kembali menatap pria itu.


"Apa aku pernah mengatakan jika kau ikut kepercayaanku aku akan menerimamu?"


Shifa menatap tepat ke mata aska, membuat pria itu membungkam sejenak. iyah, itu memang bukan permintaan shifa, tapi ia berharap setelah pindah agama wanita itu akan menerimanya kembali.


"Tapi ini salah satu usahaku untuk memilikimu lagi" ungkap aska kemudian.


Sifa tercengang mendengar jawaban Aska. "Kamu mempermainkan agamaku! jadi kamu memeluk islam hanya karena diriku! Bukan karena Allah?"


Shifa menggeleng gelengkan kepalanya tidak mengerti dengan pikiran pria yang sangat menginginkan dirinya itu.


Ini pertama kalinya Aska melihat sifa menatapnya geram, hingga lidahnya sendiri tak mampu mengeluarkan kata kasar untuk membalas. 


"Faa'..., Aku akan berubah seiring waktu. ajari aku, bimbinglah aku agar bisa mencintai tuhanmu."


Keduanya saling menatap mencoba saling membaca pikiran. cukup lama, untuk shifa berpikir.


"Apa yang membuatmu yakin dan ingin kembali bersamaku?” Tanya syifa yang meskipun mendengar jawaban Aska tidak sedikit pun mengubah keputusannya.


"Aku ingin menjadi pantas untukmu. bisakah kita seperti Dulu?


saling berbagi kasih, saling menggenggam cinta,"


Aska mengulurkan tangannya hendak memegang tangan Shifa namun segera shifa menjauhkan tangannya.


"Kamu tidak bisa menyentuhku seenaknya, Ka! aku bukan shifa yang dulu." tegas Shifa.


"Maka itu Aku ingin menjadi baik, aku ingin mendapatkan wanita terbaik sepertimu."


Shifa tersenyum masam "Dari mana kau tahu aku sudah menjadi wanita baik-baik?"

__ADS_1


“Kamu berpakaian syar’i," jawab aska "aku tidak terlalu mengenal islam, Fa. tapi yang aku tahu, Bukankah wanita terbaik dalam islam adalah yang mampu mencintai dirinya sendiri?"


Hening sesaat.


"Kata kata mu Benar, ka." kata shifa kemudian "iyah, Kini Aku mencintai diriku sendiri. maka itu aku masih pada keputusanku sebelumnya, aku tidak bisa menerimamu karena aku tidak mencintaimu lagi."


"Secepat itu!!" decit Aska "Dulu kita pacaran 4 tahun lamanya faa, 4 tahun! Apa dihatimu tidak ada rasa yang tersisa sedikitpun?"


Shifa bergeming.


Azka memicing melihat kain yang menutupi rambut Shifa "bahkan hubungan kita lebih tua dari pada kain di kepalamu itu, Fa!" cibir Aska.


"Semudah itu kau melupakanku dan kembali ke tuhanmu yang sudah mengambil ayahmu?" lanjutnya.


Sifa berdiri kasar dari duduknya.


"Aku mau sholat isya," shifa berdiri dari duduknya yang sebenarnya geram dengan pernyataan Aska yang terus mengungkit masa lalu dan menjerumuskannya pada keburukan.


"Aku belum selesai ngomong, Fa!!" bentak Aska.


"Ka! Kamu sadar gak sih ini rumah siapa? Jangan seenaknya membentakku ini bukan wilayahmu!" protes shifa tak kalah emosi.


"Maka itu biarkan aku bicara baik-baik biar kamu__"


"Dengan apapun caranya keputusanku tetap sama, ka!" pangkas shifa kemudian melangkahkan kakinya.


melihat sikap Shifa Aska mendengus kesal "Jangan salahkan aku jika kuberi tahu dengan cara kasar!!"


Shifa memejamkan mata disela-sela langkahnya. “Sudah kuduga kata kasarnya keluar lagi” batinnya kemudian masuk dan menutup pintu rumahnya.


🌆


Ia melambatkan laju dan menepikan mobilnya ketika mendapati jalanan yang sepi, Pria itu diam dalam pikirannya.


"Dengan apapun caranya keputusanku tetap sama,ka!"


