
Lia diam mengernyit menatap pria itu kebingungan, kebohongan apa lagi yang coba dilakukannya.
Sarah menatap wanita muda yang berkerudung syar'i tersebut, "Terima kasih sudah bertanggung jawab dan Membawa anak kami ke rumah sakit, nak."
Lia diam dalam pikirannya, ia sedang mencari kata sanggahan untuk tidak membenarkan pernyataan pria itu.
Namun pikirannya terlalu lalot, kedua pasangan itu sudah menatapnya aneh.
Lia mengulas senyum kikuk, memang tiada cara lain. ia harus mengikuti rencana pria itu. toh pertemuan ini cuman sampai disini, pikirnya.
"Saya yang seharusnya berterima kasih pak, buk," Lia melirik malas pria terbaring tersebut dan kembali mengulas senyum pada pemilik 2 pasang mata senja di hapannya, "kalo bukan karena anak bapak sama ibu, mungkin saya yang terbaring di sana."
"Bagaimana pun juga pasti kak Shifa akan berkata seperti itu."
"Pemisi."
Tiba-tiba saja seseorang datang memasuki ruangan dan menjadi pusat perhatian orang-orang didalamnya.
"Maaf pak, sudah waktunya kita berangkat. rapat akan diadakan sebentar lagi." Ucap pria bernama anton pada atasannya.
Haris melihat arloji di tangannya, kemudian menatap istrinya.
"Mamah disini saja," ucap Sarah yang sudah mengerti tatapan itu.
Pria itu mengangguk, mengerti jika istrinya tak bisa mendampingi ia menatap putranya, "Papa tinggal dulu, nanti papa kesini lagi."
"Gak usah pah." tolak Nabil, ia menatap ibunya, "Aku juga mau pulang hari ini mah."
Sarah menyernyit tidak setuju, "Kamu masih sakit, nak," ia mengusap rambut pirang putranya namun pria itu menariknya dan menggamnya.
"Yang ada Kepalaku tambah pusing jika berada disini mah." kelunya namun aduan itu tak berpengaruh.
"Rawat di rumah aja yah, mah," pintanya lagi sambil mengangkat jari telunjuk dan tengah hingga berbentuk huruf V.
"Pleass..." lanjutnya tanpa memusingkan ada wanita muda yang tengah menatapnya aneh dengan sikap manjanya itu.
Sarah menghela napas berat. ia mengangguk pasrah kemudian menatap suaminya.
"Papa akan segera pergi, waktunya mepet mah," ucap haris yang sudah mengerti. "Nanti papa kirimin orang jemput kalian."
Sarah mengangguk mencoba mengerti kesibukan suaminya yang sudah menjadi orang penting.
**
Keadaan di pagi hari memang waktu yang sibuk sibuknya. Banyak orang yang bangun lebih awal agar meminimalisir aktivitasnya hari itu dan tentu, jalan mengundang kemacetan.
Seorang wanita muda yang baru beberapa menit lalu keluar dari gerbang masuk RS. ia resah dalam pikirannya keringat dingin kini menghiasi keningnya. Telunjuk nya tak henti henti menepuk putaran gas. bagaimana tidak, kemacetan yang didapat menghambat rencananya untuk tepat waktu.
"Ayo shifa, kamu harus berani!" batinnya meyakinkan diri mencoba menerobos sela-sela mobil yang dikira pas dengan tubuh motor yang ia bawah. tak mempedulikan sakit di pergelangan tangan. baginya ada yang lebih darurat dari pada ini.
__ADS_1
Kembali ke rumah sakit.
"Permisi mas, buk," seorang perawat meminta izin untuk menangani pasiennya "Bagaimana mas, apa sudah lebih baikan?" Ucapnya sambil mengecek kantong impus Pria tersebut. namun sosok yang ditanyainya hanya bersikap acuh.
"Sus, apa anak saya sudah dibolehkan pulang hari ini?" tanya sarah.
Perawat itu menatap Nabil, sedang pria itu sudah tersenyum padanya bersikap seolah baik-baik saja. Lia yang melihatnya hanya memutar bola matanya.
"Untuk saat ini bisa dilihat kondisi pasien baik-baik saja, tapi kita tidak tahu kedepannya bagaimana buk," jelas perawat itu kemudian menatap sarah, "Mengingat luka Tusuk nya masih basah dan perlu mendapat penanganan lagi agar tidak infeksi."
Mendengar luka Tusuk, tentu itu membuat sarah dan Lia terbelalak.
"Bukannya ini kecelakaan motor." batin Lia.
Sementara sarah hanya menatap geram putranya, ingin sekali ia memarahi Namun ini bukanlah tempat dan waktu yang tepat.
