Menjemput Cinta Kadua

Menjemput Cinta Kadua
wilyam


__ADS_3

wanita yang seharusnya sudah di sibukkan dengan pekerjaan di toko itu, namun kini ia duduk terdiam di rumah sakit. Di pikirannya hanyalah bagaimana respon pria itu jika mengetahui adiknya kecelakaan karena mengejarnya.


Ceklek!...


"Kamu masih disini, shifa?" Tanya aska yang baru keluar ruangan. Ia mengedarkan pandanganya mencari seseorang, namun seorang yang dicarinya tidak ada, "bisa-bisanya dia pergi dalam keadaan seperti ini," gumamnya.


shifa berdiri dari duduknya, matanya berkeling menatap pria yang beberapa waktu lalu mengemis meminta maafnya. dan sekarang berganti, ia yang akan meminta maaf atas kejadian yang menimpa Lia.


bagaimana rasanya jika kemarin dia yang dikejar, dan sekarang dialah yang harus berlutut, "ayo shifa, hilangkan kecanggunannmu," batinnya.


"kamu kenapa, fa?" tanya aska yang melihat gerak gerik wanita itu aneh.


shifa menarik napas kemudian dikeluarkannya perlahan, ia menunduk, "semua ini mungkin salahku," ucapnya Lirih namun masih jelas di telinga aska.


"huh! maksudnya?"


shifa mendongakkan kepala. ia menatap pria didepannya yang sudah menebak-nebak sesuatu, "Lia kecelakaan karena mengerjarku." shifa mengakhiri kalimatnya dengan menutup mata.


hening!


"kenapa tidak ada respon? apa aska sedang mengumpulkan dulu kemarahannya, kemudian menerkamku?" pikiran shifa dalam mata terpejam, yang ia tahu pria itu sangat menyayangi adiknya, apapun yang menyakiti Lia, pasti aska tidak akan tinggal diam. ia akan mebalas sekalipun itu dirinya.


dan shifa pernah mendapatkan balasan itu, ketika ia masih menjalin hubungan dengan aska, tak sengaja dirinya mengagetkan Lia hingga membuat penyakit asma gadis itu kambuh. aska yang mengetahui membentak sejadi-jadinya, pria itu selalu kasar dalam keadaan marah itulah mengapa shifa ingin secepatnya terbebas dari kehidupan pria bernama Alaska Siaga.


perlahan shifa membuka mata. tak adanya respon dari pria didepannya itu malah membuatnya semakin takut. ia memberanikan diri menatap aska. tak ada wajah menakutkan yang tergambar dari pria itu biasanya, namun matanya begitu tajam menatap shifa dengan menahan amarah. shifa kembali menunduk tak berani melihat tatapan itu.


"apa aku membuatmu takut?"


sebuah kalimat dari aska membuat shifa kembali menatap pria itu, "kamu tidak marah?"


aska mengepalkan tangannya sekuat mungkin agar kebiasaan buruknya tidak keluar, "aku sedang menahannya," ucapnya kemudian.


shifa bisa melihat kepalan tangan itu, juga sangat jelas rahang pria itu mengeras mencoba menahan amarah, "maafkan aku, seharusnya aku memikirkan penyakitnya Lia dari pada keegoisanku." kata shifa menyesal.


aska mengangguk, ia memberikan sedikit senyum untuk menenangkan wanita didepannya itu, "bisa kita bicara sebentar," pintanya.


meski ragu, tapi shifa mencoba mengerti keadaan pria itu. disini dia yang merasa tersudutkan dan bersalah.


keduanya duduk dikursi yang tak jauh disamping mereka, tak lupa shifa memberi jarak dengan mengosongkan satu kursi ditengahnya.


"maafkan aku yang selalu membuatmu takut. karena sikapku," Aska membuka pembicaraan. shifa hanya diam menatapnya karena sudah ia duga pembicaraan ini akan beralih kesana.

__ADS_1


"aku akan selalu berusaha menahan sikap buruk ini, aku akan berlaku sabar dalam menyikapi masalah," mata aska nanar menatap wanita di sampinya, "aku akan berubah, untuk mu."


shifa masih terdiam menatap aska. bibirnya terkatup rapat menahan gemuruh didadanya. bukan karena ia terharu dengan kalimat pria itu, tetapi dipikirannya, kenapa baru sekarang? kenapa baru sekarang pria itu menunjukkan perubahannya. kenapa tidak dari dulu sebelum pria itu memberi luka yang membuat dirinya trauma.


"jika pembicaraan ini hanya berakhir pada paksaan. maaf ska, aku harus pergi," shifa hendak berdiri dari duduknya namun tangan aska yang menggantung didepannya menghentikan niatnya.


"aku tidak akan lagi memaksamu, karena aku yakin, kau masih di takdirkan untukku. aku hanya perlu sabar menunggunya." ucap aska yakin.