Kalimat dari Shifa terus terus terngiang dikepalanya. Niat baik yang coba ia sampaikan malah membuat harga dirinya rendah.


"Aaaaaarg!" Teriaknya kesal.


Bugg!!!


Aska memukul kemudi mobilnya melampiaskan semua kekesalannya disana. Jelas itu membuat tangannya memerah dan perih. Namun ia hanya tersenyum masam melihatnya.


"Huh! Dengan cara apapun?" decitnya.


Aska mengalihkan pandangannya kedepan, menatap bentangan jalanan dengan tatapan kosong “liat saja nanti." Gumam Aska kemudian melanjutkan perjalanannya.


🌄


Langit sudah menampakkan warna jingganya. Perlahan matahari pagi bersinar dengan cerahnya.


Seperti biasa wanita berginsul itu sudah rapi dengan pakaian berwarna hitam dengan jilbab merahnya, bersiap mengais rezeki di salah satu toko yang menjual pakaian bernuansa Islami.


Keadaan memaksanya hidup mandiri, tidak melanjutkan pendidikan pun ia korbankan agar tidak menjadi beban bagi wanita yang membesarkannya.

__ADS_1


“Maa..." Shifa menghampiri Ana yang tengah didapur.


"Mau berangkat, Nak?" Tanya ana Sambil menlap tangannya.


Sifa mengangguk kemudian meraih tangan Ana dan mencium punggung tangan wanita itu. "Assalamu alaikum, Mah."


"Waalaikumussalam " jawab ana sembari mengusap ujung kepala putrinya yang masih tertunduk mencium tangannya.


"Nanti klo sampai sana, kabarin tante mirna yah! mama mungkin datangnya agak telat."


"Iyah mah" shifa kemudian keluar mengambil snekers nya dan memakainya diluar rumah.


"Hati hati, Nak! jangan ngebut ngebut bawa motornya!"


teriak ana dari dalam tepat ketika mendengar suara motor dari luar. entah kenapa pikirannya tidak tega melihat anaknya berangkat kerja hari ini.


Gadis bermotor metic hitam yang mengenakan helm berkarakter doraemon. Sejak meninggalkan halaman rumah, bibirnya tak henti bergerak mengucap sesuatu.


“Sallalahu alaa Muhammad sallalahu aala wasallim,"


Sholawat shifa menyertai perjalanannya kiranya itu bisa menjauhkan dari segala musibah.


Jalanan sepi yang kini ia lalui membuatnya semakin melaju kencang.


sebuah motor berwarna hitam jenis Sporbike dibelakangnya membuat shifa curiga dengan pemilik motor itu yang seperti berusaha ingin mengejarnya.


“Berhenti!!”


tiba-tiba saja suara lantang terdengar dari belakang Shifa.Yah, pemilik Moge itu berusaha mengejarnya.


Shifa menoleh kaca spion nya lalu berbalik memastikan, sudah diduga  yang memanggilnya tidak sopan adalah seorang Pria.


Sreet!!


Baru kembali berbalik untuk menpercepat lajunya, Pria itu langsung mengalip motor Shifa dan berhenti tepat didepannya. Dengan segera shifa menarik Rem-nya.


"Ya Allah ada apa ini?” panik Shifa.


Shifa memicing penasaran ketika Pria itu membuka helmnya.


namun sayang, pria itu memakai Masker Dan kacamata hingga sulit Shifa menebak wajahnya.


Pria itu menuruni motor dengan kasar bagai siap menerkam mangsanya.


Jarak motor mereka tidak terlalu jauh hingga sulit bagi Shifa untuk segera pergi. Sedang ia  juga belum tahu apa motif Pria itu menghalangi motornya.


Shifa diam di tempat, ia larut dalam pikirannya menerka-nerkah apa sebenarnya niat pria itu.


"Aaarg! " pekiknya yang sadar tangan Pria itu sudah menggenggamam erat pergelangan tangan kirinya. menyadarkan shifa bahwa pria itu bukanlah orang baik.


-Bersambung


Assalamu alalikum semua.


jangan lupa yah tekan LIKE nya dan beri tanggapan anda di cerita ini dengan cara KOMEN dibawah.

__ADS_1


jangan lupa FOLLOW @Airaannur


Terima kasih.


__ADS_2