"Tapi kalo ibu ingin membawanya hari ini, baiknya keadaan pasien harus di kontrol selalu, buk."
"Kami akan merawatnya dirumah saja sus." jawab Sarah kemudian menatap kecewa putranya. Nabil tertunduk, ia tahu mamanya sedang marah.
Perawat itu mengangguk, "Kalau begitu, ibu bisa ikut dengan saya untuk mengurus beberapa berkas sebelum pasien keluar."
Sarah mengangguk, dan mengekori perawat itu keluar dari ruangan.
Baru ingin berbaring, wanita berkerudung syar'i yang tersisa disana sudah mendekat padanya, jelas dari matanya menyimpan sebuah pertanyaan.
"Kenapa anda harus berbohong?"
Nabil hanya mendengus, malas meladeni wanita itu. ia menarik selimut RS siap menutupi wajahnya, Namun seseorang menahan lengannya.
"Anda belum menjawab!" bentak Lia,
"Heh! Bocah! Beraninya loh bentak gue?" protes Nabil.
Lia masih bergeming dan menatap tajam pria di hadapannya.
Tak terima, Nabil juga membalas melototi, "Loh mau natap gue sampai jatuh cinta!?" Ucapnya kemudian menarik kasar lengannya dari cengkraman Lia.
Sadar, Lia melirik sini dan membuang pandangannya ke sisi lain. Tiba-tiba saja ia teringat sesuatu, ia kembali menatap Nabil. "Kenapa anda bisa tertusuk?"
"Bukan urusanmu!" jawab Nabil ketus, sesaat kemudian ia terdiam. ingatannya kembali mengingat waktu mencekam kemarin.
Lia memicing curiga, "Aku tahu ini bukan kecelakaan biasa," kata Lia "Aku bisa mencari tahu sendiri tanpa darimu."
Nabil mendengus kesal, "Kau hanya membuang buang waktu mengurusi hidupku!"
Lia terbelalak, kemudian memutar bola matanya. "Pede amat anda! ini tentang kak Shifa," Ucapnya tak mau pria itu salah paham.
"Ah Iyah, ada hubungan apa aska dengan wanita itu" seketika Nabil teringat kelakuan aska.
__ADS_1
Lia tidak berniat mendengar respon. ia memilih keluar meninggalkan Pria yang sekali lagi diam dalam pikirannya tersebut.
Ia merogoh ponsel dalam tas kemudian duduk di kursi tempat biasasanya, ia melakukan panggilan keluar.
"Halo, kak Shifa?" Ucapnya ketika panggilan sudah terhubung.
"Assalamualaikum dong, Lia.."
Lia meringis, "Lupa, lupa. Assalamu alalikum." ulangnya.
"Waalaikumussalam, ada apa Lia?"
"Kakak udah pulang belum? Keluarga pasien udah datang, nih!"
"Boro boro pulang, ini aja belum sampai," kelu Shifa, ia menjepit ponselnya dalam helm.
"Lama amat! "
"Macet lia.. ada yang penting gak?
Kakak lagi mengendarai ini," ucap Shifa setelah kembali menapaki aspal.
"Buruan yah!" Lia mengakhiri panggilan teleponnya.
Sementara wanita yang mengendarai, ia hanya fokus menatap kedepan tidak sedikitpun mengubah letak ponselnya karena mengubahnya hanyalah membuang waktu.
Tak sampai 10 menit, akhirnya ia sampai pada tujuannya, sebuah toko berlantai dua yang tak jauh dari aspal karena sebagian halamannya digunakan untuk parkir bagi pembeli dan karyawan,
Namun kali ini halaman itu terlihat senggang mungkin karena terlalu pagi.
"Aneka Busana Muslim" tertera sebagai judul dagangannya.
Wanita itu setengah berlari memasuki pintu utama, gamis yang dikenanya kemarin sore menghambur paksa debu debu yang masih berserakan di lantai.
Ia mendekat ke meja kasir.
"Apa bu mirna sudah datang?" tanyanya dengan nada tersenggal-seggal.
Wanita berkerudung persegi 4 yang terlipat 3 berwarna maron itu mendongak, "Kemana aja sih? buk mirna kemarin nyariin!" cecar rekan kerjanya yang bertugas di sana.
"Panjang ceritanya Nin," jawab shifa memelas "Buk mirna mana?"
"Tuuu.." Wanita bernama Nina itu mengarahkan dagunya kepintu.
Shifa berbalik, Wanita berpakaian serba hitam sedang menatapnya tajam ketika pandangan mereka bertemu. memang tak terlihat bagaimana ekspresinya tapi tatapan wanita bercadar itu semakin membuat jantung Shifa tersenggal.
-Bersambung.
bantu Support, yah! @airaannur_
__ADS_1