"berhenti membesarkan harapanmu, ska. itu akan lebih menyiksa, jika yang terjadi tidak sesuai dengan apa kau inginkan. kau akan kecewa dari ini."


"aku hanya sedang percaya kepada Allah, bukankah dia sang membolak balikkan hati."


Deg!


pupil mata shifa membesar. ia terkejut mendengar kalimat aska yang melibatkan nama Tuhannya. ada rasa bahagia juga bersyukur di hatinya. akhirnya pria itu bisa menyampaikan kalimat yang menenangkan. namun ada juga rasa takut yang menyelimuti. bagaimana jika Allah benar-benar menumbuhkan lagi perasaannya untuk lelaki ini, sebab aska sudah benar-benar ingin mendekati penciptanya.


"shifa?"


merasa namanya dipanggil, segera pemilik nama itu menengok kesamping kanannnya. seorang pria berkacamata sedang berlari menghampiri mereka. shifa dan aska berdiri menyambut pria itu.


"apa kabar, shifa?" tanya pria itu ketika di depan keduanya.


"Alhamdulillah baik, kak. kak wilyam sendiri apa kabar?" tanya shifa ramah.


"udah pake hijab, nih sekarang? bando cibi cibi loh mana?"


shifa kembali terkekeh kecil, "Alhamdulillah, doain shifa yah, kak. semoga istiqomah dengan kain ini." jawabnya.


pria yang bernama wilyam itu hanya mengangguk-angguk, "rupanya gegara ini Aska selalu baca buku agama-agama," gumamnya. pria bekacamata itu perlahan mengarahkan pandangannya pada pria di samping shifa.


"Buzeet! muka Lo kenapa?" wilyam hendak menyentuh wajah itu namun segera di tapik oleh pemiliknya, "jangan sentuh! masih sakit!" pekik aska seraya melindungi wajahnya.


"muka lo kenapa bisa kek gini sih!?


kali ini lo berantem ama bandar mana-- emmb" wilyam segera menutup mulutnya usai mendapat tatapan geram dari aska untuk tidak melanjutkan ucapannya.


"Lo ngapain ada disini?" tanya aska.


"ngapain, ngapain, eh! Lo ninggalin pemotretan tiba-tiba aja. gue yang kena marah nih."


"terus ngapain Lo susul gue kesini?"

__ADS_1


"Balik. Lo masih ada pemotretan."


"Lo gak Liat muka gue lagi memar ngini!" protes Aska, "ancur!"


wilyam menarik tangan aska, "udaah, gampang. itu bisa poles, diperhalus."


aska menarik tangannya dari wilyam, "tapi adek gue lagi sakit, wil. gue gak bisa ninggalin dia sendiri."


"iyah gue ngerti, tapi ini orang luar, ska. mereka jauh jauh datang kesini buat ambil gambar Loh doang. bisa bisa mereka batalin kontraknya." ucap wilnyam, "gini aja deh, Lo kabarin dulu nyokap Loh. biar ada yang jagain Lia," sarannya.


Aska diam sejenak, ia sedang bingung pada desakan karir yang membuatnya menimbang-nimbang keputusan. sedang ia juga tidak mau meninggalkan adiknya sendiri. menelpon orang tua mereka hanya membuat pikirannya semakin kacau. Lia sudah diamanahkan padanya jika kedua orang tuanya sampai tahu keadaan Lia sekarang. tentu kakak beradik itu akan dipisahkan.


"Ayo!" ajak wilyam.


"gue gak bisa pergi! biarin mereka batalkan kontraknya."


"yah, gak segampang itu juga kali ska! mereka akan nuntut Lo! karena mempermainkan kerjasamanya," sentak wilyam.


"gue gak bisa ninggalin adek gue sendiri, gue juga gak mungkin beritahu keadaan Lia ke bokap gue."


"kamu pergi saja, biar aku yang jaga Lia disini."


sontak aska dan wilyam menatap shifa.


"cieeee... masih peduli aja sama mantannya," goda wilyam, "ayo! tuh, udah ada yang jagain!" ajak wilyam ia kembali menarik tangan Aska.


aska masih memandang Shifa, "aku gak lama kok shifa, aku akan cepat pulang."


kalimat aska membuat wilyam bergidik, "udah ayo, udah kayak pasutri aja," gerutu wilyam, "Fa' gue pergi dulu yah," wilyam melambaikan tangannya, "sampai jumpa lagi!"


shifa hanya mengangguk dan tersenyum mengantar kepergian mereka.


-Besambung


.


.


udah di ujung nih, gak mau Like kah?


nanggung dong😊

__ADS_1


jangan Lupa yah LIKE, KOMEN, sama kasih VOTE. SHARE cerita ini juga gk pp banget, hehe.. itung itung semangat Author lah. #jangan Lupa Bersyukur


__ADS_2